<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>DPD PKS Sidoarjo &#187; Profil Kader PKS</title>
	<atom:link href="http://pks-sidoarjo.org/tag/profil-kader-pks/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://pks-sidoarjo.org</link>
	<description>Bekerja untuk Sidoarjo Sejahtera</description>
	<lastBuildDate>Mon, 13 Jun 2011 00:54:24 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.6</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Kokoh dan Mandiri (5)</title>
		<link>http://pks-sidoarjo.org/profil-kader-pks/kokoh-dan-mandiri-5.htm</link>
		<comments>http://pks-sidoarjo.org/profil-kader-pks/kokoh-dan-mandiri-5.htm#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 Jul 2010 01:05:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>webmaster</dc:creator>
				<category><![CDATA[Profil Kader PKS]]></category>
		<category><![CDATA[Kokoh dan Mandiri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pks-sidoarjo.org/?p=1055</guid>
		<description><![CDATA[Bekerja dan berkarya merupakan keniscayaan yang harus dilakukan oleh manusia, ketika ia ingin bertahan dalam kehidupan dan membangun kemandirian di lingkungan sosialnya.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>V. Indikator Kemandirian Keuangan</strong></p>
<ol>
<li>Bekerja dan berpenghasilan,</li>
<li>Mendirikan badan usaha meskipun kecil,</li>
<li>Melakukan investasi,</li>
<li> Menabung.</li>
</ol>
<p><span id="more-1055"></span><br />
Manusia dengan misi operasionalnya, yaitu memakmurkan bumi, harus mampu mengolah dan mengelola amanah Ilahiyah. Di mana, ia  harus bekerja dan berkarya sesuai dengan rambu-rambu Ilahiyah. Bekerja dengan mengikuti aturan-aturan yang ada, ia akan menjaga amanah Ilahiyah sekaligus mampu menjaga kelestarian hidup. Bekerja dan berkarya merupakan keniscayaan yang harus dilakukan oleh manusia, ketika ia ingin bertahan dalam kehidupan dan membangun kemandirian di lingkungan sosialnya. Apalagi seorang kader dakwah yang menjadi <em>agent of change</em> di tengah-tengah masyarakatnya. </p>
<p>Ia harus mampu menghidupi dirinya sebelum memenuhi tuntutan keluarga. Dan ia harus mampu memberi kontribusi riil kepada masyarakatnya. Belum lagi tuntutan <em>tadlhiah</em> (pengorbanan) yang harus dipenuhi dalam perjuangan dakwah. Karena salah satu syarat membangun dan membina bangsa, umat dan merealisasikan cita-cita adalah adanya <em>tadlhiah azizah</em>(pengorbanan agung) yang dilakukan kader dakwah. Inilah jalan yang telah digariskan Imam As-Syahid dalam dakwahnya.</p>
<p>Bekerja bukan dikhususkan bagi rakyat biasa dan masyarakat umum, namun semua nabi telah bekerja, berkarya dan berdagang dengan sungguh-sungguh. Nabiyullah Daud adalah salah satu contoh Rasul yang berkarya dengan tangannya. Nabi Musa pernah bekerja menggembalakan kambing, sedangkan Rasulullah saw telah melakukan bermacam-macam pekerjaan seperti menggembala kambing, berdagang, dan bercocok tanam. Kemandirian yang dimiliki oleh para Rasul dan tokoh-tokoh dakwah tidak pernah menyilaukan mereka akan rayuan-rayuan musuh-musuh Allah untuk menghentikan gerak dakwah. </p>
<p>Perhatikan beberapa firman Allah SWT:</p>
<p><em>&#8220;Dan katakanlah: &rsquo;Bekerjalah kamu maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang makmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberikan-Nya kepada kamu apa yang kamu kerjakan.&#8221;</em> (QS 9: 105)</p>
<p><em>&#8220;Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah, mendirikan shalat, dan membayarkan zakat. Mereka takut pada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi guncang.&#8221;</em> (QS 24: 37)</p>
<p>Rasulullah saw bersabda, &#8220;<em>Sesungguhnya Allah SWT mencintai orang yang <em>itqan</em> dalam bekerja.</em>&#8221;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pks-sidoarjo.org/profil-kader-pks/kokoh-dan-mandiri-5.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kokoh dan Mandiri (4)</title>
		<link>http://pks-sidoarjo.org/profil-kader-pks/kokoh-dan-mandiri-4.htm</link>
		<comments>http://pks-sidoarjo.org/profil-kader-pks/kokoh-dan-mandiri-4.htm#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 Jul 2010 01:05:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>webmaster</dc:creator>
				<category><![CDATA[Profil Kader PKS]]></category>
