<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>DPD PKS Sidoarjo &#187; Taujih Umum</title>
	<atom:link href="http://pks-sidoarjo.org/category/taujih-umum/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://pks-sidoarjo.org</link>
	<description>Bekerja untuk Sidoarjo Sejahtera</description>
	<lastBuildDate>Mon, 13 Jun 2011 00:54:24 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.6</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Klaim</title>
		<link>http://pks-sidoarjo.org/taujih-umum/klaim.htm</link>
		<comments>http://pks-sidoarjo.org/taujih-umum/klaim.htm#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Aug 2010 01:10:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>webmaster</dc:creator>
				<category><![CDATA[Taujih Umum]]></category>
		<category><![CDATA[Merdeka]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pks-sidoarjo.org/?p=1164</guid>
		<description><![CDATA[Oleh KH. Rahmat Abdullah
Klaim, za&#8217;m, da&#8217;wa dan zhann
Otong, Atok dan Udin masih memanjat batang pinang yang licin, bercampur oli dan keringat, dengan bendera, kembang gula, dan beberapa barang elektronika di pucuknya.

Hari ini, Indonesia yang ringkih masih tetap melucu dan berazam untuk terus memperpanjang kelucuannya. Ini bukan (saja) karena sebelum jadi presiden ke 5, ia dulu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;">Oleh KH. Rahmat Abdullah</p>
<p><strong>Klaim, <em>za&rsquo;m</em>, <em>da&rsquo;wa</em> dan <em>zhann</em></strong></p>
<p>Otong, Atok dan Udin masih memanjat batang pinang yang licin, bercampur oli dan keringat, dengan bendera, kembang gula, dan beberapa barang elektronika di pucuknya.<br />
<span id="more-1164"></span><br />
Hari ini, Indonesia yang ringkih masih tetap melucu dan berazam untuk terus memperpanjang kelucuannya. Ini bukan (saja) karena sebelum jadi presiden ke 5, ia dulu pernah menulis kata pengantar bagi buku Mati Ketawa Cara Rusia, dan menuliskan; Rasa humor dan sebuah masyarakat mencerminkan daya tahannya yang tinggi di hadapan semua kepahitan dan kesengsaraan.&#8221;</p>
<p>Ini semata-mata soal kelucuan yang sukar dijelaskan. Bangsa yang begitu tabah, harus mengeluarkan uang begitu besar untuk masuk sekolah dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi, padahal Pakistan yang amat miskin tak mengenal kelucuan tersebut. </p>
<p>Ia harus menjual apa saja untuk membayar kesehatannya, padahal Malaysia dan Mesir membuat semua itu gratis.</p>
<p>Ia mengkredit mobil pribadi walaupun gajinya tak masuk di akal, garasi tak punya, dan udara semakin pengap oleh polusi. Ia tak siap untuk berjalan kaki karena sejak 32 tahun terakhir hutang luar negeri telah memanjakannya dan memanjakan lemak di tubuhnya yang mestinya dapat terbakar bila ia mau berjalan kaki 10-15 menit, dari rumahnya sampai ke shelter dan dari shelter akhir ke kantornya, dengan bus yang (mestinya) besar-besar, bersih, tepat waktu dan kru yang sopan, amanah lagi jujur.</p>
<p>Ia berbangga dengan gedung-gedung tinggi berlantai dan berdinding pualam, mesin pendingin 24 jam, kran dari kuningan, dan segala kemewahan yang sesungguhnya baru boleh dicoba-coba 20 tahun ke depan, kata para ahli.</p>
<p>Ajaib bahwa ia tak merasa telah membohongi dirinya sendiri, persis sepeiti kesebelasan sepakbola suatu negeri berbangga karena punya pemain unggulan dengan cara membeli dan memasukkan pemain asing ke kesebelasan negerinya. </p>
<p>Ia telah lupa sindiran Arab klasik tentang orang yang membanggakan sesuatu yang bukan milik dan bukan prestasinya: &#8220;Ibili, lam abi walam ahab.&#8221; (Itu untaku, tak kujual dan tak pula kuhibahkan!). Sudahlah, bukankah orang merdeka cukup dengan sindiran dan budak hanya faham dengan gebukan (Al hurru yakfihil Isyarah wal Abd la yakfihi Il&rsquo;ad Dlarb)</p>
<p><strong>Nasionalisme Tahunan: Laskar di Panggung 17-an</strong></p>
<p>Di atas panggung, Indonesia dalam wajah Joko, Bram, Tiur, dan Laode masih bertempur dengan bambu runcing, wajah yang dipulas aranq dan ikat kepala merah putih. Dalam jambore dan ketika menaik-turunkan bendera, berulang suatu kredo; menangisi sang saka dengan khusyu sebagai putera-puteri bangsa terbaik. Di tenda-tenda liburan dan di pagi-pagi yang penuh bolos, Indonesia yang masih bau kencur melacur dalam seragam dan tas sekolahnya. Dengan sekotak pil anti hamil bagi yang cerdas.</p>
<p>Hari ini, Indonesia telah kehilangan klaim atas citra diri yang pernah dibanggakannya, bangsa yang sopan santun, penolong, dan berbudi luhur. Hari ini, mereka mencopet di depan pemandangan beratus mata ragu dan takut dan mata dunia. Ibu-ibu yang sudah begitu lama meminum air dan menghirup udara Indonesia membekaii anak-anak remaja mereka dengan batu, pentung, peluru senapan angin, dan tabung-tabung molotov dalam tawuran antar warga. Demi kehormatan blok hunian dan RW mereka. Sebuah panggung patriotisme baru dari bangsa miskin yang tanah, hutan, lautan dan koruptornya luar biasa kaya. Kini mereka telah kehilangan kata sabar, membakar apa saja; pencuri ayam dan sepeda, bahkan rumah, kendaraan, suami atau isteri sendiri.</p>
<p>Ada secercah harapan, setidaknya mewakili penulis buku Aku Bangga jadi Orang Indonesia, sebagai kontra aksi terhadap buku Aku Malu jadi Orang Indonesia. Artinya, bangga dan malu kadang cukup dijembatani dengan sebuah buku, sementara banyak persoalan pelik dipecahkan dengan statemen dan <em>press release</em>.</p>
<p>Tahun-tahun berlalu, meninggalkan pertanyaan yang harus dijawab dengan jujur, bukan lecehan: Siapa sesungguhnya yang patriot, nasionalis dan peduli bangsa?</p>
<p>Hari-hari ini, berteriak menuntut: Hentikan semua sikap norak itu, yang memberlakukan muslim yang taat dan tak mau seikere kepada benda-benda itu. Begajul yang menghamili gadis kencur tetangganya, menjadi pengedar obat bius, dan sombong di hadapan Allah. Itukah patriot sejati? Hanya karena mampu menangis sesenggukan mencium bendera dan membelalak di atas panggung dengan pakaian gerilya.</p>
<p>Sesudah semua <em>musykilah</em> ini, masihkah kader berpuas diri menjadi tukang bincang problem?</p>
<p>Allah telah memberi banyak istilah kepada kebajikan: <em>khair</em>, <em>ihsan</em>, <em>birr</em>, <em>hasanah</em>. Namun ada satu yang sangat sering diungkap dan berangkaian dengan iman, itulah amal shalih. Apakah amal itu jadi shalih sekedar karena dilihat indah dan baik, sementara pada kata amal saleh nampak kesan, kebaikan itu tidak hanya sekedar baik dilihat secara selintas dan subyektif. </p>
<p>Siapa bisa menjamin seseorang yang shalat dhuha berpanjang-panjang, padahal tetangganya sedang panik memadamkan api yang menyala? Salehkah seseorang hari ini telah melaksanakan haji untuk ke-13 kalinya, sementara anak tetangga meregang nyawa karena busung lapar? Apakah amal saleh yang dikerjakan kaum Khawarij ketika meninggikan suara menuntut <em>&#8220;Inil hukmu Ilia lillah?&#8221;</em> (tak ada hukum kecuali milik Allah) sementara tak henti-hentinya bertempur melawan khalifah, mengkafirkan sesama mu&rsquo;min dan menghalakan darah mereka. Padahal orang-orang kafir bebas berkeliaran dan Kaum Mutazilah menipu mereka dengan akuan sebagai <em>ahlu dzimmah</em> yang berhak atas keamanan diri? </p>
<p>Kini, semua jalan dalam kehidupan muslimin hancur, sedangkan pemecahannya ditengarai jelas, yaitu tidak berlakunya syariah yang penuh berkah ini.</p>
<p><strong>Fenomena Kebangkrutan Bangsa</strong></p>
<p>Banyak orang mengandalkan <em>nisbah</em> diri dengan nama besar suatu organisasi atau <em>jama&rsquo;ah</em>, berbangga dengan kepemimpinan tokoh perubah sejarah. Namun sayang ,mereka tak pernah merasa defisit apapun padahal sama sekali tidak meneladani keutamaan tersebut. &#8220;<em>Barangsiapa lambat amalnya, tidak akan dipercepat oleh nasabnya.</em>&#8221;</p>
<p>Sekarang, segelintir elit (<em>mala</em>) di masyarakat muslim, bukan lagi membanggakan diri dengan <em>nisbah</em> Islam dan masa lalu umat. Mereka justeru telah menampakkan dengan terbuka kebanggaannya menjauh dari orisinalitas (<em>ashalali</em>) Islam. Berapa banyak mayoritas awam yang menolak syariah Islam? Mungkin nol, yang ribut cuma elit dan agen <em>fasad</em>. Karenanya, bukanlah kerja produktif bila fokus agenda <em>islah</em> hanya ditujukan kepada kekuasaan dan kekokohan rezim, terlebih bila rezim itu sendiri sudah memasuki kriteria <em>rojim</em>. Perubahan yang dituju oleh islah Islami ialah perubahan kultural, tanpa mengabaikan faktor kekuasaan, karena memang sangat jelas daya hancurnya bila ia jatuh kedalam tangan-tangan kotor.</p>
<p>Tak ada yang lebih mulia dan memenuhi tahapan-tahapan <em>islah</em> yang benar, kecuali bila setiap kader memikirkan peningkatan dirinya, kemudian keluarga dan masyarakatnya. Kezaliman di masyarakat telah terjadi dan terus menerus selalu akan terjadi bila umat tak berdaya dan membiarkan kedzaliman atas diri mereka. </p>
<p>Bila prajurit semacam Ribl bin Amir telah tampil begitu meyakinkan di hadapan Hirqal (Hercules) dan Rasulullah membiarkan keterusterangan seorang Badui daripada rakyat ketakutan menuntut haknya, maka maknanya kerja da&rsquo;wah harus mengarah kepada pembebasan dan pemberdayaan semua elemen umat.</p>
<p>Siapayang bertanggungjawab atas larinya triliunan dana bangsa muslim yang miskin ini, hanya karena mereka rendah diri lalu berfikir makanan <em>junk food</em> dengan iklan menyesatkan itu baik untuk mereka? Siapa yang bertanggungjawab atas bangkrutnya usaha mereka sendiri, karena iklim <em>ta&rsquo;awun</em> tidak tumbuh dan sikap saling percaya tak ada lagi. Akibatnya, alih-alih dari tumbuhnya usaha </em>syarikat</em> umat, mereka &rsquo;terpaksa&rsquo; pergi ke bank-bank riba, untuk meminjam atau menabung. Maka jadi semakin ekstrimlah seruan pembelaan dan solidaritas umat dari seorang Al-Banna, Imam da&rsquo;wah di telinga manusia modern yang tak kunjung memetik apapun dari obsesi-obsesi kosong mereka, &#8220;<em>Perhatikan benar perekonomian bangsamu. Jangan mengkonsumsi dan memakai kecuali produk negeri muslimmu.</em>&#8221;</p>
<p>Sumber: Edisi 13 Tahun 2 31 Oktober 2000 M/2 Sya&rsquo;ban 1421 H</p>
<p>Dipublikasi ulang <a href="http://www.pks-sidoarjo.org">Admin <strong>DPD PKS Sidoarjo</strong></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pks-sidoarjo.org/taujih-umum/klaim.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perubahan Yang Bergegas</title>
		<link>http://pks-sidoarjo.org/taujih-umum/perubahan-yang-bergegas.htm</link>
		<comments>http://pks-sidoarjo.org/taujih-umum/perubahan-yang-bergegas.htm#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Mar 2010 23:42:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>webmaster</dc:creator>
				<category><![CDATA[Taujih Umum]]></category>
		<category><![CDATA[Perubahan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pks-sidoarjo.org/?p=912</guid>
		<description><![CDATA[Oleh KH. Rahmat Abdullah
Amerika ataupun Sovyet sama sekali tak pernah membayangkan betapa negeri &#8217;adidaya&#8217; itu akan bubar semudah penonton topeng monyet atau gerombolan katak yang ditumpukkan di atas baki.

Kalau ada hal perubahan yang mudah menyentak perhatian kita, mungkin itu perubahan bendawi. Dan, ini berarti kekayaan. 
