<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>PK Sejahtera Sidoarjo</title>
	<atom:link href="http://pks-sidoarjo.org/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://pks-sidoarjo.org</link>
	<description>Bersih, Peduli, dan Profesional</description>
	<lastBuildDate>Wed, 10 Mar 2010 23:42:19 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.6</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Perubahan Yang Bergegas</title>
		<link>http://pks-sidoarjo.org/taujih-umum/perubahan-yang-bergegas.htm</link>
		<comments>http://pks-sidoarjo.org/taujih-umum/perubahan-yang-bergegas.htm#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Mar 2010 23:42:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>webmaster</dc:creator>
				<category><![CDATA[Taujih Umum]]></category>
		<category><![CDATA[Perubahan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pks-sidoarjo.org/?p=912</guid>
		<description><![CDATA[Oleh KH. Rahmat Abdullah
Hari ini, baik kalangan pergerakan, pengamat politik dan futurolog, sama-sama sukar memprediksi kejadian-kejadian ke depan. Ada pencepatan yang tak seorangpun dapat mengklaim bahwa itu hasil usahanya sendiri. Amerika ataupun Sovyet sama sekali tak pernah membayangkan betapa negeri &#8217;adidaya&#8217; itu akan bubar semudah penonton topeng monyet atau gerombolan katak yang ditumpukkan di atas [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;">Oleh KH. Rahmat Abdullah</p>
<p>Hari ini, baik kalangan pergerakan, pengamat politik dan futurolog, sama-sama sukar memprediksi kejadian-kejadian ke depan. Ada pencepatan yang tak seorangpun dapat mengklaim bahwa itu hasil usahanya sendiri. Amerika ataupun Sovyet sama sekali tak pernah membayangkan betapa negeri &rsquo;adidaya&rsquo; itu akan bubar semudah penonton topeng monyet atau gerombolan katak yang ditumpukkan di atas baki.<br />
<span id="more-912"></span><br />
Kalau ada hal perubahan yang mudah menyentak perhatian kita, mungkin itu perubahan bendawi. Dan, ini berarti kekayaan. </p>
<p>Dunia kerap berdecak kagum oleh kemajuan teknologi. Efisiensi, pragmatisasi dan ekonomisasi segala gerakterjadi dengan cepat dan mencengangkan. Setelah berabad-abad merambat, akhirnya manusia berubah dengan cepat. Itu mengagumkan-lepas dari dampak negatif yang selalu dajang menyusul puluhan tahun kemudian-sesuai dengan karakter ilmu yang selalu mempunyai daya koreksi, walaupun kadang terlambat. </p>
<p>Seharusnya, ia mampu melihat ke depan dan menyelesaikan kekurangannya sendiri, tidak hanya secara kumpul pengalaman, tetapi teropong jauh ke depan; analitik, sistematik dan proyektif.</p>
<p><strong>Mencegat Ketertinggalan</strong></p>
<p>Kebudayaan materialistik telah membuat para pakar berdecak kagum, seraya melupa-lupakan bayang-bayang darah, kerangka, dan tengkorak begitu banyak rakyat yang dikorban-kan demi &rsquo;mercusuar&rsquo; peradaban. Sebutlah tujuh keajaiban dunia, dari Piramida, Tembok Besar China sampai Borobudur. Semua adalah produk peradaban besar yang harus diakui oleh mereka yang bersedia menjustifikasi semua kedzaliman atas nama keharuman kolektif dan kebanggaan bangsa.</p>
<p>Berapa lama waktu yang ditunggu untuk terjadinya perubahan teknologi, modemisasi dan peradaban kebendaan di dunia Islam? </p>
<p>Semoga bukan karena apatisme, jika Sayyid Quthb mengesankan pesimisme tersebut dengan angka: tiga abad. Itupun jika bangsa-bangsa yang telah jauh melaju tiba-tiba menghentikan lari mereka. Lalu dakwah macam apa yang dapat kita berikan kepada bangsa-bangsa yang hanya mau mendengar dari mereka yang <em>survive</em> dan unggul dalam segala bidang kehidupan material? </p>
<p>Kita yang dalam bidang pemikiran dan keruhanian pun belum cukup punya alasan untuk memimpin. Ada yang sangat bingung dengan tantangan ini, lalu menawarkan solusi untuk membongkar-pasang habis-habisan <em>manhaj</em> yang sangat terpelihara ini. Mereka bagaikan penumpang kendaraan sempurna, yang karena tak tahan oleh bantingan-bantingan di atas jalan yang penuh kubangan, dengan &rsquo;pintar, kultural dan liberal&rsquo; menawarkan solusi: &rsquo;Mesinnya harus kita bongkar&rsquo;. Atau lebih mengharukan lagi komentar seseorang mereka: &rsquo;Ini pasti karena kerusakan kaca spion&rsquo;.</p>
<p>Persoalan sekarang terkait dengan mentalitas &rsquo;Apa kita mampu ?&rsquo;Atau &rsquo;Apa mereka maupercaya?&rsquo; </p>
<p>Perlukan sebuah keberanian dan keyakinan diri untuk memilih Islam sebagai solusi. Namun bagaimana cara meyakinkan si sakit untuk mau berobat dan meyakinkan yang sehat bahwa obat yang ia konsumsi itu patut dipasarkan. Ia tak boleh tampil dengan tubuh yang ringkih dan kesehatan yang mencemaskan.</p>
<p><strong>Perubahan Cepat di Zaman Awal</strong></p>
<p>Mereka yang mengukur keberhasilan perubahan dari sudut pandang kebendaan akan sangat kecewa. Di mana mereka bisa temukan prasasti kejayaan dakwah para rasul ? Mereka bukan kelas para &rsquo;pencipta&rsquo; keajaiban dunia seperti para kaisar yang orang tak peduli lagi apakah mereka mengukir, memanat dan membangun kegemilangan &rsquo;abadi&rsquo; di atas tulang-belulang dan gelimang darah rakyat. Mereka akan lelah untuk bisa mengiyakan pesan agung Al-Musthafa Muhammad: &#8220;Sebaik-baik kurun (generasi, abad) ialah kurunku, kemudian yang sesudahnya, kemudian yang sesudahnya&#8221;. Kalau ada abad-abad beriku-nya yang menjadi monumen peradaban materi, orang pun banyak mengaitkannya dengan Timur Persia atau Barat Yunani, bukan pada hasil <em>taghyir</em> fundamental yang mulai dicanangkan dari bukit Shafa, bahkan dari rumah Fathimah bin Khatthab dan rumah Al-Arqam bin Abi&rsquo;l Arqam.</p>
<p>Ka&rsquo;bah bangunan monumental terbesar yang menjadi saksi dan disaksikan sejarah itu kosong. Tak ada pahatan patung-patung pujaan. Tak ada altar penyembahan dewata. Ia dan Batu Hitam (Hajar Aswad) tak pernah disembah, bahkan oleh orang paling musyrik di saat kemusyrikan sangat berjaya. Tak ada kisah mobilisasi dan instruksi kerja paksa dari seorang raja yang sabdanya tak terbantah. </p>
<p>Apa yang mau diwariskan ummat ini sebagai kalimat keabadian (<em>kalimatan baqiah</em>), bila mereka tak dapat kelurusan tauhid, kemuliaan pribadi, kecemerlangan akhlaq dan kecerahan <em>bashirah</em>, seperti yang telah diperankan Al Khalil Ibrahim as? Haruskah menunggu tiga abad untuk mengejar peradaban material barat, dengan satelit khayalan dan pesawat mimpi, lalu menganggap mereka tidur?Ya, mereka mungkin akan segera hancur oleh NAZA, zina dan kebebasan seks, bahkan oleh perang dan perpecahan. Lalu, mana saham ummat terbaik bagi tenggelamnya kezaliman akhir zaman?</p>
<p>Buku Ma&rsquo;alim fi Thariq mencatat tiga hal utama yang memicu dan memacu <em>taghyir</em> pada generasi pertama dakwah. Pertama, mereka menuntut ilmu untuk suatu <em>action</em> dan perubahan, bukan semata-mata koleksi ilmu. Kedua, mereka memutuskan hubungan dengan masa lalu <em>jahiliyah</em> dan tak ingin kembali ke masa lalu, walaupun sekejap. Ketiga, mereka tegak di hadapan Al Qur&rsquo;an dengan penuh kesiapan, seperti seorang prajurit siap siaga menerima aba-aba.</p>
<p>Sukar membayangkan suatu perubahan dari masa lalu yang begitu berkarat, gelap dan bejad menjadi begitu cemerlang. Bayangkan dunia tanpa perubahan ini, lalu renungkan di mana dunia dapat menemukan kata &rsquo;kemanusiaan, kesamaan, hak-hak asasi, ilmu pengetahuan, masyarakat <em>madani</em>, keadilan, kehormatan ibu dan perempuan, damai dan perang yang beradab&#8230;, dan seterusnya?</p>
<p><strong>Gen Ringkih?</strong></p>
<p>Gema <em>taghyir</em> (perubahan) sempat bergemuruh di negeri ini di awal abad 20. Ayat yangtelah ribuan kali dibaca datang memberi pencerahan: &#8220;Sesungguhnya Allah tak akan mengubah nasib suatu bangsa sebelum bangsa itu mengubah nasib mereka sendiri.&#8221; (Qs. Ar-Ra&rsquo;d: 11). Namun yang terjadi, yang penting ada perubahan dari kita, karena Tuhan hanya akan &#8220;ikut&#8221; mengubah sesudah kita mengubah nasib kita sendiri. Belum terfikir apa prioritas urutan perubahan. Bila sedangkal ini pengertian <em>taghyir</em>, niscaya kaum atheis semakin yakin akan atheisme mereka, karena Tuhan tak berbuat apa pun, kecuali bila kita berbuat</p>
<p>Semangat untuk merdeka dikobarkan dengan berjuang, bukan dengan berpangku tangan. Mungkin karena refleksi kemiskinan, keterjajahan dan ketertinggalan, fokus utama <em>taghyir</em> baru sebatas &rsquo;<em>go to hell</em>&rsquo;-nya Belanda dengan membawa pulang kulit putih, rambut pirang dan mata biru mereka. Mereka pergi mewariskan begitu banyak masalah yang terlalu mahal untuk di-<em>laundry</em>: undang-undang, budaya, tradisi politik, mentalitas, dan lain-Iain. Tiga perempat abad telah berlalu, banyak yang berubah di bangsa ini. Adakah respon selain respon perubahan-perubahan artifisial?</p>
<p>Jiwa-khususnya yang ringkih-menjadi perhatian utama perubahan, karena segala perubahan permukaan hanya akan hidup sekejap. Kurun-kurun lalu memperlihatkan begitu banyak produk manusia berjiwa, berkarakter, dan berenergi besar. Mereka mengalahkan segala persoalan berat, membuat yang jauh jadi dekat, bahkan &rsquo;membuat mungkin&rsquo; segala yang selama ini mustahil. </p>
<p>Timur dan dunia Islam mengidap penyakit berat yang pernah diidap Bani Israil: <em>kufur</em> akan nikmat akal dan daya hidup. Akhirnya mereka hanya bisa menyumpahi persoalan dan bukan memecahkannya. Mereka memandang dunia dengan muram. Perubahan menjadi &rsquo;monopoli andalan&rsquo; kalangan elit dan monopoli yang tak berbagi: &#8220;&#8230;Pergilah engkau hai Musa dengan tuhanmu lalu berperanglah, kami tetap akan duduk-duduk di sini&#8221; (QS.AI Maidah;24).</p>
<p><strong>Ya, setiap penyakit pasti ada obatnya, kecuali jiwa ringkih (<em>huzalu&rsquo;l ruh</em>) yang tak pernah menginginkan perubahan&rsquo;.</strong></p>
<p>Sumber: Majalah Tarbawi edisi 30 Th. 3/Dzulhijiah 1422 H/15  Maret 2002 M</p>
<p>Dipublikasi ulang <a href="http://www.pks-sidoarjo.org">Admin DPD PKS Sidoarjo</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pks-sidoarjo.org/taujih-umum/perubahan-yang-bergegas.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tanggung Jawab Dakwah</title>
		<link>http://pks-sidoarjo.org/kaderisasi/tanggung-jawab-dakwah.htm</link>
		<comments>http://pks-sidoarjo.org/kaderisasi/tanggung-jawab-dakwah.htm#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Mar 2010 23:15:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>webmaster</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kaderisasi]]></category>
		<category><![CDATA[Tanngung Jawab Dakwah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pks-sidoarjo.org/?p=910</guid>
		<description><![CDATA[Ustad Drs. DH. Al-Yusni
&#8220;Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.&#8221; (QS. Al Ahzab: 72)

Tugas dan tanggung jawab adalah tuntutan kehidupan yang tak bisa dielakkan. Manusia yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;">Ustad Drs. DH. Al-Yusni</p>
<p>&#8220;Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.&#8221; (QS. Al Ahzab: 72)<br />
<--more--><br />
Tugas dan tanggung jawab adalah tuntutan kehidupan yang tak bisa dielakkan. Manusia yang brilian tidak akan pernah lari darinya sekalipun ia amat melelahkan dan banyak bahkan kadang lebih banyak dari waktu yang tersedia. Malah, tanggung jawab itu sering tidak dapat dituntaskan sehingga perlu dilanjutkan oleh yang lain. Karena ia datang terus-menerus seiring berjalannya waktu. Semakin bergulir semakin banyak tugas dan tanggung jawab yang mesti dipikul. Ia muncul dan terus muncul sesuai dengan tuntutan zamannya. Terlebih lagi tanggung jawab terhadap dakwah (<em>mas&rsquo;uliyatud da&rsquo;wah</em>). </p>
<p>Seorang pendaki gunung pernah berujar, &#8220;Naik gunung itu amat melelahkan, berat dan capek. Akan tetapi bila sudah sampai di puncak, kita akan merasakan nikmatnya berada di puncak gunung. Namun, bila kita lengah, akan menjadi marabahaya sebab banyak jurang yang dalam yang siap menelan kita.&#8221; Ungkapan ini bila dikaitkan dengan perjalanan dakwah memiliki kemiripan.</p>
<p>Ketika perjalanan dakwah ini meniti jalan kemenangannya, terasa memang berat dan melelahkan. Akan tetapi, di saat mencapai cita-citanya, ada rasa senang dan sekaligus perasaan galau lantaran beratnya memikul amanah dan tanggung jawab yang jauh lebih besar lagi. Taruhannya adalah kekuatan mengemban amanah dan kepercayaan umat. Bila gagal, gelombang manusia yang berhimpun itu akan lari meninggalkan barisan dakwah ini.</p>
<p>Sekalipun tanggung jawab selalu datang, namun kader dakwah tidaklah boleh mengeluh dan kecewa terhadapnya. Kader harus selalu memandang bahwa tanggung jawab merupakan sesuatu yang dapat memuliakan dirinya meski ia kesulitan untuk memikulnya. Sehingga bila telah selesai menunaikan satu tanggung jawabnya, ia perlu menyiapkan diri untuk segera melaksanakan tugas barunya. Sebagaimana firman Allah SWT: &#8220;Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain&#8221;. (QS. Al Insyirah: 7).</p>
<p>Hari-hari kemarin yang telah kita lalui sudah kita pergunakan untuk memperlebar jaringan dakwah. Agar umat manusia banyak berhimpun di jalan yang mulia ini. Telah banyak upaya yang kita lakukan: mulai dari diri sendiri, keluarga, tetangga hingga kalangan yang lebih luas. Dengan kerja yang berkesinambungan dalam rangka mempertahankan eksistensi dakwah ini, Allah SWT anugerahkan kasih sayang-Nya pada mereka yang aktif mengemban tugas tersebut. Tampak oleh kita banyak hati manusia yang tertarik, simpatik dan energik memberikan dukungannya pada dakwah ini.</p>
<p>Dari banyaknya manusia yang berhimpun dalam dakwah ini, tentu mengandung tugas dan tanggung jawab yang berat. Dan ini bagian dari manuver dakwah yang harus di-<em>followup</em>-i dengan selalu menjaga perluasan jaringan dakwah ini (<em>ri&rsquo;ayah munawaratud da&rsquo;awiyah</em>). </p>