		<category><![CDATA[Kokoh dan Mandiri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pks-sidoarjo.org/?p=1053</guid>
		<description><![CDATA[Hanya badan yang sehat-di samping sehat rohani dan fikri-yang mampu memikul <em>mas&#8217;uliah</em> dakwah.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>IV. Indikator Kokoh Jasadiyah</strong></p>
<ol>
<li>Menjaga penampilan,</li>
<li>Berolah raga minimal 20 menit setiap hari,</li>
<li>Melakukan <em>general check-up</em> minimal sekali setiap tahun,</li>
<li>Menjaga kebersihan,</li>
<li>Mengikuti pola hidup sehat dalam mengonsumsi makanan dan minuman.</li>
</ol>
<p><span id="more-1053"></span><br />
Untuk mengimplementasikan kerja-kerja dakwah dan memikul beban dakwah, sangat diperlukan energi yang optimal dan<br />
kebugaran jasmani. Hanya badan yang sehat-di samping sehat rohani dan fikri-yang mampu memikul <em>mas&rsquo;uliah</em> dakwah. </p>
<p>Coba kita renungkan, bagaimana Allah SWT memberikan pada Thalut kebugaran dan kesehatan jasmani selain keluasan ilmu pengetahuan di saat memikul mas&rsquo;uliah yang paling agung dan berat di zamannya, yaitu menghadapi diktator ulung, Jalut.</p>
<p><em>&#8220;Nabi mereka mengatakan kepada mereka: &rsquo;Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu.&rsquo; Mereka menjawab: &rsquo;Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya sedang diapun tidak diberi kekayaan yang cukup banyak.&rsquo; Nabi (mereka) berkata: &rsquo;Sesungguhnya Allah telah memilihnya menjadi rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa.&#8221; Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-<br />
Nya. Dan Allah Malta Luas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui.&#8221;</em> (QS. 2: 247)</p>
<p>Rasulullah saw sendiri terkenal dengan kekokohan jasmani. Beliau sering melakukan musabaqah lari dengan istri tercintanya, Aisyah ra. Dan beliau pun pernah melakukan gulat dengan orang kafir Quraisy, dan Rasulullah saw memenangkan pergulatan itu sehingga orang tersebut memeluk agama Islam. Beliaulah yang bersabda, &#8220;<em>Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah&#8230;</em>&#8221;</p>
<p>Kekokohan dan kebugaran jasmani pun tercermin pada sosok empat Khalifah Rasul: Abu Bakar As-Shiddiq ra, Umar bin Khattab ra, Utsman bin Affan ra, dan Ali bin Abu Thalib ra. Mereka telah berhasil melakukan <em>futuhat</em> (membuka) wilayah-wilayah dakwah baru pada zamannya. Sahabat Ali pun pernah ikut andil bersama Hamzah dan Ubaidah dalam <em>mubaarazah</em> (perang tanding) di Perang Badar Kubra melawan Al Walid bin Utbah. Dan dia yang dipercaya Rasul membawa panji-panji dalam pertempuran Muktah.</p>
<p>Dipublikasi ulang oleh <a href="http://www.pks-sidoarjo.org">Admin DPD PKS Sidoarjo</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pks-sidoarjo.org/profil-kader-pks/kokoh-dan-mandiri-4.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kokoh dan Mandiri (3)</title>
		<link>http://pks-sidoarjo.org/profil-kader-pks/kokoh-dan-mandiri-3.htm</link>
		<comments>http://pks-sidoarjo.org/profil-kader-pks/kokoh-dan-mandiri-3.htm#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 Jul 2010 01:03:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>webmaster</dc:creator>
				<category><![CDATA[Profil Kader PKS]]></category>
		<category><![CDATA[Kokoh dan Mandiri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pks-sidoarjo.org/?p=1051</guid>
		<description><![CDATA[Kecerdasan jiwa dan kebeningan hati yang mencerminkan ketegaran iman dan ikhlas merupakan bensin yang tidak pernah kering dalam menghidupkan roda dakwah sepanjang hidupnya.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>III. Indikator Kokoh Da&rsquo;wiyah</strong></li>
<ol>
<li>Berpartisipasi dalam rekruiting <em>hizbi</em> dan <em>tajnid ikhwani</em>,</li>
<li>Aktif melakukan dakwah <em>fardiyah</em> di lingkungan keluarga dan lingkungan sosial,</li>
<li>Menjaga nilai-nilai <em>da&rsquo;wiyah</em> dalam keluarga,</li>
<li>Memiliki <em>skill</em> rekayasa sosial <em>da&rsquo;awi</em>,</li>
<li>Mampu membangun jaringan sosial dengan tokoh-tokoh sentral,</li>
<li><em>Istiqamah</em> di jalan dakwah.</li>
</ol>
<p><span id="more-1051"></span><br />
