<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>DPD PKS Sidoarjo &#187; Pemimpin</title>
	<atom:link href="http://pks-sidoarjo.org/tag/pemimpin/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://pks-sidoarjo.org</link>
	<description>Bekerja untuk Sidoarjo Sejahtera</description>
	<lastBuildDate>Mon, 13 Jun 2011 00:54:24 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.6</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Kalau Pemimpin Gerakan Jadi Pemimpin Negara</title>
		<link>http://pks-sidoarjo.org/taujih-umum/kalau-pemimpin-gerakan-jadi-pemimpin-negara.htm</link>
		<comments>http://pks-sidoarjo.org/taujih-umum/kalau-pemimpin-gerakan-jadi-pemimpin-negara.htm#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 25 Jan 2010 20:15:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>webmaster</dc:creator>
				<category><![CDATA[Taujih Umum]]></category>
		<category><![CDATA[Gerakan]]></category>
		<category><![CDATA[Negara]]></category>
		<category><![CDATA[Pemimpin]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pks-sidoarjo.org/?p=807</guid>
		<description><![CDATA[Oleh M Anis Matta
Musim Gugur Politik
1999-2004. Itu tahun-tahun yang panjang dari musim gugur politik. Para pemimpin negara naik seketika dan jatuh seketika. Kalau toh masih bertahan, ia hanyalah simbol bahwa negara kita masih hidup, bukan simbol kepemimpinan yang efektif.

Partai-Partai politik juga berguguran di hati rakyat. 
Musim gugur itu terjadi dalam tahun-tahun di mana kita memasuki [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;">Oleh M Anis Matta</p>
<p><strong>Musim Gugur Politik</strong></p>
<p>1999-2004. Itu tahun-tahun yang panjang dari musim gugur politik. Para pemimpin negara naik seketika dan jatuh seketika. Kalau toh masih bertahan, ia hanyalah simbol bahwa negara kita masih hidup, bukan simbol kepemimpinan yang efektif.<br />
<span id="more-807"></span><br />
Partai-Partai politik juga berguguran di hati rakyat. </p>
<p>Musim gugur itu terjadi dalam tahun-tahun di mana kita memasuki era reformasi, yang lahir di ujung rezim orde baru dan di ambang sebuah krisis multi dimensi. Rakyat kita terlanjur menaruh harapan besar pada reformasi: bahwa era ini akan dikawal oeh pemimpin yang bukan hanya memiliki integritas pribadi, tapi juga mengerti bagaimana menangani krisis multi dimensi ini.</p>
<p>Haraban itulah yang sekarang layu sebelum berkembang, gugur satu demi satu dari tahun ke tahun. Mereka kehilangan kepercayaan, bukan hanya kepada pemimpin politik, tapi juga kepada institusi politik. Mereka tidak percaya pada integritas dan kemampuan para pemimpin menangani krisis. Mereka juga tidak percaya pada efektifitas gerakan dalam mengapresiasi dan memperjuangkan kepentingan rakyat.</p>
<p><strong>Musim Semi Kepemimpinan Gerakan</strong></p>
<p>Di ujung musim gugur akan datang musim semi. Rakyat kecewa. Bahkan sangat kecewa. Tapi mereka tidak berhenti berharap. Dan harapan yang muncul di ujung kekecewaan selalu merupakan pertanda bahwa sejarah akan lewat di sini: di potongan masa paling penting dalam perjalanan gerakan, untuk merekrut kepemimpinan baru bagi bangsa besar yang sedang tercabik-cabik ini.</p>
<p>Krisis adalah celah sejarah. Kekecewaan adalah pintu masuknya. Sejarah panjang umat kita di abad yang lalu bercerita bahwa lahir di tengah krisis-krisis multi dimensi dan tumbuh di tengah bencana-bencana besar, gerakan Islam memang ditakdirkan hadir untuk menyelesaikan perkara-perkara umat sekaligus mernimpin mereka, setelah tak ada lagi orang atau generasi yang dapat mereka harapkan.</p>