<p>Adapun bentuk upaya menjaganya adalah:</p>
<p><strong>Pertama, mentarbiyah masyarakat luas (<em>tarbiyah jamahiriyah</em>)</strong>. Kita telah menyaksikan bahwa masyarakat memberikan dukungan yang luar biasa baik dari dukungan materi, pikiran, tenaga dan politik. Dukungan dari beragam lapisan mulai masyarakat perkotaan hingga pedesaan, masyarakat terdidik hingga yang buta huruf, dari kalangan santri yang shalih hingga anak gaul di pinggir jalan. Hal tersebut merupakan indikasi bahwa mereka pun ingin menjadi bagian dari dakwah ini. Malah ada yang merasa sudah menjadi salah satu bagian dari dakwah ini.</p>
<p>Realita dukungan ini harus dipandang bahwa masyarakat yang berhimpun itu mesti mendapatkan hak <em>tarbawiyah</em>-nya sebagaimana yang didapat para kader. Sekalipun yang telah mereka rasakan selama ini baru sebatas sentuhan awal. Tentunya, mereka pun ingin mendapatkan pembinaan yang bisa membentuk diri mereka menjadi kader sejati sesuai dengan kondisi mereka masing-masing sehingga mereka dapat bergabung lebih dalam bersama kader lainnya. Agar ia menjadi bagian dakwah yang besar ini walau hanya satu elemen kecil saja.</p>
<p>Adapun bentuk tanggung jawab dakwah dan kadernya pada mereka adalah melakukan tarbiyah kepada masyarakat luas atau pembinaan massal (<em>tarbiyah jamahiriyah</em>) dengan perlu menyesuaikan muatan dan arahannya. Apakah dengan melakukannya dalam bentuk <em>tarbiyah</em> regular atau secara massal dengan melaksanakan <em>taklim</em> rutin yang diikuti oleh sekian banyak orang. </p>
<p><strong>Kedua, peningkatan kualitas kader (<em>tarqiyah nau&rsquo;iyatul jundiyah</em>)</strong>. Semakin banyak tugas maka semakin perlu meningkatkan kualitas dan kapabilitas agar dapat menunaikan amanah itu dengan sebaik-baiknya. Abul Hasan An Nadawi dalam kitab Mudzakiratu Sa&rsquo;ihin fil &rsquo;Alamil Arab menyatakan bahwa <strong>sudah menjadi keharusan untuk membentuk kader-kader yang dapat meneruskan dan menjalankan tugas tanggung jawab dakwah dengan meningkatkan kemampuan kader agar bisa mengisi peluang-peluang dakwah yang amat banyak</strong>. Karena setiap gerakan dakwah betapapun kuatnya dan betapapun banyak kader-kadernya masih tetap terancam kebangkrutan. </p>
<p>Mengingat berlalunya waktu maka semakin bertambahnya tanggung jawab yang mesti dipikul segera sehingga menjadi sebuah aksioma bahwa kemampuan kader untuk menunaikan tanggung jawab harus diimbangi dengan peningkatan diri mereka sesuai dengan tuntutannya masing-masing. Sebagaimana kaedah dakwah: <strong><em>li kulli da&rsquo;watin marhalatuha, wa likulli marhalatin muthallibatuha, wa lukulli muthallibatin rijaluha</em> (etiap dakwah ada marhalahnya, setiap marhalah ada tuntutannya, dan setiap tuntutan ada orangnya yang akan mengerjakannya).</strong></p>
<p>Sangatlah lumrah orang banyak memberikan berkomentar terhadap kader yang ada saat ini dengan menyatakan apa mungkin orang-orang mesjid itu mampu mengelola urusan besar (mengelola negara) ini?</p>
<p>Anggapan ini bermula dari aktivitas kader yang berawal dari mengelola sebatas dari satu majelis <em>taklim</em> ke majelis <em>taklim</em> lainnya, dari satu kegiatan keagamaan ke kegiatan keagamaan lainnya. Dan sekarang tanggung jawab itu melebih aktivitas sebelumnya. Tugas dan kewajiban yang bakal dipikul bebannya jauh lebih berat dari hari-hari yang kemarin. Maka, tidak bisa dielakkan bahwa kemampuan harus kader bisa memenuhi kebutuhan lapangan yang amal beragam di hari ini. Keahlian dan kecakapan mereka menjadi tahurannya untuk meraih dukungan yang lebih besar lagi. </p>
<p><strong>Ketiga, penyegaran aktifitas tarbiyah (<em>in&rsquo;asy smalit tarbawiyah</em>)</strong>. Setelah beberapa saat, aktivitas tarbiyah belum berjalan optimal karena kesibukan dakwah yang begitu banyak. Dan hal ini merupakan bagian dari siklus ekspansi dakwah yang besar. Saat kesibukan kader dakwah melebihi volume kesibukannya di waktu yang lain sehingga sedikit banyak aktivitas <em>tarbiyah</em> yang regular mengalami sedikit gangguan. Bila hal ini dibiarkan berlarut-larut, akan berdampak pada kelambanan geliat dakwah dan gerakannya. Apalagi sudah dimafhumi bahwa tarbiyah merupakan <em>munthalak</em>-nya. </p>
<p>Seorang penyair Tunis, Ahmad Mukhtar Al Wazi, menyatakan <em>&#8220;wain wanat waqfatuha &rsquo;ajalabal munthalaqu&#8221;</em> (bila diamnya terlalu lama akankah ia tergugah oleh keharusanya bergerak). Maka perjalanan <em>tarbiyah</em> yang menjadi pijakan <em>asasiyah</em> mesti berjalan normal dan segar kembali melalui berbagai aktivitas <em>tarbiyah</em> yang reguler: seperti <em>liqa&rsquo;</em> pekanan rutin, mabit, <em>tatsqif</em>, <em>daurah</em> dan lain-lainnya. Oleh karena itu, mereka yang berkepentingan dalam menormalkan dan menyegarkan aktivitas <em>tarbiyah</em> ini harus berada pada pusat intruksional agar dapal menggerakkan dengan sesegera mungkin dan membunyikan peluitnya dengan keras. Baik mereka itu para <em>murabbi</em>, <em>naqib</em> atau mereka yang berada dalam jajaran struktural.</p>
<p>Hal ini tentu menjadi antisipasi yang dini agar tidak terjadi situasi yang cenderung memburuk dengan &rsquo;mengabaikan&rsquo; iklim asasi dalam dakwah ini. Syaikh Mushtafa Mahsyur Rahimahullah, mengingatkan agar aktivitas perpolitikan ini jangan mengalahkan dan mendominasi aktivitas <em>tarbawiyah</em>. <em>Ghalabatis siyasiyah at tarbawiyah</em>. </p>
<p><strong>Keempat, pengokohan interaksi pada tokoh (<em>taqwiyah ittishalil wujahiyah</em>)</strong>. Begitu banyak para tokoh yang telah terjalin hubungan sosial kemasyarakatannya dengan dakwah ini melalui silaturahim dengan mereka atau menjadikan mereka bagian dari rekruting dakwah ini. Sudah barang tentu, mereka juga ingin bahwa hubungan itu tidak berhenti hanya karena aktivitas menggalang massa telah usai melainkan mereka sangat mengharapkan bahwa jalinan itu bisa lebih erat lagi dari waktu sebelumnya.</p>
<p>Islam tentu sudah mengajarkan bagaimana mensikapi para tokoh di tengah-tengah masyarakatnya dengan memuliakan mereka. Sehingga mereka pun, dapat menerima ajakan dan seruan yang ditujukan padanya karena kedudukan mereka pun dihormati dan dihargai. </p>
<p>Tatkala menaklukan Mekkah, Rasulullah saw mengatakan, &#8220;Siapa yang masuk ke mesjid maka aman. Dan siapa yang menutup pintu rumahnya maka ia aman dan siapa yang masuk ke rumah Abu Sufyan maka ia pun aman&#8221;. Pernyataan ini jelas menampakkan bahwa ajaran Islam tetap memandang bahwa para tokoh itu mempunyai kedudukan yang perlu ditempatkan secara pas dan tepat. Dan ini menjadi pelunak hati mereka untuk ikut dalam barisan dakwah ini. Karenanya, pendekatan para tokoh yang pernah dilakukan pada hari-hari kemarin harus dikokohkan kembali sehingga mereka mendukung dakwah ini secara optimal. Apalagi, bila para tokoh itu memiliki perasaan bahwa merekapun telah memberikan andil yang teramat besar dalam pemenangan dakwah ini. </p>
<p><strong>Kelima, soliditas struktural (<em>matanah tanzhimiyah</em>)</strong>. Aktivitas yang padat sering berimbas pada ketahanan struktural. Terlebih lagi, struktur yang masih sangat sederhana. Kesederhanaan fungsi dan bagan struktural kadang menciptakan aktivis berfungsi ganda atau bahkan multi fungsi sehingga banyak kamar-kamar struktur yang tak terisi apalagi terisi lengkap. Ditambah persoalan bahwa program yang sedang digerakkan bersama bertumpu pada satu program besar sehingga beberapa unsure dari struktural itu ikut berkonsentrasi pula pada kerja massal sehingga kadang yang terjadi adalah &rsquo;mengesampingkan&rsquo; tugas-tugas regulernya. Bila hal ini dibiarkan, dapat berdampak pada perjalanan struktural yang termehek-mehek.</p>
<p>Mengingat peran struktural untuk menjalankan agenda berikutnya yang juga besar maka ketahanan soliditas struktural<br />
ini tidak bisa ditunda lagi. Ia perlu diperhatikan seksama agar dapat mengokohkan kader yang ada di dalamnya disertai pemberdayaan struktural dalam tugas-tugas besar berikutnya. Baik struktur pada tingkat pusat juga pada tingkatan di bawahnya. Dengan demikian, langkah-langkah struktural dapat bergerak dengan lincah dan leluasa mengemban tugas dakwah besar lainnya. Di samping pengokohan struktural juga perlu diperhatikan masalah pengembangannya. Sebab, dengan tanggung jawab yang semakin besar, dibutuhkan penopang struktural yang semakin lengkap. </p>
<p>Imam Mawardi, penulis Al Ahkamus Sulthaniyah, memaparkan bahwa semenjak <em>futuhat-futuhat</em> dakwah dicapai kaum muslimin pada masa Khalifah Umar ibnul Khaththab, berkembang pula jajaran struktur yang baru dengan segala dinamika dan urusannya yang pada masa lalu tidak ditemukan persoalan tersebut.</p>
<p>Itulah sebagian kecil dari tanggung jawab dakwah yang besar ini. Paling tidak, dari situ kita dapat memulai apa yang perlu kita lakukan. </p>
<p>Untuk merealisasikan (<em>tahqiq</em>) tanggung jawab yang besar ini diperlukan upaya kerja keras yang maksimal, diantaranya adalah:</p>
<p><strong>Pertama, bersungguh-sungguh dan tekun (<em>al jiddiyah wal mu&rsquo;azhibah</em>)</strong>. Kesungguhan adalah modal utama untuk dapat menunaikan setiap tugas. Dan kesungguhan merupakan indikasi dari sikap yang penuh tanggung jawab. Ia pun cerminan dari keimanan dan keyakinan yang kuat akan pertemuannya dengan Sang Rabbul Izzati sehingga melahirkan perilaku siap dan sedia menunaikan suatu tugas yang diamanahkan kepadanya. Dari sinilah, akan diukur seberapa besar kesiapan dan kesediaan yang berdampak pada kepuasan masyarakat akan pelayanan dan penunaian tanggung jawab tersebut.</p>
<p>Bila melihat sederetan tugas-tugas tersebut di atas, kita temukan bahwa tugas tersebut betul-betul tidak sepele. Tugas dan tanggung jawab itu tidak boleh dianggap main-main. Apalagi harapan yang dimiliki banyak orang teramat tinggi. Mereka berharap bahwa kader dakwah pasti dapat memikul tugas itu dan dapat memberikan pengaruh kebaikan yang dirasakan oleh umat.</p>
<p><strong>Kedua, aktivitas yang berkesinambungan (<em>istimrariyatul amal</em>)</strong>. Karena waktu senantiasa berjalan tak kenal henti, amalpun tak boleh berhenti. Memang suatu tugas dikira sudah selesai namun ternyata masih ada setumpuk tugas lainnya yang sedang menunggu untuk diselesaikan. </p>
<p>Gambaran yang sering diungkapkan orang adalah bergeraknya amal ini bagai deburan ombak di lautan yang datang silih-berganti dengan deburan ombak lainnya kadang ombak besar kadang ombak kecil. Bila amal tersebut dilakukan bak ombak tadi niscaya amal datang susul-menyusul dan tidak akan pernah mati. Olah kreatifitas amal perlu digesahkan kepada seluruh lapisan kader sehingga mereka bisa menciptakan berbagai amal yang variatif.</p>
<p><strong>Ketiga, kedisiplinan terhadap <em>anhaj</em> (<em>indhibatul manhajiyah</em>)</strong>. <em>Manhaj</em> merupakan rambu perjalanan dakwah ini. Ia bagaikan denah yang menunjukan arah dan apa yang mesti dilakukan. Karena itu, setelah selesainya satu tugas perlu melihat kembali apa yang telah digariskan oleh <em>manhaj</em> dakwah tentang tugas-tugas kedepan. Bila terkait dengan <em>tarbiyah</em>, ia perlu diterapkan secara disiplin sesuai arahannya. Sebagaimana petunjuk Allah SWT kepada Nabi Yahya as: &#8220;Hai Yahya, ambillah Al Kitab (Taurat) itu dengan sungguh-sungguh. Dan Kami berikan kepadanya hikmah selagi ia masih kanak-kanak&#8221;. (QS. Maryam: 12). Tentunya, hal ini juga berlaku kepada seluruh kader untuk menerapkan tuntutan <em>manhaj</em> secara disiplin sehingga ia dapat menghantarkan perjalanan dakwah ini dari satu <em>mihwar</em> ke <em>mihwar</em> lainnya dengan sistematis.</p>
<p><strong>Keempat, keteladanan dan arahan (<em>al qudwah wat taujih</em>)</strong>. Komunitas suatu masyarakat kadang akan mudah terbentuk bila memiliki cermin jernih yang menjadi panutan bagi yang lain. Karena panutan bagai mercusuar yang akan mengarahkan dan juga menjadi ukuran atau kiblat mereka. Di sinilah pentingnya keteladanan antara satu dengan yang lain. Keteladanan dalam <em>ubudiyah</em>, <em>ijtima&rsquo;iyah</em>, <em>mu&rsquo;amalah</em> maupun keteladanan dalam amal <em>siyasi</em>. Tentu, keteladanan yang dimaksud adalah bahwa seluruh kader menjadi contoh bagi yang lain. Apalagi seluruh elemen masyarakat menjadi penilainya. Mereka tentu ingin panutannya bagai cermin jernih tanpa goresan.</p>
<p>Sekarang ini, persoalannya adalah siapkah kader dakwah ini memikul tanggung jawab yang amat besar itu. </p>
<p>&#8220;Ingatlah, kamu ini orang-orang yang diajak untuk menafkahkan (hartamu) pada jalan Allah. Maka di antara kamu ada orang yang kikir, dan siapa yang kikir sesungguhnya dia hanyalah kikir terhadap dirinya sendiri. Dan Allah-lah yang Maha Kaya sedangkan kamulah orang-orang yang membutuhkan (Nya)dan jika kamu berpaling niscaya Dia akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain, dan mereka tidak akan seperti kamu (ini)&#8221;. (QS. Muhammad: 38)</p>
<p>Wallahu &rsquo;alam bishshawab.</p>
<p>Sumber Majalah SAKSI No.14 Tahun VI 12 Mei 2004</p>
<p>Dipublikasi ulang <a href="http://www.pks-sidoarjo.org">Admin DPD PKS Sidoarjo</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pks-sidoarjo.org/kaderisasi/tanggung-jawab-dakwah.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sukses Bergaul dengan Anak</title>
		<link>http://pks-sidoarjo.org/keluarga-kita/sukses-bergaul-dengan-anak.htm</link>
		<comments>http://pks-sidoarjo.org/keluarga-kita/sukses-bergaul-dengan-anak.htm#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Mar 2010 23:24:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>webmaster</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga Kita]]></category>
		<category><![CDATA[Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Orang tua]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pks-sidoarjo.org/?p=908</guid>
		<description><![CDATA[Ingin menjadi sahabat bagi si remaja? Mudah kok, asal anda mau membuka diri untuk memahami mereka.