Kekuatan <em>ma&rsquo;nawi</em> dan <em>fikri</em> merupakan sarat mutlak dan bekal kader dalam medan dakwah. Kecerdasan jiwa dan kebeningan hati yang mencerminkan ketegaran iman dan ikhlas merupakan bensin yang tidak pernah kering dalam menghidupkan roda dakwah sepanjang hidupnya. Rasulullah Nuh a.s. selalu semangat menawarkan nilai-nilai kebenaran risalah vang dibawanya kepada setiap manusia yang dijumpainya. Beliau tidak kenal waktu istirahat dalam menebarkan kebenaran yang dibawanya. Malam dan siang beliau senantiasa mendakwahkannya.</p>
<p>Nuh as berkata, &#8220;<em>Ya Rabbku sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan siang.</em>&#8221; (QS. 71: 5)</p>
<p>Begitu pun yang dilakukan Rasulullah saw di saat ayat-ayat Quraniyah diturunkan untuk terang-terangan mengumandangkan dakwah, meskipun resikonya sangat tinggi dalam jalan ini. Setelah turun surat Al Mudatstsir dan ayat &#8220;<em>Fashda&rsquo; bimaa tu mar wa a&rsquo;ridl &rsquo;anil musyrikin</em>&#8221; (Q.S. 15: 94), beliau tidak pernah berhenti mendakwahkan Islam kepada masyarakatnya. </p>
<p>Beliau yang mengatakan, &#8220;<em>Waktu tidur sudah lewat, wahai Khadijah!</em>&#8221;</p>
<p>Rasulullah pun berkata kepada pamannya di saat mengkhawatirkan kondisi dirinya, &#8220;<em>Demi Allah SWT. Sekiranya matahari diletakkan di atas pundakku agar berhenti berdakwah, tidak akan aku tinggalkan sampai Allah SWT memutuskan perkaranya; mati dalam dakwah atau kemenangan dakwah.</em>&#8221;</p>
<p>Maka, selama 23 tahun, Rasulullah tidak pernah mengalami rasa lelah, lesu dan loyo dalam medan dakwah.</p>
<p>Begitu pun yang dilakukan para sahabat dalam memengaruhi masyarakat jahiliyah pada masa itu. Mereka menyebar mencari obyek dakwah yang bisa dipengaruhi dengan risalah Islam. Meskipun resikonya menghadapi penghinaan, pelecehan dan penyiksaan di jalan ini.</p>
<p>Abu Bakar dengan potensi yang dimiliki melakukan dakwah <em>fardiyah</em> kepada beberapa tokoh-tokoh muda yang memiliki kedudukan di masyarakatnya. Maka, masuklah seperti Utsman bin Affan, Abdur Rahman bin Auf, Tholhah bin Ubaidillah dalam barisan Islam. Demikianlah kerja-kerja dakwah yang dilakukan para sahabat. Tidak hanya berhenti di sini saja, setelah wafat Rasulullah saw mereka pun terus membawa obor estafet dakwah.</p>
<p>Mengapa mereka harus berjalan jauh menjelajah bumi Allah SWT kalau bukan karena panggilan dakwah. Tidak hanya menebarkan nilai-nilai dakwah ini di benua Asia saja, tetapi terus membuka bumi-bumi Allah SWT yang baru seperti, Afrika dan bahkan sampai Eropa. Ketika panji-panji Islam berkibar di tanah Mesir dengan panglimanya, Amr bin Ash ra dan berkibar di bukit Gibaltarq (Jabal Thariq) Asbania (Spanyol) pada tahun 92 H..</p>
<p>Inilah potret dan gambaran kekokohan dan semangat juang para Salafus Saleh dalam menebarkan risalah ilahiah di bumi Allah SWT. Fenomena inilah yang diwarisi tokoh-tokoh dakwah di abad 21.</p>
<p>Bagaimana peran yang dimainkan Muhammad bin Abdul Wahhab di Nejed, Muhammad Abduh, Rasyid Ridlo, dan sang murabbi Asy-Syahid Hasan Al Banna di Mesir ketika membangun pondasi-pondasi dakwahnya. Selama lima tahun penyakit stroke yang menyerang sang dai, DR. Musthafa As-Siba&rsquo;i tidak pernah melemah semangat dobrak dan perjuangannya dalam memimpin dakwah di Syiria. Begitu pun peran dakwah yang dimainkan oleh Syekh Ahmad Yassin di bumi Palestina sampai &#8220;syahadah&#8221; menjemputnya.</p>
<p>Dipublikasi ulang oleh <a href="http://www.pks-sidoarjo.org">Admin DPD PKS Sidoarjo</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pks-sidoarjo.org/profil-kader-pks/kokoh-dan-mandiri-3.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kokoh dan Mandiri (2)</title>
		<link>http://pks-sidoarjo.org/profil-kader-pks/kokoh-dan-mandiri-2.htm</link>
		<comments>http://pks-sidoarjo.org/profil-kader-pks/kokoh-dan-mandiri-2.htm#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 27 Jun 2010 01:02:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>webmaster</dc:creator>
				<category><![CDATA[Profil Kader PKS]]></category>
		<category><![CDATA[Kokoh dan Mandiri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pks-sidoarjo.org/?p=1049</guid>
		<description><![CDATA[Kekokohan fikriyah dan ilmiah seorang kader dalam perjalanan dakwah lima tahun ke depan sangat diperlukan dan merupakan tuntutan yang harus dipenuhi. Tanpa wawasan dan keilmuan yang memadai, kader dakwah tidak akan mampu berinteraksi dengan dunia kemajuan, era global, dan teknologi informasi yang dihadapinya.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>II. Indikator Kokoh Fikriyah</strong></p>
