29 Responses to “Ust. Anis Matta Bicara Soal Uang”

  1. Raharjo says:

    Ya Syaikh, Kemewahan Bukan Cita-Cita Kami!
    oleh Farid Nu’man

    Renungan di tengah Perjalanan dakwah

    Dalam sebuah perjalanan kami bersama beberapa Ikhwah, ada perbincangan menarik. Salah seorang Al Akh bertanya, “Akhi, berapa penghasilan Antum sebulan dari mengajar?” Ikhwah tersebut tersenyum dan malu menjawabnya. Namun, ketika ditanya lagi dengan nada bergurau, ia pun menjawab, “150 ribu sebulan.” Inilah ikhwah kita, kader da’wah yang memiliki banyak kelompok halaqah.

    Ada lagi, Ikhwah yang pernah kami temui, ia aktifis dan banyak amanah da’wah yang dia emban. Ia hanya berpenghasilan tidak sampai 300 ribu rupiah dari membuat minuman penghangat badan, wedang jahe.
    Itulah ikhwah kita, mereka hidup dipelosok. Namun, kami kira mereka juga ada di sekitar kita, saudara kita di halaqah, di wilayah da’wah kita, bahkan ia -mungkin- kita sendiri. Tetapi mereka tidak mengeluh, tidak lemah, dan Allah Ta’ala mencintai orang-orang yang sabar.

    Syahdan, di kota besar ada pula ikhwah da’iyah yang hidupnya lebih dari cukup, bahkan sangat-sangat lebih. Itu baik dan tidak masalah. Namun, jadi masalah jika ia mengiklankan kemewahan, menyeru orang kepadanya, memberikan ilustrasi keunggulan ‘mewah’, bukan sekedar bercerita kekayaan. Ia menghiasi dengan berbagai dalil dan alasan yang dipaksakan untuk melegitimasi pemikiran dan perilakunya sendiri. Membicarakan pentingnya kekayaan, harta, kemewahan, dengan alasan maslahat da’wah dan sebagainya, karena ia sudah merasakannya. Lalu, kemana dahulu ketika keadaannya belum seperti sekarang? Kenapa maslahat-maslahat itu baru dibicarakan saat ini ? Apakah dibicarakan untuk pledoi? Apa ia tidak pernah tahu kondisi ikhwah lain yang serba sulit? Atau memang tidak mau tahu?

    Tak usah ajarkan kami, kami sudah mengetahui harta memang urgen. Kaya memang penting. Mayoritas para sahabat yang mubasyiruna bil jannah (dikabarkan akan masuk surga) adalah orang-orang kaya. Orang kaya yang bersyukur lebih utama dari orang miskin bersabar. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pun berdoa berlindung dari kekafiran dan kefaqiran. Dan, kami pun tetap bekerja untuk menafkahi anak dan istri kami … Alangkah baiknya jika kami tetap diajarkan -oleh da’i itu- bagaimana menjadi hamba yang shalih, hamba yang bersyukur terhadap kekayaan, bersabar atas kesulitan, berjihad, istiqamah, dan ilmu-ilmu bermanfaat lainnya untuk agama dan dunia kami, agar kami menjadi pribadi yang apa adanya menurut Al Quran dan As Sunnah, bukan pribadi yang seharusnya menurut keadaan dan status sosial. Dan, tidak usah menyesali jika dahulu kami ‘lupa’ diajarkan tentang masalah kekayaan dalam silabus tarbiyah kami, karena hakikat kekayaan adalah kaya jiwa. Inilah keyakinan dari keimanan kepada Allah Ta’ala, dan pemahaman terhadap harta secara sehat, dan jangan memaksakan pemahaman yang asing dalam sejarah da’wah dan tarbiyah.

    Tetapi Ya Syaikh …, kaya bukanlah mewah, walau ia bersumber dari satu hal yang sama yakni harta, tetapi ia berbeda secara nilai yakni mentalitas. Mentalitas aji mumpung; mumpung ada, mumpung menjabat, mumpung dekat dengan orang kaya, mumpung di atas, mumpung punya binaan kalangan menengah ke atas. Tak ada kamus aji mumpung dalam kehidupan teladan kami, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, ia memegang kunci-kunci kekayaan, jika ia mau mudah sekali mendapatkannya. Tetapi, ia amat sederhana. Para sahabat, memang kaya, tapi adakah kita mendengar mereka mengiklankan kemewahan, dan berleha-leha ketika ada saudaranya kesulitan? Justru mereka menampakkan kesederhanaan dan kesahajaan. Mereka tahu perasaan sahabat nabi lainnya. Ya .. mereka tahu perasaan manusia ..