<p>Jadi keyakinan bahwa inilah musim semi kepemimpinan <em>harakah</em> (gerakan) setidak-tidaknya dibangun dari beberapa alasan. <strong>Pertama, akumulasi pengalaman gerakan sebagai pembawa ruh kebangkitan umat sepanjang abad 20 lalu.</strong> Gerakan-sepanjang abad lalu-telah berhasil menyalakan api kebangkitan dalam dada umat Islam dalam wajahnya yang utuh sebagai sistem kehidupan, dan kemudian menjadi tulang punggung yang memikul sebagian besar beban umat.</p>
<p>Secara perlahan-lahan gerakan menyembuhkan penyakit-penyakit jiwa, sosial, ekonomi dan politik yang tercipta dari efek penjajahan, membangun generasi kepemimpinan baru dalam bidang pemikiran, sosial kemasyarakatan, ekonomi politik, hingga kepemimpinan di medan jihad. Maka kredibilitas gerakan juga terbangun perlahan: dari ulama dan pemikir yang memenuhi perpustakaan dunia Islam dan menjadi rujukan umat hingga para mujahidin dan syuhada yang menyemai medan jihad dengan darah mereka. Secara <em>de facto</em>, kepemimpinan umat kini telah beralih ke tangan gerakan.</p>
<p><strong>Kedua, kegagalan kelompok-kelompok nasionalis sekuler.</strong> Pada sebuah sudut di mana gerakan membangun kepemimpinannya dan membuktikan kredibilitasnya di mata umat, lalu perlahan-lahan mengambil alih kepemimpinan umat, pada sebuah sudut lain kelompok nasionalis sekuler yang sedang berkuasa-baik yang membawa bendera sosialisme-komunisme maupun yang membawa bendera kapitalisme-memperlihatkan kegagalan demi kegagalan.</p>
<p>Lihatlah negeri kita. Atas nama nasionalisme-dan dengan mengusung bendera komunisme-Soekarno memimpin Indonesia selama 20 tahun. Ujnngnya adalah bencana ekonomi politik, dan riwayat pemimpin revolusi itu berakhir. Soekarno jatuh.</p>
<p>Atas nama nasionalisme juga-dan dengan membawa bendera kapitaslisme- oeharto memimpin Indonesia selama 32 tahun. Ujungnya juga bencana ekonomi politik, dan kisah Bapak Pembangunan itu pun berakhir. Soeharto jauh. Ini bukan cerita khas Indonesia. Ini juga cerita Mesir, Aljazair, Turkt Pakistan dan lainnya.</p>
<p><strong>Ketiga, krisis besar yang diciptakan oleh proses globalisasi.</strong> Globalisasi adalah berkah bagi negara-negara kuat. Tapi ia juga bencana bagi negara dengan struktur sosial ekonomi politik yang rapuh. Begitulah cita rasa globalisasi yang kita saksikan lewat krisis moneter tahun 1997, yang kemudian berkembang menjadi krisis multi dimensi, yang hingga kini belum berakhir.</p>
<p>Kepemimpinan nasional yang lemahlah yang membuat goncangan ekonomi berantai itu menuai efek sangat dahsyat bagi bangsa kita. Sementara Thailand, Korea dan Malaysia melakukan recovery, kita masih terns terpuruk.</p>
<p>Globalisasi akan menjadikan kita sebagai pemain figuran dalam pentas ekonomi politik dunia, kecuali jika kita berani melakukan restrukturisasi kepemimimpinan nasional. Dan inilah celah masuk bagi kepemimpinan gerakan.</p>
<p><strong>Keempat, perbaikan pada tingkat pendidikan dan partisipasi politik generasi pemimpin gerakan.</strong> Gelombang demokratisasi yang terjadi di berbagai belahan dunia menyusul runtuhnya Uni Soviet di awal dekade 90-an, seperti banjir bandang yang menyeret semua komponen masyarakat ke dalam arena politik. Begitu juga dengan gerakan. Pengalaman partisipasi politik gerakan telah memicu percepatan proses pembelajaran, dan pada saat yang sama, telah memperluas wilayah penerimaan masyarakat terhadap kepemimpinan gerakan. Maka di samping ada pengalaman <em>people power</em> yang sukses di Iran tahun 1979, dan kudeta militer yang sukses di Sudan tahun 1987, kini ada juga sukses Hamas di Aljazair serta gerakan Keadilan dan Pembangunan di Turki.</p>