<ol>
<li>Menguasai mawad tarbawiyah dengan baik,</li>
<li>Mampu memahami tafsir dan ulumul Quran sesuai madah tarbiyah,</li>
<li>Mampu memahami hadis dan Ulumul Hadis sesuai madah tarbiyah,</li>
<li>Mampu berbahasa Arab dan Inggris,</li>
<li>Memiliki wawasan tentang gerakan-gerakan destruktif,</li>
<li>Memiliki wawasan global.</li>
</ol>
<p><span id="more-1049"></span><br />
Kekokohan fikriyah dan ilmiah seorang kader dalam perjalanan dakwah lima tahun ke depan sangat diperlukan dan merupakan tuntutan yang harus dipenuhi. Tanpa wawasan dan keilmuan yang memadai, kader dakwah tidak akan mampu berinteraksi dengan dunia kemajuan, era global, dan teknologi informasi yang dihadapinya. Ia akan tertinggal jauh dengan milieu dakwahnya, apalagi merekayasa masyarakat dan dunia. Karena &#8220;<em>faaqidus sya&rsquo;i laa yu&rsquo;thi ghairahu</em>&#8221; (orang yang tidak memiliki apaapa tidak akan dapat memberi kontribusi pada yang lain).</p>
<p>Kekokohan fikriyah para rasul tergambar pada minhaj dan risalah yang diturunkan Allah SWT kepada mereka. Sementara Al Quran telah bicara panjang lebar tentang urgensi keilmuan, seperti, &#8220;<em>Katakanlah: &#8220;Hai kaumku, bekerjalah sesuai dengan keadaanmu, sesungguhnya aku akan bekerja (pula), maka kelak kamu akan mengetahui.</em>&#8221; (QS. 39:39)</p>
<p>Berkata Yusuf as, &#8220;<em>Jadikanlah aku bendahara negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga lagi berpengetahuan.</em>&#8221; (QS. 12:55)</p>
<p>&#8220;<em>Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu: &#8220;Berlapang-lapanglah dalam majelis&#8221;, lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: &#8220;Berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.</em>&#8221; (QS. 58:11)</p>
<p>Surat yang pertama pun turun berkaitan erat dengan metode membangun kekuatan keilmuan dan wawasan, yaitu perintah membaca.</p>
<p>Rasulullah saw bersabda, &#8220;<em>Barangsiapa yang diinginkan baik oleh Allah SWT, ia akan diberi pemahaman tentang agama.</em>&#8221;</p>
<p>Sementara Imam Syafi&rsquo;i-<em>rahimahullah</em>-berkata dalam antologi puisinya, &#8220;<em>Barangsiapa pada waktu mudanya tidak melakukan dakwah, hendaklah ditakbirkan empat kali karena ia telah wafat. Dan hakikat seorang pemuda-demi Allah SWT-hanya dengan keilmuan dan ketakwaaan. Maka apabila ia tidak memiliki keduanya, janganlah kamu anggap sebagai pemuda.</em>&#8221;</p>
<p>Di sinilah, As-Syahid Hasan Al Banna menekankan kepada kader dakwah untuk memahami dan <em>isti&rsquo;ab</em> penuh terhadap <em>ushul &rsquo;isyriin</em> yang digariskan beliau dalam membangun kekuatan kader dakwahnya. Berangkat dari sini, beliau meletakkan &#8220;Al fahm&#8221; di urutan pertama dalam rukun <em>bai&rsquo;ah</em>-nya.</p>
<p>Dipublikasi ulang oleh <a href="http://www.pks-sidoarjo.org">Admin DPD PKS Sidoarjo</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pks-sidoarjo.org/profil-kader-pks/kokoh-dan-mandiri-2.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kokoh dan Mandiri (1)</title>
		<link>http://pks-sidoarjo.org/profil-kader-pks/kokoh-dan-mandiri-1.htm</link>
		<comments>http://pks-sidoarjo.org/profil-kader-pks/kokoh-dan-mandiri-1.htm#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 20 Jun 2010 01:01:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>webmaster</dc:creator>
				<category><![CDATA[Profil Kader PKS]]></category>
		<category><![CDATA[Kokoh dan Mandiri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pks-sidoarjo.org/?p=1047</guid>
		<description><![CDATA[Seorang kader yang memiliki kebugaran jasmani tanpa disertai dengan kekuatan ruhiyah ma&#8217;nawiyah, maka ia tidak akan mampu melaksanakan kerja-kerja dakwah.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>B. Indikator Kokohnya Seorang Kader</strong></p>
<p><strong>I. Indikator Kokoh Ma&rsquo;nawiyah</strong></p>
<ol>
<li>Ikhlas dalam berdakwah,</li>
<li>Senantiasa memurnikan akidah dari bid&rsquo;ah dan khurafat,</li>
<li>Qiyamullail minimal 3 kali setiap pekan,</li>
<li>Puasa sunnah minimal 3 kali setiap bulan,</li>