1. Pahami &#8217;bahasa&#8217;remaja
Pengertian bahasa ini tidak hanya meliputi penggunakan istilah tetapi juga cara penyampaian, kapasitas berpikir, dan gaya bicara. Remaja cenderung bicara spontan, apa adanya, tidak malu-malu dan emosional. Itulah sebabnya pembicaraan remaja kadang sering membuat telinga orangtua menjadi merah. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ingin menjadi sahabat bagi si remaja? Mudah kok, asal anda mau membuka diri untuk memahami mereka.<br />
<span id="more-908"></span><br />
<strong>1. Pahami &rsquo;bahasa&rsquo;remaja</strong></p>
<p>Pengertian bahasa ini tidak hanya meliputi penggunakan istilah tetapi juga cara penyampaian, kapasitas berpikir, dan gaya bicara. Remaja cenderung bicara spontan, apa adanya, tidak malu-malu dan emosional. Itulah sebabnya pembicaraan remaja kadang sering membuat telinga orangtua menjadi merah. Tidak apa-apa. Gaya ini tidak berarti buruk. Mereka hanya tengah bersemangat dan penuh rasa ingin tahu.</p>
<p><strong>2. Dengarkan</strong></p>
<p>Remaja tak hanya butuh nasihat tetapi juga butuh didengar. Tak jarang, remaja yang mengadu dan berkeluh kesah sebenarnya hanya ingin menumpahkan uneg-uneg atau sekedar mencari perhatian. </p>
<p>Hindari menasehati anak setiap kali anda berbicara dengannya. Sekali-sekali berlakulah hanya sebagai pendengar yang antusias tanpa embel-embel mengatakan harus begini dan begitu.</p>
<p><strong>3. Bicaralah kapan saja dan di mana saja</strong></p>
<p>Kenapa remaja begitu akrab dengan temannya? Karena mereka bisa memperbincangkan segala hal setiap saat. Ketika jalan-jalan, naik sepeda, nongkrong di restoran, sambil berenang atau sambil tiduran di kamar kapan pun mereka inginkan.</p>
<p>Jangan tunggu waktu khusus untuk duduk berhadapan saat berbincang dengan remaja anda. Mereka sedang memasuki masa aktif (orang tua-tua mengistilahkan, anak remaja sedang kelebihan energi). Gaya ini akan membuat mereka bosan. Setiap ada kesempatan bicaralah dengan mereka. Sambil masak, berbelanja, saat lari pagi, seusai shalat berjamaah, atau ketika makan bersama.</p>
<p><strong>4. Terbuka untuk segala topik pembicaraan</strong></p>
<p>Jangan batasi pembicaraan dengan remaja meski (menurut anda) topik itu remeh, tabu, buruk, atau amat mengejutkan. Biarkan remaja mengungkapkan pikiran mereka dan anda dapat menjadi pendengar dan pengarah. Bila anak merasa <em>enjoy</em> untuk membicarakan hal-hal paling sensitif sekalipun, ia akan merasa aman, percaya, dan mau terbuka pada anda.</p>
<p><strong>5. Beri anak kepercayaan</strong></p>
<p>Jangan <em>overprotect</em> pada si remaja. Bila anda telah memberi si remaja masukan tentang hal-hal yang baik dan buruk, benar dan salah, halal dan haram, langkah berikutnya adalah memberinya kepercayaan. Tak perlu khawatir bila sekali waktu anak akan berbuat salah atau mengambil tindakan kurang tepat. Sebuah pepatah mengatakan tindakan yang tepat biasanya berasal dari pengalaman berharga dan pengalaman berharga biasanya berasal dari kesalahan.</p>
<p><strong>6. Hargal privasinya</strong></p>
<p>Sebagaimana orangtua, anak pun membutuhkan wilayah privasi yang ingin dihargai. Meski dorongan begitu kuat, jangan membaca buku hariannya, menguping pembicaraan rahasianya, membongkar kamarnya di luar sepengetahuannya, menguntitnya atau membocorkan rahasia yang ia percayakan pada anda. Bila anak kehilangan kepercayaan pada anda, percayalah, anda akan &rsquo;kehilangan&rsquo; dia.</p>
<p><strong>7. Jadilah model terbaik baginya</strong></p>
<p>Jangan terapkan standar ganda. Bila anda ingin ia jujur pada anda, berlaku jujurlah. Bila anda ingin ia menghargai pendapat orang lain, hargailah pendapatnya. Meski remaja tidak mau menunjukkannya, mereka sebenarnya memperhatikan, menilai dan meniru anda.</p>
<p><strong>9. Sediakan ruang dan waktu untuk menyendiri</strong></p>
<p>Anda mungkin amat sayang dan telah begitu akrab dengan si remaja, tetapi ia, sebagaimana anda, perlu suatu ruang dan waktu untuk menyendiri. Saat-saat khusus ini amat berguna untuk melakukan introspeksi diri, menumpahkan emosi atau sekedar keluar dari rutinitas.</p>
<p><strong>10. Ucapkan maaf</strong></p>
<p>Anda tidak sempurna, begitu pula si remaja. Mereka bisa salah, begitupun orang tua. Jangan gengsi mengakui kesalahan atau meminta maaf pada si remaja bila anda salah atau telah menyakiti hatinya. Anda tidak akan kehilangan wibawa. Anda justru akan mengukir keindahan dalam diri si remaja karena berlaku bijaksana.</p>
<p>Sumber: Majalah Ummi No. 6/XII Oktober-Novmber 2000/1421</p>
<p>Dipublikasi ulang <a href="http://www.pks-sidoarjo.org">Admin DPD PKS Sidoarjo</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pks-sidoarjo.org/keluarga-kita/sukses-bergaul-dengan-anak.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Agar Penyakit tidak Menjadi Wabah</title>
		<link>http://pks-sidoarjo.org/hikmah/agar-penyakit-tidak-menjadi-wabah.htm</link>
		<comments>http://pks-sidoarjo.org/hikmah/agar-penyakit-tidak-menjadi-wabah.htm#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Mar 2010 20:50:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>webmaster</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pks-sidoarjo.org/?p=902</guid>
		<description><![CDATA[Di Madinah yang damai, suatu hari, Rasulullah pergi ke perkampungan orang-orang Anshar. Ini bagian yang lazim dari kepedulian Rasulullah pada rakyatnya, yang ia cintai sepenuh hati, bahkan hingga deti-detik akhir hayatnya.

Sejurus kemudian Rasulullah memasuki sebuah kebun. Tiba-tiba, Rasulullah melihat seekor unta yang sangat kurus. Ketika melihat Rasulullah SAW, unta itu menangis, merintih, dan meneteskan air [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Di Madinah yang damai, suatu hari, Rasulullah pergi ke perkampungan orang-orang Anshar. Ini bagian yang lazim dari kepedulian Rasulullah pada rakyatnya, yang ia cintai sepenuh hati, bahkan hingga deti-detik akhir hayatnya.<br />
<span id="more-902"></span><br />
Sejurus kemudian Rasulullah memasuki sebuah kebun. Tiba-tiba, Rasulullah melihat seekor unta yang sangat kurus. Ketika melihat Rasulullah SAW, unta itu menangis, merintih, dan meneteskan air mata. Maka Rasul pun mendekati unta itu, lalu mengusap perutnya sampai ke punuk dan ekornya. Unta itu pun tenang kembali.</p>
<p>Kemudian Rasulullah bertanya ke orang-orang yang ada di sekitar, &#8220;Siapa pemilik unta ini?&#8221; </p>
<p>Maka datanglah seorang pemuda dari Anshar, kemudian berkata, &#8220;Itu milikku wahai Rasulullah.&#8221; </p>
<p>Setelah mengetahui pemuda itu adalah pemilik unta tersebut, Rasulullah berkata kepada pemuda itu, &#8220;Tidakkah engkau takut kepada Allah dalam memelihara ternak yang telah Allah berikan kepadamu itu? Sesungguhnya ia mengeluh kepadaku bahwa engkau melaparkan dan melelahkannya.&#8221; (HR. Ahmad)</p>
<p>Di kali lain, ketika Rasulullah tengah duduk-duduk bersama para sahabatnya, datang seorang pemuda. Pemuda tanggung itu memohon kepada Rasulullah agar diizinkan berbuat zina. Para sahabatyang ada di sekitar Rasulullah<br />
begitu geram. Tetapi Rasulullah meminta para sahabat untuk tenang. Lantas, apa yang dilakukan Rasulullah?</p>
<p>Rasulullah mengajak pemuda itu untuk berpikir, berdialog. Agar ia menyadari tentang perbuatan tersebut. Bahwa tak seorang pun sesungguhnya secara fitrah yang rela dengan perbuatan itu.</p>
<p>Rasulullah bertanya kepada pemuda itu, &#8220;Bagaimana pendapatmu kalau itu terjadi pada ibumu?&#8221;</p>
<p>Pemuda itu menjawab, &#8220;Ayah dan ibuku sebagai jaminan, aku tidak akan ridha.&#8221;</p>
<p>Lalu Rasulullah bertanya kembali, &#8220;Bagaimana pendapatmu kalau itu terjadi pada istrimu?&#8221;</p>
<p>Anak muda itu menjawab, &#8220;Ayah dan ibuku sebagai jaminan! aku tidak akan ridha.&#8221;</p>
<p>Demikian seterusnya, Rasulullah beliau menanyakan bagaimana kalau terjadi perzinaan itu pada keluarganya, anak perempuannya, kakak perempuannya, bibinya, ternyata dia tidak ridha. Maka Rasulullah menambahkan, &#8220;Kalau begitu orang lain pun tidak ridha perzinaan itu terjadi pada ibu-ibu mereka, istri-istri mereka, anak-anak perempuan mereka, saudara-saudara perempuan mereka, atau pun bibi-bibi mereka.&#8221;</p>
<p>Dua fragmen di atas, bercerita banyak tentang bermacam orang yang dihadapi Rasulullah. Bermacam kondisi, bermacam bentuk perilaku, lalu bercerita pula bagaimana Rasulullah menyikapinya.</p>
<p>Adakah pemimpin yang lebih peduli dari Rasulullah, yang tidak saja memberi perhatian pada kelaparan rakyatnya, tetapi bahkan kelaparan yang dialami seekor unta. Ini tidak saja kisah tentang kasih sayang Rasulullah. Tetapi ia juga bimbingan, ajaran betapa Rasulullah tidak ingin membiarkan sebuah kedzaliman terjadi di muka bumi ini.</p>
<p>Ya. Membiarkan seekor ternak kelaparan adalah kedzaliman. Karenanya ia harus dihentikan. Sebagaimana membiarkan anak-anak muda melakukan kemungkaran, adalah kemungkaran juga. Kisah tentang bagaimana Rasulullah menyikapi sebuah kedzaliman, kemungkaran, bahkan kekejian begitu banyak. Semua menggambarkan satu kesimpulan, bahwa Rasulullah tidak pernah rela dengan terjadinya kedzaliman dan kemungkaran.</p>
<p>Kini, ratusan tahun kemudian, kita tidak sekadar disuguhi kisah tentang ternak-temak yang lapar. Tetapi bahkan anak-anak yang lapar, petani yang lapar dan nyaris mati di sawah sendiri. Kita juga tidak lagi bisa tentang anak-anak muda yang dalam keluguannya ingin berbuat nista. Sebab, kenistaan itu telah nyata menjadi warna kehidupan mereka. Kenistaan itu tidak lagi kehendak dan angan-angan belaka.</p>
<p>Antara kedzaliman dan kemungkaran seperti sebuah roda yang berkelindan. Tak pernah berpisah. Keduanya bahkan selalu menemukan cara-cara barunya untuk membuat ulah. </p>
<p>Dari rasa lapar lahir begitu banyak perilaku tidak terpuji. Ada korupsi, ada pencurian, pe-rampokan, penipuan. Karena ukuran rasa lapar pun kini telah berubah. </p>
<p>Begitupun kemungkaran. Ia semakin menemukan bahasanya sendiri yang terkesan modern, elegan, untuk sebuah kenistaan yang dianggap berkelas. Penyakit biologis itu, bahkan telah berubah menjadi penyakit sosial.</p>
<p>Tetapi hari ini, tidak ada lagi Rasulullah yang penuh kasih mengelus ternak-ternak yang lapar itu. Tidak ada lagi Rasulullah yang mendidik pemuda-pemuda bernafsu itu agar membuka pikirannya. Merenung dengan hatinya sedalam mungkin. Yang ada adalah retorika politi kyang mengenyangkan telinga. Yang ada hanya anjuran-anjuran palsu, bahwa penyakit AIDS bisa dicegah dengan cara-cara yang kampungan.</p>
<p>Sesungguhnya, kebaikan tidak bisa ditegakkan tanpa diimbangi dengan menekan pintu-pintu keburukan. Karena yang baik dan yang buruk ibarat petarung, tidak mungkin duduk berdampingan, apalagi merelakan yang satu atas yang lainnya.</p>
<p>Karenanya, kisah Rasulullah di atas harus menggugah kesadaran kita, bahwa harus ada keseimbangan antara seruan untuk melakukan kebaikan, dengan upaya mencegah kemungkaran. Dengan kata lain, Islam ini tidak saja mengurusi perintah untuk melakukan kebaikan (<em>amar ma&rsquo;ruf</em>), tetapi juga mengajarkan kepada umatnya tentang pentingnya peduli pada hal-hal yang tidak beres (<em>nahi mungkar</em>).</p>
<p>Di sekeliling kita terlalu banyak ketimpangan yang terjadi. Terlalu banyak kekacauan yang berlalu. Setiap ketimpangan adalah penyakit. Setiap kedzaliman adalah penyakit. Sejujurnya, kebahagiaan itu tidak akan pernah bisa dibangun di atas penyakit-penyakit itu. Sampai kapanpun.</p>
<p>Sekecil apapun, penyakit-penyakit itu tidak boleh diabaikan. Harus ada yang berani mencegah. Harus ada orang yang peduli. Memang, tidak semua orang bisa menjadi pembelayang lantang, atau pencegah yang berani. Tetapi bila tak seorang pun ada yang berani mencegah sebuah kemungkaran, maka semua orang terkena dosanya.</p>
<p>Rasulullah SAW bersabda, &#8220;Barangsiapa di antara kamu melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangannya. Bila tidak bisa maka dengan tangannya, bila tidak bisa, dengan hatinya, dan itulah selemah-lemah iman.&#8221; (HR. Muslim).</p>
<p>Di hari-hari panjangyang kita lalui, begitu banyak kemungkaran menghiasi sekeliling kita. Ia ibarat hamparan kehidupan yang gelap dan kering dari rasa bahagia. Di hampir setiap sisi hidup, orang merindukan para pembela yang berani, menantikan para pencegah kemungkaran, yang tidak saja bersuara lantang, tapi juga penuh kasih meneteskan rasa tentram. Semoga, orang-orang yang dirindukan itu adalah kita.</p>
<p>Sumber: Tarbawi Edisi 45 Th. 4/Sya&rsquo;ban 1423 H/10 Oktober 2002 M hal 7</p>
<p>Dipublikasi ulang <a href="http://www.pks-sidoarjo.org">Admin DPD PKS Sidoarjo</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pks-sidoarjo.org/hikmah/agar-penyakit-tidak-menjadi-wabah.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ortu Juga Perlu Gaul Sama Remaja</title>
		<link>http://pks-sidoarjo.org/keluarga-kita/ortu-juga-perlu-gaul-sama-remaja.htm</link>
		<comments>http://pks-sidoarjo.org/keluarga-kita/ortu-juga-perlu-gaul-sama-remaja.htm#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Mar 2010 22:22:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>webmaster</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga Kita]]></category>
		<category><![CDATA[Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Orang tua]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pks-sidoarjo.org/?p=906</guid>
		<description><![CDATA[Bill Beausay, seorang penulis buku-buku mengenai kehidupan remaja, menceritakan sebuah kisah menarik. Kisah itu bertutur tentang seorang pastor yang letlh melihat bagaimana narkoba merebak luas dl lingkungannya dan menghancurkan kehidupan remaja di daerahnya.