<p><strong>Menembus Jarak</strong></p>
<p>Karena alasan-alasan itu, barangkali cukup bijak untuk mengatakan tahun-tahun mendatang adalah tahun panen bagi gerakan. <strong><em>Sudah saatnya para pemimpin gerakan mengembangkan sayap kepemimpinannya dari lingkaran gerakan dan umat kepada lingkaran bangsa dan dunia.</em></strong></p>
<p>Memang tidak bijak untuk terlalu menyederhanakan masalah ini. Tapi juga tidak sama bijaknya untuk terlalu meremehkan diri sendiri, dan seterusnya memaafkan diri sendiri untuk selamanya berada &rsquo;di dalam&rsquo; dan tidak &rsquo;keluar&rsquo;. </p>
<p>&#8220;Saya tahu,&#8221; kata Sayyid Quthub, &#8220;bahwa di antara realitas kepemimpinan gerakan saat ini dan peluang merebut kepemimpinan bangsa di masa depan, masih terbentang jarak yang jauh.&#8221;</p>
<p>Tapi jarak realitas itulah yang harus kita ketahui, untuk kita tembus dengan kerja keras. Walaupun begitu, tipikal kepemimpinan nasional yang diperlukan bangsa kita saat ini adalah tipikal pemimpin krisis. Dan tipikal kepemimpinan krisis bertumpu pada pemenuhan tiga unsur sekaligus: <strong>integritas, pengetahuan dan kepemimpinan.</strong> Dan tipikal kepemimpinan seperti ini tumbuh subur dalam gerakan.</p>
<p>Kelemahannya adalah kepemimpinan gerakan masih tumbuh dalam lingkaran <em>mihwar</em> (era) dakwah yang baru saja memasuki arena politik. Jadi secara institusional, kepemimpinan ini perlu melakukan transformasi politik untuk untuk meningkatkan daya tahan integritas mereka, memperluas wawasan kebangsaan, dan sekaligus menguji kapasitas kepemimpinan mereka pada wilayah yang lebih luas dan beragam. <strong><em>Para pemimpin harokah harus mengakselerasi proses pembelajarannya supaya kapasitas mereka tumbuh seepat masalah-masalah nasional dan global yang mereka hadapi.</em></strong></p>
<p>Transformasi politik itu juga perlu dilakukan untuk memperluas hubungan dan koneksi politik, serta mendongkrak popularitas kepemimpinan gerakan di mata publik. Para pemimpin gerakan harus terlibat secara sangat progresif dalam mengambil momentum publik yang bersifat historis. Supaya dengan begitu bisa menjadi <em>icon</em> di tengah masyarakat. Sebab pemimpin selalu merupakan <em>icon</em> zamannya.</p>
<p>Tapi ini membutuhkan dukungan pada tingkat institusi. Maksudnya, institusi gerakan harus melakukan transformasi politik dari gerakan kader menjadi gerakan massa. <em><strong>Di era gerakan, kader gerakan berorientasi pada kualitas. Sementara di era massa, massa gerakan berorientasi pada kuantitas. Basis kader dan massa menjadi paduan yang kokoh dari kualitas dan kuantitas.</em></strong></p>
<p>Proses transformasi itu harus dikelola melalui sebuah strategi yang komprehensif dan integral. Diperlukan kajian-kajian pendukung dari ilmu antrapologi, sosiologi, sejarah, dan politik untuk mendapatkan peta yang akurat tentang masyarakat kita. Setelah itu diperlukan juga kajian-kajian pendukung dari ilmu komunikasi sosial dan politik untuk mengemas pesan gerakan dalam bahasa publik.</p>
<blockquote><p>
<strong>KELUARLAH SAUDARAKU</strong></p>
<p>Saudaraku, kau tahu bencana datang lagi<br />