<li>Tilawah minimal 1 juz setiap hari,</li>
<li>Membaca ma&rsquo;tsurat pagi dan sore setiap hari,</li>
<li>Tadabbur Al Quran minimal satu ayat dalam sehari,</li>
<li>Sabar dalam menghadapi ujian hidup dan dakwah,</li>
<li>Senantiasa tawakal kepada Allah SWT dalam setiap situasi dan kondisi,</li>
<li>Senantiasa berzikir.</li>
</ol>
<p><span id="more-1047"></span><br />
Seorang kader yang memiliki kebugaran jasmani tanpa disertai dengan kekuatan ruhiyah ma&rsquo;nawiyah, maka ia tidak akan mampu melaksanakan kerja-kerja dakwah. Kekokohan ma&rsquo;nawiyah merupakan daya dorong untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan operasional dan beban dakwah. Maka dalam lima tahun ke depan, kader harus membangun kekuatan ruhiyah untuk menjaga keikhlasan dalam medan dakwah partai. Baik yang berkaitan dengan dimensi akidah, ibadah, dan akhlak. Tidak diragukan lagi keimanan yang dimiliki oleh generasi salafus saleh ikut andil dan melakukan <em>ta&rsquo;tsir</em> besar dalam setiap keberhasilan kerja dakwah. Dan kekuatan ruhiyah kader juga memiliki pengaruh besar dalam kemenangan dakwah partai dan kepercayaan masyarakat. </p>
<p>Allah SWT berfirman, &#8220;<em>Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah, mendirikan shalat, dan membayarkan zakat. Mereka takut pada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi guncang.</em>&#8221; (QS 24: 37)</p>
<p>Rasulullah saw.-sesuai yang diceritakan Aisyah r.a.-pernah melakukan shalat sampai kakinya bengkak. Umar bin Khathab selalu berpesan kepada para pasukan sebelum berangkat bertempur untuk tidak mengabaikan kekuatan ruhiyah, karena merupakan modal utama bagi mereka dalam menghadapi kuffar. Memang selain dimensi keilmuan, kekuatan ruhiyah harus dimiliki kader dakwah sebagaimana yang dituangkan Imam Syafi&rsquo;i dalam antologi puisinya, &#8220;Barangsiapa pada waktu mudanya tidak melakukan dakwah, hendaklah ditakbirkan empat kali karena ia telah wafat. Dan hakikat seorang pemuda-demi Allah SWT-hanya dengan keilmuan dan ketakwaan. Maka, jika ia tidak memiliki keduanya, janganlah kamu anggap sebagai pemuda.&#8221; Oleh karenanya, Imam As-Syahid Hasan Al Banna sangat memerhatikan dimensi ini dalam membangun kader dakwah seperti yang tertuang dalam beberapa risalahnya, dalam 10 tausiahnya, dan Wajibat Al Akh.</p>
<p>Dipublikasi ulang oleh <a href="http://www.pks-sidoarjo.org">Admin DPD PKS Sidoarjo</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pks-sidoarjo.org/profil-kader-pks/kokoh-dan-mandiri-1.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kokoh dan Mandiri</title>
		<link>http://pks-sidoarjo.org/profil-kader-pks/kokoh-dan-mandiri.htm</link>
		<comments>http://pks-sidoarjo.org/profil-kader-pks/kokoh-dan-mandiri.htm#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 13 Jun 2010 01:00:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>webmaster</dc:creator>
				<category><![CDATA[Profil Kader PKS]]></category>
		<category><![CDATA[Kokoh dan Mandiri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pks-sidoarjo.org/?p=1045</guid>
		<description><![CDATA["Kokoh" yang dimaksudkan dalam buku ini adalah karakter kader yang memiliki kekuatan, kematangan, dan kedewasaan secara <em>ma&#8217;nawiah</em>, <em>fikriah</em>, <em>da&#8217;awiah</em>, dan <em>jasadiah</em>.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Adalah sahabat Rasulullah, yaitu Mush&rsquo;ab bin Khubaib al Anshari yang tertawan oleh kaum musyrik Quraisy di kota Mekah.</p>
<p>Ketika itu, kaum musyrik Quraisy telah melukai tubuhnya dan membawanya ke tiang salib. Lalu mereka berkata, &#8220;Apakah kamu mau bila Muhammad menjadi penggantimu dalam hukuman ini?&#8221;<br />
<span id="more-1045"></span><br />
Mush&rsquo;ab bin Khubaib al Anshari menjawab, &#8220;Demi Allah, aku tidak akan merelakan apabila diriku, istriku, dan anak-anakku dalam keadaan balk, sementara Muhammad tertusuk duri.&#8221; Kemudian dia meneriakkan nama Muhammad dan dia mencapai syahidnya di tiang salib tersebut. </p>
<p>Inilah profil kader yang diinginkan institusi tarbiyah Partai Dakwah, PK Sejahtera lima tahun ke depan, yaitu kader yang memiliki karakter kokoh dan mandiri.</p>
<p><strong>A. Pengertian Kokoh dan Mandiri</strong></p>