    Khadijah seorang wanita kaya, ia saudagar wanita, ketika nikah dengan Rasulullah ia menjadi sederhana. Kekayaannya ia abiskan untuk perjuangan suaminya, bukan dihabiskan untuk menikmati kenikmatan hidup. Jangan sekedar melihat besarnya mahar ketika mereka berdua nikah, tetapi lihatlah buat apa dan dikemanakan mahar tersebut, apakah mahar tersebut merubah Rasulullah menjadi laki-laki yang mewah? Tidak! Terlalu naif membicarakan kemewahan hanya melihat dari ukuran mahar pernikahan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan Khadijah Radhiallahu ‘Anha. Umar bin Abdul Aziz ia seorang kaya, ketika menjadi khalifah justru ia tinggalkan kekayaannya. Tetapi, kewibawaan mereka sama sekali tidak berkurang, justru melambung tinggi, karena Allah Ta’ala telah muliakan mereka. Kemana contoh-contoh ini ?

    Untuk contoh masa sekarang adalah Usamah bin Ladin -setuju atau tidak dengan ideologi dan segala upaya jihadnya- ia adalah seorang kaya raya, bahkan sangat kaya, kalau dia mau bisa saja CNN dibelinya. Tapi, dia hidup amat sederhana, makan seadanya, dia serahkan kekayaannya untuk membiayai perjuangannya. Bukan mencari kekayaan dari perjuangan, bukan mencari biaya hidup dari perjuangan. Itulah letak kewibawaan.

    Rasulullah dan para sahabat adalah teladan kita, qudwah hasanah kita … selamanya. Kami tidak butuh teladan yang lain, walau ia berilmu, senior da’wah, tetapi … alhamdulillah, kami tidak pernah silau dengan istilah, gelar, dan pujian manusia yang sehaluan dengannya. Walau kami sangat menghargai dan menghormati peran dan kontribusi da’wah yang telah mereka lalui demikian panjang.

    Kesederhanaan Adalah ‘Izzah

    Ada sudut pandang simplistis yang biasa dilontarkan oleh manusia yang ber’ideologi’ kekayaan dan kemewahan. Sudut pandang kesetaraan status dan kepantasan lingkungan, agar penerimaan dirinya dilingkungan yang baru, bisa diterima dengan baik. Sudut pandang materialis kapitalis ini, satu-dua contoh kasus bisa saja benar, bahwa jika Anda bergaul dengan kalangan jet set tetapi ketika menghadap mereka dengan ‘hanya’ motor bebek atau mobil seken, lalu Anda kurang dianggap, kurang ‘berharga’ dimata mereka. Bisa saja itu terjadi, dan bisa pula itu perasaan dan sugesti saja. Jangan pernah memandang bahwa kesulitan hidup, adalah biang keladi segala masalah kita -para da’i dan umat Islam- saat ini. Tak ada manusia satu pun yang ingin susah dan miskin, tetapi jangan pula menganggap kekayaan adalah solusi jitu, yang akhirnya harus dikejar-kejar dan diserukan secara demonstratif, karena taqwa dan keshalihan itulah solusi, sedangkan kekayaan adalah penunjang atau bisa juga fitnah.

    Kenapa contoh keserhanaan Abu Dzar, kewara’an Abu Bakar, kezuhudan Umar, kedermawanan Utsman, dan kesulitan hidup Ali, tidak menjadi sudut pandang kita. Apa yang mereka alami ini tidaklah meluluhkan wibawa mereka di depan Al Khaliq dan makhluk. Justru semakin melambung tinggi dan nama mereka tercatat abadi dalam konfigurasi sejarah manusia-manusia pilihan. Itu mereka dapatkan bukan karena kekayaan dan kemewahan, tetapi keikhlasan, kesederhanaan, dan pengorbanan mereka. Benarlah yang dikatakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

    Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu berkata, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Sesungguhnya, kalian tidak akan mampu menguasai manusia dengan harta kalian, tetapi kalian bisa menguasai mereka dengan wajah yang bersahaja dan akhlak yang baik.” (HR. Abu Ya’la, dishahihkan Al Hakim, Bulughul Maram min Adillatil Ahkam, Kitab Al jami’, Bab Targhib fi Makarimil Akhlaq, hal. 287. Hadits no. 1341. Cet 1, 2004m/1425H. Darul Kutub Al Islamiyah)

    Kesederhanaan para da’i di lingkungan yang ‘tidak sederhana’ adalah hal yang istimewa, ia nampak tidak tergoda dunia, walau dunia mengejarnya. Ia nampak mampu mengendalikan dunia, dunia ada ditangannya bukan dihatinya. Jika ia anggota dewan, pejabat, petinggi Partai Da’wah, dahulunya ia da’i yang sederhana, dan ia tetap sederhana di lingkungan yang ‘tidak sederhana’, maka ia seperti cahaya di tengah kegelapan, ia seperti keteladanan di zaman yang minim keteladanan. Insya Allah, Allah akan mencintainya, dan manusia pun mengaguminya. Inilah sudut pandang yang seharusnya … Syaikh! Bukan justru latah, ikut-ikutan, dan menjadi norak, sehingga menjadi tak ada bedanya dengan hamba dunia yang dahulu pernah kita benci, paling tidak beti (beda-beda tipis) dengan mereka.

    Dari Sahl bin Sa’ad Radhiallahu ‘Anhu dia berkata: “Datang seorang laki-laki kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dia berkata: “Wahai Rasulullah tunjukkanlah kepadaku jika aku lakukan maka Allah dan manusia akan mencintaiku. ” Maka Ia bersabda: “Zuhudlah di dunia niscaya Allah akan mencintaimu, dan zuhudlah terhadap apa-apa yang ada pada manusia, niscaya manusia akan mencintaimu. ” (HR. Ibnu Majah, sanadnya hasan. Bulughul Maram min Adillatil Ahkam, Kitab al Jami’ Bab Zuhd wal Wara’, hal. 277. Hadits no. 1285. Cet 1, 2004M/1425H. Darul Kutub Al Islamiyah)

    Akan Dibangkitkan Sesuai Niatnya

    Da’wah ini telah diramaikan oleh beragam manusia; tipe, kecenderungan, skill, kebiasaan, sifat, dan niatnya. Faktor niat inilah yang akan mengendalikan dan mengarahkan masing-masing da’i, bahkan yang menentukan masa depan mereka di akhirat. Mereka sama-sama berjuang, sama-sama lelah, tapi mereka akan dibangkitkan di akhirat sesuai niatnya masing-masing. Ada yang niat dunia seperti ketenaran, popularitas, kekayaan, jabatan, wanita, walau ini mampu disembunyikan dengan sangat rapi di dunia, berbungkus da’wah dan berhasil mengelabui banyak manusia, tetapi akan tersingkap di akhirat. Semoga Allah Ta’ala merahmati dan memberikan balasan yang lebih baik bagi da’i-da’i akhirat, yang hanya mengharapkan Allah Ta’ala dan ketinggian agamaNya.

    Dari ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha berkata: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Akan ada tentara yang menyerang Ka’bah, akan tetapi ketika mereka sampai di sebuah lapangan, tiba-tiba mereka semua dibinasakan, dari awal sampai akhirnya.”
    ‘Aisyah bertanya: “Ya Rasulullah, bagaimanakah dibinasakan semua, padahal di antara mereka ada orang-orang yang tidak ikut-ikutan seperti mereka, yaitu orang-orang yang di pasar dan lain-lain?”Rasulull ah menjawab:
    “Mereka dibinasakan semua, lalu dibangkitkan menurut niat masing-masing. ” (HR. Bukhari- Muslim, lafaz ini menurut Bukhari. Riyadhus Shalihin, Bab Al ikhlas wa Ihdhar an Niyah, hadits no. 2. Maktabatul Iman, Manshurah)

    Jadi, amal akhirat manusia, seperti da’wah dan jihad menjadi hal yang sia-sia jika niatnya adalah dunia. Dalam riwayat lain, dari Ubai bin Ka’ab Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    “Barang siapa yang beramal akhirat dengan tujuan dunia, maka dia tidak mendapatkan bagian di akhirat.” (HR. Ahmad, Ibnu Hibban, Al hakim dan Al Baihaqi. Al Hakim berkata: sanadnya shahih, dan disepakati Adz Dzahabi. Al Haitsami mengatakan hadits ini diriwayatkan Ahmad dan anaknya dari beberapa jalur, dan para perawi Ahmad adalah perawi shahih, Majma’ uz Zawaid 10/220)

