<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>PK Sejahtera Sidoarjo &#187; Kaderisasi</title>
	<atom:link href="http://pks-sidoarjo.org/category/kaderisasi/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://pks-sidoarjo.org</link>
	<description>Bersih, Peduli, dan Profesional</description>
	<lastBuildDate>Thu, 29 Jul 2010 00:22:22 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.6</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Tanggung Jawab Dakwah</title>
		<link>http://pks-sidoarjo.org/kaderisasi/tanggung-jawab-dakwah.htm</link>
		<comments>http://pks-sidoarjo.org/kaderisasi/tanggung-jawab-dakwah.htm#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Mar 2010 23:15:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>webmaster</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kaderisasi]]></category>
		<category><![CDATA[Tanngung Jawab Dakwah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pks-sidoarjo.org/?p=910</guid>
		<description><![CDATA[Tugas dan tanggung jawab adalah tuntutan kehidupan yang tak bisa dielakkan. Manusia yang brilian tidak akan pernah lari darinya sekalipun ia amat melelahkan dan banyak bahkan kadang lebih banyak dari waktu yang tersedia.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;">Ustad Drs. DH. Al-Yusni</p>
<p>&#8220;Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.&#8221; (QS. Al Ahzab: 72)<br />
<--more--><br />
Tugas dan tanggung jawab adalah tuntutan kehidupan yang tak bisa dielakkan. Manusia yang brilian tidak akan pernah lari darinya sekalipun ia amat melelahkan dan banyak bahkan kadang lebih banyak dari waktu yang tersedia. Malah, tanggung jawab itu sering tidak dapat dituntaskan sehingga perlu dilanjutkan oleh yang lain. Karena ia datang terus-menerus seiring berjalannya waktu. Semakin bergulir semakin banyak tugas dan tanggung jawab yang mesti dipikul. Ia muncul dan terus muncul sesuai dengan tuntutan zamannya. Terlebih lagi tanggung jawab terhadap dakwah (<em>mas&rsquo;uliyatud da&rsquo;wah</em>). </p>
<p>Seorang pendaki gunung pernah berujar, &#8220;Naik gunung itu amat melelahkan, berat dan capek. Akan tetapi bila sudah sampai di puncak, kita akan merasakan nikmatnya berada di puncak gunung. Namun, bila kita lengah, akan menjadi marabahaya sebab banyak jurang yang dalam yang siap menelan kita.&#8221; Ungkapan ini bila dikaitkan dengan perjalanan dakwah memiliki kemiripan.</p>
<p>Ketika perjalanan dakwah ini meniti jalan kemenangannya, terasa memang berat dan melelahkan. Akan tetapi, di saat mencapai cita-citanya, ada rasa senang dan sekaligus perasaan galau lantaran beratnya memikul amanah dan tanggung jawab yang jauh lebih besar lagi. Taruhannya adalah kekuatan mengemban amanah dan kepercayaan umat. Bila gagal, gelombang manusia yang berhimpun itu akan lari meninggalkan barisan dakwah ini.</p>
<p>Sekalipun tanggung jawab selalu datang, namun kader dakwah tidaklah boleh mengeluh dan kecewa terhadapnya. Kader harus selalu memandang bahwa tanggung jawab merupakan sesuatu yang dapat memuliakan dirinya meski ia kesulitan untuk memikulnya. Sehingga bila telah selesai menunaikan satu tanggung jawabnya, ia perlu menyiapkan diri untuk segera melaksanakan tugas barunya. Sebagaimana firman Allah SWT: &#8220;Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain&#8221;. (QS. Al Insyirah: 7).</p>