<p>&#8220;Kokoh&#8221; yang dimaksudkan dalam buku ini adalah karakter kader yang memiliki kekuatan, kematangan, dan kedewasaan secara <em>ma&rsquo;nawiah</em>, <em>fikriah</em>, <em>da&rsquo;awiah</em>, dan <em>jasadiah</em>.</p>
<p>Inilah kader yang memiliki ketajaman <em>ruhiah</em>, kebeningan, dan kejernihan jiwa juga kader yang mempunyai keluasan iimu pengetahuan, wawasan global, dan kekuatan mengimplemen-asikan keilmuannya dalam realitas kehidupannya. Ini pulalah kader yang mampu <em>tsabat</em> dan <em>istiqomah</em> dalam medan dakwah meskipun gelombang ujian silih berganti menghadangnya. </p>
<p>Dan seorang kader yang memiliki kebugaran dan kesehatan jasmani, sehingga mampu mengemban beban dakwah dan senantiasa dinamis dan energik. Tanpa mengenal lelah, lesu, dan loyo dalam merespon <em>nida&rsquo;</em> dakwah.</p>
<p><em>&#8220;Dan berapa banyak nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar.&#8221;</em> (QS 3:146)</p>
<p>Rasulullah saw bersabda, &#8220;<em>Seorang mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai Allah SWT daripada seorang mukmin yang lemah&#8230;</em>&#8221;</p>
<p>Imam As-Syahid Hasan Al Banna dalam sebuah risalahnya secara eksplisit menginginkan kader yang memiliki kekokohan dan kemandirian untuk mengemban beban dakwah. Beliau berkata, &#8220;<em>Kami menginginkan jiwa-jiwa yang hidup, kuat, dan selalu muda. Hati yang baru yang senantiasa berkibar-kibar dan ruh yang selalu menggelora dan berobsesi untuk menuju cita-cita yang tinggi&#8230;</em>&#8221;</p>
<p>Syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh kader dakwah dalam menyukseskan delapan <em>fikrah ikhwaniah</em>, di saat sang kader memiliki kekuatan, kematangan dan kekokohan secara <em>maknawi</em>, <em>fikri</em>, <em>da&rsquo;awi</em>, <em>jasadi</em>, yaitu:</p>
<ol>
<li>Keimanan yang kuat,</li>
<li>Keikhlasan di jalan dakwah,</li>
<li><em>Hamasah</em> (semangat) yang membara,</li>
<li>Amal dan <em>tadlhiah</em> (pengorbanan).</li>
</ol>
<p>&#8220;Mandiri&#8221; dalam buku ini adalah kemampuan seorang kader dalam melakukan pengembangan diri dan pembelajaran secara mandiri (<em>ta&rsquo;allum dzaati</em>) dan kemandirian dalam dimensi <em>maaliah</em> (keuangan).</p>
<p>Begitu pun, seorang kader harus memiliki kemandirian dalam urusan keuangan. la tidak boleh bergantung dengan orang lain dalam masalah ini. Bagaimana dapat melakukan <em>tadlhiah</em> (pengorbanan), jika tidak mandiri dalam masalah <em>ta&rsquo;allum dzaati</em> maupun masalah keuangan. Bahkan tidak adanya kemandirian yang dimiliki kader dakwah dapat menjadi faktor kefuturan dan berjatuhan dalam jalan dakwah.</p>
<p>Dipublikasi ulang oleh <a href="http://www.pks-sidoarjo.org">Admin DPD PKS Sidoarjo</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pks-sidoarjo.org/profil-kader-pks/kokoh-dan-mandiri.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kata Pengantar</title>
		<link>http://pks-sidoarjo.org/profil-kader-pks/kata-pengantar.htm</link>
		<comments>http://pks-sidoarjo.org/profil-kader-pks/kata-pengantar.htm#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Nov 2009 04:58:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>webmaster</dc:creator>
				<category><![CDATA[Profil Kader PKS]]></category>
		<category><![CDATA[Kokoh dan Mandiri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pks-sidoarjo.org/?p=557</guid>
		<description><![CDATA[Pekerjaan besar paska Pemilu 2004 bagi partai dakwah adalah tarbiyah. Hasil pemilu berupa 8,3 juta konstituen merupakan bahan dasar potensial bagi proses tarbiyah itu. Baik yang akan dikolola ke dalam format tarbiyah <em>nukhbawiyah</em> maupun yang akan terus dikelola ke dalam format tarbiyah <em>jamahiriyah</em>.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><strong>Profil Kader PK Sejahtera 2009</strong></p>
<p>Pekerjaan besar paska Pemilu 2004 bagi partai dakwah adalah tarbiyah. Hasil pemilu berupa 8,3 juta konstituen merupakan bahan dasar potensial bagi proses tarbiyah itu. Baik yang akan dikolola ke dalam format tarbiyah <em>nukhbawiyah</em> maupun yang akan terus dikelola ke dalam format tarbiyah <em>jamahiriyah</em>.<br />
<span id="more-557"></span><br />