  2. mujib JS UGM says:

    harus dipertimbangkan lagi pemikiran anis matta ttg ini…
    emosi dan reaktif sekali saya rasa…

  3. Andai Ustadz Rahmat Abdullah ada…………………

  4. wawan says:

    Berbicara dengan kata (audio) dan berbicara dengan tulisan (visual) memang beda. Saya menduga tulisan di atas merupakan konversi dari perkataan Anis Matta. Akibatnya, terlihat emosional. Coba, sekali lagi diresapi tulisannya.

  5. Aguntaran says:

    kekayaan saat ini memang harus dimiliki oleh Umat Islam. pengelolaan sumber-sumber kekayaan harus dipegang oleh Umat Islam. Mentalitas miskin (yang tidak mau berinfaq) memang harus diberantas. pasar Madinah dikuasai oleh Abdurrahman bin Auf, yang sebelumnya dikuasai oleh Yahudi. jika saat ini IMF dikuasai Yahudi, maka tahun yang akan datang harus dimiliki oleh Islam. hati memang tak ada yang tahu. so, tak elok jika kita menghakimi seseorang hanya pandangan luar. syukron atas pandangan Ustad Anis Matta

  6. wadiyo says:

    Bagaimanapun pandangan Beliau sangat me-motivasi
    untuk berbuat lebih baik, sehingga makna kebahagiaan
    di dunia dan di akhirat dalam arti sebenarnya bisa terwujud.

    Bukankah sangat membahagiakan menjadi seorang da’i
    yang kaya baik secara tsaqofah&materi, yang dapat memberikan
    manfaat yang lebih banyak bagi orang lain.

  7. al fatih says:

    lumayan,
    untuk sebuah wacana, biar ga terlalu silau oleh siapa dan apapun
    karena Imam madinah, si empunya Muwattha bilang
    “siapapun boleh diterima dan ditolak pendapatnya, kecuali pendapat yang sedang beristirahat dengan tenang di kuburannya (Muhammad SAW)”
    so…….kitapun bisa seperti mereka insyaallah

  8. jerycomacho says:

    bolehlah,memang kita harus kaya, dengan kaya kita kuat tidak tergantung dengan yang lain apalagi negri yang memusuhi ISLAM. Contoh Palestina, andai saja dakwah disana mempunyai sokongan dana yang seimbang dengan israel mungkin kita tidak akan melihat Palestina di obrak-abrik Israel. Ana punya usulan tentang sebuah perekonomian jamaah. Andai saja setiap DPC (karena partai tidak boleh mempunyai usaha jadi maksudnya wilayah seluas DPC bisa jadi ini adalah usaha patungan atw membuat wadah koperasi lebih bagus wadah koperasi) itu mempunyai satu mini market (dalam hal ini untuk awalnya kita ber afiliasi dengan Alfamart atw indomart dulu sambil belajar tentang retail) saja dulu dan kader di usahakan untuk membeli kebutuhan pokok disitu, setelah tumbuh cabang cabang ditiap DPC tentunya mulailah sedikit demi sedikit kita meningkatkan keahlian untuk berproduksi sendiri contoh kita bisa produksi beras merek SEJAHTERA lalu kita masukan kedalam minimarket-mini market jaringankita dengan kata lain sebelum kita produksi kita harus menguasai pasar dahulu. SELAMAT mencoba, ane yakin paling lama 5 tahun kemudian mini market yang kita kelola akan diisi oleh produk buatan ikhwa. dan tidak akan terjadi seperti SAFA NIDA. secara perlahan kita harus mengganti produk yang seharusnya kita boikot, malu ah kita teriak2 boikot tp masih ajak keluarga ke Mc D, minum Coca-cola rapat ke Starbuck dll, kapan kita akan berubah kalo seperti ini terus. Ayo kita KIta mau KIta Bisa Kita maju (secara jamaah tentunya).

  9. Abu Razin Annasai says:

    Assalamu’alaikum

    Memang sih, intinya umat islam harus belajar untuk menjadi pengusaha, dan juga mempelajari bagaimana cara mencari uang, kalau perlu dikenalkan sejak dini pada anak-anak , tetapi harus paralel dengan tarbiyah yang kuat, sehingga menjadi orang kaya yang banyak berinfaq….setuju….
    salam untuk ikhwah sidoarjo dari kalimantan..