Porak lagi negeri ini<br />
Hilang sudah selera orang-orang untuk mengharap<br />
Sementara jiwa-jiwa nelangsa itu<br />
Sudah sedari lama berbaris-baris memanggil-manggil</p>
<p>Keluarlah&#8230;<br />
Keluarlah saudaraku<br />
Dari kenyamanan mihrabmu<br />
Dari kekhusukan i&rsquo;tikafmu<br />
Dari keakraban sahabat-sahabatmu</p>
<p>Keluarlah&#8230;<br />
Keluarlah saudaraku<br />
Dari keheningan masjidmu<br />
Bawalah roh sajadahmu ke jalan-jalan<br />
Ke pasar-pasar<br />
Ke majlis dewan yang terhormat<br />
Ke kantor-kantor pemerintah dan pusat-pusat pengambilan keputusan</p>
<p>Keluarlah&#8230;<br />
Keluarlah saudaraku<br />
Dari nikmat kesendirianmu<br />
Satukan kembali hati-hati yang berserakan ini<br />
Kumpulkanlah kembali tenaga-tenaga yangtersisa<br />
Pimpinlah dengan cahayamu kafilah nurani yang terlatih<br />
Di tengah badai gurun kehidupan</p>
<p>Keluarlah&#8230;Keluarlah saudaraku<br />
Berdirilah tegap di ujung jalan itu<br />
Sebentar lagi sejarah kan lewat<br />
Mencari aktor baru untuk drama kebenarannya<br />
Sambut saja dia<br />
Engkaulah yang ia cari
</p></blockquote>
<p>Sumber: Hidayatullah no. 03/XVI/Juli 2003</p>
<p>Dipublikasi ulang <a href="http://www.pks-sidoarjo.org">Admin DPD PKS Sidoarjo</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pks-sidoarjo.org/taujih-umum/kalau-pemimpin-gerakan-jadi-pemimpin-negara.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ujian Kelayakan Pemimpin</title>
		<link>http://pks-sidoarjo.org/taujih-umum/ujian-kelayakan-pemimpin.htm</link>
		<comments>http://pks-sidoarjo.org/taujih-umum/ujian-kelayakan-pemimpin.htm#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 03 Jan 2010 22:42:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>webmaster</dc:creator>
				<category><![CDATA[Taujih Umum]]></category>
		<category><![CDATA[Pemimpin]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pks-sidoarjo.org/?p=740</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Untung Wahono
Seorang utusan Quraisy, Utbah bin Rabi&#8217;ah, datang kepada Muhammad Rasulullah saw, berbincang panjang lebar, lalu berkata, &#8220;&#8230;Sekarang dengar baik-baik, saya hendak menawarkan kepada engkau beberapa hal yang mungkin engkau dapat menerima salah satunya. Kalau dengan dakwah yang engkau lakukan itu, ingin mendapalkan harta kekayaan, kami akan kumpulkan harta kekayaan kami untuk engkau sehingga [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center">Oleh Untung Wahono</p>
<p>Seorang utusan Quraisy, Utbah bin Rabi&rsquo;ah, datang kepada Muhammad Rasulullah saw, berbincang panjang lebar, lalu berkata, &#8220;&#8230;Sekarang dengar baik-baik, saya hendak menawarkan kepada engkau beberapa hal yang mungkin engkau dapat menerima salah satunya. Kalau dengan dakwah yang engkau lakukan itu, ingin mendapalkan harta kekayaan, kami akan kumpulkan harta kekayaan kami untuk engkau sehingga engkau menjadi yang terkaya diantara kami. Kalau engkau menginginkan kehormatan dan kemuliaan, engkau akan kami angkat sebagai pemimpin dan kami tidak akan memutuskan persoalan apapun di luar persetujuan engkau. Kalau engkau ingin jadi raja, kami bersedia menobatkan engkau sebagai raja kami&#8230;.&#8221; Peristiwa ini diriwayatkan dalam <em>hadits hasan</em> oleh Ibnu Ishaq dan Abu Ya&rsquo;la.<br />
<span id="more-740"></span><br />