Sudah dijelaskan sebelumnya, target tarbiyah nukhbawiyah adalah tersedianya sekitar 2 juta kader pada tahun 2009, atau sekitar 20% dari keseluruhan konstituen kita pada pemilu 2004. Itu pun harus mempertimbangkan penyebaran kader dan <em>halaqah tarbawiyah</em> yang merata secara geografis, mempertimbangkan keseimbangan proporsi anggota pada setiap jenjang, segmentasi sosio-demografis, termasuk keseimbangan jumlah ikhwan dan akhwat.</p>
<p>Ada satu hal tambahan penting bagi proses tarbiyah <em>nukhbawiyah</em>. Yaitu keharusan memenuhi aspek kualitas kader, yang dikenal dengan muzuashafat tarbawiyah. Secara umum, proses tarbiyah berupaya membentuk kepribadian setiap kader yang memenuhi sepuluh aspek <em>muwashafat tarbawiyah</em>. Yaitu: <em>salimul aqidah</em> (bersih akidahnya), <em>shahihul ’ibadah</em> (benar ibadahnya), <em>matinul khulq</em> (kokoh akhlaknya), <em>qawiyyul jism</em> (kuat fisiknya), <em>mutsaqqaful fikr</em> (berwawasan pernikirannya), <em>qadirun ’alal kasbi</em> (mampu berekonomi), <em>munazhamun fi su’unihi</em> (terorganisir segala urusannya), <em>harishun ’ala waqtihi</em> (cermat mengatur waktunya), <em>mujahidun fi nafsihi</em> (kuat kesungguhan jiwanya) dan <em>naafi’un li ghairihi</em> (bermanfaat bagi selainnya).</p>
<p>Kesepuluh aspek kualitas kader ini dicapai melalui berbagai kegiatan pembinaan atau <em>ansyithah tarbawiyah</em> di berbagai sarana yang digariskan oleh manhaj tarbiyah. Halaqah sebagai sarana pembentukan akidah, fikrah, ’ibadah, akhlak dan penguasaan ’amal jama’i. Mabit sebagai sarana <em>tarbiyah ruhiyah</em>, <em>riyadhah jama’i</em> sebagai sarana <em>tarbiyah jasadiyah</em>, <em>rihlah</em> sebagai sarana <em>tarbiyah ukhawiyah</em>, daurah dan sejenisnya sebagai sarana <em>tarbiyah fikriyah</em>.</p>
<p>Selain itu, pembentukan kualitas kader juga dilakukan melalui <em>tadrib wa taujih al ’amal</em> atau pelatihan dan pengarahan kerja di berbagai bidang. Seorang murabbi berkeharusan untuk melatih dan mengarahkan para mutarabbi-nya untuk terlibat dalam <em>’amal da’awi</em> (kerja dakwah), <em>’amal ’ilmi</em> (kerja akademik), <em>’amal mihani</em> (kerja profesi), <em>’amal iqtishadi</em> (kerja ekonomi), <em>’amal siyasi</em> (kerja politik), <em>’amal i’lami</em> (kerja media dan informasi), <em>’amal ijtima’i</em> (kerja kemasyarakatan), dan lain sebagainya. Sehingga setiap kader bukan saja berkualitas secara normatif-teoretis tetapi juga berkualitas secara praktis-aplikatif.</p>
<p>Lima tahun ke depan, dakwah ini akan berhadapan dengan peluang dan sekaligus tantangan yang besar. Peluang itu berupa terbukanya lahan-lahan dakwah di berbagai bidang, baik dalam ruang masyarakat maupun lembaga-lembaga swasta dan pemerintahan. Ekspansi dakwah ini membutuhkan ketersediaan kader-kader dakwah dalam jumlah banyak, yang memiliki keunggulan normatif dan aplikatif. Kemampuan jajaran kader melakukan ekspansi dakwah, menyebarkan fikrah, memperluas pengaruh dan membangun kepemimpinan di masyarakat akan menentukan keberhasilan misi dakwah di <em>mihwar muassasi</em> ini.</p>
<p>Tetapi pada saat yang sama, kita akan menghadapi tantangan-tantangan yang tak kalah besar. Pengubahan dan dinamika global yang tidak bersahabat dengan dakwah Islam, kondisi-kondisi sulit dalam negeri yang masih memunculkan ketidakpastian, serta<br />
penyakit masyarakat yang semakin parah berpotensi menjadi hambatan dan ancaman bagi dakwah kita.</p>
<p>Peluang dan tantangan semacam ini-yang kita ukur dinamikanya sepanjang lima tahun ke depan-membutuhkan profil kader yang lebih khusus. Artinya, ada sisi-sisi kualitas diri yang perlu diperkuat agar dihasilkan barisan kader yang mampu menembus peluang dan tantangan dakwah ke depan.</p>
<p>Departemen Kaderisasi PK Sejahtera, sebagai elemen struktural yang bertanggung jawab terhadap masalah pengkaderan, telah merumuskan tujuh karakter khusus sebagai Profil Kader PK Sejahtera 2009. Ketujuh karakter itu adalah: <strong>(1) kokoh dan mandiri, (2) dinamis, kreatif dan inovatif, (3) spesialis yang berwawasan global, (4) murabbi produktif, (5) mahir ber’amal jama’i, (6) pelopor pengubahan, dan (7) kepemimpinan masyarakat.</strong></p>