<p>Hari-hari kemarin yang telah kita lalui sudah kita pergunakan untuk memperlebar jaringan dakwah. Agar umat manusia banyak berhimpun di jalan yang mulia ini. Telah banyak upaya yang kita lakukan: mulai dari diri sendiri, keluarga, tetangga hingga kalangan yang lebih luas. Dengan kerja yang berkesinambungan dalam rangka mempertahankan eksistensi dakwah ini, Allah SWT anugerahkan kasih sayang-Nya pada mereka yang aktif mengemban tugas tersebut. Tampak oleh kita banyak hati manusia yang tertarik, simpatik dan energik memberikan dukungannya pada dakwah ini.</p>
<p>Dari banyaknya manusia yang berhimpun dalam dakwah ini, tentu mengandung tugas dan tanggung jawab yang berat. Dan ini bagian dari manuver dakwah yang harus di-<em>followup</em>-i dengan selalu menjaga perluasan jaringan dakwah ini (<em>ri&rsquo;ayah munawaratud da&rsquo;awiyah</em>). </p>
<p>Adapun bentuk upaya menjaganya adalah:</p>
<p><strong>Pertama, mentarbiyah masyarakat luas (<em>tarbiyah jamahiriyah</em>)</strong>. Kita telah menyaksikan bahwa masyarakat memberikan dukungan yang luar biasa baik dari dukungan materi, pikiran, tenaga dan politik. Dukungan dari beragam lapisan mulai masyarakat perkotaan hingga pedesaan, masyarakat terdidik hingga yang buta huruf, dari kalangan santri yang shalih hingga anak gaul di pinggir jalan. Hal tersebut merupakan indikasi bahwa mereka pun ingin menjadi bagian dari dakwah ini. Malah ada yang merasa sudah menjadi salah satu bagian dari dakwah ini.</p>
<p>Realita dukungan ini harus dipandang bahwa masyarakat yang berhimpun itu mesti mendapatkan hak <em>tarbawiyah</em>-nya sebagaimana yang didapat para kader. Sekalipun yang telah mereka rasakan selama ini baru sebatas sentuhan awal. Tentunya, mereka pun ingin mendapatkan pembinaan yang bisa membentuk diri mereka menjadi kader sejati sesuai dengan kondisi mereka masing-masing sehingga mereka dapat bergabung lebih dalam bersama kader lainnya. Agar ia menjadi bagian dakwah yang besar ini walau hanya satu elemen kecil saja.</p>
<p>Adapun bentuk tanggung jawab dakwah dan kadernya pada mereka adalah melakukan tarbiyah kepada masyarakat luas atau pembinaan massal (<em>tarbiyah jamahiriyah</em>) dengan perlu menyesuaikan muatan dan arahannya. Apakah dengan melakukannya dalam bentuk <em>tarbiyah</em> regular atau secara massal dengan melaksanakan <em>taklim</em> rutin yang diikuti oleh sekian banyak orang. </p>
<p><strong>Kedua, peningkatan kualitas kader (<em>tarqiyah nau&rsquo;iyatul jundiyah</em>)</strong>. Semakin banyak tugas maka semakin perlu meningkatkan kualitas dan kapabilitas agar dapat menunaikan amanah itu dengan sebaik-baiknya. Abul Hasan An Nadawi dalam kitab Mudzakiratu Sa&rsquo;ihin fil &rsquo;Alamil Arab menyatakan bahwa <strong>sudah menjadi keharusan untuk membentuk kader-kader yang dapat meneruskan dan menjalankan tugas tanggung jawab dakwah dengan meningkatkan kemampuan kader agar bisa mengisi peluang-peluang dakwah yang amat banyak</strong>. Karena setiap gerakan dakwah betapapun kuatnya dan betapapun banyak kader-kadernya masih tetap terancam kebangkrutan. </p>
<p>Mengingat berlalunya waktu maka semakin bertambahnya tanggung jawab yang mesti dipikul segera sehingga menjadi sebuah aksioma bahwa kemampuan kader untuk menunaikan tanggung jawab harus diimbangi dengan peningkatan diri mereka sesuai dengan tuntutannya masing-masing. Sebagaimana kaedah dakwah: <strong><em>li kulli da&rsquo;watin marhalatuha, wa likulli marhalatin muthallibatuha, wa lukulli muthallibatin rijaluha</em> (etiap dakwah ada marhalahnya, setiap marhalah ada tuntutannya, dan setiap tuntutan ada orangnya yang akan mengerjakannya).</strong></p>
<p>Sangatlah lumrah orang banyak memberikan berkomentar terhadap kader yang ada saat ini dengan menyatakan apa mungkin orang-orang mesjid itu mampu mengelola urusan besar (mengelola negara) ini?</p>