Jika misi utama Rasulullah &#8220;sekedar&#8221; menjadi penguasa, baik sekara ekonomi maupun politik, menjadi pemimpin bangsa Quraisy, bahkan jadi raja, sama sekali tidak sulit. Tetapi dalam perkataan Utbah jelas terkandung syarat, yakni semua itu akan diberikan kepada Muhammad saw jika dakwah yang diserukannya memang bertujuan untuk itu semua. Dengan perkataan yang lebih sederhana, Utbah ingin menegaskan, kalau semua khutbah atas nama Allah yang disampaikan Muhammad saw ujung-ujungnya harta dan kekuasaan, maka tidak usah omong banyak, semua akan segera mereka berikan asalkan seruan tauhid atas nama wahyu dan risalah segera dihentikan.</p>
<p>Namun, Rasulullah saw sadar tawaran Uthbah bukan jalan menuju kepemimpinan yang diridhai Allah SWT. Apalagi, beliau adalah nabi suci yang tidak mungkin memiliki ambisi serendah itu. Ada Nabi yang menjadi menteri seperti Yusuf as dan ada yang menjadi raja seperti Sulaiman as. Tetapi mereka menduduki posisi itu dengan <em>izzah</em> yang tinggi dan bukan atas sebuah &#8220;proses tawar-menawar&#8221; yang merugikan misi dakwah yang mereka emban dengan penuh kemuliaan.</p>
<p>Oleh karena itu, Rasulullah saw tidak mau &#8220;membeli&#8221; tawaran apapun baik yang menggiurkan maupun yang membahayakan (ancaman kekerasan) dengan mengatakan, &#8220;Demi Allah, aku tidak sanggup meninggalkan apa yang telah diperintahkan Allah kepadaku. Hal itu lebih berat bagiku daripada diharuskan menyalakan api dengan sinar matahari!&#8221; (HR Thabrani)</p>
<p><strong>Sebagai Konsekuensi, bukan Tujuan</strong></p>
<p>Dalam ilmu politik, dikenal istilah &#8220;power tends to corrupt&#8221;, kekuasaan cenderung menyeleweng. Ini menandakan, kepemimpinan yang di dalamnya biasa terkandung makna kekuasaan, dapat membawa seorang lupa diri sehingga mengabaikan fungsi-fungsi yang harus diembannya. Maka kehancuran membayang di hadapannya. Itulah sebabnya, Rasulullah saw menyatakan, &#8220;Sungguh kepemimpinan itu akan menjadi kedudukan yang diperebutkan di antara kamu dan pada hari kiamat kelak hal itu akan menjadikan kalian penuh penyesalan.&#8221; (HR Bukhari)</p>
<p>Kepemimpinan bukanlah sesuatu yang menjadi tujuan dari aktivitas seorang Muslim tetapi sebuah konsekuensi dari kehidupan kebersamaan di antara manusia. Manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan seseorang untuk mengawasi dan melaksanakan pengaturan-pengaturan yang berlaku dalam kehidupan sosial sehingga kepemimpinan memang harus ada. Namun fungsi-fungsi pemimpin yang baik ini bisa berubah 180 derajat. Seorang pemimpin justeru menjadi perusak tatanan kehidupan masyarakatnya. Hal ini dapat dicegah bila saja kepemimpinan itu tumbuh dari proses yang wajar dan bukan terwujud dari rekayasa-rekayasa yang memanipulasi kelemahan-kelemahan orang banyak agar seseorang bisa menjadi pemimpin.</p>
<p>Rasulullah saw bersabda, &#8220;Jangan engkau minta kepemimpinan (al-imarah) karena sesungguhnya jika engkau menerima kepemimpinan itu atas dasar permintaan (ambisi) niscaya akan membebanimu. Jika kepemimpinan itu diberikan bukan atas dasar ambisi, maka engkau akan ditolong (dalam pelaksanaannya).&#8221; (HR An-Nasaai)</p>
<p><strong>Sebuah Hasil Perjuangan</strong></p>
<p>Hampir dapat dipastikan, beban berat kepemimpinan tidak akan menarik ambisi seseorang untuk menjadi pemimpin. Oleh karena itu, biasanya kepemimpinan yang diperebutkan adalah kepemimpinan yang &#8220;telah jadi&#8221; dan menjanjikan kemewahan-kemewahan duniawi bagi mereka yang akan menyelewengkan amanatnya. Namun, kepemimpinan dalam perjuangan hanya dapat dilakukan oleh orang-orang yang ikhlas dan semata-mata mengejar terwujudnya idealisme yang dicita-citakannya.</p>