    Nb: tapi ndak perlu sampai mengusap – usap mobil lho…..cukup berdo’a kepada Allah agar dibukakan pintu rezeki yang banyak dan keberkahan dalam harta , paralel dengan usaha yang cerdas dan pantang menyerah.

  10. dono says:

    Aslmkm…

    Sy sangat setuju dgn pendapat ust.anis matta. Karena itulah yg saya temui di lapangan dakwah.. Kebetulan sy seorang dokter…dan tentu anda lebih faham,….saat seorang dokter berbicara, ia pasti lebih di dengar…dibandingkan dai lain yang profesinya bukan dokter…apalagi bila profesi dia hanya pengajar biasa, walaupun tema pembicaraannya seputar islam. Begitu juga dengan bahasa, kebetulan sy berinteraksi dengan rekan sejawat dari netherlands .. mereka banyak bertanya tentang islam….bukan hal yg prinsipal, melainkan hal yg detail dan sepele dimata kita, seperti mengapa sholat jumat wajib untuk laki2, lalu mengapa sudah jam 12 sy belum sholat dzhuhur dan darimana saya tau sudah waktunya sholat dzhuhur…dan jujur…sy merasa seperti dipojokkin tiba2 ..karena saya sempat gelagapan untuk sementara….mencari kosa kata yg tepat dlm bahasa inggris….sayangnya saya jarang baca buku tentang islam dalam bentuk bahasa inggris. kesimpulannya…andaikan saya bukan seorang dokter dan kemampuan bahasa asing saya pas2an…..saya tidak akan bisa berdakwah pada mereka non muslim yang belum mengenal islam….padahal banyak kalangan non muslim yg cukup potensial, dan dakwah itu kewajiban setiap muslim, bukan hanya pada sesama muslim , tapi juga pada umat manusia. Cerita lain: sy memiliki sahabat, dia seorang mudah yang sedari dulu hemat mengatur uang, tabungannya banyak, syukurlah dia seorang ikhwah yg memahami sesama. Setiap bulannya dia memberi sembako pada tetangga yg kekurangan, memiliki banyak anak yatim sebagai anak asuhnya….bayangkan bila ikhwah tidak memiliki kekayaan? mau dikemanakan nasib saudara2 kita yg kekurangan? Perihal kemewahan…sekali lagi sy setuju dgn ust.anis matta…bhw kemewahan itu memang penting…tetapi harus proposional. Jangan sampai menimbulkan kecemburuan sosial. Umumnya kecemburuan sosial dikarenakan faktor akhlak kita juga. Contoh, kalau kita lihat orang baik yg jadi kaya raya krn kerja kerasnya sy rasa tdk akan ada yg protes diantara kta….karena kta merasa itu sudah hak nya dan rezekinya…tapi kalau ada sesorang yang lantas diprotes atas perubahan satusnya….hati2…sudah kah kita introspeksi diri kita….wallahu’alam.
    Sekali lagi…..kemewahan bukanlah tujuan tapi jadikan lah kemewahan itu sebagai alat dakwah kita…ALLAHU AKBAR

  11. hari says:

    Malaysia : Negara Alternatif untuk Berobat Penyakit Kanker dan Jantung. Berteknologi Tinggi, Harga Kompetitif dan User Friendly Bagi Pasien Indonesia.
    Tahukah anda? penyakit kanker dan serangan jantung adalah penyebab utama kematian di Indonesia. Deteksi dini dan perawatan dengan teknologi modern, oleh pakar kompeten mampu mencegah resiko yang lebih besar. Sime Darby Medical Centre (SDMC) Malaysia dilengkapi dengan fasilitas berteknologi tinggi dan dokter-dokter spesialis expert di bidangnya. Dibanding dengan Singapura, Cina, Jepang, Eropa, Biaya pengobatan di Malaysia jauh lebih kompetitif dan user friendly bagi pasien Indonesia (bahasa, makanan dan budaya).
    Hadiri seminar yang dibawakan oleh Dokter spesialis dari Sime Darby Medical Centre (SDMC), Subang Jaya Malaysia.
    Sabtu, 29 November 2008
    Hotel Ibis Rajawali Surabaya.
    (Coffee break & Lunch served)
    Topik Seminar :
    1. Common Cancers and Current Treatment
    Speaker : Dr. Martin Mellor, Consultant Ancologist
    MBBS,AM,FFRRCS (Irlandia) Cancer and
    Radiosurgery Centre.
    2. Common Heart Problem and Current Treatment
    Speaker : Dr. Nik Isahak, Consultant Cardiologist
    MBBS,MRCP (Inggris) Heart Centre.