Sang pastor tak tahu lagi harus berbuat apa. Ia lalu memutuskan mengambil sebuah langkah radikal untuk menangani masalah narkoba ini dengan &#8217;berguru&#8217;langsung pada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bill Beausay, seorang penulis buku-buku mengenai kehidupan remaja, menceritakan sebuah kisah menarik. Kisah itu bertutur tentang seorang pastor yang letlh melihat bagaimana narkoba merebak luas dl lingkungannya dan menghancurkan kehidupan remaja di daerahnya.<br />
<span id="more-906"></span><br />
Sang pastor tak tahu lagi harus berbuat apa. Ia lalu memutuskan mengambil sebuah langkah radikal untuk menangani masalah narkoba ini dengan &rsquo;berguru&rsquo;langsung pada si pengedar.</p>
<p>Sang pastor menemui si pengedar narkoba dan menanyakan &rsquo;kiat&rsquo;nya sampai sedemikian sukses mendekati dan mempengaruhi para remaja untuk nge-<em>drugs</em>. </p>
<p>Jawaban si pengedar begitu enteng dan menusuk hati sang pastor. &#8220;<em>I&rsquo;m there, you&rsquo;re not. When these kids go to school in the morning, I&rsquo;m there, you&rsquo;re not. When they come home in the afternoon, i&rsquo;m there, you&rsquo;re not. When they go to get a loaf of bread for their Morn in the afternoon, I&rsquo;m there, you&rsquo;re not. When they need someone to feet strong and tough and protected around, I&rsquo;m there, you&rsquo;re not. I win you lose.</em>&#8221; (Saya ada di sana mendampingi mereka, engkau tidak. Saat mereka berangkat sekolah di pagi hari, saya di sana, engkau tidak. Saat mereka pulang sekolah di sore hari, saya di sana, engkau tidak. Saat mereka ke warung membeli roti untuk ibu, saya di sana, engkau tidak. Saat mereka membutuhkan seseorang untuk merasa kuat, berani dan terlindungi, saya di sana, engkau tidak. Saya menang dan kamu kalah)</p>
<p><strong>Di mana kita berada?</strong></p>
<p>Ilustrasi ini memang digunakan Beausay untuk mengingatkan orang tua betapa kebanyakan orang yang paling bertanggungjawaD pada diri anak (dalam contoh ini Bill menngunakan pastor untuk menekankan pula masalah pertanggungjawaban nilai-nilai relijius) ternyata bukan orang yang paling &rsquo;dekat&rsquo; dengan mereka.</p>
<p>Sebagai orangtua, kita pun dapat merenungi ilustrasi ini saat berhadapan dengan remaja kita. Sudahkah kita menjadi orang terdekat bagi si remaja, menjadi sahabat mereka, pendamping mereka, orang yang selalu ada di saat mereka membutuhkan? Karena bukan tidak mungkin, disadari atau tidak, kesulitan yang kerap muncul dalam hubungan antara orangtua dan remaja diawali dari kurang gaulnya ayah dan ibu dengan si remaja.</p>
<p><strong>Gaul dengan remaja</strong></p>
<p>Meski dari segi fisik dan dimensi berfiklr seorang remaja telah dapat disetarakan dengan orang dewasa, namun secara emosi dan sosial mereka belum setara. Perubahan hormonal pada remaja amat mempengaruhi kehidupan emosional mereka. Tak heran, seperti diungkap psikolog Yati Oetojo Lubis, seorang remaja bisa marah-marah tak karuan lalu sesaat kemudian sudah tertawa terkekeh-kekeh. Secara psikologis dan emosional, mereka memang masih berada dalam tahap peralihan darl kanak-kanak menjadi orang dewasa yang matang. &#8220;Namun semua ini butuh proses yang tak mudah dilalui,&#8221; ujarYati.</p>
<p>Dengan perubahan pada fisik dan suasana psikologis dlri mereka, terpaan media massa dan masukan dari lingkungan sepermainan, remaja memiliki banyak sekali kejutan dan pertanyaan. Karenanya lanjut Yati pula, peran orangtua pada masa-masa ini menjadi amat penling. Mereka diharapkan dapat menjadi teman dan sahabat remaja. Istilah remajanya ortu pun harus bisa begaul,</p>
<p>&#8220;Masalahnya kalau orangtua tertutup, remaja akan serba salah. Mau ngomong, takut diomelin. Tidak ngomong, tapi ingin bertanya. Akhirnya, mereka memillh diam dan memilih bertanya pada teman atau pihak lain. Ini kan runyam masalahnya,&#8221; kata Yati lagi. Jadi, siapkah kita, para ortu bergaul dengan remaja?</p>
<p>Sumber: Majalah Ummi No. 6/XII Oktober-Novmber 2000/1421</p>
<p>Dipublikasi ulang <a href="http://www.pks-sidoarjo.org">Admin DPD PKS Sidoarjo</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pks-sidoarjo.org/keluarga-kita/ortu-juga-perlu-gaul-sama-remaja.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Melepaskan Diri dari Konsistensi Kebatilan</title>
		<link>http://pks-sidoarjo.org/hikmah/melepaskan-diri-dari-konsistensi-kebatilan.htm</link>
		<comments>http://pks-sidoarjo.org/hikmah/melepaskan-diri-dari-konsistensi-kebatilan.htm#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Feb 2010 18:05:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>webmaster</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pks-sidoarjo.org/?p=886</guid>
		<description><![CDATA[Sesekali, kita mungkin terperangkap dalam kebatilan. Itu manusiawi. Karena kita punya nafsu. Ya, nafsu yang selalu mengajak kepada kejahatan dan kemaksiatan. Kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Allah SWT.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sesekali, kita mungkin terperangkap dalam kebatilan. Itu manusiawi. Karena kita punya nafsu. Ya, nafsu yang selalu mengajak kepada kejahatan dan kemaksiatan. Kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Allah SWT.<br />
<span id="more-886"></span><br />
Meskipun cenderung kepada kejahatan, namun kehadiran nafsu pada diri kita tidak untuk disesali, ataupun dicerca. Sebab dengan perpaduan akal, justru disitulah letak kesem-purnaan penciptaan kita sebagai manusia. Kita bukan malaikat yang hanya diberi akal tanpa nafsu, yang sepanjang hidupnya untuk beribadah tanpa sedikit pun rasa bosan, lelah, dan tak pernah membantah.</p>
<p>Yang tidak manusia dalam hidup ini adalah ketika kita terus-menerus melakukan kebatilan demi memperturutkan hawa nafsu. Dan sangat lebih tidak manusia lagi bila suatu kebatilan yang kita lakukan itu terus berulang, bahkan kita seakan konsisten dengannya, seolah tidak terjadi apa-apa, dan dengan santai masih bisa tertawa lepas, senang dan bahagia. Padahal kita bukanlah hewan yang hanya diberi nafsu tanpa akal, yang hidupnya hanya sekadar untuk makan, tidur, dan berkembang biak. Hanya keledai, hewan yang sering dijadikan simbol kedunguan, yang biasa terperosok berulang kali ke dalam sebuah lubang yang sama.</p>
<p>Kita diciptakan dengan sistem keseimba-ngan yang luar biasa agar kita dapat menata diri kita masing-masing, sukses memadukan antara nafsu dan akal. Sukses meraih kebahagiaan hakiki. Dan sukses mendapatkan tempat yang istimewa di sisi Allah Yang Maha Tinggi. Karena itu, kita tidak boleh berlama-lama ketika terperangkap dalam sebuah kebatilan. Kita mesti bebas, melepaskan diri dari belenggunya.</p>
<p><strong>Tak Ada Dosa Kecil jika Terus Menerus Dilakukan</strong></p>
<p>Kebatilan itu, sekecil apapun ia tetaplah kebatilan. Pasti ada konsekuensinya. Sebab Allah telah menegaskan, &#8220;<em>Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrah (biji sawi) pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.</em>&#8221;</p>
<p>Akan tetapi, tidak ada kebatilan yang kecil jika ia terus-menerus dilakukan. Ini menyangkut sikap kita memperlakukan kebatilan. Karena seringkali kita hanya memandang sebuah kebatilan dari sisi lahirnya saja, lantas melupakan esensinya sebagai satu bentuk penentangan yang suatu saat akan mendapat ganjaran dosa. Seperti kata seorang ulama mengingatkan, &#8220;Janganlah kamu melihat besar kecilnya dosa yang kamu lakukan, tapi lihatlah betapa besarnya Dzat yang kamu tentang.&#8221;</p>
<p>Meremehkan kebatilan adalah sikap yang sungguh sangat salah. Karena sebenarnya itulah awal datangnya keberanian melakukan kebatilan berikutnya, selain bahwa kita juga tidak pernah tahu bagaimana Allah mengganjar perilaku buruk kita itu. Bisa jadi bentuk balasannya seperti yang dikatakan Ali Al Muzayyin, &#8220;<em>Dosa yang dilakukan setelah berbuat dosa merupakan siksaan dari dosa yang pertama. Demikian pula sebaliknya, kebaikan yang dilakukan setelah berbuat baik merupakan pahala dari kebaikan yang pertama.</em>&#8221;</p>
<p>Dan mungkin karena itu pula, Rasulullah saw pernah mengingatkan kepada Ali bin Abi Thalib agar berhati-hati ketika melihat sesuatu yang diharamkan tanpa sengaja. Beliau bersabda kepada menantunya itu, &#8220;<em>Wahai Ali, janganlah kamu mengiringi pandangan dengan pandangan, karena sesungguhnya yang pertama adalah (nikmat) untukmu dan yang kedua adalah (dosa) atasmu.</em>&#8221; (HR. Tirmidzi)</p>
<p>Ini adalah penegasan bahwa jangan sekali-kali mengulangi atau meremehkan kebatilan agar kita terhindar dari dampak yang lebih besar, agar tidak terbuai dengan dosa-dosa kecil sehingga dengan enteng kita menjadi terbiasa melakukannya.</p>
<p><strong>Menyesal Saja tidak Cukup</strong></p>
<p>Siapa pun yang terjerumus dalam kebatilan, tentu punya keinginan untuk lepas darinya. Sebab kebatilan adalah belenggu, penjara, kegelisahan, dan kehampaan. Kesenangan yang kita dapatkan dari sesuatu yang batil semu belaka. Intinya, kebatilan adalah ketersiksaan, dengan segala macam bentuknya. Tidak ada orang yang ingin berlama-lama dalam kesesatan, meski secara lahir ia terlihat senang dan bahagia.</p>
<p>Akan tetapi, kenikmatan yang kita dapatkan dari kebatilan, meskipun semu, selalu membuat kita terlena. Lupa diri sehingga terkadang kita merasa tak kuasa untuk lepas darinya. Bahkan, kata Ibnu Jauzi mengingatkan, &#8220;<em>Para pelaku maksiat yang terlena dengan apa yang dilakukan membuat mereka seperti para pembangkang. Hawa nafsu mereka telah menghalangi diri mereka sendiri untuk berpikir waras, hingga mereka tak memahami apa yang sebenarnya sedang mereka lakukan. Yang ada dalam benaknya hanyalah satu hal: memuaskan syahwat.</em>&#8221;</p>
<p>Dan jika kita membiarkan diri ini terus-menerus dalam kebatilan itu, suatu saat nurani akan buta. Kebatilan bisa dianggap sebagai sesuatu yang baik dan bermanfaat. Seperti dikatakan Muhammad Al Washiti, &#8220;<em>Orang-orang yang terbiasa dengan kebatilan, mereka menganggap keburukan perilaku adalah suatu ketulusan, kerakusan adalah kesenangan, cita-cita yang rendah adalah ketabahan, sehingga mereka buta dari jalan, dan melalui jalan kesempitan. Akibatnya, tidak ada kehidupan berkembang di tengah-tengah mereka, tidak ada ibadah yang mensucikan amal mereka.</em>&#8221; Jika sudah demikian, semakin sulitlah kita keluar dari kebatilan.</p>
<p>Kita memang sering menyesali diri yang terlanjur sering melakukan kebatilan, Lalu berharap besar keluar darinya. Hanya saja, terkadang kita hanya mampu berhenti pada titik itu. Tidak ada usaha yang lebih dari itu. Tidak berupaya meninggalkannya. Tidak berusaha menambah amal. Tidak membentengi diri dengan suasana, lingkungan, atau komunitas yang kondusif untuk keimanan kita yang begitu rapuh. Akibatnya, sedikit saja kesempatan terbuka, kita pun kembali melakukan kebatilan serupa. Dan jadilah kita sebagai orang yang konsisten dengan kebatilan. Karenanya, lepaskanlah diri kita dari kebatilan dengan tidak berhenti di tangga penyesalan.</p>
<p>Melangkahlah terus ke anak-anak tangga yang lebih tinggi, agar ombak kebatilan itu tidak mampu lagi menyapu kaki, dan menyeret kita kembali terjatuh.</p>
<p><strong>Koreksi Kembali Kualitas Ibadah Kita</strong></p>
<p>Konsisten dengan kebatilan tidak selalu ditunjukkan oleh orang-orang yang minim spiritual. Mungkin kita pernah terheran-heran melihat orang yang kita kenal rajin beribadah, bahkan kuantitas ibadahnya mengalahkan banyak orang, namun ia tetap konsisten dengan kebatilan. Bukan itu saja, terkadang ibadah yang dilakukannya terlihat begitu khusyu&rsquo;, dan tak jarang diiringi deraian air mata dan tangis bergemuruh. Itu bisa saja terjadi. Sebab rasa penyesalan kita pada suatu kesalahan terkadang muncul begitu kuat, bersamaan dengan lahirnya rasa takut kepada Allah swt yang mendorong kita untuk segera bertaubat. Namun ia dapat pula menguap kembali.</p>
<p>Di sini, kualitas ibadah menjadi penting untuk kita cermati, agar kita dapat meneropong dan menemukan sebab-sebab, mengapa kita tetap saja konsisten dengan kebatilan. Mungkin ibadah yang kita kerjakan belum sempurna. Di sana-sini masih terdapat banyak kekurangan yang tak kita sadari, yang sesungguhnya bisa mengakibatkan ibadah dan amal kita sia-sia.</p>
<p>Dalil-dalil qath&rsquo;i dari Al Qur&rsquo;an dan Hadits cukup banyak yang menerangkan keterkaitan ibadah yang benar dengan jauhnya kemung-karan dari perilaku kita. Antara lain, firman Allah, &#8220;<em>Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar.</em>&#8221; (QS.AIAnkabut:45)</p>
<p>Allah juga berfirman, &#8220;<em>Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.</em>&#8221; (QS. Al Baqarah:T83)</p>