<p>Muhammad saw adalah seorang suami dari seorang pedagang kaya yang bernama Khadijah ra. Tetapi, harta kekayaannya itu habis dalam perjuangan menegakkan Islam selama bertahun-tahun di kota Makkah.</p>
<p>Muhammad saw adalah seorang dari keturunan terhormat dan penghargaan suku Quraisy diperlihatkan dengan kepemimpinan kabilah dari paman beliau Abu Thalib. Tetapi, dengan dakwah yang dipimpinnya ia menerima berbagai celaan bahkan berbagai tindak kekerasan yang-dalam pandangan sepintas kemanusiaan-dapat menghinakan posisinya. Di Thaif, beliau dikejar-kejar oleh orang dewasa dan anak-anak dan dilempari batu hingga kepalanya berdarah-darah.</p>
<p>Muhammad saw juga seorang yang lembut hati, tetapi beliau harus melihat bagaimana para pengikutnya disiksa dengan bengis dan kejam bahkan sampai mereka menghembuskan nafas terakhir tanpa bisa melakukan pembelaan dan pembalasan sedikit pun, sebagaimana yang terjadi pada keluarga Ammar bin Yasir. Semua itu dijalani oleh Rasulullah saw dengan sabar dan ikhlas, pada saat orang lain mungkin sudah tak kuat menanggung beban kepemimpinan seperti itu.</p>
<p>Kepemimpinan yang tumbuh dari kesulitan, pengorbanan, keuletan, dan keikhlasan seperti inilah akar dari kepemimpinan ideal sesungguhnya yang lahir dari sebuah proses yang membentuk kepribadian seseorang, dan bukan hasil &#8220;karbitan&#8221; karena pengaruh kekayaan atau kedekatan keluarga atau kepentingan lainnya. Tidak sedikit calon-calon pemimpin mengalami kegagalan karena tak kuat menanggung penderitaan yang panjang dan hebatnya tantangan yang dihadapi. Bahkan tidak sedikit pula yang kemudian berbalik arah &#8220;melompat&#8221; ke pihak musuh karena tak kuat menahan tawaran &#8220;kepemimpinan&#8221; yang diajukan mereka. Mereka &#8220;pemimpin gadungan&#8221; yang tak punya visi dan misi yang hakiki sebagaimana yang diinginkan Utbah bin Rabi&rsquo;ah atas Muhammad saw.</p>
<p>Para sahabat binaan Rasulullah saw sangat menyadari makna kepemimpinan hakiki dalam kehidupan mereka sehingga <strong>dapat menempatkan kapan mereka harus &#8220;menginginkan&#8221; suatu kepemimpinan dan kapan mereka &#8220;merasa berat&#8221; untuk menerimanya</strong>.</p>
<p>Suatu saat, ketika akan memberangkatkan pasukan dalam perang Khaibar, Rasulullah saw bersabda, &#8220;Sungguh aku akan memberikan bendera ini (menjadi pemimpin perang) kepada seorang laki-laki yang mencintai Allah dan Rasul-Nya dan Allah akan memberikan kemenangan di tangannya.&#8221; </p>
<p>Umar bin Khattab ra berkata, &#8220;Sungguh aku tidak pernah mendambakan al-imarah (kepemimpinan) kecuali pada hari itu. Maka aku sengaja memberikan isyarat (dengan wajah yang penuh keinginan) demi mengharap Rasulullah saw memanggil aku untuk memberikan bendera itu.&#8221; Namun, Rasulullah saw ternyata memanggil Ali bin Abi Thalib&#8230;&#8221; (HR Muslim).</p>
<p>Tentu saja keinginan Umar Ra itu tidak didasarkan kepada hawa nafsu duniawi karena risiko yang paling mungkin ditanggung pemimpin perang pada masa lalu adalah syahid terlebih dahulu. Karena dialah yang memegang bendera komando dan berada di barisan yang paling muka berhadapan dengan hadangan dan serbuan musuh. Tetapi, sesunnguhnya syahid adalah impiannya. </p>
<p>Sedangkan ketika harus menerima amanah sebagai Khalifah kaum Muslimin, Umar bin Khattab Ra merasa demikian beratnya sehingga senantiasa merasa khawatir apakah ia masih pada rel yang benar atau menyimpang.</p>