<p>Anggapan ini bermula dari aktivitas kader yang berawal dari mengelola sebatas dari satu majelis <em>taklim</em> ke majelis <em>taklim</em> lainnya, dari satu kegiatan keagamaan ke kegiatan keagamaan lainnya. Dan sekarang tanggung jawab itu melebih aktivitas sebelumnya. Tugas dan kewajiban yang bakal dipikul bebannya jauh lebih berat dari hari-hari yang kemarin. Maka, tidak bisa dielakkan bahwa kemampuan harus kader bisa memenuhi kebutuhan lapangan yang amal beragam di hari ini. Keahlian dan kecakapan mereka menjadi tahurannya untuk meraih dukungan yang lebih besar lagi. </p>
<p><strong>Ketiga, penyegaran aktifitas tarbiyah (<em>in&rsquo;asy smalit tarbawiyah</em>)</strong>. Setelah beberapa saat, aktivitas tarbiyah belum berjalan optimal karena kesibukan dakwah yang begitu banyak. Dan hal ini merupakan bagian dari siklus ekspansi dakwah yang besar. Saat kesibukan kader dakwah melebihi volume kesibukannya di waktu yang lain sehingga sedikit banyak aktivitas <em>tarbiyah</em> yang regular mengalami sedikit gangguan. Bila hal ini dibiarkan berlarut-larut, akan berdampak pada kelambanan geliat dakwah dan gerakannya. Apalagi sudah dimafhumi bahwa tarbiyah merupakan <em>munthalak</em>-nya. </p>
<p>Seorang penyair Tunis, Ahmad Mukhtar Al Wazi, menyatakan <em>&#8220;wain wanat waqfatuha &rsquo;ajalabal munthalaqu&#8221;</em> (bila diamnya terlalu lama akankah ia tergugah oleh keharusanya bergerak). Maka perjalanan <em>tarbiyah</em> yang menjadi pijakan <em>asasiyah</em> mesti berjalan normal dan segar kembali melalui berbagai aktivitas <em>tarbiyah</em> yang reguler: seperti <em>liqa&rsquo;</em> pekanan rutin, mabit, <em>tatsqif</em>, <em>daurah</em> dan lain-lainnya. Oleh karena itu, mereka yang berkepentingan dalam menormalkan dan menyegarkan aktivitas <em>tarbiyah</em> ini harus berada pada pusat intruksional agar dapal menggerakkan dengan sesegera mungkin dan membunyikan peluitnya dengan keras. Baik mereka itu para <em>murabbi</em>, <em>naqib</em> atau mereka yang berada dalam jajaran struktural.</p>
<p>Hal ini tentu menjadi antisipasi yang dini agar tidak terjadi situasi yang cenderung memburuk dengan &rsquo;mengabaikan&rsquo; iklim asasi dalam dakwah ini. Syaikh Mushtafa Mahsyur Rahimahullah, mengingatkan agar aktivitas perpolitikan ini jangan mengalahkan dan mendominasi aktivitas <em>tarbawiyah</em>. <em>Ghalabatis siyasiyah at tarbawiyah</em>. </p>
<p><strong>Keempat, pengokohan interaksi pada tokoh (<em>taqwiyah ittishalil wujahiyah</em>)</strong>. Begitu banyak para tokoh yang telah terjalin hubungan sosial kemasyarakatannya dengan dakwah ini melalui silaturahim dengan mereka atau menjadikan mereka bagian dari rekruting dakwah ini. Sudah barang tentu, mereka juga ingin bahwa hubungan itu tidak berhenti hanya karena aktivitas menggalang massa telah usai melainkan mereka sangat mengharapkan bahwa jalinan itu bisa lebih erat lagi dari waktu sebelumnya.</p>
<p>Islam tentu sudah mengajarkan bagaimana mensikapi para tokoh di tengah-tengah masyarakatnya dengan memuliakan mereka. Sehingga mereka pun, dapat menerima ajakan dan seruan yang ditujukan padanya karena kedudukan mereka pun dihormati dan dihargai. </p>