Dunia kerap berdecak kagum oleh kemajuan teknologi. Efisiensi, pragmatisasi dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;">Oleh KH. Rahmat Abdullah</p>
<p>Amerika ataupun Sovyet sama sekali tak pernah membayangkan betapa negeri &rsquo;adidaya&rsquo; itu akan bubar semudah penonton topeng monyet atau gerombolan katak yang ditumpukkan di atas baki.<br />
<span id="more-912"></span><br />
Kalau ada hal perubahan yang mudah menyentak perhatian kita, mungkin itu perubahan bendawi. Dan, ini berarti kekayaan. </p>
<p>Dunia kerap berdecak kagum oleh kemajuan teknologi. Efisiensi, pragmatisasi dan ekonomisasi segala gerakterjadi dengan cepat dan mencengangkan. Setelah berabad-abad merambat, akhirnya manusia berubah dengan cepat. Itu mengagumkan-lepas dari dampak negatif yang selalu dajang menyusul puluhan tahun kemudian-sesuai dengan karakter ilmu yang selalu mempunyai daya koreksi, walaupun kadang terlambat. </p>
<p>Seharusnya, ia mampu melihat ke depan dan menyelesaikan kekurangannya sendiri, tidak hanya secara kumpul pengalaman, tetapi teropong jauh ke depan; analitik, sistematik dan proyektif.</p>
<p><strong>Mencegat Ketertinggalan</strong></p>
<p>Kebudayaan materialistik telah membuat para pakar berdecak kagum, seraya melupa-lupakan bayang-bayang darah, kerangka, dan tengkorak begitu banyak rakyat yang dikorban-kan demi &rsquo;mercusuar&rsquo; peradaban. Sebutlah tujuh keajaiban dunia, dari Piramida, Tembok Besar China sampai Borobudur. Semua adalah produk peradaban besar yang harus diakui oleh mereka yang bersedia menjustifikasi semua kedzaliman atas nama keharuman kolektif dan kebanggaan bangsa.</p>
<p>Berapa lama waktu yang ditunggu untuk terjadinya perubahan teknologi, modemisasi dan peradaban kebendaan di dunia Islam? </p>
<p>Semoga bukan karena apatisme, jika Sayyid Quthb mengesankan pesimisme tersebut dengan angka: tiga abad. Itupun jika bangsa-bangsa yang telah jauh melaju tiba-tiba menghentikan lari mereka. Lalu dakwah macam apa yang dapat kita berikan kepada bangsa-bangsa yang hanya mau mendengar dari mereka yang <em>survive</em> dan unggul dalam segala bidang kehidupan material? </p>
<p>Kita yang dalam bidang pemikiran dan keruhanian pun belum cukup punya alasan untuk memimpin. Ada yang sangat bingung dengan tantangan ini, lalu menawarkan solusi untuk membongkar-pasang habis-habisan <em>manhaj</em> yang sangat terpelihara ini. Mereka bagaikan penumpang kendaraan sempurna, yang karena tak tahan oleh bantingan-bantingan di atas jalan yang penuh kubangan, dengan &rsquo;pintar, kultural dan liberal&rsquo; menawarkan solusi: &rsquo;Mesinnya harus kita bongkar&rsquo;. Atau lebih mengharukan lagi komentar seseorang mereka: &rsquo;Ini pasti karena kerusakan kaca spion&rsquo;.</p>
<p>Persoalan sekarang terkait dengan mentalitas &rsquo;Apa kita mampu ?&rsquo;Atau &rsquo;Apa mereka maupercaya?&rsquo; </p>
<p>Perlukan sebuah keberanian dan keyakinan diri untuk memilih Islam sebagai solusi. Namun bagaimana cara meyakinkan si sakit untuk mau berobat dan meyakinkan yang sehat bahwa obat yang ia konsumsi itu patut dipasarkan. Ia tak boleh tampil dengan tubuh yang ringkih dan kesehatan yang mencemaskan.</p>
<p><strong>Perubahan Cepat di Zaman Awal</strong></p>
<p>Mereka yang mengukur keberhasilan perubahan dari sudut pandang kebendaan akan sangat kecewa. Di mana mereka bisa temukan prasasti kejayaan dakwah para rasul ? Mereka bukan kelas para &rsquo;pencipta&rsquo; keajaiban dunia seperti para kaisar yang orang tak peduli lagi apakah mereka mengukir, memanat dan membangun kegemilangan &rsquo;abadi&rsquo; di atas tulang-belulang dan gelimang darah rakyat. Mereka akan lelah untuk bisa mengiyakan pesan agung Al-Musthafa Muhammad: &#8220;Sebaik-baik kurun (generasi, abad) ialah kurunku, kemudian yang sesudahnya, kemudian yang sesudahnya&#8221;. Kalau ada abad-abad beriku-nya yang menjadi monumen peradaban materi, orang pun banyak mengaitkannya dengan Timur Persia atau Barat Yunani, bukan pada hasil <em>taghyir</em> fundamental yang mulai dicanangkan dari bukit Shafa, bahkan dari rumah Fathimah bin Khatthab dan rumah Al-Arqam bin Abi&rsquo;l Arqam.</p>
<p>Ka&rsquo;bah bangunan monumental terbesar yang menjadi saksi dan disaksikan sejarah itu kosong. Tak ada pahatan patung-patung pujaan. Tak ada altar penyembahan dewata. Ia dan Batu Hitam (Hajar Aswad) tak pernah disembah, bahkan oleh orang paling musyrik di saat kemusyrikan sangat berjaya. Tak ada kisah mobilisasi dan instruksi kerja paksa dari seorang raja yang sabdanya tak terbantah. </p>
<p>Apa yang mau diwariskan ummat ini sebagai kalimat keabadian (<em>kalimatan baqiah</em>), bila mereka tak dapat kelurusan tauhid, kemuliaan pribadi, kecemerlangan akhlaq dan kecerahan <em>bashirah</em>, seperti yang telah diperankan Al Khalil Ibrahim as? Haruskah menunggu tiga abad untuk mengejar peradaban material barat, dengan satelit khayalan dan pesawat mimpi, lalu menganggap mereka tidur?Ya, mereka mungkin akan segera hancur oleh NAZA, zina dan kebebasan seks, bahkan oleh perang dan perpecahan. Lalu, mana saham ummat terbaik bagi tenggelamnya kezaliman akhir zaman?</p>
<p>Buku Ma&rsquo;alim fi Thariq mencatat tiga hal utama yang memicu dan memacu <em>taghyir</em> pada generasi pertama dakwah. Pertama, mereka menuntut ilmu untuk suatu <em>action</em> dan perubahan, bukan semata-mata koleksi ilmu. Kedua, mereka memutuskan hubungan dengan masa lalu <em>jahiliyah</em> dan tak ingin kembali ke masa lalu, walaupun sekejap. Ketiga, mereka tegak di hadapan Al Qur&rsquo;an dengan penuh kesiapan, seperti seorang prajurit siap siaga menerima aba-aba.</p>
<p>Sukar membayangkan suatu perubahan dari masa lalu yang begitu berkarat, gelap dan bejad menjadi begitu cemerlang. Bayangkan dunia tanpa perubahan ini, lalu renungkan di mana dunia dapat menemukan kata &rsquo;kemanusiaan, kesamaan, hak-hak asasi, ilmu pengetahuan, masyarakat <em>madani</em>, keadilan, kehormatan ibu dan perempuan, damai dan perang yang beradab&#8230;, dan seterusnya?</p>
<p><strong>Gen Ringkih?</strong></p>
<p>Gema <em>taghyir</em> (perubahan) sempat bergemuruh di negeri ini di awal abad 20. Ayat yangtelah ribuan kali dibaca datang memberi pencerahan: &#8220;Sesungguhnya Allah tak akan mengubah nasib suatu bangsa sebelum bangsa itu mengubah nasib mereka sendiri.&#8221; (Qs. Ar-Ra&rsquo;d: 11). Namun yang terjadi, yang penting ada perubahan dari kita, karena Tuhan hanya akan &#8220;ikut&#8221; mengubah sesudah kita mengubah nasib kita sendiri. Belum terfikir apa prioritas urutan perubahan. Bila sedangkal ini pengertian <em>taghyir</em>, niscaya kaum atheis semakin yakin akan atheisme mereka, karena Tuhan tak berbuat apa pun, kecuali bila kita berbuat</p>
<p>Semangat untuk merdeka dikobarkan dengan berjuang, bukan dengan berpangku tangan. Mungkin karena refleksi kemiskinan, keterjajahan dan ketertinggalan, fokus utama <em>taghyir</em> baru sebatas &rsquo;<em>go to hell</em>&rsquo;-nya Belanda dengan membawa pulang kulit putih, rambut pirang dan mata biru mereka. Mereka pergi mewariskan begitu banyak masalah yang terlalu mahal untuk di-<em>laundry</em>: undang-undang, budaya, tradisi politik, mentalitas, dan lain-Iain. Tiga perempat abad telah berlalu, banyak yang berubah di bangsa ini. Adakah respon selain respon perubahan-perubahan artifisial?</p>
<p>Jiwa-khususnya yang ringkih-menjadi perhatian utama perubahan, karena segala perubahan permukaan hanya akan hidup sekejap. Kurun-kurun lalu memperlihatkan begitu banyak produk manusia berjiwa, berkarakter, dan berenergi besar. Mereka mengalahkan segala persoalan berat, membuat yang jauh jadi dekat, bahkan &rsquo;membuat mungkin&rsquo; segala yang selama ini mustahil. </p>
<p>Timur dan dunia Islam mengidap penyakit berat yang pernah diidap Bani Israil: <em>kufur</em> akan nikmat akal dan daya hidup. Akhirnya mereka hanya bisa menyumpahi persoalan dan bukan memecahkannya. Mereka memandang dunia dengan muram. Perubahan menjadi &rsquo;monopoli andalan&rsquo; kalangan elit dan monopoli yang tak berbagi: &#8220;&#8230;Pergilah engkau hai Musa dengan tuhanmu lalu berperanglah, kami tetap akan duduk-duduk di sini&#8221; (QS.AI Maidah;24).</p>
<p><strong>Ya, setiap penyakit pasti ada obatnya, kecuali jiwa ringkih (<em>huzalu&rsquo;l ruh</em>) yang tak pernah menginginkan perubahan&rsquo;.</strong></p>
<p>Sumber: Majalah Tarbawi edisi 30 Th. 3/Dzulhijiah 1422 H/15  Maret 2002 M</p>
<p>Dipublikasi ulang <a href="http://www.pks-sidoarjo.org">Admin DPD PKS Sidoarjo</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pks-sidoarjo.org/taujih-umum/perubahan-yang-bergegas.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kita Pernah Ditindas Lebih Kejam</title>
		<link>http://pks-sidoarjo.org/taujih-umum/kita-pernah-ditindas-lebih-kejam.htm</link>
		<comments>http://pks-sidoarjo.org/taujih-umum/kita-pernah-ditindas-lebih-kejam.htm#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 14 Feb 2010 22:24:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>webmaster</dc:creator>
				<category><![CDATA[Taujih Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pks-sidoarjo.org/?p=900</guid>
		<description><![CDATA[Belajar dari pemboikotan kafir Quraisy terhadap kaum Muslimin
Oleh Untung Wahono

Keagungan nilai-nilai suatu ajaran tidak selalu akan menimbulkan simpati manusia, tetapi seringkali justru menimbulkan kecemasan dan ketakutan dari pihak lain, disebabkan mereka merasa kepentingannya akan terganggu dengan ajaran itu. Itulah sebabnya upaya untuk menegakkan Dakwah Islam-betatapun mulianya-tidak ada jaminan untuk tidak mendapatkan rintangan dan tantangan-tantangan.
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;">Belajar dari pemboikotan kafir Quraisy terhadap kaum Muslimin<br />
Oleh Untung Wahono
</p>
<p>Keagungan nilai-nilai suatu ajaran tidak selalu akan menimbulkan simpati manusia, tetapi seringkali justru menimbulkan kecemasan dan ketakutan dari pihak lain, disebabkan mereka merasa kepentingannya akan terganggu dengan ajaran itu. Itulah sebabnya upaya untuk menegakkan Dakwah Islam-betatapun mulianya-tidak ada jaminan untuk tidak mendapatkan rintangan dan tantangan-tantangan.<br />
<!--more-><br />
Terdapat beberapa kelompok penentang Dakwah Islam, yakni orang-orang berkuasa yang berlaku zhalim, orang-orang sombong yang bodoh, dan orang-orang mengerti yang tidak berpendirian. Kelompok orang-orang ini muncul dalam sejarah peradaban Islam, menghiasi masing-masing zaman yang dialami para pejuang pendahulu sejak masa Rasulullah Muhammad saw.</p>
<p>Al-Quran sendiri telah membenkan sebuah pedoman umum untuk menghadapi scgala tantangan dakwah: &#8220;<em>Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan dan jauhilah mereka dengan cara yang baik (hajran jamiila).</em>&#8221; (QS. Al-Muzammil: 10)</p>
<p>Sebagai surah Makkiyah, tentu ayat ini menggambarkan langkah-langkah yang harus diambil Rasulullah dan kaum muslimin pada saat bangunan dakwah belum lagi kokoh untuk menentang semua tantangan itu.</p>
<p>Penderitaan besar yang dialami Rasulullah saw selama beliau berdakwah di Makkah adalah diboikotnya kaum Muslimin oleh orang-orang Quraisy, baik secara sosial maupun ekonomi. Bahkan pemboikotan ini, berlaku juga bagi kabilah Bani Abdul Muthalib dan Bani Hasyim, baik mereka yang sudah masuk maupun yang belum masuk Islam.</p>
<p>Para pedagang dipaksa menjual barang hanya kepada Abu Lahab dan untuk itu ia bersedia membelinya dengan harga yang tinggi. Kabilah Abdul Muthalib dan Bani Hasyim dilarang menjalin hubungan perkawinan dengan suku Quraisy manapun di Makkah. Pada penghujung pemboikotan yang berlangsung sekitar tiga tahun itu, isteri Rasulullah, Khadijah ra wafat dan kemudian disusul oleh pamanda beliau, Abu Thalib.</p>
<p><strong>Keteguhan Cita-Cita Dakwah</strong></p>
<p>Mcskipun pemboikotan itu demikian dahsyatnya, Rasulullah dan kaum Muslimin tetap bertahan pada cita-cita menegakkan Dakwah Islam dan tidak bcrkurang sedikit pun pendiriannya. Jika saja, Rasulullah seorang pemimpin yang lemah, pastilah ia telah menyerah.</p>
<p>Betapa tidak, ia begitu sedih menyaksikan kaumnya dikejar-kejar hingga harus diungsikan ke Habasyah. Sedangkan mereka yang masih tinggal di Makkah harus menerima risiko pemboikotan yang sangat panjang itu. Bahkan beliau menyaksikan betapa isterinya, Khadijah, seorang bangsawan yang dimuliakan itu, harus menderita kekurangan pangan bersama kaum Muslimin lainnya.</p>
