<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>PK Sejahtera Sidoarjo &#187; &#8216;Ashobiyah</title>
	<atom:link href="http://pks-sidoarjo.org/tag/ashobiyah/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://pks-sidoarjo.org</link>
	<description>Bersih, Peduli, dan Profesional</description>
	<lastBuildDate>Wed, 01 Sep 2010 00:27:09 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.6</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Menghindari &#8216;Ashobiyah</title>
		<link>http://pks-sidoarjo.org/konsultasi-dakwah/menghindari-ashobiyah.htm</link>
		<comments>http://pks-sidoarjo.org/konsultasi-dakwah/menghindari-ashobiyah.htm#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 29 Jan 2010 01:04:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Konsultasi Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA['Ashobiyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pks-sidoarjo.org/?p=870</guid>
		<description><![CDATA[<em>Al-Wala'</em> dan <em>Al-Bara'</em> yang terbangun atas dasar <em>intima'</em>dan <em>intisab</em> tersebut tidak boleh lebih tinggi (apalagi) mengalahkan <em>al-wala'</em> dan <em>al-bara'</em> yang terbangun atas dasar Iman dan Islam. ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;">Diasuh oleh Ustadz Musyaffa A. Rahim, Lc.</p>
<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Assalamu&#8217;alaikum Wr. Wb.</p>
<p>Ustadz Musyaffa yang saya hormati. Alhamdulillah, saya masih aktif dalam kegiatan dakwah. Di antaranya keaktifan saya dalam sebuah partai dakwah yang sangat saya cintai ini. Namun, belakangan ini saya menghadapi sedikit masalah. Salah seorang tetangga saya menyayangkan saya berjuang untuk satu kelompok dan sekian banyak kelompok Islam. Bukankah itu akan menjurus pada fanatisme golongan. Dan fanatisme akan menggiring aktivisnya menjadi &#8216;ashobiyah.</p>
<p>Menurut Ustadz, bagaimana saya mesti bersikap. Terus terang, saya agak bingung menjawab ini. Atas bantuan Ustadz, saya ucapkan jazakumullah khairan.</p>
<p>Khalrun Nisa, Jakarta.<br />
<span id="more-870"></span></p>
<p><strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Ukhti Khairun Nisa&#8217; di Jakarta dan juga pembaca majalah SAKSI lainnya di manapun berada, Assalamu&#8217;alaikum Warahmatullah Wabarakatuh.</p>
<p>Masalah yang ukhti kemukakan, akan kita bahas dalam dua bagian:</p>
<ol>
<li>Bagian pertama membahas tentang <em>intima&#8217;</em> atau <em>intisab</em> (menisbatkan diri atau menjadi anggota) dari sebuah organisasi, atau perkumpulan, mazhab, partai, golongan dan semacamnya.</li>
<li>Bagian kedua membahas tentang bagaimana seseorang yang mempunyai sebuah <em>intima&#8217;</em>atau <em>intisab</em> (keanggotaan) pada organisasi tertentu bergaul dan berinteraksi dengan golongan atau anggota golongan lainnya.</li>
</ol>
<p>Ber-<em>intima&#8217;</em> atau ber-<em>intisab</em> merupakan ekspresi dan aktualisasi dari berbagai hal:</p>
<ol>
<li>Ekspresi dan aktualisasi dari sunnatullah terhadap manusia. Sebab, tidak ada manusia (selain Adam as dan Hawa) kecuali ia mempunyai nasab. Dalam arti lain, ia pasti ber-<em>intima&#8217;</em>dan ber-<em>intisab</em>. Minimal ia akan dipanggil dengan sebutan: ya bani Adam (wahai anak keturunan Adam as).</li>
<li>Sebagai cara untuk memperkenalkan diri (<em>ta&#8217;aruf</em>). Misalnya saat seseorang disebut Abdullah bin &#8216;Amir Al-Indonesi. Maksudnya, ada seseorang yang bernama Abdullah, ia adalah anak laki-laki dari &#8216;Amir, dan ia berkebangsaan Indonesia. <em>intima&#8217;</em> dengan maksud <em>ta&#8217;aruf</em> ini diperbolehkan dan dibenarkan oleh Al-Qur&#8217;an Al-Karim (lihat Q.S. Al-Hujurat: 13). Dalam ayat ini, Allah SWT menjelaskan bahwa fakta adanya suku-suku (nasionalisme) dan bangsa-bangsa (<em>wathaniyah</em>) adalah agar kita sebagai manusia saling <em>ta&#8217;aruf</em> (berkenalan).</li>