<p>Tatkala menaklukan Mekkah, Rasulullah saw mengatakan, &#8220;Siapa yang masuk ke mesjid maka aman. Dan siapa yang menutup pintu rumahnya maka ia aman dan siapa yang masuk ke rumah Abu Sufyan maka ia pun aman&#8221;. Pernyataan ini jelas menampakkan bahwa ajaran Islam tetap memandang bahwa para tokoh itu mempunyai kedudukan yang perlu ditempatkan secara pas dan tepat. Dan ini menjadi pelunak hati mereka untuk ikut dalam barisan dakwah ini. Karenanya, pendekatan para tokoh yang pernah dilakukan pada hari-hari kemarin harus dikokohkan kembali sehingga mereka mendukung dakwah ini secara optimal. Apalagi, bila para tokoh itu memiliki perasaan bahwa merekapun telah memberikan andil yang teramat besar dalam pemenangan dakwah ini. </p>
<p><strong>Kelima, soliditas struktural (<em>matanah tanzhimiyah</em>)</strong>. Aktivitas yang padat sering berimbas pada ketahanan struktural. Terlebih lagi, struktur yang masih sangat sederhana. Kesederhanaan fungsi dan bagan struktural kadang menciptakan aktivis berfungsi ganda atau bahkan multi fungsi sehingga banyak kamar-kamar struktur yang tak terisi apalagi terisi lengkap. Ditambah persoalan bahwa program yang sedang digerakkan bersama bertumpu pada satu program besar sehingga beberapa unsure dari struktural itu ikut berkonsentrasi pula pada kerja massal sehingga kadang yang terjadi adalah &rsquo;mengesampingkan&rsquo; tugas-tugas regulernya. Bila hal ini dibiarkan, dapat berdampak pada perjalanan struktural yang termehek-mehek.</p>
<p>Mengingat peran struktural untuk menjalankan agenda berikutnya yang juga besar maka ketahanan soliditas struktural<br />
ini tidak bisa ditunda lagi. Ia perlu diperhatikan seksama agar dapat mengokohkan kader yang ada di dalamnya disertai pemberdayaan struktural dalam tugas-tugas besar berikutnya. Baik struktur pada tingkat pusat juga pada tingkatan di bawahnya. Dengan demikian, langkah-langkah struktural dapat bergerak dengan lincah dan leluasa mengemban tugas dakwah besar lainnya. Di samping pengokohan struktural juga perlu diperhatikan masalah pengembangannya. Sebab, dengan tanggung jawab yang semakin besar, dibutuhkan penopang struktural yang semakin lengkap. </p>
<p>Imam Mawardi, penulis Al Ahkamus Sulthaniyah, memaparkan bahwa semenjak <em>futuhat-futuhat</em> dakwah dicapai kaum muslimin pada masa Khalifah Umar ibnul Khaththab, berkembang pula jajaran struktur yang baru dengan segala dinamika dan urusannya yang pada masa lalu tidak ditemukan persoalan tersebut.</p>
<p>Itulah sebagian kecil dari tanggung jawab dakwah yang besar ini. Paling tidak, dari situ kita dapat memulai apa yang perlu kita lakukan. </p>
<p>Untuk merealisasikan (<em>tahqiq</em>) tanggung jawab yang besar ini diperlukan upaya kerja keras yang maksimal, diantaranya adalah:</p>
<p><strong>Pertama, bersungguh-sungguh dan tekun (<em>al jiddiyah wal mu&rsquo;azhibah</em>)</strong>. Kesungguhan adalah modal utama untuk dapat menunaikan setiap tugas. Dan kesungguhan merupakan indikasi dari sikap yang penuh tanggung jawab. Ia pun cerminan dari keimanan dan keyakinan yang kuat akan pertemuannya dengan Sang Rabbul Izzati sehingga melahirkan perilaku siap dan sedia menunaikan suatu tugas yang diamanahkan kepadanya. Dari sinilah, akan diukur seberapa besar kesiapan dan kesediaan yang berdampak pada kepuasan masyarakat akan pelayanan dan penunaian tanggung jawab tersebut.</p>
<p>Bila melihat sederetan tugas-tugas tersebut di atas, kita temukan bahwa tugas tersebut betul-betul tidak sepele. Tugas dan tanggung jawab itu tidak boleh dianggap main-main. Apalagi harapan yang dimiliki banyak orang teramat tinggi. Mereka berharap bahwa kader dakwah pasti dapat memikul tugas itu dan dapat memberikan pengaruh kebaikan yang dirasakan oleh umat.</p>
<p><strong>Kedua, aktivitas yang berkesinambungan (<em>istimrariyatul amal</em>)</strong>. Karena waktu senantiasa berjalan tak kenal henti, amalpun tak boleh berhenti. Memang suatu tugas dikira sudah selesai namun ternyata masih ada setumpuk tugas lainnya yang sedang menunggu untuk diselesaikan. </p>