    Gratis! Undangan terbatas 100 orang.
    Segera daftarkan diri Anda.

    ketik: Nama_Alamat lengkap_No HP
    kirim sms ke no: 081 2300 1557 ,
    atau email ke: obc@obctour.com

    Contack:OBCTour, Jl.Ry Juanda, Rk.Permata B72.
    Tel/Fax: 031-8671229, http://www.obctour.com/sdmc

  12. yohan says:

    Setuju,kita harus berhasrat dan berfikir kaya jika ingin kaya.Selama ini kita seringkali ditipu oleh logika dan akhirnya melupakan “Kun fa ya kun”, jika Allah SWT menginginkan tidak ada sesuatu yang tidak mungkin. Permasalahannya adalah apakah kita sudah meminta pada Allah SWT. Ketimbang meminta kita cenderung pasrah menerima kemiskinan dan berdalih pada kalimat “bersyukur” yang semestinya tidaklah kita maknai dengan kepasrahan,itu bukanlah tujuan dari sikap “tawakal”.

  13. doni says:

    ORANG PUNYA IDE BOLEH DONG YANG BAIK DI AMBIL YANG MENURUT KITA TIDAK SREK TINGGALKAN. KALAU SAYA SEPAKAT DENGAN USTAD ANIS. KARENAT KAYA ITU ENAK SIH & NYAMAN DAN DAPAT M EMPERMUDAH KITA MASUK SURGA KALAU TAHU CARANYA. MAU TAHU CARANYA…MAKANYA BELAJAR NGAJI…….

  14. slamet says:

    Kalo masalah uang sich, yang juga penting adalah bagaimana cara memperolehnya selain cara mendayagunakannya. Tulisan di atas lebih pada cara mendayagunakan uang (baik itu contoh yg baik dr para shahabat maupun contoh yg naif dr penulis/pembicara q.q anis matta-”Jadi, antum kalau punya waktu-waktu kosong jalang-jalanlah ke mall. Lihat-lihat orang kaya, tidak usah belanja, liha-lihat saja dulu, memperbaiki selera. Datang ke showroom mobil, datang ke pameran mobil. Lihat-lihat, pegang-pegang. Rajinlah berdo’a.”)

    Sekarang tinggal penulis/pembicara q.q anis matta memberikan penjelasan/tabayyun dari bisnis apa rumah mewahnya diperoleh, dari memasarkan produk apa mobil terbarunya dibeli, dari laba perusahaan apa mahar istri keduanya diberikan dst. Semoga kisah sukses bisnisnya menjadi inspirasi bagi kader. Setelah itu, barulah para kader wajib berhusnudhon. Hal ini jadi penting karena salah satunya saya tidak lihat riwayat bisnis di blog-nya (http://anismatta.blog.friendster.com/- kalo ini memang blog beliau). Dan saya tidak mau berkomentar di sana karena sebagian komentar2 yg ada isinya caci maki.

    Wassalam,
    Mantan Kader Sidoarjo

  15. asmuni says:

    harta adalah titipan allah, ketika yang menerima titipan adalah org-org yg tidak shaleh maka titipan tersebut digunakan untuk kepentingan duniawi bahkan untuk mengahancurkan bumi, maka sudah saatnya ikhwah yg merebut titipan tersebut untuk kepentingan dakwah.
    Seringkali kita mengutuk kaum misionaris yg membantu dhuafa umat islam sementara kita tidak bisa melakukan apa-apa untuk membantu mereka, mereka lapar, mereka butuh bantuan, kalau kita sendiri dalam kondisi mengenaskan bagaimana kita bisa membantu mereka.
    Salah satu sekolah alam bernama School of Universe yg dikonseptori oleh Lendo Novo berusaha mewujudkan mimpi menciptakan pengusaha-pengusa muda dengan merujuk sirah nabawiyah, hanya dengan berbisnis (dagang) harta bisa bertambah lebih banyak (tanpa melupakan infak, sedekah, wakaf).
    di SOU diajarkan bisnis 1. Biotechnology 2, ICT dan Ritel karena ketiga bisnis inilah yang sedang tren di dunia. bagaimana cara mengajarkannya? dengan magang (masih ingar dalam sirah bahwa Nabi ikut dengan pamannya ketika berbisnis), dengan begitu anak-anak(siswa) diharapkan memilki pengalaman berbisnis (praktik) yang kemudian ia pelajari cara berbisnisnya kemudian mereka praktikkan