<li>Ekspresi dan aktualisasi dari adanya pengakuan terhadap jasa dan peran orang lain terhadap dirinya. Misalnya dikatakan Imam Nawawi Asy-Syafi&#8217;i (631-676 H). Maksudnya adalah ada seseorang yang terkenal dengan sebutan An-Nawawiyang nama aslinya adalah Abu Zakaria Yahya bin Syarof. Karena ia berasal dari desa (daerah) yang bernama Nawa, maka ia dipanggil An-Nawawi. Karena ia menguasai berbagai macam ilmu dan sekaligus menjadi teladan bagi masyarakatnya, maka ia dipanggil Imam. Walaupun ia seorang Imam, namun, karena ia mengakui jasa Imam Syafi&#8217;i (Muhammad bin Idris [150-204 H]) terhadap dirinya dalam hal metodologi dan lain sebagainya, maka, sebagai pengakuan atas jasa ini, ia menisbatkan (ber-<em>intisab</em>) dirinya kepada sang Imam pembangun mazhab ini dengan menyebut dirinya sebagai Abu Zakariya Yahya bin Syarof An-Nawawi Asy-Syafi&#8217;i.</li>
<li>Ber-<em>intisab</em> atau ber-<em>intima&#8217;</em> adalah bentuk ekspresi dan aktualisasi dari sebuah wadah untuk melakukan <em>a&#8217;awun &#8216;alal birri wa at-taqwa</em>, agar daya dan kekuatan <em>ta&#8217;awun &#8216;alal birri wa at-taqwa</em> ini semakin bertambah, meningkat dan beban yang dipikul semakin ringan. Dan juga agar tujuan-tujuan besar yang tidak bisa dicapai dengan pendekatan perseorangan atau kelompok kecil, bisa dicapai saat ada <em>ta&#8217;awun</em> dalam skala besar.</li>
</ol>
<p>Beberapa hal yang perlu diperhatikan:</p>
<ul>
<li><em>intima&#8217;</em> atau <em>intisab</em> menuntut adanya <em>al-wala&#8217;</em> (kesetiaan) dan <em>al-bara&#8217;</em> (kontra kesetiaan).</li>
<li><em>Al-Wala&#8217;</em> dan <em>Al-Bara&#8217;</em> yang terbangun atas dasar <em>intima&#8217;</em>dan <em>intisab</em> tersebut tidak boleh lebih tinggi (apalagi) mengalahkan <em>al-wala&#8217;</em> dan <em>al-bara&#8217;</em> yang terbangun atas dasar Iman dan Islam. Maksudnya, kesetiaan kita kepada suatu <em>nasab</em> (hubungan darah), atau suku (nasionalisme), atau kebangsaan, atau organisasi, atau mazhab, atau partai dan semacamnya, tidak boleh lebih tinggi (apalagi mengalahkan dan meninggalkan) <em>intisab</em> atau <em>intima&#8217;</em>a kepada Iman dan Islam.</li>
<li>Kita harus tetap membatasi <em>intima&#8217;</em> dan <em>intisab</em> tadi dalam batas-batas yang dibenarkan Islam, yaitu sebagai <em>ta&#8217;aruf</em>, pengakuan jasa, dan dalam rangka bekerja sama dalam segala kebaikan dan ketakwaan dan tidak boleh sama sekali untuk bekerja sama untuk berbuat dosa dan melanggar atau merampas hak.</li>
</ul>
<p><em>intima&#8217;</em> dan <em>intisab</em> yang kita miliki tidak boleh dijadikan sebagai dasar <em>&#8216;ashabiyah</em> (fanatisme) atau <em>tafriqah</em> (pemecah belahan) komponen umat atau <em>fakhr</em> (kebanggaan) yang melampaui batas.</p>
<p>Mungkin masih ada satu pertanyaan: kenapa kita sebagai anggota kelompok atau partai tertentu mesti merekrut dan menambah keanggotaan untuk kelompok atau partai kita?</p>
<p>Ada tujuan-tujuan tertentu yang tidak bisa dicapai atau direalisasikan kecuali bila ada perkumpulan atau organisasi besar.</p>
<p>Dalam rangka membesarkan organisasi atau perkumpulan atau partai inilah diperlukan adanya rekruitmen keanggotaan, agar organisasi atau perkumpulan atau partai itu semakin meningkat atau bertambah kemampuannya dalam mencapai hajat dan tujuan-tujuan yang dica-nangkannya.</p>
<p>Terkadang, dalam usaha recruiting ini terjadi saling rebutan antara satu organisasi dengan organisasi lainnya. Hal ini adalah wajar selama masih dalam batas <em>tanafus</em> (kompetisi sehat) atau <em>tasabuq</em> (perlombaan). Tidak boleh sampai ke tingkat <em>tanazu&#8217;</em> (gontok-gontokan), <em>tadharub</em> (saling pukul/saling gempur) dan apa lagi <em>tanahur</em> (saling bunuh). <em>Na&#8217;udzubillah min dzalik.</em></p>
<p>Untuk itulah, diperlukan adanya upaya saling berwasiat dengan kebenaran, saling berwasiat dengan kesabaran serta saling berwasiat dengan kasih sayang.</p>
<p>Menjadi kehormatan dan sekaligus beban saat kita ber-<em>intima&#8217;</em> dan ber-<em>intisab</em> kepada sebuah organisasi atau partai yang memang benar-benar memperjuangkan nilai-nilai kebenaran. </p>
<p>Semoga ana dan ukhti serta pembaca majalah SAKSI semuanya termasuk ke dalam bagian orang-orang ini. Amin.</p>
<p>Sumber: SAKSI No. 14 Tahun VI 12 Mei 2004 hal 86-87</p>
<p>Dipublikasi ulang <a href="http://www.pks-sidoarjo.org">Admin DPD PKS Sidoarjo</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pks-sidoarjo.org/konsultasi-dakwah/menghindari-ashobiyah.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