<p>Gambaran yang sering diungkapkan orang adalah bergeraknya amal ini bagai deburan ombak di lautan yang datang silih-berganti dengan deburan ombak lainnya kadang ombak besar kadang ombak kecil. Bila amal tersebut dilakukan bak ombak tadi niscaya amal datang susul-menyusul dan tidak akan pernah mati. Olah kreatifitas amal perlu digesahkan kepada seluruh lapisan kader sehingga mereka bisa menciptakan berbagai amal yang variatif.</p>
<p><strong>Ketiga, kedisiplinan terhadap <em>anhaj</em> (<em>indhibatul manhajiyah</em>)</strong>. <em>Manhaj</em> merupakan rambu perjalanan dakwah ini. Ia bagaikan denah yang menunjukan arah dan apa yang mesti dilakukan. Karena itu, setelah selesainya satu tugas perlu melihat kembali apa yang telah digariskan oleh <em>manhaj</em> dakwah tentang tugas-tugas kedepan. Bila terkait dengan <em>tarbiyah</em>, ia perlu diterapkan secara disiplin sesuai arahannya. Sebagaimana petunjuk Allah SWT kepada Nabi Yahya as: &#8220;Hai Yahya, ambillah Al Kitab (Taurat) itu dengan sungguh-sungguh. Dan Kami berikan kepadanya hikmah selagi ia masih kanak-kanak&#8221;. (QS. Maryam: 12). Tentunya, hal ini juga berlaku kepada seluruh kader untuk menerapkan tuntutan <em>manhaj</em> secara disiplin sehingga ia dapat menghantarkan perjalanan dakwah ini dari satu <em>mihwar</em> ke <em>mihwar</em> lainnya dengan sistematis.</p>
<p><strong>Keempat, keteladanan dan arahan (<em>al qudwah wat taujih</em>)</strong>. Komunitas suatu masyarakat kadang akan mudah terbentuk bila memiliki cermin jernih yang menjadi panutan bagi yang lain. Karena panutan bagai mercusuar yang akan mengarahkan dan juga menjadi ukuran atau kiblat mereka. Di sinilah pentingnya keteladanan antara satu dengan yang lain. Keteladanan dalam <em>ubudiyah</em>, <em>ijtima&rsquo;iyah</em>, <em>mu&rsquo;amalah</em> maupun keteladanan dalam amal <em>siyasi</em>. Tentu, keteladanan yang dimaksud adalah bahwa seluruh kader menjadi contoh bagi yang lain. Apalagi seluruh elemen masyarakat menjadi penilainya. Mereka tentu ingin panutannya bagai cermin jernih tanpa goresan.</p>
<p>Sekarang ini, persoalannya adalah siapkah kader dakwah ini memikul tanggung jawab yang amat besar itu. </p>
<p>&#8220;Ingatlah, kamu ini orang-orang yang diajak untuk menafkahkan (hartamu) pada jalan Allah. Maka di antara kamu ada orang yang kikir, dan siapa yang kikir sesungguhnya dia hanyalah kikir terhadap dirinya sendiri. Dan Allah-lah yang Maha Kaya sedangkan kamulah orang-orang yang membutuhkan (Nya)dan jika kamu berpaling niscaya Dia akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain, dan mereka tidak akan seperti kamu (ini)&#8221;. (QS. Muhammad: 38)</p>
<p>Wallahu &rsquo;alam bishshawab.</p>
<p>Sumber Majalah SAKSI No.14 Tahun VI 12 Mei 2004</p>
<p>Dipublikasi ulang <a href="http://www.pks-sidoarjo.org">Admin DPD PKS Sidoarjo</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pks-sidoarjo.org/kaderisasi/tanggung-jawab-dakwah.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ilmu dan Masa Depan Umat</title>
		<link>http://pks-sidoarjo.org/kaderisasi/ilmu-dan-masa-depan-umat.htm</link>
		<comments>http://pks-sidoarjo.org/kaderisasi/ilmu-dan-masa-depan-umat.htm#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 24 Jan 2010 20:14:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>webmaster</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kaderisasi]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[umat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pks-sidoarjo.org/?p=809</guid>