  16. sani khosazy says:

    stuju…stuju…ustad, islam harus lebih realistis mengelola dakwah ini, Allahu akbar…

  17. mulyana says:

    orang bijak itu adalah orang yg ketika memberikan argumentasi senantiasa melihat segala sesuatu dari segala sudut padang tidak parsial, oleh karena itu artikel ust. anis mata memberikan kesadaran pada ikhwah agar segala sesuatu itu harus seimbang…..

  18. zaini says:

    Assalamu’alaykum, muslim yang terbaik adalah yang beramal pada waktu yang tepat, tempat yang tepat, orang yang tepat. Kedua syaikh telah menjelaskan perspektif tentang pengelolaan dunia. keduanya bisa jadi benar. apabila diletakkan pada tempatnya.
    Adapun menurut saya pendapat Ust. Anis apabila diterapkan untuk kalangan ikhwah menengah kebawah maka itu akan membawa dampak kurang menyenangkan.
    Alangkah baiknya apabila kita sebagai suatu “bangunan tubuh jama’ah da’wah” ini satu hati, perasaan dan satu penanggungan.
    Ana berharap kepada Allah SWT agar menurunkan kebahagiaan kepada seluruh ikhwah dalam jama’ah ini sehingga kita bisa menguasai dunia ini dalam naungan Islam yang Rahmatan lil Alamin, dimana seluruh manusia hidup dalam keadaan makmur dan sejahtera

  19. amin says:

    assalamu’alaikum,
    jujur saya kasihan melihat ikhwan2 PKS yg di grass root… pengorbanan mereka bener2 sabar & (insyaAlloh) ikhlas krn Alloh…akan tetapi coba lihat elite2nya…
    wahai sudaraku renungkanlah…hidup cuma sekali…
    apa yg kita perbuat udah sesuai dgn sunnah Rosululloh???

  20. deanMulya says:

    Seharusnya ust Anis Matta tidak mempublish pandangan beliau ini kepada umum, suatu pandangan yang kontroversi, pandangan yang merupakan suatu pilihan semata dan lebih kepada bakat dan subyektif sekali. Kalaupun mau dipublish, jangan seolah-olah menganggap semua orang satu visi dengan beliau sehingga menjadi semacam ‘fatwa’. Publish-lah kepada mereka yang memang punya pilihan yang sama dengan beliau (untuk kalangan intern) hingga tidak timbul fitnah dan debat kusir tiada guna. Saya kira itulah sudut pandang tengah-tengah, kalau ust anis mau bijak.

    Gampang saja melihat dinar/dunia.
    Seperti nabi dan para sahabat memandangnya. Mereka tidak pernah beranggaapan dengan alasan anak-istri lalu keluarga bisa menolong ISLAM melalui UANG! Tidak ada secuilpun terlintas dipikiran mereka akan hal itu.

    Ingatlah ketika Rasulullah melihat dunia ini dengan menganalogikannya seperti bangkai hewan yang dikerubuti anjing2 serigala. Ingatlah ribuan sahabat Nabi yang lebih memilih ‘miskin’ harta ketimbang miskin ilmu/amal. Sahabat yang kaya ada, tapi itu bisa dihitung dengan jari. Ingatlah ketika jibril menawarkan kepada Nabi SAW kunci-2 dunia disatu sisi dan kebahagian akhirat disisi lainnya, dan seketika Nabi langsung memilih akhirat. Artinya apa?