<p>Makna zhahir ayat di atas adalah, apabila shalat dikerjakan dengan baik dan sempurna akan menjauhkan kita dari perilaku-perilaku batil. Begitu pula puasa yang membentuk manusia takwa. Orang yang bertakwa juga akan dijauhkan dari kemungkaran. Maka ketika ibadah-ibadah itu belum mampu membentengi kita dari kebatilan, mungkin kita perlu memeriksa dengan teliti faktor-faktor yang membuatnya demikian. Mungkin kita perlu memastikan kehalalan setiap makanan yang kita konsumsi, kebersihan pakaian yang kita pakai, tempat yang kita gunakan, dan segala sesuatu yang menjadi sarana kita melakukan ibadah. Barangkali di sana ada hak-hak yang menyangkut orang lain.</p>
<p>Mungkin juga kita perlu melihat, apakah ibadah itu sudah kita lakukan dengan ikhlas, atau sekadaragar kita terbebas dari kewajiban. Semua akan berpengaruh kepada sikap dan tingkah laku keseharian kita.</p>
<p><strong>Dunia Jangan jadi Tujuan Utama</strong></p>
<p>Kesalahan yang terus berulang seringkali penyebab utamanya adalah orientasi kita yang salah terhadap dunia. Terkadang kita mengukur kebahagiaan hidup ini hanya berdasarkan keduniaan semata. Bahkan segalanya diselesaikan secara materi, sehingga dunia yang keberadaannya hanya sekadar <em>wasilah</em> merangkum beragam kebaikan, begitu lekat dengan hati, dan begitu susahnya kita lepas dari kendalinya, lalu kita pun melupakan hal yang paling fundamental dan menentukan, yaitu kehidupan dan kebahagiaan yang lebih kekal di akhirat.</p>
<p>Kita sebenarnya, bukannya tidak yakin dengan siksaan kubur, bukan pula tidak percaya dengan perhitungan akhirat. Kita bahkan sangat mengerti. Hanya saja kita sering diliputi rasa takut yang berlebihan jika dunia lepas dari genggaman kita. Inilah yang membuat mata kita buta. Lupa diri. Salah orientasi, dan menjadi manusia aneh yang konsisten dengan kebatilan. Seperti kata Ibnul Jauzi, &#8220;<em>Barangsiapa yang berpikir dalam-dalam dan seksama tentang akhir kehidupan dunia, ia akan senantiasa waspada. Barangsiapa yang yakin akan betapa panjangnya jalan yang akan ditempuh, maka ia akan menyiapkan bekal sebaik-baiknya. Alangkah anehnya manusia yang yakin akan sesuatu, namun ia melupakan dan betapa anehnya mereka yang mengetahui bahaya sesuatu, namun ia juga menutup mata.</em>&#8221;</p>
<p>Kita sadar bahwa kita begitu mudah dikalahkan oleh hawa nafsu. Kita pun sangat tahu bahwa betapa kita kadang tidak selalu berhasil menaklukkannya. Anehnya, kita merasa gembira dengan ketertipuan kita dan larut dalam kealpaan terhadap hal yang tersembunyi di dalam diri kita. Kita terpedaya oleh kemilau harta yang begitu mudah kita dapatkan, namun kita juga lupa betapa seringnya harta itu datang dari pintu yang tidak halal. Padahal tipu daya harta bukan saja menggelapkan mata orang-orang awam, para pencari ilmu pun dapat tertipu. Muhammad bin Al Fadhl Al Balkhi menegaskan hal ini, &#8220;<em>Jika kamu melihat seorang pencari ilmu memperbanyak masalah dunianya, hal itu adalah tanda dari awal kehancurannya.</em>&#8220;.</p>
<p>Karena itu, dunia harus kita tempatkan di tangan, bukan di hati. Sebab, kata Abdur-rhaman Ad Darani, &#8220;<em>Jika dunia telah menempati hati seseorang, akhirat akan pergi darinya.</em>&#8221;</p>
<p><strong>Jaga Selalu Kebersihan dan Kesehatan Hati</strong></p>
<p>Hati adalah organ yang paling vital dalam tubuh kita. Meskipun hanya terbentuk dari segumpal daging yang tak pernah kita lihat, tapi ia menjadi penentu segala kebaikan dalam hidup kita. Ia ibarat shalat dalam keseluruhan amal. Rasulullah pernah bersabda, &#8220;<em>Sesungguhnya yang pertama kali dihisab dari amal seorang hamba pada hari kiamat adalah shalat. Apabila shalatnya baik, ia telah beruntung dan berhasil, namun jika shalatnya rusak, ia telah gagal dan merugi</em>.&#8221; (HR. Tirmidzi)</p>
<p>Hadits di atas seakan mirip dengan hadits beliau saw yang menyebutkan kedudukan hati di antara keseluruhan anggota tubuh kita. Beliau bersabda, &#8220;<em>Ketahuilah, sesungguhnya dalam tubuh terdapat segumpal daging. Apabila segumpal daging itu baik, baiklah seluruh tubuh, dan apabila ia rusak, rusaklah seluruh tubuh.</em>&#8221; (HR. Bukhari)</p>
<p>Inilah jaminan yang pasti untuk mendapatkan kebahagiaan dan keselamatan hidup. Hati harus bersih dan sehat. Bukan hanya harus sehat secara fisik, tetapi yang lebih menentukan dari itu, sehat secara batin. Karena segala sesuatu yang terpikirkan oleh akal untuk mela-kukan sebuah tindakan, atau untuk meren-canakan hidup kita ke depan, pada akhirnya akan diputuskan oleh hati. Hatilah yang menentukan apakah kita akan melakukan sesuatu yang baik atau yang buruk. Sedang akal hanya<br />
memikirkan dan menimbangnya, tidak mengambil keputusan.</p>
<p>Ini bisa menjadi ukuran. Artinya, ketika ada orang yang melakukan sebuah kebatilan, dan ternyata kebatilan itu dilakukan terus-menerus, hatilah yang harus diperiksa pertama kali. Mungkin ia sedang sakit, berkarat, atau kotor. Sehingga harus segera diobati agar ia tidak terus-menerus mengambil keputusan yang salah, dan secara konsisten pula kita melakukan tindakan yang batil.</p>
<p>Hati memang hanya segumpal daging, tapi ia bisa berkarat seperti berkaratnya besi. Ad Darani berkata, &#8220;<em>Setiap sesuatu ada karatnya dan karat cahaya hati adalah adalah perut yang kenyang.</em>&#8221;</p>
<p>Perut yang kenyang, dan apalagi jika kenyangnya karena makanan yang tidak jelas kehalalannya, maka akan mudah sekali ia berkarat. Cahayanya akan redup, dan akan sulit membedakan antara yang hak dan yang batil. Tidak heran kalau ia selalu mengambil keputusan yang salah. Tetapi ketika hati sudah demikian, Ad Darani sangat mengerti obatnya. Ia berkata, &#8220;<em>Mungkin di hatiku terdapat satu titik hitam yang menyangkut orang lain dalam beberapa hari, namun aku tidak mau menerimanya kecuali dengan dua saksi yang adil: Al-Qur&rsquo;an dan sunnah.</em>&#8221;</p>
<p>Barangkali ada kebatilan yang saat ini sedang membelenggu kita, yang setiap saat kita lakukan secara konsisten, maka segeralah obati hati. Karena sumbernya mungkin ada di sana. Ibrahim Al Khawwash menawarkan kita obat yang sangat mujarab, yang mungkin sering kita dengar, bahkan sudah kita hapal. Katanya, &#8220;<em>Obat hati ada lima: Membaca Al Qur&rsquo;an dengan merenungkan isinya; mengo-songkan perut; bangun malam; munajat di penghujung malam, dan berkumpul dengan orang-orang shaleh.</em>&#8221;</p>
<p>Kebatilan bukanlah sesuatu yang sepele, yang suatu saat bisa kita remehkan. la adalah bencana dalam hidup ini. Karena itu, segalanya harus kita upayakan agar kita bisa terbebas dari belenggunya. Agar jangan sampai kita menjadi bagian dari orang-orang yang konsisten dengannya.</p>
<p>Sumber: Tarbawi Edisi 131 Th. 7/Rabi&rsquo;ul Akhir 1427 H/11 Mei 2006 M</p>
<p>Dipublikasi ulang <a href="http://www.pks-sidoarjo.org">Admin DPD PKS Sidoarjo</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pks-sidoarjo.org/hikmah/melepaskan-diri-dari-konsistensi-kebatilan.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Aneh, Ada Orang Konsisten dengan Kebatilan</title>
		<link>http://pks-sidoarjo.org/hikmah/aneh-ada-orang-konsisten-dengan-kebatilan.htm</link>
		<comments>http://pks-sidoarjo.org/hikmah/aneh-ada-orang-konsisten-dengan-kebatilan.htm#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Feb 2010 18:04:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>webmaster</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pks-sidoarjo.org/?p=884</guid>
		<description><![CDATA[Menggebah diri untuk terus berusaha meniti jembatan-jembatan kebaikan itu sebenarnya niscaya. Jejaknya memang tidak melulu mencapai derajat sama. Bahkan bisa jadi suatu saat kita tergelincir. Melakukan kesalahan. Hanya, kita segera memutar haluan, kembali pada sungai kebaikan yang tengah kita arungi.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Menggebah diri untuk terus berusaha meniti jembatan-jembatan kebaikan itu sebenarnya niscaya. Jejaknya memang tidak melulu mencapai derajat sama. Bahkan bisa jadi suatu saat kita tergelincir. Melakukan kesalahan. Hanya, kita segera memutar haluan, kembali pada sungai kebaikan yang tengah kita arungi.<br />
<span id="more-884"></span><br />
Masalahnya, kadang kita dan orang lain di sekitar kita membiarkan diri tetap tergelincir. Terus berada dalam ceruk gelap kebatilan. Berulang-ulang kebatilan itu kita lakukan. Lagi. Lagi. Dan lagi. Terus. Terus. Dan terus. Sungguh ironis. Namun inilah apa yang nampak di depan mata. Dan inilah yang amat mungkin masih ada dalam mental serta perilaku kita.</p>
<p><strong>Lingkaran Kebatilan dengan Dalih &#8220;Atas Nama&#8221;</strong></p>
<p>Ahmad Dahlan, pembaharu gerakan Islam di tanah air, suatu ketika sengaja meletakkan secarik kertas di depan pintu rumahnya. &#8220;Berbahagialah orang-orang yang asing pada saat di mana Islam seringkali dipandang asing,&#8221; demikian penggalan apa yang ia tuliskan di sana, yang ia kutip dari hadits Rasulullah. Masa itu, Ahmad Dahlan mengalami &#8220;serangan&#8221; penolakan pada perbaikan-perbaikan yang disarankannya.</p>
<p>Pemilahan sesuatu yang haq dengan batil sebenarnya gamblang. Pemisahnya jelas. &#8220;Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu juga jelas&#8230;.&#8221;(hadits riwayat Bukhari-Muslim). Pencarian pada sumber untuk pemilahan itu terhampar di depan mata.</p>
<p>Tinggal berpulang pada kita. Mau mencari atau tidak. Mau jujur pada diri sendiri atau tidak. Mau mengambil resiko terasing atau tidak. Karena seperti pepatah &#8220;jaman selalu berulang&#8221;, jika kini kita berada dalam pencarian dan upaya melakoni panggilan kejujuran nurani itu, kita mesti siap pula bila suatu saat terasing.</p>
<p>Jika tidak, kita inilah sekadarsang penonton. Pasif. Berdiam diri memandang lakon demi lakon kebatilan. Malu bersikap. Meski sebenarnya kita tahu apa yang nurani kita katakan. Malah kita terhanyut pada pemakluman: inilah jaman edan. Atas nama &#8220;ini memang jaman edan&#8221;, maka apapun kebatilan yang terjadi, apapun kebatilan yang menjadi kebiasaan, kita anggap<br />
memang sudah sewajarnya. Pemikiran semacam ini, membawa kita pada keengganan untuk melakukan perubahan positif, meski secuil. Kita cukup nyaman menjadi penonton. Pasif, seperti tunggul kayu yang sudah mati.</p>
<p>Jika tidak, kita inilah salah satu pemain dalam konsistensi lakon kebatilan. Tidak harus dalam lingkaran pemain utama. Mungkin kita sekadar turut tertawa. Atau kita turut berbicara, membela apa yang sebenarnya batil itu tanpa mengerti persoalan. Atas nama &#8220;inilah keindahan&#8221;, atas nama &#8220;kebebasan berekspresi&#8221; atas nama &#8220;seni&#8221;, atas nama hak asasi manusia yang disalahartikan, kita berbondong bersama kerumunan. Kerumunanyang sejatinya punya suara aneh: mendukung kebatilan dalam berbagai lakonnya.</p>
<p>Di sini, ada perbedaan jelas antara manusia &#8220;aneh&#8221; dengan manusia aneh. Manusia &#8220;aneh&#8221;, menjadi aneh dalam pandangan orang lain, karena ia menolak kebatilan. Ia tidak mau berada dalam lingkaran kebatilan. Ia tidak mau mendukung lakon kebatilan. Bahkan ia berusaha dengan cara yang ia mampu, dengan cara yang menjadi rahmat, untuk mengajak orang berpaling dari kebatilan.</p>
<p>Adapun manusia yang memang sungguh-sungguh aneh, ia konsisten melakukan kebatilan demi kebatilan. Aneh, karena ia malah mendukung lakon-lakon kebatilan. Bahkan bisa jadi, ia bersuara paling lantang membela, meski tidak mengerti esensi pembelaan itu. Apalagi sikap itu sering membawa pemerannya dalam ketenaran mendadak. Tidak punya keahlian, namun dipandang sebagai pakar. Ini membuat makin tenggelam dalam kubangan arogansi membutakan. Sungguh berbahaya.</p>
<p>Lingkaran kebatilan pun makin tak terputus. Maka pemimpin redaksi majalah anyar bermuatan pomografi pun justru berujar ringan, &#8220;Majalah kami masih dalam koridor islami.&#8221; Ini memang aneh.</p>
<p>Di mana kita dalam drama ini?</p>
<p><strong>Kebatilan yang Tak Lagi Meresahkan</strong></p>
<p>Kebatilan yang terus dilakukan memang bisa membuat terlena. Mungkin bermula dari keterpaksaan. Mungkin pada awal melakukannya masih tersimpan rasa malu. Mungkin kali pertama, masih muncul penyesalan. Tapi karena tak jua dihentikan, semua menguap. Lama kelamaan, karena terus berulang dan terasa akrab, semua itu tak lagi mengganggu. Tak lagi meresahkan jiwa. Bahkan meski ibadah tidak ditinggalkan, efeknya sudah tak berbekas. Karena prakteknya cuma dalam lisan.</p>
<p>Seorang pimpinan teras perusahaan BUMN di Jakarta, bercerita pada kontributor Tarbawi. Tiap hari Jum&rsquo;at, jika tak ada dinas luar, ia shalat Jum&rsquo;at di masjid dekat kantornya. Ia biasa shalat di shaf depan. Menjelang shalat dimulai, para pegawainya selalu beramai-ramai datang di shaf belakang. Ketika sang pimpinan berpaling ke belakang, inilah yang ada dalam hatinya, &#8220;Mereka itu (para pegawainya) bandit semua, sama seperti saya.&#8221;</p>
<p>Seorang pembimbing haji yang korup, pernah bertutur. Tiap tahun ia beribadah haji, sekaligus menjadi pembimbing. Tiap tahun pula, di tanah suci ia menangis ingin bertaubat. Namun selepas itu, kelakukan korup ia ulang kembali. Demikianlah lingkaran itu terjadi terus.</p>