<p>Sa&rsquo;ad bin Abi Waqqas menceritakan saat suatu malam ia keluar dari rumah untuk buang air kecil. Tiba-tiba ia mendengar bunyi sebuah benda terkena air seninya. Setelah dilihat ternyala benda itu adalah sekeping kulit unta kering. Kulit itu kemudian diambil oleh Sa&rsquo;ad bin Abi Waqqas, dicucinya bersih-bersih, bulunya dibakar lalu direndam dalam air dan direbusnya. Dengan kulit itu, Saad dapat mengisi perut selama tiga hari.</p>
<p><strong>Solidaritas Sosial</strong></p>
<p>Rasulullah Saw dan kaum Muslimin senantiasa mengokohkan solidaritas sosial di antara Bani Abdul Muthalib dan Bani Hasyim di tengah-tengah beratnya kabilah itu menanggung sanksi kaum Quraisy. Dengan mengokohkan solidaritas sosial diharapkan kesengsaraan itu tidak akan menumbuhkan sikap saling menyalahkan dan melempar tanggungjawab yang menjadi sumber perpecahan.<br />
Termasuk kekompakan yang dijaga Rasulullah adalah hubungan beliau dengan pamanda Abu Thalib yang dalam kekafirannya terus menerus membela Nabi Muhammad. Abu Thalib melakukan pembelaan yang luar biasa kepada kemenakannya itu sehingga ia mendapat tekanan yang hebat dari tokoh-tokoh kafir Quraisy lainnya.</p>
<p>Pembelaan yang sama juga datang dari pamanda Muhammad yang lain, Abbas bin Abdul Muthalib yang saat itu belum masuk Islam. Abbas sangat sayang kepada Muhammad Saw sehingga ia selalu menjaganya dari gangguan orang-orang kafir Quraisy yang datang mengganggunya.</p>
<p>Bahkan ketika terjadi Bai&rsquo;atul Aqabah kedua, Abbas mengancam kaum Anshar agar serius melakukan pembelaan kepada Rasulullah jika ingin membawanya ke Madinah.</p>
<p><strong>Dakwah Tetap Berjalan</strong></p>
<p>Selama pemboikotan berlangsung, dakwah Islam tetap dilakukan oleh Rasulullah dan para sahabatnya, sebagai bukti tidak matinya semangat dan cita-cita kaum Muslimin. Pan sahabat tetap gencar mendatangi rombongan para tamu ke agamaan yang datang ke Makkah dan menyampaikan pesan pesan Islam kepada mereka.</p>
<p>Kcgialan ini tidaklah mudah karena setiap saat orang-orang Quraisy mencegah mereka dengan propaganda-propaganda penuh kebohongan. Ini menandakan bahwa sebesar apapun rintangan, ikhtiar untuk mencari jalan keluar bagi pemecahan masalah-masalah dakwah tidaklah terhenti.</p>
<p>Sikap-sikap tulus dakwah Islam yang terus diperlihatkan Kaum Muslimin selama masa pemboikotan itu membuahkan rasa simpati beberapa tokoh Quraisy. Ada di antara mereka yang kemudian berusaha unluk membantu kabilah Abdul Munthalib yang terisolasi itu. Dengan sembunyi-sembunyi, di antara mereka ada yang mengikatkan karung-karung makanan pada unta, kemudian unta itu dipukul keras-keras sehingga lari menuju ke arah perkampungan kaum Muslimin itu.</p>
<p><strong>Setia pada Manhaj</strong></p>
<p>Di dalam barisan kaum Muslimin yang diboikot itu, bukannya tidak terdapat orang-orang yang kuat. Pada saat itu, Umar bin Khattab ra telah masuk Islam dan ia adalah seorang yang sangat berani dan gemar berperang. Hamzah bin Abdul Muthalib ra juga telah menyertakan keislamannya pada saat itu dengan sebuah peristiwa yang dramatis. Hamzah memukul kepala Abu Jahal dengan busur panahnya hingga berdarah-darah sebagai bukti keberpihakannya kepada Muhammad Saw.</p>
<p>Dengan modal kenekadan dan keberanian pengikutnya, sesungguhnya mungkin saja bagi Rasulullah saat itu mengobarkan perlawanan kepada kaum Quraisy. Tetapi, hal itu tidak dilakukan beliau karena manhaj perjuangan belum mengantarkan mereka ke tahap itu.</p>
<p>Rasulullah hanya meminta mereka untuk bersabar meskipun mereka merasa demikian berat menghadapi penghinaaan dan tindakan represif kafir Quraisy. Penderitaan dan kesengsaraan tidaklah membuat Rasulullah terpancing untuk menyimpang dari sebuah rancangan perjuangan dakwah yang terencana dengan malang.</p>
<p><strong>Berdoa: Perlawanan dalam Kesabaran</strong></p>
<p>Di antara bentuk perlawanan dalam ketertindasan yang dilakukan oleh Rasulullah adalah berdoa kepada Allah SWT memohon berbagai keadaan yang dapat menguntungkan perjuangan. Inilah yang dilakukan Rasulullah dan kaum Muslimin dalam berbagai peristiwa penindasan yang dialami mereka, termasuk dalam masa pemboikotan yang memakan waktu tiga tahun itu.</p>
<p>Sejarah telah mencatat betapa banyak ragam doa yang dipanjatkan Rasulullah sesuai dengan keadaan kaum dan orang-orang yang dihadapinya. Suatu saat Rasulullah memohonkan ampunan Allah atas suatu kaum: &#8220;Ya Allah ampunilah masyarakatku yang tidak berpengetahuan itu.&#8221; Padahal Rasulullah saw saat itu tengah menanggung derita siksaan dari orang-orang kafir hingga berdarah-darah (HR. Bukhary dan Muslim).</p>
<p>Pada hari Aqabah, Rasulullah begitu kecewa dengan penolakan dakwah yang dilakukan oleh masyarakat pimpinan Ibnu Abdiyalil bin Abdikilal. Beliau melangkah gontai hingga tak sadar sampai di Qarnis Saalib. Tiba-tiba datang malaikat menawarkan &#8220;jasa&#8221; untuk menghantamkan gunung kepada kaum itu. Tetapi Rasululullah menolak seraya berkata, &#8220;Masih tersisa harapanku, semoga Ya Allah, Engkau memberikan kepada mereka keturunan-keturunan yang menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya.&#8221; (H.R. Bukhary dan Muslim).</p>
<p>Ketika dikejar-kejar penduduk Thaif yang dengan kasar menolak dakwah Islam, Rasulullah Saw berdoa kepada Allah Swt: &#8220;Ya, Allah, kepada-Mu aku mengadukan kelemahanku, kurangnya kesanggupanku dan kerendahan diriku berhadapan dengan manusia. &#8220;Engkaulah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Engkaulah pelindung bagi si lemah dan Engkau jualah pelindungku&#8230;&#8221; (HR. Ibn Ishaq dengan sanad shahih).</p>
<p>Rasulullah saw sangat marah tatkala suatu saat orang-orang kafir Quraisy meletakan jeroan (organ tubuh bagian dalam) kambing yang sangat koior ke pundaknya, padahal saat itu beliau tengah sujud dalam shalat yang ia lakukan di dalam Kabah.</p>
<p>Anak beliau, Fatimah, menyingkirkan benda itu dan pada saat itulah Rasulullah Saw berdoa: &#8220;Ya Allah binasakanlah orang-orang Quraisy itu! Ya Allah binasakanlah orang-orang Quraisy itu! Ya Allah binasakanlah orang-orang Quraisy itu! Ya Allah binasakanlah Abu Jahal bin Hisyam, Utbah bin Rabi&rsquo;ah, Syaibah bin Rabi&rsquo;ah, Al Walid bin Uthbah, Umayyah bin Khallaf, Uqbah bin Abi Mu&rsquo;aith&#8230;&#8221; Mendengar doa Rasulullah, orang-orang Quraisy yang semula tertawa-tawa penuh ejekan tiba-tiba menjadi sangat ketakuta&rsquo;n. (H.R. Bukhary, Muslim, An Nasaai, dan Ahmad).</p>
<p><strong>Penutup</strong></p>
<p>Buah dari kesabaran kaum Muslimin adalah bangkitnya rasa simpati orang-orang kafir Makkah yang masih memiliki sisa-sisa hati nuraninya terutama mereka yang memiliki perkerabatan secara tidak langsung dengan Bani Abdul Muthalib. Orang pertama yang tergugah atas penderitaan kaum muslimin adalah Hisyam bin Amir dan melalui pendekatan-pendekatan yang dilakukannya terhimpunlah dukungan dari tokoh-tokoh kafir Quraisy yang lain seperti Zuhari bin Abi Umayyah, Muth&rsquo;am bin Ady, Al-Bakhtary bin Hisyam dan Zam&rsquo;ah bin Al-Aswad.</p>
<p>Kelima orang tokoh ini bersatu-padu menentang Abu Jahal yang dianggap terlalu berlebihan dalam menghukum kaum Muslimin dan keluarga mereka. Pemboikotan akhirnya diselesaikan. Dan perjalanan dakwah berlanjut terus menghimpun kekuatan demi kekuatan, menuju kemenangan yang tak terbantahkan.</p>
<p>Wallahu a&rsquo;lam</p>
<p>Sumber: Suara Hidayatullah No. 08/XW/Ramadhan-Syawal 142</p>
<p>Dipublikasi ulang dengan sedikit perubahan <a href="http://www.pks-sidoarjo.org">Admin DPD PKS Sidoarjo</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pks-sidoarjo.org/taujih-umum/kita-pernah-ditindas-lebih-kejam.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kalau Pemimpin Gerakan Jadi Pemimpin Negara</title>
		<link>http://pks-sidoarjo.org/taujih-umum/kalau-pemimpin-gerakan-jadi-pemimpin-negara.htm</link>
		<comments>http://pks-sidoarjo.org/taujih-umum/kalau-pemimpin-gerakan-jadi-pemimpin-negara.htm#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 25 Jan 2010 20:15:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>webmaster</dc:creator>
				<category><![CDATA[Taujih Umum]]></category>
		<category><![CDATA[Gerakan]]></category>
		<category><![CDATA[Negara]]></category>
		<category><![CDATA[Pemimpin]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pks-sidoarjo.org/?p=807</guid>
		<description><![CDATA[Oleh M Anis Matta
Musim Gugur Politik
1999-2004. Itu tahun-tahun yang panjang dari musim gugur politik. Para pemimpin negara naik seketika dan jatuh seketika. Kalau toh masih bertahan, ia hanyalah simbol bahwa negara kita masih hidup, bukan simbol kepemimpinan yang efektif.

Partai-Partai politik juga berguguran di hati rakyat. 
Musim gugur itu terjadi dalam tahun-tahun di mana kita memasuki [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;">Oleh M Anis Matta</p>
<p><strong>Musim Gugur Politik</strong></p>
<p>1999-2004. Itu tahun-tahun yang panjang dari musim gugur politik. Para pemimpin negara naik seketika dan jatuh seketika. Kalau toh masih bertahan, ia hanyalah simbol bahwa negara kita masih hidup, bukan simbol kepemimpinan yang efektif.<br />
<span id="more-807"></span><br />
Partai-Partai politik juga berguguran di hati rakyat. </p>
<p>Musim gugur itu terjadi dalam tahun-tahun di mana kita memasuki era reformasi, yang lahir di ujung rezim orde baru dan di ambang sebuah krisis multi dimensi. Rakyat kita terlanjur menaruh harapan besar pada reformasi: bahwa era ini akan dikawal oeh pemimpin yang bukan hanya memiliki integritas pribadi, tapi juga mengerti bagaimana menangani krisis multi dimensi ini.</p>
<p>Haraban itulah yang sekarang layu sebelum berkembang, gugur satu demi satu dari tahun ke tahun. Mereka kehilangan kepercayaan, bukan hanya kepada pemimpin politik, tapi juga kepada institusi politik. Mereka tidak percaya pada integritas dan kemampuan para pemimpin menangani krisis. Mereka juga tidak percaya pada efektifitas gerakan dalam mengapresiasi dan memperjuangkan kepentingan rakyat.</p>
<p><strong>Musim Semi Kepemimpinan Gerakan</strong></p>
<p>Di ujung musim gugur akan datang musim semi. Rakyat kecewa. Bahkan sangat kecewa. Tapi mereka tidak berhenti berharap. Dan harapan yang muncul di ujung kekecewaan selalu merupakan pertanda bahwa sejarah akan lewat di sini: di potongan masa paling penting dalam perjalanan gerakan, untuk merekrut kepemimpinan baru bagi bangsa besar yang sedang tercabik-cabik ini.</p>
<p>Krisis adalah celah sejarah. Kekecewaan adalah pintu masuknya. Sejarah panjang umat kita di abad yang lalu bercerita bahwa lahir di tengah krisis-krisis multi dimensi dan tumbuh di tengah bencana-bencana besar, gerakan Islam memang ditakdirkan hadir untuk menyelesaikan perkara-perkara umat sekaligus mernimpin mereka, setelah tak ada lagi orang atau generasi yang dapat mereka harapkan.</p>
<p>Jadi keyakinan bahwa inilah musim semi kepemimpinan <em>harakah</em> (gerakan) setidak-tidaknya dibangun dari beberapa alasan. <strong>Pertama, akumulasi pengalaman gerakan sebagai pembawa ruh kebangkitan umat sepanjang abad 20 lalu.</strong> Gerakan-sepanjang abad lalu-telah berhasil menyalakan api kebangkitan dalam dada umat Islam dalam wajahnya yang utuh sebagai sistem kehidupan, dan kemudian menjadi tulang punggung yang memikul sebagian besar beban umat.</p>
<p>Secara perlahan-lahan gerakan menyembuhkan penyakit-penyakit jiwa, sosial, ekonomi dan politik yang tercipta dari efek penjajahan, membangun generasi kepemimpinan baru dalam bidang pemikiran, sosial kemasyarakatan, ekonomi politik, hingga kepemimpinan di medan jihad. Maka kredibilitas gerakan juga terbangun perlahan: dari ulama dan pemikir yang memenuhi perpustakaan dunia Islam dan menjadi rujukan umat hingga para mujahidin dan syuhada yang menyemai medan jihad dengan darah mereka. Secara <em>de facto</em>, kepemimpinan umat kini telah beralih ke tangan gerakan.</p>
<p><strong>Kedua, kegagalan kelompok-kelompok nasionalis sekuler.</strong> Pada sebuah sudut di mana gerakan membangun kepemimpinannya dan membuktikan kredibilitasnya di mata umat, lalu perlahan-lahan mengambil alih kepemimpinan umat, pada sebuah sudut lain kelompok nasionalis sekuler yang sedang berkuasa-baik yang membawa bendera sosialisme-komunisme maupun yang membawa bendera kapitalisme-memperlihatkan kegagalan demi kegagalan.</p>
