Caleg PKS Dibaiat Antikorupsi
Sep 5th, 2008 | By wawan | Category: Liputan Media(Jawa Pos, 04/09/08) JAKARTA – Menjelang berlaga dalam pemilihan umum, sekitar 500 orang calon anggota legislatif PKS berbondong-bondong ke Jakarta. Mereka berkumpul di ruang Binakarna, Hotel Bidakara, Jakarta, untuk mengucapkan sumpah setia antikorupsi.
“Janji ini adalah janji di mata Allah, bukan hanya di mata manusia,” ujar Ketua Majelis Syura PKS KH Hilmi Aminuddin di hadapan ratusan caleg yang hadir. Tampak di antaranya Menpora Adhyaksa Dault, Ketua MPR Hidayat Nurwahid, dan mantan Wakapolri Adang Daradjatun.
Setiap caleg PKS harus menghindari pendapatan yang haram maupun syubhat (tidak jelas). “Tidak boleh melakukan korupsi dan hal yang merugikan rakyat serta selalu biasa hidup sederhana,” ujarnya, lalu ditiru seluruh caleg.
Selain itu, para caleg harus berjuang menggunakan segenap kemampuan moral dan material untuk kemenangan dan kemaslahatan umat. “Siap menjadikan parlemen sebagai mimbar dakwah dan politik dan menaati semua kebijakan partai dalam suka dan duka,” lanjut Hilmi.
Janji keempat adalah memperjuangkan aspirasi rakyat dan kemaslahatan bangsa dengan penuh amanah, bersih, peduli, profesional, dan berpedoman pada aturan yang berlaku. Yang kelima menjaga integritas moral dan kehormatan diri serta citra partai.
“Apabila saya tidak memenuhi baiat, saya siap menerima sanksi apa pun yang ditetapkan partai,” ujar ulama karismatis di kalangan kader PKS itu.
Selain mengambil sumpah setia caleg, Hilmi memberikan rumus 5 W untuk memenangkan pemilu. Lima W itu adalah winning value, winning concept, winning system, winning team, dan winning goal. “Tanpa adanya 5 W atau tidak terpenuhinya syarat-syarat 5 W, ikhtiar kita bagi datangnya kemenangan sangat lemah,” ujarnya.
Presiden PKS Tifatul Sembiring mengingatkan agar seluruh caleg bekerja secara berjamaah. “Tidak boleh ada yang mengampanyekan diri sendiri. Partai ini adalah partai dakwah yang dijalankan secara kolektif, bukan untuk ambisi pribadi,” katanya. (rdl/tof)
Ketika manusia berada pada posisi puncak biasanya akan mengalami godaan / ujian yang maha berat, yaitu peluang. Peluang menimbulkan rasa “bisa”. Rasa “bisa” adalah kata lain dari sombong/riya’. Sombong adalah embrio lupa diri. Lupa diri adalah embrio sifat koruptif dan manipulatif. Lupa diri adalah cerminan lemahnya keimanan dan ke-Islaman seseorang. Allah-lah tempat kembali satu-satunya.
Tidak perlu repot2 mengangkat derajat sendiri dengan cara korupsi… Karena Alloh SWT sudah menjanjikan di surat Muhammad:7 “Hai orang2 yang beriman jika kamu menolong agama Alloh, maka Alloh akan menolongmu dan mengangkat derajatmu”