<p>Kita tahu, persoalannya tentu bukan pada ibadah yang seharusnya memang kita lakukan. Juga bukan pada taubat itu sendiri. Karena setiap kita melakukan kesalahan, semestinya memang segera bertaubat. Tapi persoalannya adalah pada mutu ibadah kita. Pada lakon penyesalan yang tak kita tuntaskan. Pada lakon kebatilan yang terus kita ulangi.</p>
<p>Sesederhana apapun nampaknya kebatilan yang kita lakukan, yang bila kita bandingkan dengan orang lain mungkin terkesan ringan, namun tetap tidak bisa kita suburkan. Kebatilan bagaimana pun adalah sebuah kebatilan. Ia akan membunuh kita. Dalam banyak hal, ia juga membunuh orang lain.</p>
<p>Suatu siang pertengahan April lalu, di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, seorang hakim diadili dalam perkara korupsi. Sang hakim didakwa melakukan pemerasan pada saksi perkara korupsi PT Jamsostek. Pemerasan itu dilakukan bersama panitera Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Perbuatan itu ia lakukan sejak akhir Desember 2005 hingga Januari 2006 lalu.<br />
Ini cerita lama. Sekaligus menjadi bukti, bahwa kebatilan yang dipupuk, lama kelamaan akan melenyapkan keresahan manusiawi.</p>
<p>Ketika sudah dikepung kebatilan yang kita lakukan, ketika kegundahan sudah tiada lagi, ketika kita tak menghentikan lakon itu, sung-guh aneh karena kita masih bisa berdiri tegak, dalam dunia tipuan yang kita ciptakan.</p>
<p>Yahya bin Muadz ra berpesan, ada enam hal yang termasuk tipuan paling besar. Di antaranya, mengharapkan ampunan Allah tetapi terus menerus melakukan dosa tanpa penyesalan. Merasa dekat dengan Allah tetapi tidak melakukan ketaatan. Menunggu tanaman surga tetapi selalu menyemai benih amalan neraka. Dan mendambakan kasih sayang Allah tetapi selalu melanggar ketentuan-Nya.</p>
<p><strong>Parade Kebatilan di Tengah Para Pemimpin</strong></p>
<p>Penulis A.A. Navis, dalam catatan pengamatan pada kondisi keseharian orang di sekitarnya pernah bertutur tentang apa yang dialami warga desa di kampungnya di daerah Sumatera Barat. Warga desa mantan PNS yang sudah berumur itu mendatangi kantor pemerintah setempat untuk meminta uang pensiun yang tertunda-tunda.</p>
<p>Di sana, ia harus menunggu pimpinan yang sedang sibuk karena akan datang tamu dari pusat. Sang bapak tua kebingungan karena tak seorang pun mau mendengar keluhannya. Ia cemas tidak dapat pulang membawa uang yang diharapkan keluarganya. Dana itu akan digunakan untuk biaya pernikahan anaknya.</p>
<p>Menunggu hingga sore, bapak itu menanyakan lagi untuk kesekian kalinya, kapan masalahnya dapat didengar. Tapi yang ia dapatkan justru hardikan supaya ia pulang saja. Ia dianggap mengganggu, karena hari itu semua sibuk. Sibuk akan menyambut tamu &#8220;istimewa&#8221;.</p>
<p>Fenomena ini bukan sesuatu yang baru. Ia sudah lama ada di negeri kita. Laten. Ketika sesuatu yang semestinya ditangani justru diabaikan. Ketika sesuatu yang semestinya diperlakukan sewajarnya, justru diagung-agungkan.</p>
<p>Jadilah bumi pertiwi dipenuhi parade ngawur ulah para pemimpinnya. Ketika upaya mengagungkan pemimpin merambah ke segenap penjuru. Bagaikan permainan karambol, efeknya berimbas terus. Pejabat bawah menghamba pada yang lebih tinggi, demikian seterusnya. Bahkan seorang anggota DPR yang senior pun, dikenal di luar negeri karena permintaannya akan service yang berlebihan dari KBRI, jika ia mengadakan kunjungan.</p>
<p>Inilah parade kepiluan. Ketika ratusan guru di desa terpencil menanti turunnya gaji yang tertunda berbulan-bulan. Hutang sudah menumpuk. Bahkan banyak yang terpaksa menempuh jalan alternatif yang lebih jauh, demi menghindari melewati warung tempat mereka berutang. Ada pula yang terkantuk-kantuk saat mengajar, karena kelelahan menjadi tukang ojek motor pada malam harinya.</p>
<p>Inilah parade keanehan. Ketika mereka yang sudah diterima menjadi pegawai negeri sipil tiba-tiba dibatalkan begitu saja. Ratusan korbannya kecewa, malu dan terpukul. Atau ketika ribuan kepala desa yang berduka berunjuk rasa memohon peningkatan kesejahteraan. Dan jawaban pemimpin negeri cuma sekadarnya, &#8220;Mekanisme menyampaikan sikap harusnya mengikuti tatanan dan etika yang berlaku.&#8221;</p>
<p>Di sini, di negeri ini, kita justru terkesima, jika menemukan penguasa dalam berbagai levelnya, yang bersikap sebagaimana mestinya. Kita terbiasa disuguhi keanehan: pemimpin berlomba-lomba dalam kebatilan.</p>
<p><strong>Kebatilan Tidak Patut Hanya Diratapi</strong></p>
<p>Bila kita berada dalam lautan kebatilan, tentu kita tidak semestinya hanya meratapi kegelapan itu. Dengan segenap apa yang kita punya, dari diri sendiri, kita dapat memulai. Setidaknya, kita tidak berupaya meniru mereka yang konsisten dalam kebatilan itu.</p>
<p>Setidaknya, kita dapat memacu diri untuk meninggalkan penyimpangan yang kita lakukan sendiri. Setidaknya, kita dapat berupaya membuka keran-keran pembelajaran. Untuk kita sendiri. Untuk lingkungan kita.</p>
<p>Suatu masa memang tidak melulu melahirkan orang-orang bermutu yang sama dengan sebelumnya. Namun teramat tragis bila kita sampai mengalami kekosongan orang-orang yang punya otoritas. Orang-orang yang tidak asal bicara tanpa ilmu. Yang tidak berbangga hanya karena pendapatnya diikuti, meski sebenarnya keliru. Bahkan menyesatkan.</p>
<p>Kita dan lingkungan kita perlu berupaya mengisi kekosongan itu. Tentu dalam lahan-lahan yang kita mampu. Agar energi kita tidak hanya habis untuk meratap dan merutuk. Agar kecemasan kita pada lautan kebatilan membuahkan kekuatan. Bukan membawa kita tenggelam di dalamnya.</p>
<p>Sumber: Tarbawi Edisi 131 Th. 7/Rabi&rsquo;ul Akhir 1427 H/11 Mei 2006 M</p>
<p>Dipublikasi ulang <a href="http://www.pks-sidoarjo.org">Admin DPD PKS Sidoarjo</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pks-sidoarjo.org/hikmah/aneh-ada-orang-konsisten-dengan-kebatilan.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kita Pernah Ditindas Lebih Kejam</title>
		<link>http://pks-sidoarjo.org/taujih-umum/kita-pernah-ditindas-lebih-kejam.htm</link>
		<comments>http://pks-sidoarjo.org/taujih-umum/kita-pernah-ditindas-lebih-kejam.htm#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 14 Feb 2010 22:24:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>webmaster</dc:creator>
				<category><![CDATA[Taujih Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pks-sidoarjo.org/?p=900</guid>
		<description><![CDATA[Belajar dari pemboikotan kafir Quraisy terhadap kaum Muslimin
Oleh Untung Wahono

Keagungan nilai-nilai suatu ajaran tidak selalu akan menimbulkan simpati manusia, tetapi seringkali justru menimbulkan kecemasan dan ketakutan dari pihak lain, disebabkan mereka merasa kepentingannya akan terganggu dengan ajaran itu. Itulah sebabnya upaya untuk menegakkan Dakwah Islam-betatapun mulianya-tidak ada jaminan untuk tidak mendapatkan rintangan dan tantangan-tantangan.
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;">Belajar dari pemboikotan kafir Quraisy terhadap kaum Muslimin<br />
Oleh Untung Wahono
</p>
<p>Keagungan nilai-nilai suatu ajaran tidak selalu akan menimbulkan simpati manusia, tetapi seringkali justru menimbulkan kecemasan dan ketakutan dari pihak lain, disebabkan mereka merasa kepentingannya akan terganggu dengan ajaran itu. Itulah sebabnya upaya untuk menegakkan Dakwah Islam-betatapun mulianya-tidak ada jaminan untuk tidak mendapatkan rintangan dan tantangan-tantangan.<br />
<!--more-><br />
Terdapat beberapa kelompok penentang Dakwah Islam, yakni orang-orang berkuasa yang berlaku zhalim, orang-orang sombong yang bodoh, dan orang-orang mengerti yang tidak berpendirian. Kelompok orang-orang ini muncul dalam sejarah peradaban Islam, menghiasi masing-masing zaman yang dialami para pejuang pendahulu sejak masa Rasulullah Muhammad saw.</p>
<p>Al-Quran sendiri telah membenkan sebuah pedoman umum untuk menghadapi scgala tantangan dakwah: &#8220;<em>Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan dan jauhilah mereka dengan cara yang baik (hajran jamiila).</em>&#8221; (QS. Al-Muzammil: 10)</p>
<p>Sebagai surah Makkiyah, tentu ayat ini menggambarkan langkah-langkah yang harus diambil Rasulullah dan kaum muslimin pada saat bangunan dakwah belum lagi kokoh untuk menentang semua tantangan itu.</p>
<p>Penderitaan besar yang dialami Rasulullah saw selama beliau berdakwah di Makkah adalah diboikotnya kaum Muslimin oleh orang-orang Quraisy, baik secara sosial maupun ekonomi. Bahkan pemboikotan ini, berlaku juga bagi kabilah Bani Abdul Muthalib dan Bani Hasyim, baik mereka yang sudah masuk maupun yang belum masuk Islam.</p>
<p>Para pedagang dipaksa menjual barang hanya kepada Abu Lahab dan untuk itu ia bersedia membelinya dengan harga yang tinggi. Kabilah Abdul Muthalib dan Bani Hasyim dilarang menjalin hubungan perkawinan dengan suku Quraisy manapun di Makkah. Pada penghujung pemboikotan yang berlangsung sekitar tiga tahun itu, isteri Rasulullah, Khadijah ra wafat dan kemudian disusul oleh pamanda beliau, Abu Thalib.</p>
<p><strong>Keteguhan Cita-Cita Dakwah</strong></p>
<p>Mcskipun pemboikotan itu demikian dahsyatnya, Rasulullah dan kaum Muslimin tetap bertahan pada cita-cita menegakkan Dakwah Islam dan tidak bcrkurang sedikit pun pendiriannya. Jika saja, Rasulullah seorang pemimpin yang lemah, pastilah ia telah menyerah.</p>
<p>Betapa tidak, ia begitu sedih menyaksikan kaumnya dikejar-kejar hingga harus diungsikan ke Habasyah. Sedangkan mereka yang masih tinggal di Makkah harus menerima risiko pemboikotan yang sangat panjang itu. Bahkan beliau menyaksikan betapa isterinya, Khadijah, seorang bangsawan yang dimuliakan itu, harus menderita kekurangan pangan bersama kaum Muslimin lainnya.</p>
<p>Sa&rsquo;ad bin Abi Waqqas menceritakan saat suatu malam ia keluar dari rumah untuk buang air kecil. Tiba-tiba ia mendengar bunyi sebuah benda terkena air seninya. Setelah dilihat ternyala benda itu adalah sekeping kulit unta kering. Kulit itu kemudian diambil oleh Sa&rsquo;ad bin Abi Waqqas, dicucinya bersih-bersih, bulunya dibakar lalu direndam dalam air dan direbusnya. Dengan kulit itu, Saad dapat mengisi perut selama tiga hari.</p>
<p><strong>Solidaritas Sosial</strong></p>
<p>Rasulullah Saw dan kaum Muslimin senantiasa mengokohkan solidaritas sosial di antara Bani Abdul Muthalib dan Bani Hasyim di tengah-tengah beratnya kabilah itu menanggung sanksi kaum Quraisy. Dengan mengokohkan solidaritas sosial diharapkan kesengsaraan itu tidak akan menumbuhkan sikap saling menyalahkan dan melempar tanggungjawab yang menjadi sumber perpecahan.<br />
Termasuk kekompakan yang dijaga Rasulullah adalah hubungan beliau dengan pamanda Abu Thalib yang dalam kekafirannya terus menerus membela Nabi Muhammad. Abu Thalib melakukan pembelaan yang luar biasa kepada kemenakannya itu sehingga ia mendapat tekanan yang hebat dari tokoh-tokoh kafir Quraisy lainnya.</p>
<p>Pembelaan yang sama juga datang dari pamanda Muhammad yang lain, Abbas bin Abdul Muthalib yang saat itu belum masuk Islam. Abbas sangat sayang kepada Muhammad Saw sehingga ia selalu menjaganya dari gangguan orang-orang kafir Quraisy yang datang mengganggunya.</p>
<p>Bahkan ketika terjadi Bai&rsquo;atul Aqabah kedua, Abbas mengancam kaum Anshar agar serius melakukan pembelaan kepada Rasulullah jika ingin membawanya ke Madinah.</p>
<p><strong>Dakwah Tetap Berjalan</strong></p>
<p>Selama pemboikotan berlangsung, dakwah Islam tetap dilakukan oleh Rasulullah dan para sahabatnya, sebagai bukti tidak matinya semangat dan cita-cita kaum Muslimin. Pan sahabat tetap gencar mendatangi rombongan para tamu ke agamaan yang datang ke Makkah dan menyampaikan pesan pesan Islam kepada mereka.</p>
<p>Kcgialan ini tidaklah mudah karena setiap saat orang-orang Quraisy mencegah mereka dengan propaganda-propaganda penuh kebohongan. Ini menandakan bahwa sebesar apapun rintangan, ikhtiar untuk mencari jalan keluar bagi pemecahan masalah-masalah dakwah tidaklah terhenti.</p>
<p>Sikap-sikap tulus dakwah Islam yang terus diperlihatkan Kaum Muslimin selama masa pemboikotan itu membuahkan rasa simpati beberapa tokoh Quraisy. Ada di antara mereka yang kemudian berusaha unluk membantu kabilah Abdul Munthalib yang terisolasi itu. Dengan sembunyi-sembunyi, di antara mereka ada yang mengikatkan karung-karung makanan pada unta, kemudian unta itu dipukul keras-keras sehingga lari menuju ke arah perkampungan kaum Muslimin itu.</p>
<p><strong>Setia pada Manhaj</strong></p>
<p>Di dalam barisan kaum Muslimin yang diboikot itu, bukannya tidak terdapat orang-orang yang kuat. Pada saat itu, Umar bin Khattab ra telah masuk Islam dan ia adalah seorang yang sangat berani dan gemar berperang. Hamzah bin Abdul Muthalib ra juga telah menyertakan keislamannya pada saat itu dengan sebuah peristiwa yang dramatis. Hamzah memukul kepala Abu Jahal dengan busur panahnya hingga berdarah-darah sebagai bukti keberpihakannya kepada Muhammad Saw.</p>