<p>Lihatlah negeri kita. Atas nama nasionalisme-dan dengan mengusung bendera komunisme-Soekarno memimpin Indonesia selama 20 tahun. Ujnngnya adalah bencana ekonomi politik, dan riwayat pemimpin revolusi itu berakhir. Soekarno jatuh.</p>
<p>Atas nama nasionalisme juga-dan dengan membawa bendera kapitaslisme- oeharto memimpin Indonesia selama 32 tahun. Ujungnya juga bencana ekonomi politik, dan kisah Bapak Pembangunan itu pun berakhir. Soeharto jauh. Ini bukan cerita khas Indonesia. Ini juga cerita Mesir, Aljazair, Turkt Pakistan dan lainnya.</p>
<p><strong>Ketiga, krisis besar yang diciptakan oleh proses globalisasi.</strong> Globalisasi adalah berkah bagi negara-negara kuat. Tapi ia juga bencana bagi negara dengan struktur sosial ekonomi politik yang rapuh. Begitulah cita rasa globalisasi yang kita saksikan lewat krisis moneter tahun 1997, yang kemudian berkembang menjadi krisis multi dimensi, yang hingga kini belum berakhir.</p>
<p>Kepemimpinan nasional yang lemahlah yang membuat goncangan ekonomi berantai itu menuai efek sangat dahsyat bagi bangsa kita. Sementara Thailand, Korea dan Malaysia melakukan recovery, kita masih terns terpuruk.</p>
<p>Globalisasi akan menjadikan kita sebagai pemain figuran dalam pentas ekonomi politik dunia, kecuali jika kita berani melakukan restrukturisasi kepemimimpinan nasional. Dan inilah celah masuk bagi kepemimpinan gerakan.</p>
<p><strong>Keempat, perbaikan pada tingkat pendidikan dan partisipasi politik generasi pemimpin gerakan.</strong> Gelombang demokratisasi yang terjadi di berbagai belahan dunia menyusul runtuhnya Uni Soviet di awal dekade 90-an, seperti banjir bandang yang menyeret semua komponen masyarakat ke dalam arena politik. Begitu juga dengan gerakan. Pengalaman partisipasi politik gerakan telah memicu percepatan proses pembelajaran, dan pada saat yang sama, telah memperluas wilayah penerimaan masyarakat terhadap kepemimpinan gerakan. Maka di samping ada pengalaman <em>people power</em> yang sukses di Iran tahun 1979, dan kudeta militer yang sukses di Sudan tahun 1987, kini ada juga sukses Hamas di Aljazair serta gerakan Keadilan dan Pembangunan di Turki.</p>
<p><strong>Menembus Jarak</strong></p>
<p>Karena alasan-alasan itu, barangkali cukup bijak untuk mengatakan tahun-tahun mendatang adalah tahun panen bagi gerakan. <strong><em>Sudah saatnya para pemimpin gerakan mengembangkan sayap kepemimpinannya dari lingkaran gerakan dan umat kepada lingkaran bangsa dan dunia.</em></strong></p>
<p>Memang tidak bijak untuk terlalu menyederhanakan masalah ini. Tapi juga tidak sama bijaknya untuk terlalu meremehkan diri sendiri, dan seterusnya memaafkan diri sendiri untuk selamanya berada &rsquo;di dalam&rsquo; dan tidak &rsquo;keluar&rsquo;. </p>
<p>&#8220;Saya tahu,&#8221; kata Sayyid Quthub, &#8220;bahwa di antara realitas kepemimpinan gerakan saat ini dan peluang merebut kepemimpinan bangsa di masa depan, masih terbentang jarak yang jauh.&#8221;</p>
<p>Tapi jarak realitas itulah yang harus kita ketahui, untuk kita tembus dengan kerja keras. Walaupun begitu, tipikal kepemimpinan nasional yang diperlukan bangsa kita saat ini adalah tipikal pemimpin krisis. Dan tipikal kepemimpinan krisis bertumpu pada pemenuhan tiga unsur sekaligus: <strong>integritas, pengetahuan dan kepemimpinan.</strong> Dan tipikal kepemimpinan seperti ini tumbuh subur dalam gerakan.</p>
<p>Kelemahannya adalah kepemimpinan gerakan masih tumbuh dalam lingkaran <em>mihwar</em> (era) dakwah yang baru saja memasuki arena politik. Jadi secara institusional, kepemimpinan ini perlu melakukan transformasi politik untuk untuk meningkatkan daya tahan integritas mereka, memperluas wawasan kebangsaan, dan sekaligus menguji kapasitas kepemimpinan mereka pada wilayah yang lebih luas dan beragam. <strong><em>Para pemimpin harokah harus mengakselerasi proses pembelajarannya supaya kapasitas mereka tumbuh seepat masalah-masalah nasional dan global yang mereka hadapi.</em></strong></p>
<p>Transformasi politik itu juga perlu dilakukan untuk memperluas hubungan dan koneksi politik, serta mendongkrak popularitas kepemimpinan gerakan di mata publik. Para pemimpin gerakan harus terlibat secara sangat progresif dalam mengambil momentum publik yang bersifat historis. Supaya dengan begitu bisa menjadi <em>icon</em> di tengah masyarakat. Sebab pemimpin selalu merupakan <em>icon</em> zamannya.</p>
<p>Tapi ini membutuhkan dukungan pada tingkat institusi. Maksudnya, institusi gerakan harus melakukan transformasi politik dari gerakan kader menjadi gerakan massa. <em><strong>Di era gerakan, kader gerakan berorientasi pada kualitas. Sementara di era massa, massa gerakan berorientasi pada kuantitas. Basis kader dan massa menjadi paduan yang kokoh dari kualitas dan kuantitas.</em></strong></p>
<p>Proses transformasi itu harus dikelola melalui sebuah strategi yang komprehensif dan integral. Diperlukan kajian-kajian pendukung dari ilmu antrapologi, sosiologi, sejarah, dan politik untuk mendapatkan peta yang akurat tentang masyarakat kita. Setelah itu diperlukan juga kajian-kajian pendukung dari ilmu komunikasi sosial dan politik untuk mengemas pesan gerakan dalam bahasa publik.</p>
<blockquote><p>
<strong>KELUARLAH SAUDARAKU</strong></p>
<p>Saudaraku, kau tahu bencana datang lagi<br />
Porak lagi negeri ini<br />
Hilang sudah selera orang-orang untuk mengharap<br />
Sementara jiwa-jiwa nelangsa itu<br />
Sudah sedari lama berbaris-baris memanggil-manggil</p>
<p>Keluarlah&#8230;<br />
Keluarlah saudaraku<br />
Dari kenyamanan mihrabmu<br />
Dari kekhusukan i&rsquo;tikafmu<br />
Dari keakraban sahabat-sahabatmu</p>
<p>Keluarlah&#8230;<br />
Keluarlah saudaraku<br />
Dari keheningan masjidmu<br />
Bawalah roh sajadahmu ke jalan-jalan<br />
Ke pasar-pasar<br />
Ke majlis dewan yang terhormat<br />
Ke kantor-kantor pemerintah dan pusat-pusat pengambilan keputusan</p>
<p>Keluarlah&#8230;<br />
Keluarlah saudaraku<br />
Dari nikmat kesendirianmu<br />
Satukan kembali hati-hati yang berserakan ini<br />
Kumpulkanlah kembali tenaga-tenaga yangtersisa<br />
Pimpinlah dengan cahayamu kafilah nurani yang terlatih<br />
Di tengah badai gurun kehidupan</p>
<p>Keluarlah&#8230;Keluarlah saudaraku<br />
Berdirilah tegap di ujung jalan itu<br />
Sebentar lagi sejarah kan lewat<br />
Mencari aktor baru untuk drama kebenarannya<br />
Sambut saja dia<br />
Engkaulah yang ia cari
</p></blockquote>
<p>Sumber: Hidayatullah no. 03/XVI/Juli 2003</p>
<p>Dipublikasi ulang <a href="http://www.pks-sidoarjo.org">Admin DPD PKS Sidoarjo</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pks-sidoarjo.org/taujih-umum/kalau-pemimpin-gerakan-jadi-pemimpin-negara.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kesempatan Bersejarah di Tengah Krisis</title>
		<link>http://pks-sidoarjo.org/taujih-umum/kesempatan-bersejarah-di-tengah-krisis-2.htm</link>
		<comments>http://pks-sidoarjo.org/taujih-umum/kesempatan-bersejarah-di-tengah-krisis-2.htm#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 21 Jan 2010 00:42:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Taujih Umum]]></category>
		<category><![CDATA[Krisis]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pks-sidoarjo.org/?p=803</guid>
		<description><![CDATA[Oleh M Anis Matta
Enam tahun sudah krisis multidimensi melilit bangsa kita. Secara perlahan-lahan, rasa percaya diri kita sebagai bangsa mulai lumpuh. Kita mulai belajar untuk percaya bahwa krisis ini tampak seperti jalan panjang yang tak berujung; kita mungkin akan terns melangkah gontai di atas jalan ini, tapi kita tidak pernah benar-benar yakin kemana sebenamya kita [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center">Oleh M Anis Matta</p>
<p>Enam tahun sudah krisis multidimensi melilit bangsa kita. Secara perlahan-lahan, rasa percaya diri kita sebagai bangsa mulai lumpuh. Kita mulai belajar untuk percaya bahwa krisis ini tampak seperti jalan panjang yang tak berujung; kita mungkin akan terns melangkah gontai di atas jalan ini, tapi kita tidak pernah benar-benar yakin kemana sebenamya kita melangkah.<br />
<span id="more-803"></span><br />
Tidak adakah ekonom yang brilian-di negeri ini-yang dapat memahami, mencerna dan menemukan jalan keluar bagi krisis ekonomi kita? Tidak adakah pemikir atau budayawan atau agamawan yang jenius-di negeri ini-yang dapat memahami, mencermati, dan menemukan jalan keluar bagi persoalan-persoalan kebangsaan kita?</p>
<p>Seperti gambaran Multatuli tentang gugusan pulau-pulau Nusantara sebagai zamrud khatulistiwa, begitu juga banyak ekonom yang brilian atau pemikir yang jenius yang di bertebaran di seantero negeri ini. Tapi faktanya adalah; kita belum juga keluar dari krisis multidimensi ini.</p>
<p>Yang kita saksikan sesungguhnya adalah sebuah fakta sederhana; <em>bahwa manusia-manusia brilian dan jenius itu adalah lidi-lidi yang berserakan, yang tidak dikumpulkan menjadi sapu, manusia-manusia brilian dan jenius tidak diorganisasi menjadi kekuatan bangsa di bawah sebuah kepemimpinan yang kuat dan solid.</em></p>
<p>Kepemimpinan-sebagaimana selalu terbukti berulang-ulang dalam sejarah-memberikan porsi terbesar bagi semua masalah yang dihadapi setiap bangsa. Atau sebaliknya, semua kemajuan yang mereka ciptakan, dalam seluruh potongan sejarah mereka.</p>
<p>Ideologi, agama, nilai-nilai, pengetahuan, dan sistem, hanyalah kumpulan benda mati sampai ia mendapatkan tiupan ruh kehidupan dari para pemimpin. Kita dapat merumuskan ratusan solusi teknis untuk krisis ekonomi kita. Tapi tidak satu pun dari solusi teknis yang akan mengubah keadaan ekonomi kita secara efektif kecuali jika dijalankan oleh pemimpin yang handal.</p>
<p>Kepemimpinan yang kuat dan baik tidaklah menjamin semua krisis kita selesai. Tapi kepemimpinan yang kuat dan baik memastikan, bahwa semua solusi strategis dan teknis yang kita rumuskan, dapat bekerja secara benar dan efektif. Itulah kunci penyelesaian masalahnya. Tapi itu pulalah kunci masalah kita. Itulah krisis di balik semua krisis yang kita alami; krisis kepemimpinan.</p>
<p><strong>Pemimpin Transisi</strong></p>
<p>Ledakan partisipasi politik baik dari segi sistem maupun semangat oposisi di kalangan rakyat, secara substansial melahirkan masalah baru bagi kepemimpinan nasional. Yaitu meningkatnya standar harapan masyarakat terhadap para pemimpin nasional.</p>
<p>Krisis kepemimpinan di negeri kita, yang selalu berujung dengan pergantian pemimpin nasional di luar jadwal konstitusi, terjadi karena para pemimpin nasional tidak memenuhi harapan masyarakat. Itu bukan karena mereka tidak menepati janji-janji mereka. Itu terjadi karena kapasitas kepemimpinan, yang diperlukan untuk menyelesaikan persoalan-persoalan bangsa yang sedang dililit krisis, tidak tersedia pada mereka. Dengan kata lain, mereka bukan orang yang diperlukan di zaman ini.</p>
<p>Dalam masa transisi seperti ini, masyarakat membutuhkan sense of direction (perasaan terarah), self confident (rasa percaya diri) dan pride (kebanggaan). Untuk memenuhi kebutuhan psiko-politik masa transisi itu, maka fungsi-fungsi kepemimpinan yang harus ada pada para pemimpin nasional adalah;</p>
<p><strong>Pertama, fungsi direksi dan inspirasi.</strong> Para pemimpin transisi harus mampu merumuskan arah bangsa secara jelas, sederhana, dan benar. Pada waktu yang sama, mereka juga harus mampu menginspirasi bangsa mereka yang sedang bingung dan gamang. <em>Arah memberikan kepastian kepada bangsa, tapi inspirasi membuat bangsa lebih terlibat dengan arah tersebut.</em></p>
<p><strong>Kedua, fungsi pembangkit kekompakan (<em>solidarity maker</em>).</strong> Bangsa yang sedang mengalami krisis mudah mengalami perpecahan, karena hilangnya rasa saling percaya di antara mereka. Seringkali potensi bangsa itu bahkan sangat besar, tapi mereka semua hanyalah lidi yang dapat berfungsi sebagai sapu jika mereka diikat dan disatukan oleh sang pemimpin.</p>
<p><strong>Ketiga, kemampuan teknis.</strong> Persoalan-persoalan yang kita hadapi dalam masa transisi, terlalu rumit untuk diselesaikan melalui retorika semata. Harus ada kompetensi teknis, dalam bentuk ilmu pengetahuan dan keterampilan kepemimpinan, yang memadai untuk dapat menjalankan roda pemerintahan secara efektif.</p>
<p><strong>Keempat, integritas akhlak dan kepribadian.</strong> Tiga fungsi di atas hanya akan menjadi efektif jika seorang pemimpin transisi memiliki integritas keperibadian. Sebab, dari sinilah datangnya kepercayaan publik terhadap pemimpin. Dalam masa transisi, tidak ada sesuatu yang lebih mahal yang dipertaruhkan seorang pemimpin selain dari kredibilitas dirinya di mata publik.</p>