    Dunia (dan turunannya : harta, tahta, wanita) itu hanyalah salah satu pilihan, dan sebaik2 pilihan adalah akhirat (QS:9:4) karena kunci dakwah bukan di uang…tapi di hati, dan Allah bersama mereka yang ikhlas.. sejarah telah membuktikan bahwa dakwah santun dan sederhana ala nabi dan para sahabat bisa sukses luar biasa memajukan Islam hingga kini. (BISA pa’ ust Anis buktikan dengan dalil bahwa dakwah melaui uang Islam BISA MAJU?? ). Mungkin secara pribadi ya, bisa menolong anak istri-kerabat…….

    dan ingat! TIDAK semua orang yang nampak oleh pa’ ust miskin itu memang miskin karena malas, boleh jadi itu adalah PILIHAN mereka! TIDAK ADA YANG TAHU. dan tidak ada seorangpun yang berhak melarang seseorang dengan PILIHANNYA…!

  21. taufik says:

    Jazakallah khairan ustaz, uang memang harus dicari sebagaimana doa kita ROBBANA AATINA FI-DUNYA HASANAH WAFIL AKHIRATI HASANAH WAQINA AZAABANNAR…
    ana mendapat pelajaran sangat berharga ttg bgmaimana kita meletakkan Uang pd saku bukan di qolbu..
    Wa quli’maluu…fa sayarallah ‘amalakum….

  22. HASAN says:

    tidak perlu marah-marah, tidak ada yang salah dengan tulisan kang anis, sebaiknya anda yang tidak setuju, simpan baik-baik energi anda, tidak perlu marah-marah

  23. Ugie says:

    aslm.. wah subahanallah.. setuju,… dakwah juga perlu uang,….. andaikan jika setiap muslim menyadari ini smua….. banyak masarakat yang terbantu….. dengan hartanya akan lebih bermanfaat untu umat….. syukrann

  24. inges says:

    Subhanallah….bagus bgt artikelnya,,,bagi yg kurang berkenan dng pikiran ust anis matta…tafadhol…bagi yg se7 dng artikel ini juga tafadhol…bagi KADER2 PKS YG ADA DI GRASS ROOT…tidak usah risau dng ucapan bapak AMIN diatas…yg penting NAWAITU antuna semua…sodara2 kita yg ada di parlemen juga pernah mengalami masa2 sulit di awal2 dakwah ini…. TETAP SEMANGAT

  25. Muhammad Arlex says:

    Alhamdulillah, pikiran ana tentang uang ini semakin terbuka

    Benarlah bahwa umat Islam harus selalu belajar,

    Tolabal ilmi faridotun ala kulli Muslim…

  26. konto lukito says:

    ya memang terbukti sekarang parlemen pada perlente, naik mobil mewah, pakaian mahal.. tp kader2nya hidup susah masih disuruh iuran..mereka bermewah2an dgn alasan menyesuaikan pergaulan.. !!

    —-
    Admin: Mas Konto, kalau mengkitik dengan bertanggung-jawab, tolong beri alamat email yang benar. Itu menunjukkan bahwa Anda berani. Jangan pakai cara gerilya: hit, run, and hidden. Sy sudah edit email Anda karena terlalu vulgar.

    Satu lagi, sarana besar menuntut pertanggungjawaban besar.

  27. abu abdillah says:

    amilin dan dewasa banyak keluar dari pks, pks partai pluralis, terbuka, nasionalis….Contoh :ust tizar zein, ust syaiful islam mubarok, Ust Ibrahim bafadhol, Ust, sigit pramono, Ust Saleh martapermana..dll seabrek pendiri pks….tobat dari demokrasi….yg making crazy…

    mungkin merasa dikhianati ….
    awalnya islami…..sekarang…..menikmatnya demokrasi…say mr anis….

  28. Rizal Sinaga says:

    Mantap ustadz,,,,
    realistis adalah suatu hal mutlak dalam berdakwah,,,ana sendiri mengalami,,,bagaimana menjadi mahasiswa yang siap dakwah fardiyah tetapi motor masih minjam,,, uang minjam,,, traktir boro,,,,dan setelah ada sedikit maisyah,,, subhanallah kita bisa beliin kado hadiah mad’u,,, traktir makan,,, sehingga mempermudah aktifitas dakwah,,,, ana menginfokan ini bukan berarti ria,,, tapi kita harus real dalam berdakwah,,,, jangan terlalu sinis dengan pandangan yang justru memotivasi ribuan orang,,, buku beliau sangat di kagumi,,, tapi wajar saja kalau banyak yang gak suka pergerakan dakwah beliau,,,, wallahu alam…

Leave a Reply

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture. Click on the picture to hear an audio file of the word.
Click to hear an audio file of the anti-spam word