<p>Dengan modal kenekadan dan keberanian pengikutnya, sesungguhnya mungkin saja bagi Rasulullah saat itu mengobarkan perlawanan kepada kaum Quraisy. Tetapi, hal itu tidak dilakukan beliau karena manhaj perjuangan belum mengantarkan mereka ke tahap itu.</p>
<p>Rasulullah hanya meminta mereka untuk bersabar meskipun mereka merasa demikian berat menghadapi penghinaaan dan tindakan represif kafir Quraisy. Penderitaan dan kesengsaraan tidaklah membuat Rasulullah terpancing untuk menyimpang dari sebuah rancangan perjuangan dakwah yang terencana dengan malang.</p>
<p><strong>Berdoa: Perlawanan dalam Kesabaran</strong></p>
<p>Di antara bentuk perlawanan dalam ketertindasan yang dilakukan oleh Rasulullah adalah berdoa kepada Allah SWT memohon berbagai keadaan yang dapat menguntungkan perjuangan. Inilah yang dilakukan Rasulullah dan kaum Muslimin dalam berbagai peristiwa penindasan yang dialami mereka, termasuk dalam masa pemboikotan yang memakan waktu tiga tahun itu.</p>
<p>Sejarah telah mencatat betapa banyak ragam doa yang dipanjatkan Rasulullah sesuai dengan keadaan kaum dan orang-orang yang dihadapinya. Suatu saat Rasulullah memohonkan ampunan Allah atas suatu kaum: &#8220;Ya Allah ampunilah masyarakatku yang tidak berpengetahuan itu.&#8221; Padahal Rasulullah saw saat itu tengah menanggung derita siksaan dari orang-orang kafir hingga berdarah-darah (HR. Bukhary dan Muslim).</p>
<p>Pada hari Aqabah, Rasulullah begitu kecewa dengan penolakan dakwah yang dilakukan oleh masyarakat pimpinan Ibnu Abdiyalil bin Abdikilal. Beliau melangkah gontai hingga tak sadar sampai di Qarnis Saalib. Tiba-tiba datang malaikat menawarkan &#8220;jasa&#8221; untuk menghantamkan gunung kepada kaum itu. Tetapi Rasululullah menolak seraya berkata, &#8220;Masih tersisa harapanku, semoga Ya Allah, Engkau memberikan kepada mereka keturunan-keturunan yang menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya.&#8221; (H.R. Bukhary dan Muslim).</p>
<p>Ketika dikejar-kejar penduduk Thaif yang dengan kasar menolak dakwah Islam, Rasulullah Saw berdoa kepada Allah Swt: &#8220;Ya, Allah, kepada-Mu aku mengadukan kelemahanku, kurangnya kesanggupanku dan kerendahan diriku berhadapan dengan manusia. &#8220;Engkaulah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Engkaulah pelindung bagi si lemah dan Engkau jualah pelindungku&#8230;&#8221; (HR. Ibn Ishaq dengan sanad shahih).</p>
<p>Rasulullah saw sangat marah tatkala suatu saat orang-orang kafir Quraisy meletakan jeroan (organ tubuh bagian dalam) kambing yang sangat koior ke pundaknya, padahal saat itu beliau tengah sujud dalam shalat yang ia lakukan di dalam Kabah.</p>
<p>Anak beliau, Fatimah, menyingkirkan benda itu dan pada saat itulah Rasulullah Saw berdoa: &#8220;Ya Allah binasakanlah orang-orang Quraisy itu! Ya Allah binasakanlah orang-orang Quraisy itu! Ya Allah binasakanlah orang-orang Quraisy itu! Ya Allah binasakanlah Abu Jahal bin Hisyam, Utbah bin Rabi&rsquo;ah, Syaibah bin Rabi&rsquo;ah, Al Walid bin Uthbah, Umayyah bin Khallaf, Uqbah bin Abi Mu&rsquo;aith&#8230;&#8221; Mendengar doa Rasulullah, orang-orang Quraisy yang semula tertawa-tawa penuh ejekan tiba-tiba menjadi sangat ketakuta&rsquo;n. (H.R. Bukhary, Muslim, An Nasaai, dan Ahmad).</p>
<p><strong>Penutup</strong></p>
<p>Buah dari kesabaran kaum Muslimin adalah bangkitnya rasa simpati orang-orang kafir Makkah yang masih memiliki sisa-sisa hati nuraninya terutama mereka yang memiliki perkerabatan secara tidak langsung dengan Bani Abdul Muthalib. Orang pertama yang tergugah atas penderitaan kaum muslimin adalah Hisyam bin Amir dan melalui pendekatan-pendekatan yang dilakukannya terhimpunlah dukungan dari tokoh-tokoh kafir Quraisy yang lain seperti Zuhari bin Abi Umayyah, Muth&rsquo;am bin Ady, Al-Bakhtary bin Hisyam dan Zam&rsquo;ah bin Al-Aswad.</p>
<p>Kelima orang tokoh ini bersatu-padu menentang Abu Jahal yang dianggap terlalu berlebihan dalam menghukum kaum Muslimin dan keluarga mereka. Pemboikotan akhirnya diselesaikan. Dan perjalanan dakwah berlanjut terus menghimpun kekuatan demi kekuatan, menuju kemenangan yang tak terbantahkan.</p>
<p>Wallahu a&rsquo;lam</p>
<p>Sumber: Suara Hidayatullah No. 08/XW/Ramadhan-Syawal 142</p>
<p>Dipublikasi ulang dengan sedikit perubahan <a href="http://www.pks-sidoarjo.org">Admin DPD PKS Sidoarjo</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pks-sidoarjo.org/taujih-umum/kita-pernah-ditindas-lebih-kejam.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Koalisi dengan Partai Korup</title>
		<link>http://pks-sidoarjo.org/konsultasi-dakwah/koalisi-dengan-partai-korup.htm</link>
		<comments>http://pks-sidoarjo.org/konsultasi-dakwah/koalisi-dengan-partai-korup.htm#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Feb 2010 22:20:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>webmaster</dc:creator>
				<category><![CDATA[Konsultasi Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA[Koalisi dengan Partai Korup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pks-sidoarjo.org/?p=888</guid>
		<description><![CDATA[Seperti yang kita pahami bahwa partai dakwah ini memperjuangkan <em>al-haq</em>. Inilah yang membedakan kita dengan yang lain. Tapi, bagaimana jika terjadi koalisi antara kita dengan partai yang dikenal korup dan azasnya sama sekali bukan Islam. Apa mungkin hal itu terjadi dalam kacamata dakwah. Bukankah hal itu akan mencederai citra dakwah kita? Kalau pun mungkin, sebatas mana?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;">Diasuh oleh Ustadz Musyaffa A. Rahim, Lc.</p>
<p>Assalamu&rsquo;alaikum wr. wb. </p>
<p>Ustadz Musyaffa yang saya hormati. Saya salah seorang yang alhamdulillah masih aktif dalam partai dakwah ini. Ada beberapa hal yang mengganjal saya berkenaan dengan kerjasama antar partai.<br />
<span id="more-888"></span><br />
Seperti yang kita pahami bahwa partai dakwah ini memperjuangkan <em>al-haq</em>. Inilah yang membedakan kita dengan yang lain. Tapi, bagaimana jika terjadi koalisi antara kita dengan partai yang dikenal korup dan azasnya sama sekali bukan Islam. Apa mungkin hal itu terjadi dalam kacamata dakwah. Bukankah hal itu akan mencederai citra dakwah kita? Kalau pun mungkin, sebatas mana?</p>
<p>Atas jawaban Ustadz saya ucapkan jazakallah khairan.</p>
<p>Abdul Hamid, Depok.</p>
<p>&#8212;&#8211;</p>
<p>Saudara Abdul Hamid di Depok dan juga pembaca majalah SAKSI lainnya di mana pun berada. </p>
<p>Assalamu&rsquo;alaikum Warahmatullah Wabarakatuh</p>
<p>Masalah yang antum kemukakan termasuk yang sulit untuk saya jawab. Terus terang saja, sampai beberapa kali majalah ini keluar, jawaban atas masalah, ini belum saya tulis, sebab saya masih berusaha membaca bahan dari sana-sini. Sumber kesulitannya-wahai akh Abdul Hamid di Depok dan juga pembaca budiman semuanya di mana pun berada-menurut saya wallahu a&rsquo;lam-adalah karena masalah yang antum kemukakan termasuk kategori <em>siyasah syar&rsquo;iyah</em>.</p>
<p>Terkait dengan sulitnya masalah yang terkait dengan siyasah syar&rsquo;iyah ini, Ibnu Qayyim al Jauziyah berkata, &#8220;<strong>Posisi ini adalah tempat kaki terpeleset, dan banyak pemahaman tersesat, ia adalah tempat yang sempit dan jalan terjal yang sulit, sebagian orang terjebak dalam <em>tafrith</em> (tidak mempergunakannya) &#8230; dan sebagian lagi terjebak dalam <em>ifrath</em> (terlalu luas dalam mempergunakannya)</strong>&#8221; (Ibnu Qayyim al-Jau-ziyah, Ath-Thuruq Alhukmiyah fi As-Siyasah Asy-Syar&rsquo;iyyah).</p>
<p>Namun demikian, saya berupaya agar masalah yang antum kemukakan bisa kita cerna secara sederhana dan mudah dipahami. Wallahulmusta&rsquo;an.</p>
<p>Saudara Abdul Hamid di Depok dan juga pembaca majalah SAKSI lainnya di mana pun berada.</p>
<p>Secara sederhana, masalah yang antum kemukakan perlu dibuatkan prolog sebagai berikut:</p>
<p>Pertama, <strong>syari&rsquo;at dibuat adalah dalam rangka mewujudkan <em>maslahat</em> (kebaikan) dan menolak <em>mafsadat</em> (kerusakan)</strong>. Hal ini berlaku untuk segala ketetapan <em>syari&rsquo;at</em>. Dengan bahasa lain, segala macam aturan <em>syar&rsquo;i</em> yang ada, ditetapkan dalam rangka mewujudkan <em>maslahat</em> dan menolak <em>mafsadat</em> tadi. Contoh: dalam Islam ada kewajiban membayar zakat saat suatu harta tertentu telah sampai <em>nishab</em> dan memenuhi syarat-syaratnya. </p>
<p>Kewajiban ini dibuat untuk merealisasikan kemaslahatan yang disebut <em>at-tadhamun wa at-takaful al-ijtima&rsquo;i</em> (solidaritas dan jaminan sosial).</p>
<p>Kedua, <strong>ada <em>maslahat</em> yang bersifat umum dan tidak terikat oleh waktu maupun tempat dan ada pula <em>maslahat</em> yang bersifat <em>juz&rsquo;i</em> serta <em>temporary</em> yang terikat oleh tempat dan zaman tertentu</strong>. </p>
<p>Contoh <em>maslahat temporary</em> adalah <em>ijtihad</em> Umar bin Al-Khaththab ra yang pada masa pemerintahannya tidak lagi memberi jatah untuk kelompok <em>al-muallafah qulubuhum</em> (orang-orang yang perlu dijinakkan hatinya). Umar radhiyallahu &rsquo;anhu berpendapat bahwa saat itu <em>daulah Islamiyah</em> sudah sangat kuat sehingga tidak perlu lagi memperlunak pihak-pihak tertentu untuk ikut serta dalam menjaga eksistensi <em>daulah Islam</em>.</p>
<p>Ketiga, <strong>koalisi sederhananya adalah bentuk kerja sama untuk mencapai kemaslahatan tertentu.</strong></p>
<p>Keempat, <strong>sebagai partai Islam (partai dakwah), koalisi harus dibangun berdasarkan asas <em>wa ta&rsquo;awanu &rsquo;alal birri wa at-taqwa wala ta&rsquo;awanu &rsquo;alalistmi wa al &rsquo;udwan</em> (Q.S. Al-Maidah: 3)</strong>. Maksudnya, bekerjasama dalam kebaikan dan ketakwaan dan bukan bekerjasama dalam dosa dan pelanggaran hak.</p>
<p>Kelima, terkait dengan point ketiga, <strong>terkadang (kalau tidak bisa dikatakan sering), kita dihadapkan pada dua pilihan yang dua-duanya <em>maslahat</em> atau dua-duanya <em>mafsadat</em>.</strong> Bila hal ini terjadi, maka, yang kita lakukan adalah memilih kemaslahatan yang lebih besar dari dua kemaslahatan yang ada atau memilih satu dari dua mafsadat yang lebih ringan.</p>
<p>Setelah kita memahami 5 prolog di atas, marilah kita kembali kepada masalah yang antum kemukakan yaitu &#8220;bagaimana jika terjadi koalisi antara kita dengan partai yang dikenal korup dan azasnya sama sekali bukan Islam. Apa mungkin hal itu terjadi dalam kacamata dakwah?&#8221;</p>
<p>Saudara Abdul Hamid di Depok dan juga pembaca majalah SAKSI lainnya di mana pun berada, semoga poin-poin berikut memberi kejelasan kepada kita semua. Amin</p>
<p>Pertama, <strong>kalau kita hendak berkoalisi, yang kita tanyakan adalah apa yang ingin kita capai dari koalisi itu, apa yang sudah kita miliki, dengan siapa kita berkoalisi, dan apa yang dia miliki, serta syarat-syarat apa untuk merealisasikan koalisi itu.</strong></p>
<p>Sebagai contoh, kalau kita mau pergi ke Surabaya, di hadapan kita ada beberapa pilihan: naik pesawat udara, kapal laut, kereta, bus, travel dan s-bagainya. Kita tetapkan terlebih dahulu bahwa kita mau ke Surabaya. Apa yang kita punya? </p>
<p>Misalnya, uang yang hanya cukup untuk naik bus, misalnya cukup pula untuk naik bus AC. Di antara deretan nama bus AC ada satu yang harganya paling murah, tetapi pemiliknya kurang taat shalat misalnya. Ada yang pemiliknya rajin shalat, tapi kualitas busnya sangat jelek dengan harga standar. Maka kita berpikir &#8220;sampai di Surabaya dengan aman dan nyaman&#8221; bukanlah tujuan yang bersifat ideologis dalam arti tidak mengganggu keimanan dan ketakwaan. Kalau kita menjatuhkan pilihan pada bus AC milik orang yang tidak rajin shalat itu, secara <em>syar&rsquo;i</em> tidaklah bermasalah, dan secara duniawi kita dapat untung, yaitu: murah, aman dan nyaman.</p>
<p>Sebagai cerita penguat, Rasulullah saw hendak hijrah ke Madinah. Jalan yang akan dilalui bukanlah jalan yang lazim dan lumrah. Tenaga penunjuk jalan yang ada, bisa diandalkan, tidak mengundang kecurigaan dan bisa dipercaya adalah seorang musyrik yang bernama Abdullah Uraiqizh. Pencapaian Madinah bukanlah hal yang secara langsung terkait dengan keimanan, maka beliau saw-pun mempergunakan tenaga musyrik ini.</p>
<p>Kedua, untuk itu, <strong>sebelum kita menjawab boleh atau tidak boleh terkait dengan koalisi yang antum pertanyakan, terlebih dahulu kita harus definisikan <em>maslahat</em> yang ingin kita realisasikan.</strong> Adakah <em>maslahat</em> itu terkait dengan akidah kita, keislaman kita, dakwah kita, berapa harga yang harus kita bayar untuk koalisi itu, apa yang akan kita dapatkan, dan sebagainya, baru kemudian kita bertanya, dengan siapa kita berkoalisi.</p>