<p>Keempat fungsi itulah yang sesungguhnya hilang dari pemimpin nasional saat ini. Bangsa kita melewati krisis berkepanjangan ini tanpa arah yang jelas karena pemimpin nasional memang tidak menetapkan arah perjalanan bangsa. Kehidupan nasional bangsa kita juga retak dan terancam pecah karena tidak ada pemimpin yang merekatkan mereka. Masalah-masalah ekonomi dan sosial kita tidak terselesaikan karena dikelola oleh pemimpin yang tidak berpengetahuan dan tidak rnemiliki kecakapan kepemimpinan. Tapi yang lebih parah dari itu semua, bahwa bangsa kita melewati masa krisis ini tanpa kepercayaan terhadap akhlak pemimpin nasional.</p>
<p>Sumber: Suara Hidayatullah no. 01/XVI/Rabiul Awal 1424 H</p>
<p>Dipublikasi ulang <a href="http://www.pks-sidoarjo.org">Admin DPD PKS Sidoarjo</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pks-sidoarjo.org/taujih-umum/kesempatan-bersejarah-di-tengah-krisis-2.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kesempatan Bersejarah di Tengah Krisis</title>
		<link>http://pks-sidoarjo.org/taujih-umum/kesempatan-bersejarah-di-tengah-krisis.htm</link>
		<comments>http://pks-sidoarjo.org/taujih-umum/kesempatan-bersejarah-di-tengah-krisis.htm#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 18 Jan 2010 13:51:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aditya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Taujih Umum]]></category>
		<category><![CDATA[Krisis]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pks-sidoarjo.org/?p=786</guid>
		<description><![CDATA[Oleh M Anis Matta
Enam tahun sudah krisis multidimensi melilit bangsa kita. Secara perlahan-lahan, rasa percaya diri kita sebagai bangsa mulai lumpuh. Kita mulai belajar untuk percaya bahwa krisis ini tampak seperti jalan panjang yang tak berujung; kita mungkin akan terns melangkah gontai di atas jalan ini, tapi kita tidak pernah benar-benar yakin kemana sebenamya kita [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center">Oleh M Anis Matta</p>
<p>Enam tahun sudah krisis multidimensi melilit bangsa kita. Secara perlahan-lahan, rasa percaya diri kita sebagai bangsa mulai lumpuh. Kita mulai belajar untuk percaya bahwa krisis ini tampak seperti jalan panjang yang tak berujung; kita mungkin akan terns melangkah gontai di atas jalan ini, tapi kita tidak pernah benar-benar yakin kemana sebenamya kita melangkah.<br />
<span id="more-786"></span><br />
Tidak adakah ekonom yang brilian-di negeri ini-yang dapat memahami, mencerna dan menemukan jalan keluar bagi krisis ekonomi kita? Tidak adakah pemikir atau budayawan atau agamawan yang jenius-di negeri ini-yang dapat memahami, mencern dan menemukan jalan keluar bagi persoalan-persoalan kebangsaan kita?</p>
<p>Seperti gambaran Multatuli tentang gugusan pulau-pulau Nusantara sebagai zamrud khatulistiwa, begitu juga banyak ekonom yang brilian atau pemikir yang jenius yang di bertebaran di seantero negeri ini. Tapi faktanya adalah; kita belum juga keluar dari krisis multidimensi ini.</p>
<p>Yang kita saksikan sesungguhnya adalah sebuah fakta sederhana; <em>bahwa manusia-manusia brilian dan jenius itu adalah lidi-lidi yang berserakan, yang tidak dikumpulkan menjadi sapu, manusia-manusia brilian dan jenius tidak diorganisasi menjadi kekuatan bangsa di bawah sebuah kepemimpinan yang kuat dan solid.</em></p>
<p>Kepemimpinan-sebagaimana selalu terbukti berulang-ulang dalam sejarah-memberikan porsi terbesar bagi semua masalah yang dihadapi setiap bangsa. Atau sebaliknya, semua kemajuan yang mereka ciptakan, dalam seluruh potongan sejarah mereka.<br />
Ideologi, agama, nilai-nilai, pengetahuan, dan sistem, hanyalah kumpulan benda mati sampai ia mendapatkan tiupan ruh kehidupan dari para pemimpin. Kita dapat merumuskan ratusan solusi teknis untuk krisis ekonomi kita. Tapi tidak satu pun dari solusi teknis yang akan meng-bah keadaan ekonomi kita secara efektif kecuali jika dijalankan oleh pemimpin yang handal.</p>
<p>Kepemimpinan yang kuat dan baik tidaklah menjamin semua krisis kita selesai. Tapi kepemimpinan yang kuat dan baik memastikan, bahwa semua solusi strategis dan teknis yang kita rumuskan, dapat bekerja secara benar dan efektif. Itulah kunci penyelesaian masalahnya. Tapi itu pulalah kunci masalah kita. Itulah krisis di balik semua krisis yang kita alami; krisis kepemimpinan.</p>
<p><strong>Pemimpin Transisi</strong></p>
<p>Ledakan partisipasi politik baik dari segi sistem maupun semangat oposisi di kalangan rakyat, secara sub-stansial melahirkan masalah baru bagi kepemimpinan nasional. Yaitu meningkatnya standar harapan masyarakat terhadap para pemimpin nasional.</p>
<p>Krisis kepemimpinan di negeri kita, yang selalu berujung dengan pergantian pemimpin nasional di luar jadwal konstitusi, terjadi karena para pemimpin nasional tidak memenuhi harapan masyarakat. Itu bukan karena mereka tidak menepati janji-janji mereka. Itu terjadi karena kapasitas kepemimpinan, yang diperlukan untuk menyelesaikan persoalan-persoalan bangsa yang sedang dililit krisis, tidak tersedia pada mereka. Dengan kata lain, mereka bukan orang yang diperlukan di zaman ini.</p>
<p>Dalam masa transisi seperti ini, masyarakat membutuhkan sense of direction (perasaan terarah), self confident (rasa percaya diri) dan pride (kebanggaan). Untuk memenuhi kebutuhan psiko-politik masa transisi itu, maka fungsi-fungsi kepemimpinan yang harus ada pada para pemimpin nasional adalah;</p>
<p><strong>Pertama, fungsi direksi dan inspirasi.</strong> Para pemimpin transisi harus mampu merumuskan arah bangsa secara jelas, sederhana, dan benar. Pada waktu yang sama, mereka juga harus mampu menginspirasi bangsa mereka yang sedang bingung dan gamang. <em>Arah memberikan kepastian kepada bangsa, tapi inspirasi membuat bangsa lebih terlibat dengan arah tersebut.</em></p>
<p><strong>Kedua,, fungsi pembangkit kekompakan (<em>solidarity maker</em>).</strong> Bangsa yang sedang menglami krisis mudah mengalami perpecahan, karena hilangnya rasa saling percaya di antara mereka. Seringkali potensi bangsa itu bahkan sangat besar, tapi mereka semua hanyalah lidi yang dapat berfungsi sebagai sapu jika mereka diikat dan disatukan oleh sang pemimpin.</p>
<p><strong>Ketiga, kemampuan teknis.</strong> Persoalan-persoalan yang kita hadapi dalam masa transisi, terlalu rumit untuk diselesaikan melalui retorika semata. Harus ada kompetensi teknis, dalam bentuk ilmu pengetahuan dan keterampilan kepemimpinan, yang memadai untuk dapat menjalankan roda pemerintahan secara efektif.</p>
<p><strong>Keempat, integritas akhlak dan kepribadian.</strong> Tiga fungsi di atas hanya akan menjadi efektif jika seorang pemimpin transisi memiliki integritas keperibadian. Sebab, dari sinilah datangnya kepercayaan publik terhadap pemimpin. Dalam masa transisi, tidak ada sesuatu yang lebih mahal yang dipertaruhkan seorang pemimpin selain dari kredibilitas dirinya di mata publik.</p>
<p>Keempat fungsi itulah yang sesungguhnya hilang dari pemimpin nasional saat ini. Bangsa kita melewati krisis berkepanjangan ini tanpa arah yang jelas karena pemimpin nasional memang tidak menetapkan arah perjalanan bangsa. Kehidupan nasional bangsa kita juga retak dan terancam pecah karena tidak ada pemimpin yang merekatkan mereka. Masalah-masalah ekonomi dan sosial kita tidak terselesaikan karena dikelola oleh pemimpin yang tidak berpengetahuan dan tidak rnemiliki kecakapan kepemimpinan. Tapi yang lebih parah dari itu semua, bahwa bangsa kita melewati masa krisis ini tanpa kepercayaan terhadap akhlak pemimpin nasional.</p>
<p>Sumber: Suara Hidayatullah no. 01/XVI/Rabiul Awal 1424 H</p>
<p>Dipublikasi ulang <a href="http://www.pks-sidoarjo.org">Admin DPD PKS Sidoarjo</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pks-sidoarjo.org/taujih-umum/kesempatan-bersejarah-di-tengah-krisis.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mereka yang Muncul dari Krisis</title>
		<link>http://pks-sidoarjo.org/taujih-umum/mereka-yang-muncul-dari-krisis.htm</link>
		<comments>http://pks-sidoarjo.org/taujih-umum/mereka-yang-muncul-dari-krisis.htm#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 11 Jan 2010 13:51:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>aditya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Taujih Umum]]></category>
		<category><![CDATA[Krisis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pks-sidoarjo.org/?p=782</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Untung Wahono
Krisis adalah bagian dari peradaban manusia, oleh karenanya dia senantiasa datang bagai terbitnya matahari. Krisis adalah hukum kehidupan ketika keseimbangan-keseimbangan yang menjadi syarat keharmonisan lenyap dari suatu sisi kehidupan, yang tersisa kezhaliman.

Krisis pangan telah menghantui Kerajaan Mesir pada zaman Nabi Yusuf as tatkala pemerintahan dipegang oleh menteri-menteri serakah yang tidak bisa memprediksi cadangan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center">Oleh Untung Wahono</p>
<p>Krisis adalah bagian dari peradaban manusia, oleh karenanya dia senantiasa datang bagai terbitnya matahari. Krisis adalah hukum kehidupan ketika keseimbangan-keseimbangan yang menjadi syarat keharmonisan lenyap dari suatu sisi kehidupan, yang tersisa kezhaliman.<br />
<span id="more-782"></span><br />
Krisis pangan telah menghantui Kerajaan Mesir pada zaman Nabi Yusuf as tatkala pemerintahan dipegang oleh menteri-menteri serakah yang tidak bisa memprediksi cadangan makanan negara.</p>
<p>Krisis kebebasan terjadi di Mesir pada zaman Nabi Musa as tatkala Fir&#8217;aun mengembangkan pemerintahan kediktaktorannya yang sangat bengis.</p>
<p>Krisis moral melanda masyarakat pada zaman Nabi Luth as karena kaum pria sudah menganggap remeh normalitas hubungan dengan kaum wanita.</p>
<p>Pada saat krisis memuncak dan mengancam eksistensi peradaban manusia untuk selamanya, maka Allah SWT mendatangkan para Nabi-Nya ke tengah-tengah mereka. Para nabi berperan sebagai penyelesai krisis paling utama dan juga peletak dasar perjuangan jangka panjang bagi generasi pelanjut agama yang dibawa mereka.</p>
<p>Tetapi tidak semua krisis harus ditangani para Nabi Allah, karena orang-orang bijak dan orang-orang yang cinta kebenaran dan pemberani sering digerakkan juga oleh Sang Pencipta untuk menangani krisis-krisis yang melanda dunia. Bahkan setelah wafat Nabi Muhammad saw orang-orang inilah yang menjadi penggerak utama perubahan.</p>
<p><strong>Muhammad saw: Krisis Dua Peradaban</strong></p>
<p>Persia dan Romawi adalah dua negara tua yang telah berabad-abad mewarnai kehidupan peradaban dunia. Namun pada abad kelima Masehi, kondisi kedua negara itu tengah menghadapi titik lemahnya. Romawi dililit konflik internal yang sangat menguras potensi negara itu dengan terjadinya perebuatan kekuasaan di antara kelompok-kelompok masyarakat yang ingin berkuasa. Sedangkan kepernimpinan Persia telah begitu lemah karena telah kehilangan dukungan sebagian besar rakyatnya. Namun, di tengah kelemahannya, Persia masih sempat mempergunakan kemelut internal Romawi untuk memukul kekuatan mereka sehingga tentara Persia berhasil menaklukkan daerah-daerah Romawi yag berada di Asia. Yerusalem berhasil dikuasainya dan mereka merampas Salib Suci [The Holy Cross) untuk dibawa ke Ctesiphon, ibu kota Persia.</p>
<p>Krisis Yerusalem berhasil membangkitkan kepernimpinan Romawi karena Heraklius kemudian muncul sebagai pemenang perebutan kekuasaan. Kaisar yang baru ini segera menggerakkan tentaranya ke wilayah Yerusalem untuk membebaskan Kota Suci mereka dari Persia. Gebrakan Heraklius sukses besar bahkan ia sampai mengepung ibu kota Ctesiphon dalam serangan baliknya yang dahsyat.</p>
<p>Rasulullah saw mulai melakukan gerakan perenungan-dengan ilham Allah SWT tentunya-di Gua Hira untuk membangkitkan kembali martabat peradaban di wilayah Makkah dan Jazirah Arab yang menjadi perebutan kekuasaan Romawi dan Persia. Kerajaan Hira di utara telah menjadi antek Romawi dan kerajaan Yaman di selatan telali menjadi satelit Persia. Sementara penduduk Arab yang terjepit di antara dua kekuatan itu tenggelam dalam kejahiliyahan paganisme di bawah bendera Latta, Uzza dan Manna.</p>
<p>Dari gerakan spiritual (tahannuts) inilah, Muhammad Saw kemudian mendapat wahyu Allah Swt untuk melakukan peg uangan besar mengubah peradaban dunia. Perlu waktu 22 tahun untuk mengokohkan perjuangan besar itu. </p>