<p><strong>Kompetensi</strong></p>
<p>Kompetensi kepemimpinan yang dibutuhkan pada saat perjuangan adalah keikhlasan, kesabaran dan kekokohan dalam menanggung ujian yang menyulitkan. Tetapi ketika perjuangan itu sendiri telah menghasilkan buah, maka selain ujian-ujian yang menyulitkan datang pula ujian-ujian yang menjanjikan kesenangan (<em>balaaun hasanatun</em>) sehingga pintu-pintu kemewahan dunia terbuka.</p>
<p>Keikhlasan untuk tetap mengharap rahmat dan surga Allah SWT. Kesabaran dalam menghadapi peluang-peluang kehidupan mewah dan penuh sanjungan. Keteguhan untuk tetap bersikap adil dalam mengendalikan kekuasaan yang demikian besar di tangan. Itulah yang dihadapi Rasulullah saw dan kelak akan diwariskan kepada para sahabat-sahabatnya.</p>
<p>Pada periode Madinah, tidak ada lagi siksaan-siksaan yang menghinakan kepada kaum Muslimin sebagaimana di Makkah. Tetapi perang-perang berskala besar terjadi dengan konsekuensi kekalahan dan kemenangan. Kekalahan, meskipun menyedihkan, namun disambut gembira oleh para sahabat karena kematian membawa mereka kepada cita-cita syahid <em>fi sabilillah</em>.</p>
<p>Di sisi lain, kemenangan dengan harta rampasan (<em>ghanimah</em>) yang melimpah-ruah adalah ujian yang tidak mudah dihadapi, terutama ketika mulai terdapat orang-orang yang masuk Islam tidak dengan pemahaman yang mendalam. Harta rampasan perang ini juga yang menyebabkan hancurnya armada kaum Muslimin pada Perang Uhud padahal saat itu kemenangan telah di ambang pintu.</p>
<p>Rasulullah saw sebagai seorang pemimpin yang lahir dari perjuangan dan pergerakan Islam yang panjang sangat menyadari hal ini. Sebagai pemimpin, beliau mengantisipasi kemungkinan perubahan-perubahan sikap para pengikutnya dengan memberikan contoh perilaku keteladanannya. </p>
<p>Umar bin Khattab Ra pernah menangis melihat badan Rasulullah saw penuh tanda-tanda bekas tikar yang ditidurinya, padahal saat itu Rasulullah saw telah menjadi pemimpin besar jazirah Arab yang disegani pihak Romawi dan Persia.</p>
<p>Sikap sederhana ini kemudian menurun kepada Abu Bakar Shiddiq Ra, Umar bin Khattab Ra, Utsman bin Affan Ra dan Ali bin Abi Thalib Ra ketika mereka menjabat sebagai khalifah, pemimpin tertinggi kaum Muslimin.</p>
<p>Sahabat-sahabat yang setia pun tidak mengubah pola kehidupannya meskipun mereka telah menjadi gubernur sebagaimana pidato Utbah bin Ghazwan, Gubernur Bashrah, di hadapan rakyatnya: &#8220;&#8230;Di masa Rasulullah dulu, kami bertujuh tidak memperoleh makanan kecuali daun-daun pepohonan sampai bibir-bibir kami merekah. Sehelai kain panas ku belah dua lalu ku buat sarung dengan Sa&rsquo;ad bin Malik. Namun sekarang ini, tiada seorang di antara kami kecuali telah menjadi gubernur suatu daerah. Aku mohon perlindungan kepada Allah agar tiada rasa besar dalam hatiku karena pada dasarnya aku sangat kecil di sisi Allah SWT.&#8221; (HR Muslim)</p>
<p>Rasulullah saw dan para sahabatnya adalah pemimpin perjuangan dan bukan pemimpin karbitan yang kemudian menjadi pemimpin <em>aji mumpung</em> gadungan.</p>
<p>Sumber: Hidayatullah No. 03 Tahun XVI/Jumadil Awal 1424</p>
<p>Republished by <a href="http://www.pks-sidoarjo.org">DPD PKS Sidoarjo</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pks-sidoarjo.org/taujih-umum/ujian-kelayakan-pemimpin.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