<p>Sekedar misal, kalau saja tawaran yang ada adalah koalisi untuk memerangi kekufuran dan orang-orang kafir, secara sendirian kita tidak bisa memeranginya, mau tidak mau kita harus berkoalisi, pihak yang tersedia &#8220;hanya&#8221; kelompok yang korup, maka, secara <em>syar&rsquo;i</em>, dalam pandangan saya-wallahu a&rsquo;lam-koalisi seperti ini diperbolehkan. Sebab, koalisi dalam hal ini adalah dalam rangka mengenyahkan kekufuran yang dosanya jauh lebih besar daripada tindakan korupsi. Lain halnya, kalau koalisi itu dibangun untuk mensemarakkan korupsi.</p>
<p>Misal lagi, kalau saja tawaran koalisi yang ada adalah untuk memerangi kebodohan, kemiskinan, penyakit, komunisme, dekadensi moral dan semacamnya, pihak yang ada adalah orang-orang kafir yang berasas kufur, dalam hal ini, menurut saya-wallahu a&rsquo;lam-tidaklah diharamkan secara syar&rsquo;i.</p>
<p>Singkatnya, koalisi dengan partai yang korup dan atau dengan partai yang sama sekali tidak berasas Islam <strong>bisa saja terjadi dengan syarat hal itu untuk merealisasikan <em>maslahat</em> yang lebih besar atau untuk menolak <em>mafsadat</em> yang lebih besar pula</strong>.</p>
<p>Syarat lainnya adalah <strong>koalisi itu bersifat <em>juz&rsquo;i</em> dan temporary (sementara), dalam arti sebatas lingkup <em>maslahat juz&rsquo;i</em> tadi dan selama kemaslahatan itu masih ada.</strong> Namun, bila kemaslahatannya telah berubah, berubah pula-lah hukumnya. Wallahu a&rsquo;lam.</p>
<p>Semoga Allah Allah subhanahu wa ta&rsquo;ala senantiasa membimbing kita semua untuk tetap <em>istiqamah</em> meniti jalan-Nya. Amin.</p>
<p>Sumber: SAKSI No. 16 Tahun VI 9 Juni 2004</p>
<p>Dipublikasi ulang <a href="http://www.pks-sidoarjo.org">Admin DPD PKS Sidoarjo</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pks-sidoarjo.org/konsultasi-dakwah/koalisi-dengan-partai-korup.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Serangga yang Terus Menerobos Api</title>
		<link>http://pks-sidoarjo.org/hikmah/serangga-yang-terus-menerobos-api.htm</link>
		<comments>http://pks-sidoarjo.org/hikmah/serangga-yang-terus-menerobos-api.htm#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Feb 2010 18:02:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>webmaster</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pks-sidoarjo.org/?p=882</guid>
		<description><![CDATA[Ini adalah drama konsistensi. Rasulullah konsisten membimbing umatnya. Tapi, justru banyak dari umatnya yang konsisten pula
untuk terus melawan. Konsisten untuk terus mendekati panasnya api neraka. Neraka yang dikelilingi dengan hal-hal yang indah di dunia ini, menggoda, dan melenakan.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;<em>Aku ini seperti orang yang menyalakan api</em>,&#8221; begitu Rasulullah memberi perumpamaan.<br />
<span id="more-882"></span><br />
Lalu serangga-serangga ingin mendekati api itu. Tak mudah dicegah, serangga-serangga itu banyak yang akhirnya masuk ke dalam api dan terbakar. </p>
<p>&#8220;<em>Lalu aku menghalau serangga itu agar menjauhi api. Tetapi mereka terus mendesak dan terus berusaha masuk ke dalam api. Hingga banyak dari mereka yang terjerembab ke dalam api. Seperti itulah perumpamaan aku dan kalian. Aku membentengi kalian agar jangan terjerembab ke dalam api neraka. Aku katakan, &rsquo;Jauhilah api neraka itu, jauhilah api neraka itu,&rsquo; tapi kalian terus memaksa dan mengalahkan aku hingga kalian pun terjerembab ke dalam neraka.</em>&#8221;</p>
<p>Ini adalah drama konsistensi. Rasulullah konsisten membimbing umatnya. Tapi, justru banyak dari umatnya yang konsisten pula<br />
untuk terus melawan. Konsisten untuk terus mendekati panasnya api neraka. Neraka yang dikelilingi dengan hal-hal yang indah di dunia ini, menggoda, dan melenakan.</p>
<p>Rasulullah menghalau manusia dari jalan kebatilan. Tapi banyak dari mereka yang justru terus menapakinya, bahkan dengan upaya yang sangat-sangat. Hari-hari ini kita melihat sebuah fase hidup dimana orang tidak saja melakukan kebatilan, tapi banyak yang konsisten di jalan kebatilan itu.</p>
<p>Banyak dari mereka yang melakukan semua itu dengan sadar. Bahkan dengan niat dan kemauan yang terus diperbaharui. Ada yang ingin menunjukkan kehebatan intelektualnya. Ada yang ingin menonjolkan kemampuannya dalam menganalisa, mengurai dan mengkritik segala ajaran yang datang dari Allah. Ada yang dengan ringan menyebut Al Qur&rsquo;an sebagai kitab suci yang paling porno.</p>
<p>Ada yang menawarkan sesuatu yang disebut pembaharuan padahal isinya penginkaran. Ada yang mengusung kebebasan dan liberalisasi dalam beragama, padahal isinya adalah penistaan terhadap ajaran Islam. Di sebuah perguruan tinggi terkenal, ada seorang dosen yang selalu marah bila mahasiswanya izin untuk melakukan shalat. &#8220;Ini yang membuat kalian terbelakang,&#8221; katanya dengan ringan.</p>
<p>Di antara mereka ada yang konsisten untuk memperjuangkan keseteraan dalam soal mengartikan yang benar. Baginya kebenaran tidak harus mutlak. Menurutnya tidak boleh ada monopoli dalam tafsir, bahkan tafsir tentang kebenaran yang datang dari Allah, sekalipun. Maka mereka merasa bisa membangun doktrin baru tentang salah, tentang benar, tentang baik. Itu semua akhirnya akan berefek terhadap penafsiran mereka tentang dosa. Secara langsung atau tidak langsung, mereka mereka telah memutarbalikkan hukum, sehingga dalam dialektika ilmiah yang mereka buat, bisa saja mereka seperti berani memikul dosa orang lain. Sebab, sesuatu yang salah dan berdosa, bisa saja mereka yakini tidak salah dan tidak berdosa.</p>
<p>&#8220;<em>Dan orang-orang yang kafir berkata kepada orang-orang yang beriman, &rsquo;Ikutlah jalan kami, dan kami akan memikul dosa-dosamu.&rsquo; Padahal mereka sedikit pun tidak (sanggup) memikul dosa-dosa mereka sendiri. Sesungguhnya mereka benar-benar pendusta. Dan mereka benar-benar akan memikul dosa-dosa mereka sendiri dan dosa-dosa yang lain bersama dosa mereka, dan pada hari Kiamat mereka pasti akan ditanya tentang kebohongan yagn selalu mereka ada-adakan.</em>&#8221; (QS. Al Ankabut: 12-13).</p>
<p>Yang lain menyebut bahwa apa yang mereka perjuangkan adalah warisan nenek moyang mereka sebagai sebuah budaya yang harus dihormati. Di masa para nabi-nabi terdahulu, banyak dari umat mereka yang menolak ajaran rasul mereka, dengan alasan untuk mem-pertahankan budaya peninggalan orang tua dan nenek moyang mereka.</p>
<p>Tapi ada juga yang konsisten di jalan kebatilan, karena jiwanya terlampau lemah untuk sekadar berkata tidak. Konsistensinya adalah keengganannya meninggalkan kubangan dosa. Ia tahu dirinya keliru. Tapi, seperti serangga-serangga itu, ia terus melihat api yang pa-nas sebagai cahaya indah yang harus dinikmati dengan cara meleburkan diri di dalamnya. Hari demi hari, hanyalah perpindahan dari kemaksiatan yang satu menuju kemaksiatan yang lain. Waktu demi waktu hanyalah berganti dari warna dosa yang satu menuju warna dosa yang lain.</p>
<p>Di ujung sana, ada orang-orang yang konsistensinya dengan kebatilan adalah kemalasannya untuk berubah menjadi baik. Tingkah laku buruknya ia anggap tak jadi soal, selama ia merasa tidak mengganggu orang lain. Dirinya adalah dirinya sendiri. Pilihan hidupnya adalah pilihannya sendiri. Risiko hidupnya adalah risiko hidupnya sendiri. Begitu ia meyakini. Ia merasa mandiri. Menjadi baik tidak harus karena dipengaruhi oleh siapapun atau siapapun. Ia merasa bisa kapan saja berubah kalau dirinya mau. Hidup baginya adalah puncak kemerdekaan memilih. Seterusnya ia begitu. Ia konsisten di jalan kebatilan. Sebab ia merasa, dengan itu, ia menjadi dirinya sendiri dan bukan menjadi orang lain.</p>
<p>Beberapa yang lain, konsisten dengan caranya sendiri. Ia tak pernah punya gairah untuk meningkatkan diri. Ia cukup puas menjadi orang yang biasa-biasa saja. Termasuk sangat biasa dalam soal amal dan kebajikannya. Ia tak perlu merasa menjadi hebat meski pun bisa. Sebagaimana ia pun terlalu sering memaafkan dirinya untuk segala kebatilan yang ia lakukan. Ia cepat lupa. Bahkan terhadap dosa-dosanya sendiri. Ia tidak harus peduli pada apapun. Menjadi baik, dengan peran-peran yang menonjol, biarlah diperankan orang lain, la sudah merasa cukup bahagia dengan selang-seling kesalahan yang dengan cepat ia maafkan. &#8220;Jangan memaksakan diri,&#8221; begitu ia berkilah.</p>
<p>Drama konsistensi selalu punya sisi ironisnya sendiri. Konsistensi Rasulullah yang terus menyeru, bukan untuk dirinya, tapi untuk kebaikan umat yang diserunya. justru mereka yang diseru banyak yang tak mempedulikan diri mereka sendiri. Mereka bahkan konsisten untuk melawan, konsisten untuk memilih jalan kebatilan, dan konsisten untuk membela jalan kebatilan itu.</p>
<p>Salah dalam berbuat, berbeda dengan sengaja melakukan salah. Keliru menjalani hal yang batil tidak sama dengan secara khusus memang bermaksud melakukan yang batil. Sesekali keliru dan tergelincir, sangat tidak sama dengan orang yang terus menerus melakukan kebatilan, bahkan konsisten dengan kebatilan itu. Konsisten &rsquo;memperjuangkan&rsquo; kebatilan itu.</p>
<p>Setiap kali ilmu manusia bertambah, tidak selalu berarti sikap bijaknya pun bertambah. Setiap kali pengetahuan manusia meningkat, tidak otomatis jiwa ketundukannya kepada kebenaran juga meningkat. Sebab, ketundukan terkait erat dengan sifat ikhlas, percaya, dan yakin. Ikhlas kepada ketetapan Allah. Percaya kepada kebenaran yang datang dari Allah, dan yakin bahwa apa yang ditetapkan Allah adalah yang benar dan paling baik bagi kehidupan makhluknya. Sedang pengetahuan, ilmu, tanpa ruh keimanan, bisa saja menjadi bencana dan hanya dipakai untuk membuat kerusakan di muka bumi.</p>
<p>Konsisten dengan kebatilan punya gradasinya masing-masing. Ada yang konsisten dengan kekafirannya, membela kekafiran dengan bermacam alasan ilmiah yang dipaksakan. Tapi ada juga jenis kebatilan yang terlihat kecil, tetapi orang menjalaninya secara konsisten. Di kemudian hari, ia tak menyangka, bahwa ucapan dari lidahnya yang tajam, misalnya, telah menumpuk menjadi segunung dosa.</p>
<p>Tidak menutup aurat adalah sebentuk kebatilan. Bila terus menerus dijalankan, sepanjang hidup, dengan sadardan keengganan untuk berubah yang diawetkan, itu artinya orang tersebut konsisten dengan kebatilan. Begitu juga dengan kekeliruan dan kesalahan yang lain. Membunuh diri sendiri dengan berbagai racun fisik atau racun pikiran, secara terus menerus, adalah sebentuk konsistensi kepada kebatilan. Begitu juga suami yang selama hidupnya selalu menyakiti istrinya, atau istri yang selalu tidak syukur dengan rezekiyang diberikan Allah. Atau pejabat yang setiap musim haji menangis di depan Ka&rsquo;bah. Tetapi setelah itu selalu korupsi. Ia menangis bukan untuk bertaubat. Ia menangis minta harta haramnya setahun lalu diputihkan oleh Allah. Begitu seterusnya. Ada mahasiswa yang konsisten menyontek. Ada remaja yang konsisten bergonta-ganti pasangan tanpa status hukum kecuali hukum kebebasan.</p>
<p>Al Qur&rsquo;an memberi apresiasi yang baik bagi orang yang bertaubat dan suka membersihkan diri. Tapi tak ada tempat bagi orang yang konsisten di jalan keburukan.</p>
<p>Tak ada konsistensi dengan kebatilan dan kekafiran yang melegenda seperti kafirnya Fir&rsquo;aun. Ia menyeru, berbuat, menghukum, menyiksa, berkuasa. Dan satu lagi, ia konsisten. Sepanjang hidupnya ia menjalani misi itu. Namun Fir&rsquo;aun yang angkuh itu, pada detik kematiannya menyadari betapa ia telah keliru. <strong>Di ujung setiap akhir hidup para pembela kebatilan, selalu saja ada drama yang menyedihkan.</strong> Ia toh bukan siapa-siapa.</p>
<p>&#8220;<em>Dan juga Qarun, Fir&rsquo;aun, dan Haman. Sungguh telah datang kepada mereka Musa dengan (membawa) keterangan-keterangan yang nyata. Tetapi mereka berlaku sombong di bumi, dan mereka orang-orang yang tidak luput (dari azab Allah). Maka masing-masing (mereka itu) Kami azab karena dosa-dosanya, di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil, ada yang di timpa suara keras yang mengguntur, ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan ada pula yang Kami tenggelamkan. Allah sama sekali tidak hendak mendzalimi mereka, akan tetapi merekalah yang menzhalimi diri mereka sendiri.</em>&#8221; (QS. Al-Ankabut: 39-40).</p>
<p>&#8220;<em>Aku ini seperti orang yang menyalakan api</em>,&#8221; begitu Rasulullah memberi perumpamaan. Dan kita hanyalah serangga-serangga. Yang terus berusaha menerobos api. Di antara kita, mungkin banyak yang telah terjerembab, hangus, dan mati menelan api. Yang lain meronta, menerjang, dan melawan logika-logika jiwanya sendiri yang jujur. Yang lain bersabar untuk memahami, dan Allah pun memberitahu cara untuk mengerti.</p>
<p><strong>Kita hanyalah serangga-serangga itu.</strong></p>
<p>Sumber: Tarbawi Edisi 131 Th. 7/Rabi&rsquo;ul Akhir 1427 H/11 Mei 2006 M</p>
<p>Dipublikasi ulang <a href="http://www.pks-sidoarjo.org">Admin DPD PKS Sidoarjo</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pks-sidoarjo.org/hikmah/serangga-yang-terus-menerobos-api.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