<p>Jazirah Arabia telah takluk ketika Rasulullah saw memejamkan mata untuk selamanya. Barisan kader-kader kuat telah dipersiapkan untuk melanjutkan perjuangan, mulai dari angkatan pertama (Abu Bakar Shiddiq ra, Umar bin Khattab ra, Utsman bin Affan ra dan Ali bin Abi Thalib ra) sampai dengan angkatan terakhir seperti Usman bin Zaid Ra.</p>
<p>Pada generasi merekalah krisis peradaban Persia berakhir dan digantikan oleh peradaban Islam. Peradaban Romawi terguncang dan semakin meredup dengan jatuhnya wilayah-wilayah jajahan mereka di Syam (Suriah), Asia Kecil dan Afrika Utara.</p>
<p><strong>Shalahuddin: Bangkit di Tengah Krisis</strong></p>
<p>Shalahuddin Al-Ayyubi muncul ke permukaan peradaban tatkala kaum Muslimin di wilayah Mesir (Daulat Fathimiyah) mengalami kemunduran besar. Negara yang selama lebih dari dua setengah abad melepaskan diri dari Kekhalifahan Abbasiyah itu pada taliun 1164 M jatuh ke tangan Raja Almeric dari pasukan Salib. Mesir menjadi wilayah jajahan kekuatan Salib yang berpusat di kota Yerusalem yang baru direbut dari kekuasaan kaum muslimin.</p>
<p>Tiga tahun kemudian pasukan Shalahuddin bergerak dari wilayah kekhalifahan Abbasiyah untuk menaklukkan Mesir. Peperangan dimenangkan pasukannya dan Shalahuddin menjabat Wazir Besar wilayah itu pada tahun 1169 M. Dua tahun setelah ia menjabat, dihapuskanlah kekhalifahan Fathimiyah yang memang sudah tak berdaya itu. Mesir kembali menjadi bagian yang tak terpisahkan dari Khilafah Abbasiyah. Penggabungan itu disambut dengan suka-cita oleh kaum Muslimin terutama mereka yang berada di Baghdad.</p>
<p>Pada tahun 1175 M, Shalahuddin mengepung kota Yemsalem dengan bantuan pasukan kaum Muslimin dari Baghdad. Raymond II yang menguasai Yemsalem tak mampu melawan pasukan Shalahuddin itu. Ia memohon perjanjian damai yang diantara isinya adalah pemberian izin lalu lintas bagi kaum Muslimin untuk berhubungan di antara Mesir dan Syria melewati Palestina. Perjanjian ini telah membuat gusar orang-orang Eropa karena menandakan ke-emahan pemerintahan Salib di Yerusalem.</p>
<p>Setelah masing-masing pihak melakukan konsolidasi, pada akhirnya pecahlah Perang Salib yang memperebutkan kota Yerusalem pada tahun 1187 M yang menjadi akhir bagi keberadaan tentara Salib di kota itu, setelah mereka menguasainya selama 88 tahun.</p>
<p>Perang melawan Shalahuddin menjadi sebuah era baru kebangkitan peradaban di Eropa karena konsolidasi antara Gereja Ortodoks (Konstantinopel) dan Gereja Katholik (Roma) semakin kuat. Mereka menyatukan tentara negara-negara Eropa untuk merebut kembali Yerusalem dalam gelombang-gelombang angkatan selama hampir dua abad kemudian.</p>
<p>Perang Salib telah memunculkan kepemimpinan baik di kalangan Muslim maupun Nasrani. Hal ini kemudian menjadi pemicu bagi bangkitnya kebudayaan Eropa karena pertemuan tentara Muslim dan tentara Salib temyata tidak sekedar menghasilkan pertumpahan darah, tetapi juga pertemuan dua peradaban. Sebagaimana dikatakan Charles Singer, &#8220;Tidak mungkin Renaissance (kebangkitan) terjadi di Eropa tanpa adanya perkenalan orang-orang Eropa terhadap perdaban kaum Muslimin.&#8221;</p>
<p><strong>Muhammad Al-Fatih dan Hancurnya Romawi</strong></p>
<p>Serbuan kaum Mongol ke Baghdad telah menamatkan peradaban dinasti Abbasiyah yang selama beberapa dekade menunjukkan kemundurannya. Tahun 1258 M menjadi puncak kesedihan kaum Muslimin ketika menyaksikan kehancuran segenap peninggalan budaya Islam selama lima abad dalam berbagai bentuknya. Hanya invasi Amerika Serikat pada April 2003 yang mampu melebihi kebengisan bangsa Mongol itu.</p>
<p>Tetapi Allah SWT telah mengilhamkan kepada Utsman cucu Ortogol untuk mendirikan sebuah negara di Asia Kecil. Wilayah kekuasaannya itu telah dibentangkan oleh kakeknya. Negara yang didirikan pada tahun 1288 M ini kemudian menjadi sebuah nafas baru peradaban Islam yang bertahan selama lebih enam abad.</p>
<p>Daulah Utsmaniyah memuncak perkembangannya pada masa Muhammad Al-Fatih berkuasa setelah dengan merayap-rayap wilayah negara itu menjadi demikian luas dalam satu setengah abad.</p>
<p>Romawi yang sempat bertalian dalam Perang Salib tak mampu membendung kerentaannya pada abad ke-15 M. Wilayah kekuasaannya digerogoti Daulah Utsmaniyah hingga hanya tersisa kota Konstantinopel saja. Maka Muhammad Al-Fatih tak menunda waktu lagi untuk menuntaskan pekerjaan para leluhurnya, mulai dari perbenturan pertama Rasulullah Saw dengan tentara Romawi di Mu&#8217;tah yang menewaskan setengah jumlab pasukan kaum Muslimin. Pada tahun 1453 M, Muhammad Al Fatih yang berusia 21 tahun memimpin armadanya memasuki kota itu dan kemudian mengganti namanya menjadi Islambul (Kota Islam, kini Istanbul).</p>
<p>Jatuhnya Konstantinopel mengubah peta politik dunia karena sejak saat itu orang-orang Eropa mulai mengalihkan perhatiannya ke wilayah-wilayah jauh yang peradabannya masih sederhana. Kekalahan mereka di Eropa Timur dan Asia Kecil telah menginspirasi gerakan penaklukkan ke Asia Tenggara, Asia Selatan, benua Amerika dan lain-lain. Sementara itu, Renaissance yang telah mendorong revolusi industri pada akhirnya menjadi daya topang paling utama bagi imperialisme abad ke 16-20.</p>
<p><strong>Krisis dan Sirkulasi Peradaban</strong></p>
<p>Krisis demi krisis menimpa peradaban di berbagai belahan bumi dan bangsa-bangsa. Dari krisis itu, lahir tokoh-tokoh baru baik yang berfungsi menyelamatkan peradaban yang melemah itu atau menghapuskan peradaban lain yang tidak dapat diselamatkan. </p>
<p>Dengan demikian, sesungguhnya, seluruh peta peradaban dunia mempakan sebuah rangkaian dari siklus peradaban yang muncul dan tenggelam dengan tokoh-tokoh yang mengiringinya.</p>
<p>Tidak ada yang bisa menyelamatkan sebuah generasi yang sudah merasa terlalu mapan. Begitu merasa mapan, masyarakat dalam peradaban itu hanya menghabiskan waktu dengan foya-foya dan bersenang-senang. Mereka akan digilas oleh gelombang perubahan yang tidak pernah peduli telah berapa abad peradaban itu telah berkibar.</p>
<p>Rasulullah Saw datang dan peradaban Persia berakhir, sedang peradaban Rumawi berguncang. Shalahuddin hadir dan Eropa kehilangan kota kebanggaannya yang baru mereka kuasai belum seabad. Muhammad Al-Fatih muncul dan Romawi kehilangan sejarah kehidupannya untuk selamanya. Di sela-sela itu, peradaban Fathimiyah hancur, Bani AbbaSiyah luluh dan kaum Muslimin mulai disergap penjajah imperialis selama lebih dari empat abad! </p>
<p>Tentu saja era imperialisme juga harus berahir di akhir abad ke-19 dan melahirkan pejuang-pejuang kemerdekaan di berbagai negara Muslim. Namun, kini imperialisme modern telah muncul kembali&#8230;</p>
<p>Sumber: Suara Hidayatullah no. 01/XVI/Rabiul Awal 1424 H</p>
<p>Dipublikasi ulang <a href="http://www.pks-sidoarjo.org">Admin DPD PKS Sidoarjo</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pks-sidoarjo.org/taujih-umum/mereka-yang-muncul-dari-krisis.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ujian Kelayakan Pemimpin</title>
		<link>http://pks-sidoarjo.org/taujih-umum/ujian-kelayakan-pemimpin.htm</link>
		<comments>http://pks-sidoarjo.org/taujih-umum/ujian-kelayakan-pemimpin.htm#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 03 Jan 2010 22:42:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>webmaster</dc:creator>
				<category><![CDATA[Taujih Umum]]></category>
		<category><![CDATA[Pemimpin]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pks-sidoarjo.org/?p=740</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Untung Wahono
Seorang utusan Quraisy, Utbah bin Rabi&#8217;ah, datang kepada Muhammad Rasulullah saw, berbincang panjang lebar, lalu berkata, &#8220;&#8230;Sekarang dengar baik-baik, saya hendak menawarkan kepada engkau beberapa hal yang mungkin engkau dapat menerima salah satunya. Kalau dengan dakwah yang engkau lakukan itu, ingin mendapalkan harta kekayaan, kami akan kumpulkan harta kekayaan kami untuk engkau sehingga [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center">Oleh Untung Wahono</p>
<p>Seorang utusan Quraisy, Utbah bin Rabi&rsquo;ah, datang kepada Muhammad Rasulullah saw, berbincang panjang lebar, lalu berkata, &#8220;&#8230;Sekarang dengar baik-baik, saya hendak menawarkan kepada engkau beberapa hal yang mungkin engkau dapat menerima salah satunya. Kalau dengan dakwah yang engkau lakukan itu, ingin mendapalkan harta kekayaan, kami akan kumpulkan harta kekayaan kami untuk engkau sehingga engkau menjadi yang terkaya diantara kami. Kalau engkau menginginkan kehormatan dan kemuliaan, engkau akan kami angkat sebagai pemimpin dan kami tidak akan memutuskan persoalan apapun di luar persetujuan engkau. Kalau engkau ingin jadi raja, kami bersedia menobatkan engkau sebagai raja kami&#8230;.&#8221; Peristiwa ini diriwayatkan dalam <em>hadits hasan</em> oleh Ibnu Ishaq dan Abu Ya&rsquo;la.<br />
<span id="more-740"></span><br />
Jika misi utama Rasulullah &#8220;sekedar&#8221; menjadi penguasa, baik sekara ekonomi maupun politik, menjadi pemimpin bangsa Quraisy, bahkan jadi raja, sama sekali tidak sulit. Tetapi dalam perkataan Utbah jelas terkandung syarat, yakni semua itu akan diberikan kepada Muhammad saw jika dakwah yang diserukannya memang bertujuan untuk itu semua. Dengan perkataan yang lebih sederhana, Utbah ingin menegaskan, kalau semua khutbah atas nama Allah yang disampaikan Muhammad saw ujung-ujungnya harta dan kekuasaan, maka tidak usah omong banyak, semua akan segera mereka berikan asalkan seruan tauhid atas nama wahyu dan risalah segera dihentikan.</p>
<p>Namun, Rasulullah saw sadar tawaran Uthbah bukan jalan menuju kepemimpinan yang diridhai Allah SWT. Apalagi, beliau adalah nabi suci yang tidak mungkin memiliki ambisi serendah itu. Ada Nabi yang menjadi menteri seperti Yusuf as dan ada yang menjadi raja seperti Sulaiman as. Tetapi mereka menduduki posisi itu dengan <em>izzah</em> yang tinggi dan bukan atas sebuah &#8220;proses tawar-menawar&#8221; yang merugikan misi dakwah yang mereka emban dengan penuh kemuliaan.</p>
<p>Oleh karena itu, Rasulullah saw tidak mau &#8220;membeli&#8221; tawaran apapun baik yang menggiurkan maupun yang membahayakan (ancaman kekerasan) dengan mengatakan, &#8220;Demi Allah, aku tidak sanggup meninggalkan apa yang telah diperintahkan Allah kepadaku. Hal itu lebih berat bagiku daripada diharuskan menyalakan api dengan sinar matahari!&#8221; (HR Thabrani)</p>
<p><strong>Sebagai Konsekuensi, bukan Tujuan</strong></p>
<p>Dalam ilmu politik, dikenal istilah &#8220;power tends to corrupt&#8221;, kekuasaan cenderung menyeleweng. Ini menandakan, kepemimpinan yang di dalamnya biasa terkandung makna kekuasaan, dapat membawa seorang lupa diri sehingga mengabaikan fungsi-fungsi yang harus diembannya. Maka kehancuran membayang di hadapannya. Itulah sebabnya, Rasulullah saw menyatakan, &#8220;Sungguh kepemimpinan itu akan menjadi kedudukan yang diperebutkan di antara kamu dan pada hari kiamat kelak hal itu akan menjadikan kalian penuh penyesalan.&#8221; (HR Bukhari)</p>
<p>Kepemimpinan bukanlah sesuatu yang menjadi tujuan dari aktivitas seorang Muslim tetapi sebuah konsekuensi dari kehidupan kebersamaan di antara manusia. Manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan seseorang untuk mengawasi dan melaksanakan pengaturan-pengaturan yang berlaku dalam kehidupan sosial sehingga kepemimpinan memang harus ada. Namun fungsi-fungsi pemimpin yang baik ini bisa berubah 180 derajat. Seorang pemimpin justeru menjadi perusak tatanan kehidupan masyarakatnya. Hal ini dapat dicegah bila saja kepemimpinan itu tumbuh dari proses yang wajar dan bukan terwujud dari rekayasa-rekayasa yang memanipulasi kelemahan-kelemahan orang banyak agar seseorang bisa menjadi pemimpin.</p>
<p>Rasulullah saw bersabda, &#8220;Jangan engkau minta kepemimpinan (al-imarah) karena sesungguhnya jika engkau menerima kepemimpinan itu atas dasar permintaan (ambisi) niscaya akan membebanimu. Jika kepemimpinan itu diberikan bukan atas dasar ambisi, maka engkau akan ditolong (dalam pelaksanaannya).&#8221; (HR An-Nasaai)</p>
<p><strong>Sebuah Hasil Perjuangan</strong></p>
<p>Hampir dapat dipastikan, beban berat kepemimpinan tidak akan menarik ambisi seseorang untuk menjadi pemimpin. Oleh karena itu, biasanya kepemimpinan yang diperebutkan adalah kepemimpinan yang &#8220;telah jadi&#8221; dan menjanjikan kemewahan-kemewahan duniawi bagi mereka yang akan menyelewengkan amanatnya. Namun, kepemimpinan dalam perjuangan hanya dapat dilakukan oleh orang-orang yang ikhlas dan semata-mata mengejar terwujudnya idealisme yang dicita-citakannya.</p>