<p>Inilah tujuh karakter khusus yang haras dibangun pada diri setiap kader-kader dakwah, jika ingin memenangkan dakwah ini pada pemilu 2009 nanti. Tiga karakter pertama merefleksikan <strong>kapasitas internal</strong> seorang kader yang memahami dinamika global kehidupan saat ini, tetapi memiliki kemampuan spesialis yang protesional. Aktivitas kerja dan dakwahnya senantiasa ditandai oleh kekokohan dan kemandirian diri, gerak yang dinamis serta ide-ide yang kreatif dan inovatif. Kapasitas internal ini diperkuat dengan dua karakter berikutnya yang merefleksikan <strong>kapasitas sosial</strong>-nya. Yaitu orang yang mampu mendidik masyarakat dan menjadikannya kader dakwah, dengan pola kerja ’amal jama’i sesuai prinsip-prinsip dakwah Islam. la dikenal di masyarakat sebagai orang shalih yang mampu menyebarkan dan menularkan keshalihannya.</p>
<p>Akhirnya, kapasitas internal dan kapasitas sosial kader disempurnakan dengan dua karakter berikut, yaitu pelopor pengubahan dan kepemimpinan masyarakatnya. Ini adalah kapasitas politik yang dituntut dari setiap kader. Artinya, kebaikan diri dan sosialnya dijadikan modal untuk menjadi aktor politik yang salih di negerinya. Ia senantiasa memelopori pengubahan dengan beragam program, dengan menghimpun segala potensi masyarakat dan dakwah yang ada di sekitarnya, mengarahkannya sesuai prinsip dan sasaran dakwah, lalu menggerakkan potensi itu menjadi energi pengubahan yang positif. Setiap bentuk pengubahan positif yang dipeloporinya akan menjadi modal akumulatif bagi pembentukan posisi kepemimpinannya di masyarakat. Sehingga pada pemilu 2009 nanti, jika dibe’rlakukan sistem distrik murni, insya Allah dakwah ini telah memiliki kader-kader yang menjadi <em>informal-leader</em> di masyarakat pemilihnya.</p>
<p>Dari paparan ini, mungkin muncul pertanyaan tentang bagaimana mewujudkan profil kader semacam ini? Bukankah ini membutuhkan sosok murabbi super? Saya tidak ingin memberikan jawaban rincian, karena bisa jadi para murabbi lebih tahu caranya. Tetapi ada beberapa prinsip yang menjadi <em>key-words</em> bagi kesuskesan pekerjaan besar ini. Pertama, pengelolaan tarbiyah haruslah bersifat interaktif. Artinya, proses pembinaan tidak boleh berhenti pada aspek-aspek normatif-teoretik. Setiap kader harus diinteraksikan dengan realitas kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai dan pemahaman yang dibentuk dalam halaqah tarbawiyah harus mampu dibimbing pada penerapan amalnya di lapangan; pada kehidupan pribadi, kehidupan keluarga, aktivitas ekonomi dan lain sebagainya. Untuk itu, seorang murabbi tidak boleh membatasi interaksinya dengan para mutarabbi di ruang-ruang <em>halaqah tarbawiyah</em>. Tapi ia senantiasa bergaul dengan mereka di berbagai kesempatan dan ruang kehidupan.</p>
<p>Prinsip kedua, pengelolaan tarbiyah haruslah bersifat responsif. Yaitu, ada sikap positif yang dibangun untuk peka terhadap dinamika kehidupan di sekitar dan mampu meresponnya secara manhaji. <em>Halaqah tarbawiyah</em> akan diramaikan dengan laporan pandangan mata para mutarabbi tentang apa yang terjadi dilingkungan kehidupan mereka. Persis seperti burung <em>hud-hud</em> yang melapor kepada Nabi Sulaiman a.s. tentang situasi-kondisi kerajaan Saba’ yang dipimpin oleh Ratu Balqis. Reportase ini didiskusikan, disimpulkan dan direspon dengan <em>barnamij</em> atau program dakwah yang dilaksanakan secara ’amal jama’i. Setiap kader dimotivasi dan diberi kepercayaan untuk mendayagunakan semua potensi yang dimilikinya dalam menjalankan program itu. Sehingga terdorong ide-ide kreatif, inovatif dan sifat dinamis pada diri mereka.</p>
<p>Prinsip terakhir, pengelolaan tarbiyah harus mampu memunculkan iklim <em>fastabiqul khairat</em> atau iklim berkompetisi. Dakwah tidak berjalan di ruang kosong, tetapi-sesuai sunnahnya-berjalan di tengah medan pertarungan yang luas dan kompleks. Di sekelilingnya begitu banyak unsur-unsur kekuatan kebatilan yang ingin memaksakan hegemoninya, dan secara serius bekerja untuk menghadang dakwah. Telah begitu banyak kerusakan dan fitnah yang mereka ciptakan. Demikianlah, dakwah dihadirkan Allah untuk melenyapkan semua kerusakan dan fitnah di muka bumi ini. Sesuatu yang hanya bisa terwujud, manakala tersedia barisan kader dakwah yang memiliki semangat <em>fastabiqul khairat</em> untuk meraih kemenangan dari Allah Azza wa Jalla.</p>
<p>Dipublikasi ulang oleh <a href="http://www.pks-sidoarjo.org">Admin DPD PKS Sidoarjo</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pks-sidoarjo.org/profil-kader-pks/kata-pengantar.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