<p>Muhammad saw adalah seorang suami dari seorang pedagang kaya yang bernama Khadijah ra. Tetapi, harta kekayaannya itu habis dalam perjuangan menegakkan Islam selama bertahun-tahun di kota Makkah.</p>
<p>Muhammad saw adalah seorang dari keturunan terhormat dan penghargaan suku Quraisy diperlihatkan dengan kepemimpinan kabilah dari paman beliau Abu Thalib. Tetapi, dengan dakwah yang dipimpinnya ia menerima berbagai celaan bahkan berbagai tindak kekerasan yang-dalam pandangan sepintas kemanusiaan-dapat menghinakan posisinya. Di Thaif, beliau dikejar-kejar oleh orang dewasa dan anak-anak dan dilempari batu hingga kepalanya berdarah-darah.</p>
<p>Muhammad saw juga seorang yang lembut hati, tetapi beliau harus melihat bagaimana para pengikutnya disiksa dengan bengis dan kejam bahkan sampai mereka menghembuskan nafas terakhir tanpa bisa melakukan pembelaan dan pembalasan sedikit pun, sebagaimana yang terjadi pada keluarga Ammar bin Yasir. Semua itu dijalani oleh Rasulullah saw dengan sabar dan ikhlas, pada saat orang lain mungkin sudah tak kuat menanggung beban kepemimpinan seperti itu.</p>
<p>Kepemimpinan yang tumbuh dari kesulitan, pengorbanan, keuletan, dan keikhlasan seperti inilah akar dari kepemimpinan ideal sesungguhnya yang lahir dari sebuah proses yang membentuk kepribadian seseorang, dan bukan hasil &#8220;karbitan&#8221; karena pengaruh kekayaan atau kedekatan keluarga atau kepentingan lainnya. Tidak sedikit calon-calon pemimpin mengalami kegagalan karena tak kuat menanggung penderitaan yang panjang dan hebatnya tantangan yang dihadapi. Bahkan tidak sedikit pula yang kemudian berbalik arah &#8220;melompat&#8221; ke pihak musuh karena tak kuat menahan tawaran &#8220;kepemimpinan&#8221; yang diajukan mereka. Mereka &#8220;pemimpin gadungan&#8221; yang tak punya visi dan misi yang hakiki sebagaimana yang diinginkan Utbah bin Rabi&rsquo;ah atas Muhammad saw.</p>
<p>Para sahabat binaan Rasulullah saw sangat menyadari makna kepemimpinan hakiki dalam kehidupan mereka sehingga <strong>dapat menempatkan kapan mereka harus &#8220;menginginkan&#8221; suatu kepemimpinan dan kapan mereka &#8220;merasa berat&#8221; untuk menerimanya</strong>.</p>
<p>Suatu saat, ketika akan memberangkatkan pasukan dalam perang Khaibar, Rasulullah saw bersabda, &#8220;Sungguh aku akan memberikan bendera ini (menjadi pemimpin perang) kepada seorang laki-laki yang mencintai Allah dan Rasul-Nya dan Allah akan memberikan kemenangan di tangannya.&#8221; </p>
<p>Umar bin Khattab ra berkata, &#8220;Sungguh aku tidak pernah mendambakan al-imarah (kepemimpinan) kecuali pada hari itu. Maka aku sengaja memberikan isyarat (dengan wajah yang penuh keinginan) demi mengharap Rasulullah saw memanggil aku untuk memberikan bendera itu.&#8221; Namun, Rasulullah saw ternyata memanggil Ali bin Abi Thalib&#8230;&#8221; (HR Muslim).</p>
<p>Tentu saja keinginan Umar Ra itu tidak didasarkan kepada hawa nafsu duniawi karena risiko yang paling mungkin ditanggung pemimpin perang pada masa lalu adalah syahid terlebih dahulu. Karena dialah yang memegang bendera komando dan berada di barisan yang paling muka berhadapan dengan hadangan dan serbuan musuh. Tetapi, sesunnguhnya syahid adalah impiannya. </p>
<p>Sedangkan ketika harus menerima amanah sebagai Khalifah kaum Muslimin, Umar bin Khattab Ra merasa demikian beratnya sehingga senantiasa merasa khawatir apakah ia masih pada rel yang benar atau menyimpang.</p>
<p><strong>Kompetensi</strong></p>
<p>Kompetensi kepemimpinan yang dibutuhkan pada saat perjuangan adalah keikhlasan, kesabaran dan kekokohan dalam menanggung ujian yang menyulitkan. Tetapi ketika perjuangan itu sendiri telah menghasilkan buah, maka selain ujian-ujian yang menyulitkan datang pula ujian-ujian yang menjanjikan kesenangan (<em>balaaun hasanatun</em>) sehingga pintu-pintu kemewahan dunia terbuka.</p>
<p>Keikhlasan untuk tetap mengharap rahmat dan surga Allah SWT. Kesabaran dalam menghadapi peluang-peluang kehidupan mewah dan penuh sanjungan. Keteguhan untuk tetap bersikap adil dalam mengendalikan kekuasaan yang demikian besar di tangan. Itulah yang dihadapi Rasulullah saw dan kelak akan diwariskan kepada para sahabat-sahabatnya.</p>
<p>Pada periode Madinah, tidak ada lagi siksaan-siksaan yang menghinakan kepada kaum Muslimin sebagaimana di Makkah. Tetapi perang-perang berskala besar terjadi dengan konsekuensi kekalahan dan kemenangan. Kekalahan, meskipun menyedihkan, namun disambut gembira oleh para sahabat karena kematian membawa mereka kepada cita-cita syahid <em>fi sabilillah</em>.</p>
<p>Di sisi lain, kemenangan dengan harta rampasan (<em>ghanimah</em>) yang melimpah-ruah adalah ujian yang tidak mudah dihadapi, terutama ketika mulai terdapat orang-orang yang masuk Islam tidak dengan pemahaman yang mendalam. Harta rampasan perang ini juga yang menyebabkan hancurnya armada kaum Muslimin pada Perang Uhud padahal saat itu kemenangan telah di ambang pintu.</p>
<p>Rasulullah saw sebagai seorang pemimpin yang lahir dari perjuangan dan pergerakan Islam yang panjang sangat menyadari hal ini. Sebagai pemimpin, beliau mengantisipasi kemungkinan perubahan-perubahan sikap para pengikutnya dengan memberikan contoh perilaku keteladanannya. </p>
<p>Umar bin Khattab Ra pernah menangis melihat badan Rasulullah saw penuh tanda-tanda bekas tikar yang ditidurinya, padahal saat itu Rasulullah saw telah menjadi pemimpin besar jazirah Arab yang disegani pihak Romawi dan Persia.</p>
<p>Sikap sederhana ini kemudian menurun kepada Abu Bakar Shiddiq Ra, Umar bin Khattab Ra, Utsman bin Affan Ra dan Ali bin Abi Thalib Ra ketika mereka menjabat sebagai khalifah, pemimpin tertinggi kaum Muslimin.</p>
<p>Sahabat-sahabat yang setia pun tidak mengubah pola kehidupannya meskipun mereka telah menjadi gubernur sebagaimana pidato Utbah bin Ghazwan, Gubernur Bashrah, di hadapan rakyatnya: &#8220;&#8230;Di masa Rasulullah dulu, kami bertujuh tidak memperoleh makanan kecuali daun-daun pepohonan sampai bibir-bibir kami merekah. Sehelai kain panas ku belah dua lalu ku buat sarung dengan Sa&rsquo;ad bin Malik. Namun sekarang ini, tiada seorang di antara kami kecuali telah menjadi gubernur suatu daerah. Aku mohon perlindungan kepada Allah agar tiada rasa besar dalam hatiku karena pada dasarnya aku sangat kecil di sisi Allah SWT.&#8221; (HR Muslim)</p>
<p>Rasulullah saw dan para sahabatnya adalah pemimpin perjuangan dan bukan pemimpin karbitan yang kemudian menjadi pemimpin <em>aji mumpung</em> gadungan.</p>
<p>Sumber: Hidayatullah No. 03 Tahun XVI/Jumadil Awal 1424</p>
<p>Republished by <a href="http://www.pks-sidoarjo.org">DPD PKS Sidoarjo</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pks-sidoarjo.org/taujih-umum/ujian-kelayakan-pemimpin.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sebuah Kesaksian</title>
		<link>http://pks-sidoarjo.org/taujih-umum/sebuah-kesaksian.htm</link>
		<comments>http://pks-sidoarjo.org/taujih-umum/sebuah-kesaksian.htm#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Dec 2009 00:56:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>webmaster</dc:creator>
				<category><![CDATA[Taujih Umum]]></category>
		<category><![CDATA[Kesaksian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pks-sidoarjo.org/?p=733</guid>
		<description><![CDATA[Oleh KH. Rahmat Abdullah
Seonggok kemanusiaan terkapar. Siapa yang mengaku bertanggungjawab. Tak satupun. Bila semua pihak menghindar, biarlah saya menanggungnya, semua atau sebagiannya. Saya harus mengambil alih tanggungjawab ini, dengan kesedihan yang sungguh, seperti saya menangisinya saat pertama kali menginjakkan kaki di mata air peradaban modern, beberapa waktu yang silam. Sebegitukah puncak ketinggian yang kalian capai?.

Lelaki [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;">Oleh KH. Rahmat Abdullah</p>
<p>Seonggok kemanusiaan terkapar. Siapa yang mengaku bertanggungjawab. Tak satupun. Bila semua pihak menghindar, biarlah saya menanggungnya, semua atau sebagiannya. Saya harus mengambil alih tanggungjawab ini, dengan kesedihan yang sungguh, seperti saya menangisinya saat pertama kali menginjakkan kaki di mata air peradaban modern, beberapa waktu yang silam. Sebegitukah puncak ketinggian yang kalian capai?.<br />
<span id="more-733"></span><br />
Lelaki dan perempuan yang melakonkan kedamaian dan harmoni. Di taman-taman kota mereka bersama. Di bus dan kereta api. Begitu santun dan hangat basa-basi antar pasangan. Apa yang kau simpan di balik apartemen yang telah menjadi kotak-kotak merpati yang kering, dingin dan mati rasa. Pasangan-pasangan pemabuk yang mencari kesenangan dengan pasangan hidup lain, karena sekadar jenuh atau pembalasan dendam yang konyol atas penyelewengan cinta. Bagaimana remaja dan pemuda menghabiskan waktu di kamar asramanya yang dingin ditemani teman perempuan yang datang dari jarak lima ratus kilometer. Tak puas dengan adegan kamar, mereka masih mencuekkan publik dengan adegan syur sepanjang menanti kereta api datang.</p>
<p><strong>Siapa Mau Jadi Tertuduh?</strong></p>
<p>Apakah Sartre, Goethe, John Lennon, Mc Jagger, Paus Johannes Paulus, ets. mau menerima tanggungjawab ini dengan lapang hati? Ada yang melantunkan &#8220;Tuhon sudah mati&#8221;. Ada yang mengkorup sifat-sifat-Nya menjadi terbatas pada Ia yang kasih, tanpa mampu membalas, menghukum atau bertindak tegas. Para pemuja barat dan pembenci Islam yang belajar (tidak) memahami Islam dengan sangat kritis (baca; <em>suudhan</em>) alergi terhadap semua produk Islam yang berabad-abad telah membangun peradaban dunia. Sebaliknya, mereka menyerah kalah serta berbaik sangka, menjadi kontra-produktif menghadapi produk bumi. Mereka boleh kecewa kepada Muhammad Iqbal yang telah melayangkan peringatannya kepada bangsa-bangsa Timur. Mereka diserunya untuk tidak larut dalam kekaguman kepada bangsa Barat.</p>
<blockquote><p>&#8220;Tempalah tembikarmu dari lempungmu sendiri.&#8221;</p></blockquote>
<p>Tetapi, ia tak juga larut dalam kedunguan Timur yang lamban memahami. Ia tak tertarik pada basa-basi munafik Barat yang menampilkan budaya halus. Tetapi, iapun tak suka kekasaran guru Qur&rsquo;an memperlakukan murid bagaikan sais bodoh mengkasari keledai. Hal yang paling tajam dari dua peradaban masa kini, ialah keberseberangan mereka. <strong>Timur memilik daya tahan yang sangat kuat dalam menghadapi bencana. Sayang daya jelajahnya lemah dan kekuatan lajunya rendah.</strong> Bagaimana Anda bersikap tentang iklan mobil yang mengunggulkan kekuatan rem dan kehebatan suspensi, namun ketika ditanya tentang kecepatan lajunya, hanya merayap 5 km perjam. Rem sekuat apa yang diperlukan mobil dengan kemampuan jelajah seperti siput? Ia cukup distop dengan membenturkannya ke trotoar.</p>
<p>Barat dengan segala kilau kebendaan yang menjadi tujuan tertinggi mereka telah lebih berhasil menyebarkan faham hedonik ini daripada pendukung faham langit yang mengacu pada wahyu. Begitu memukau kemajuannya dan menggiurkan produk kebendaannya. Tetapi, benih-benih kerapuhan telah tersimpan didalamnya, seperti bom waktu yang suatu saat akan meluluhkan. Ia adalah mobil pacu yang sangat cepat, namun tak punya kekuatan rem atau daya tahan. Padahal yang menyebabkan korupsi begitu subur lantaran sikap <em>nrimo</em> rakyatyang tak proporsional.</p>
<p>Para tengkulak di departemen yang mengurus layanan publik seperti haji, dengan entengnya men-<em>taushiah</em> jamaah untuk ikhlas dan sabar menerima segalanya, sementara hak-hak mereka dikorupsi, dirampok dan digelapkan. Tetapi mereka secara salah didoktrin untuk &#8220;Tidak berkata lucah, tidak berbuat fasik dan tidak berdebat dalam haji.&#8221; (Qs 2: 197), padahal <em>amar maruf nahi munkar</em> tidak masuk bagian yang dilarang.</p>
<p>Ada kelompok dan peroranga nyang begitu setianya membela nilai-nilai Barat, lalu memaksakannya kepada Islam. Liberalisasi nilai-nilai, relatifisasi ajaran serta pendangkalan akidah yang kesemuanya dilancarkan atas nama <em>rahmatan lil alamin</em>-nya ummat, telah mengaburkan sasaran-sasaran <em>risalah</em>. Kalau orang selama ini telah kagum kepada keberhasilan memelihara <em>ashalah</em> (orisinalitas), <em>jalaliyah</em> (wibawa/keperkasaan) dan <em>jamaliyah</em> (keindahan) Islam, lalu kehilangan bukti-bukti aplikatif pada manusianya, bagaimana mungkin mereka akan jadi teladan dan panutan? Kalau ajaran kebenaran langit ini ditawarkan dengan berbagai modifikasi, interpolasi dan manipulasi oleh mereka yang dibayar untuk tugas-tugas semacam ini, apakah mereka bisa mengetuk hati si pembayar yang sejak awal telah menitipkan pesan sponsor, atau minimal memandang si pelaksana sebagai orang bayaran dan pengamen yang telah di-<em>sangui</em>-nya?</p>
<p>Bila tangan yang menadah tak akan mampu mengatakan &#8220;tidak&#8221; kepada tangan yang memberi, maka berbahagialah mereka yang mampu berkata &#8220;Ikutilah orang-orang yang tak meminta upah kepada kalian dan mereka mendapatkan petunjuk.&#8221;(QS. 36: 21). </p>
<p>Mereka yang telah terpesona oleh loyang yang memancarkan kilau emas dan membungkuk-bungkuk menerima sumbangan dari tangan yang memusuhi peradaban besar yang diwarisinya, hanya akan bisa membeo pada ucapan mereka. Tak ada yang baru dari celoteh mereka, selain tuduhan Islam sebagai agama kekejaman dan keterbelakangan. Hanya satu yang berbeda, yaitu dulu yang mengucapkannya para pemuka agama dan pemikir mereka, sekarang justeru oleh para pelamun di barisan. Kalau dulu muslimin akan menolak produk si kafir, atheis dan musyrik itu karena keluar dari mulut kafir, atheis dan musyrik, maka mereka mendengarnya kini dari mulut-mulut muslim yang berhasil meyakinkan kiai mereka di pedesaan, hanya dengan tetap mengenakan kopiah dan mencium tangan mereka, padahal di perkotaan mereka berucap kata-kata yang hanya bisa ditafsirkan dengan satu tafsiran: murtad.</p>
<p><strong>Garam yang Rusak</strong></p>
<p>Bila pohon dikenal dari buah, apa yang harus kita sembunyikan dari aib kita sendiri? Aib sendiri? Aib kita memahami ajaran kita. Aib kita mengelola dunia. Aib kita keluar dari problem hidup yang menjadi saudara kembar. Mengapa harus malu. Atau kita akan jadikan Tuhan sebagai tertuduh. Ia tak bisa dihujat, itu kepastian. Ia tak keliru, itu kelurusan nalar. Mulut dungu yang lancang itu terus saja berkata, umat harus begini dan begitu. Atau, kita jangan menzalimi minoritas di tengah kemayoritasan kita. Atau korupsi yang memalukan dari anak-anak ummat. Adakah anak-anak ummat mencopet saat ia melaksanakan shalat? Atau berzina saat melalukan puasa? Atau korupsi saat hukum Allah tegak sebagai acuan berbangsa? </p>
<p>Mengapa tidak katakan saja mereka korupsi, kolusi dan nepotis sebagai penganutisme atau ideologi lokal yang menjadi landasan negara atau sumber dari segala sumber hukum mereka? Apakah ada kontrak pengakuan dosa bahwa kita umat Islam teroris, hedonis dan koruptis, kolutif dan nepotis, sementara mereka anti HAM antek dan boneka asing seperti fakta-fakta tak terbantahkan?</p>
<p>Bush terlambat ketika menawarkan 147 juta dolar untuk perubahan kurikulum. Ia tak perlu khawatir dan susah-susah mengeluarkan uang begitu banyak. Ia tak tahu sejak akhir 70-an, mulai banyak santri yang bangga bila tak shalat, berbangga dengan segala pertanyaan yang nampaknya musykil dan membingungkan ummat padahal seharusnya mereka sendiri yang menjawab atau hidup dari guyuran LSM asing.</p>
<blockquote><p>&#8220;Dengan garam kita awetkan (ikan) yang kita takutkan membusuk<br />
Bagaimana bila garamnya yang menjadi busuk?&#8221;</p></blockquote>
<p>Sumber : Tarbawi Edisi 74 Th. 5/Dzulqo&rsquo;dah 1424 H/25 Desember 2003 M hal 42-43.</p>
<p>Republished by <a href="http://www.pks-sidoarjo.org">DPD PKS Sidoarjo</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pks-sidoarjo.org/taujih-umum/sebuah-kesaksian.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bashirah (Kekuatan Mata Hati)</title>
		<link>http://pks-sidoarjo.org/taujih-umum/bashirah-kekuatan-mata-hati.htm</link>
		<comments>http://pks-sidoarjo.org/taujih-umum/bashirah-kekuatan-mata-hati.htm#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Dec 2009 00:08:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>webmaster</dc:creator>
				<category><![CDATA[Taujih Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pks-sidoarjo.org/?p=725</guid>
		<description><![CDATA[Oleh KH. Rahmat Abdullah
Bahkan manusia sangat tajam melihat dirinya sendiri, walau pun ia melontarkan berbagai alasannya&#8221; (QS Al-Qiyamah: 14).

Para penganut Al-Qur’an tak ragu sedikitpun akan kesempurnaannya. Ia cahaya terang dan jalan lurus yang mengantar kepada keselamatan dunia dan kebahagiaan akhirat. Ia bashirah yang begitu jernih, tajam dan akurat mewartakan keadaan yang sesungguhnya, kemenangan yang terbentang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;">Oleh KH. Rahmat Abdullah</p>
<p>Bahkan manusia sangat tajam melihat dirinya sendiri, walau pun ia melontarkan berbagai alasannya&#8221; (QS Al-Qiyamah: 14).<br />
<span id="more-725"></span><br />
Para penganut Al-Qur’an tak ragu sedikitpun akan kesempurnaannya. Ia cahaya terang dan jalan lurus yang mengantar kepada keselamatan dunia dan kebahagiaan akhirat. Ia <em>bashirah</em> yang begitu jernih, tajam dan akurat mewartakan keadaan yang sesungguhnya, kemenangan yang terbentang dan bahaya yang mengancam, dengan segala syarat, sebab dan penawarnya. Ia memuat sejarah lampau, gambaran depan dan keadaan sekarang.</p>
<p>Namun apa yang didapat orang yang menutup rapat-rapat matanya sendiri, dari cahaya terang di sekitarnya? Terik mentari ditingkahi ribuan lampu sorot, tak menyelamatkannya dari terjerembab ke pelimbahan. Sebaliknya, lihatlah tuna netra yang berjalan di gelap malam, dapat selamat dan beroleh rizki mereka.</p>
<p>Allah Maha Adil yang mengangkat sebagian orang dengan kekurangan fisiknya dan menjatuhkan lainnya walaupun berjasad sempurna. Tak ada makna kajian tema apa pun dalam kitab suci, sementara hati pengajinya berjelaga. Ada tikus mati dalam kandang, ada orang kehilangan tongkat dua kali atau terpagut ular dua kali di liang yang sama. Atau singa-singa mati lapar di padang dan daging pelanduk dilahap serigala. Ada budak tidur di tilam sutera, ada bangsawan berbaring di hamparan tanah.</p>
<p><strong>Bila Nurani Bergetar</strong></p>
<p>Berbahagialah pejuang yang tak mengkorupsi kemenangan masa depannya, walaupun hanya dengan sekedar rintih sesal didera lelah. Atau menumpang popularitas dengan nikmat tanpa rasa malu kepada-Nya. Mereka yang berhati nurani tak lagi melampirkan kesedihan, kesusahan, dan kelelahan kedalam neraca laba-rugi. Hati nurani mereka selalu hidup dan berbinar.</p>
<p>Begitulah kiranya ketika Al khalil Ibrahim as meminta agar nabi yang dibangkitkan kelak dari keturunan Ismail as, bertugas &#8220;&#8230;.membacakan kepada mereka ayat-ayat-Mu, mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah dan menyucikan mereka..&#8221; (QS Al Baqarah: 129), Allah meng-<em>ijabah</em> doanya. Namun, ia menginginkan langkah kedua sesudah membacakan ayat-ayat-Nya dan sebelum mengajarkan Kitab dan Hikmah, satu kata kunci bagi keberhasilan da’wah ini, yaitu ’menyucikan mereka’ (QS Al Baqarah: 1’51’, Ali Imran: 164, Al Jumu’ah: 2). Nurani yang hidup mampu menjembatani perbedaan dan meredam perpecahan.</p>
<p>&#8220;Ulama akhirat tak saling berbenturan, karena akhirat sangatlah luas. Ulama dunia selalu bertikai dan bermusuhan karena dunia terlalu sempit untuk mereka perebutkan.&#8221; (Imam Ghazali).</p>
<p>Allah menyebutkan perumpamaan ulama buruk (suu’) yang berhati nurani mati, seperti Bal’am sebagai anjing, yang bila dihalau menjulur dan bila didiamkan tetap menjulur (QS Al A’raf: 176). Anjing akan lari mengejar tulang dengan sedikit daging segar. Dan tak akan tertegun memandangi perhiasan di tangan pelempar seharga 1 milyar. Dan ketika melewati telaga, sang anjing segera menerkam bayangan dirinya karena mengira ada anjing lain yang menggigit tulang. Ia ingin menguasai semua tulang. Alangkah rakusnya!</p>
<blockquote><p>Siapa yang telah rasakan dunia<br />
Akupun telah mengenyamnya<br />
Telah digiring kepadaku pahitgetirnya<br />
Aku tak melihatnya selain bangkai yang membusuk<br />
Dikepung anjing-anjing dengan hanya satu semangat: cabik dan tarik!</p></blockquote>
<p>Seorang imam sangat kecut dan malu ketika ada orang datang meminta sesuatu. &#8220;Oh, dosa apa yang kuperbuat, mestinya aku sudah menangkap hajatnya sebelum ia menyatakan permintaannya&#8221;. Tidakkah panitia zakat merasa tersindir ketika melihat kemiskinan hanya dari wajah pengemis profesional yang kerap menimbun harta melebihi keperluan. Al-Qur’an telah melekatkan sifat ’jahil’ bagi mereka yang mengira para mujahid yang menjaga air wajahnya dengan menutup rapat-rapat penderitaan dan kemiskinan mereka, sebagai orang kaya. Sebaliknya sifat Rasul SAW disebutkan sebagai ma’ri-fah (kenal), karena dengan kejernihan <em>bashirah</em> mampu menangkap hakikat.</p>
<p>Karena itulah, mereka mendapatkan jaminan baik bagi kehidupan kelak: &#8220;Beruntunglah orang yang tersibukkan oleh aib dirinya dari kesibukan mempersoalkan aib orang lain, la infakkan yang berlebih dari hartanya dan menahan yang berlebih dari perkataannya.&#8221;</p>
<p>Kemiskinan dan kesenangan tak masuk agenda fikiran para perempuan generasi Salaf yang melepas keberangkatan para suami. &#8220;Hati-hati terhadap harta yang haram. Kami tahan terhadap kemiskinan tetapi takkan tahan terhadap neraka,&#8221; begitu pesan mereka.&#8221;</p>
<p>Di depan iring-iringan yang membawa Imam Ahmad bin Hambal ke penyidangan yang zalim, menghadanglah seorang perempuan. &#8220;Wahai Imam, kami perempuan-perempuan yang bekerja menenun. Hari-hari ini, serdadu sultan meningkatkan perondaan sepanjang malam dengan obor-obor mereka. Karena kami bekerja dibawah pancaran cahaya obor serdadu sultan zalim itu, hasil tenunan kami di atas atap rumah menjadi lebih baik dan kami mendapat keuntungan tambahan. Halalkah kami memakan kelebihan untung itu?&#8221;. Demikianlah radiasi bashirah Imam yang tak kenal kompromi dengan kebatilan, merasuki hati nurani rakyat yang menjadi begitu sensitif.</p>
<p><strong>Kematian Hati Nurani</strong></p>
<p>Berapa banyak orang menguasai teori ilmu serta dikenal dan dihormati sebagai ilmuwan dan ulama, namun kehilangan potensi hati nurani. <em>Bashirah</em>-nya tertutup limbah dunia, membuat cahayanya tak tembus menerangi jalan. Para koruptor yang memiskinkan rakyat dan menguras kekayaan bangsa untuk kepentingan diri sendiri adalah para pengkhianatyang mati rasa.</p>
<p>Mereka yang memproduk siaran cabul, menyiarkan kebebasan seks, membuka rumah bordil, memproduksi dan mengedarkan tuak, candu dan madat, adalah makhluk yang padam hati nurani. Kehidupan fisik tak mampu mengimbangi busuk akhlak mereka yang membuat tak nyaman lingkungan. Tak ada orang yang kerasan berlama-lama dekat mereka. Hidup menebar bau busuk dan mati menuai amal busuk.</p>
<p>Mereka yang keruh nurani, selalu melihat dengan angan-angan panjang. &#8220;Seakan kematian hanya berlaku atas orang lain&#8221;. Sejauh ini, dosa dan kemaksiatan merupakan pembunuh utama hati nurani. Hati menjadi keras membatu, watak menjadi beku dan hati menyempit. Ayat-ayat suci tak membekas di hati, kematian tak menghasilkan <em>ibrah</em>, luapan syahwat dunia semakin tak terkendali, wajah menggelap memantulkan kelam hati, hilang semangat beramal dan lenyap kelezatan dzikir.</p>
<p>Lihatlah para penjual ayat yang dengan ringan berfatwa batil demi kekayaan diri. Doa yang mereka bunyikan memang benar hanya bunyi. Dan bila ada kader muslim yang merasa, inilah zaman keterbukaan, lalu membumihanguskan tradisi dakwah yang baik, mereka telah membunyikan lonceng kematian bagi hati nuraninya.</p>
<p>Bila berpolitik, mereka hanya tahu intrik. Tak ada rasa malu merebut posisi, dengan berhias khayalan syaithani. Akulah Yusuf yang kredible dan <em>expert</em>. Padahal begitu jauh jurang memisah, mana Yusuf, mana pemimpi di terik mentari. Golongan ini tak kenal <em>mihwar</em> tak kenal era, baginya semua adalah era <em>nafi</em> dan <em>mihwar maslahi</em> (era mengambil keuntungan dan fase mengambil <em>maslahat</em>).</p>
<p>Orang-orang seperti itu harus kerap diajak menurunkan jenazah ke liang lahat, melepas kerabat di akhir nafas, atau berbiduk di lautan dengan gelombang yang ganas. Bila tak mempan, takbirkan empat kali bagi kematian hati nuraninya.</p>
<p>Sumber: Tarbawi Edisi 45 Th. 4/Sya’ban 1423 H/10 Oktober 2002 M hal 38-39.</p>
<p>Republished by <a href="http://www.pks-sidoarjo.org">DPD PKS Sidoarjo</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pks-sidoarjo.org/taujih-umum/bashirah-kekuatan-mata-hati.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