		<description><![CDATA[Rasulullah saw bersabda, "Sesungguhnya para ulama itu adalah pewaris nabi. Dan sesungguhnya, para nabi itu tidak mewariskan dinar maupun dirham. Akan tetapi mereka mewariskan ilmu. Maka barangsiapa mengambil warisan tersebut, sungguh ia telah mengambil bagian yang mencukupi".]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Salah satu kenyataan yang harus diterima dan dimengerti oleh setiap orang ialah bahwa sebuah nilai (apapun bentuknya) setiap saat akan sangat dipengaruhi oleh para pembawa dan para pengembannya. Apakah nilai tersebut masih bisa bertahan atau tidak di muka bumi ini ketika ia harus mengarungi perjalanan masa. Para generasi pewaris dan penerus nilai-nilai itulah yang akan menjadi sukarelawan dan sekaligus pahlawan karena merekalah tulang punggung bagi keberlangsungan nilai tersebut untuk tetap bisa tampil di pentas kehidupan manusia. Atau sebaliknya, mereka akan menjadi para pengkhianat nilai-nilai tersebut karena tega mengubur dan membenamkannya dari alam kehidupan, dan puas sekedar dicatat dan dikenang sejarah meskipun bisa jadi nilai-nilai tersebut tidak dikenal sama sekali oleh generasi sesudahnya.<br />
<span id="more-809"></span><br />
Islam sebagai salah satu nilai, yang tingkat kebenarannya bertumpu kepada ke-Maha Benar-an sumbernya yaitu Allah Yang Maha Benar, akan pula mengalami hukum tersebut diatas sebagai sebuah proses alami (sunnah) yang harus terjadi ketika sebuah nilai disosialisasikan menjadi nilai-nilai kehidupan manusia. Tingkat kealamian nilai Islam di antaranya justru terletak pada &#8220;Kemanusiaannya&#8221;. Karena ia mampu berjalan dalam jalur dan alur kehidupan manusia dengan segala tabiat dan konsekuensi dari segala bentuk interaksi mereka di dunia ini.</p>
<p>Setelah selesai mengemban tugasnya, Rasulullah saw pun harus meninggal dunia. Maka nilai-nilai Islam itu pun dilanjutkan oleh generasi sesudahnya yaitu para sahabat lainnya dan kemudian para tabi&#8217;in dan seterusnya. Rasulullah saw bersabda, &#8220;<em>Sebaik-baik abad adalah abadku, kemudian yang sesudahnya, kemudian yang sesudahnya</em>&#8220;.<sup>1</sup></p>
<p>Hadits ini memberikan pelajaran kepada kita bahwa di antara bentuk kealamian nilai Islam ialah betapa tingkat kedekatan dan kejauhan suatu masa dengan masa awal terbitnya fajar Islam itu juga mempengaruhi tingkat kualitas kehidupan yang ada pada suatu masa tersebut. Akan tetapi, pasang surut kualitas tersebut setidak-tidaknya masih dalam batas di mana penyangga nilai-nilai Islam tersebut tidak sampai pada taraf tidak ada sama sekali. Di mana tugas dan fungsi penyangga tersebut diperankan oleh para ulama dan para <em>salafussholih</em>. </p>
<p>Merekalah yang telah berjasa menanam budi yang terhutang di atas umat manusia berupa jerih payah mereka mengarungi &#8220;ruang ijtihad&#8221; yang melelahkan yang kemudian mampu mengeluarkan nilai-nilai Islam itu dalam berbagai disiplin llmu. Ada llmu Tauhid, llmu Ushul Fiqih, dan seterusnya di mana dulu semuanya berada dalam nama dan kesatuan yang sama. Sehingga mata rantai nilai-nilai Islam itu tidak sampai terputus bahkan untuk jangka sesaat pun. </p>
<p>Rasulullah saw bersabda, &#8220;Sesungguhnya para ulama itu adalah pewaris nabi. Dan sesungguhnya, para nabi itu tidak mewariskan dinar maupun dirham. Akan tetapi mereka mewariskan ilmu. Maka barangsiapa mengambil warisan tersebut, sungguh ia telah mengambil bagian yang mencukupi&#8221;.<sup>2</sup></p>
<p>Sehingga, dari sekian banyak nilai yang ada di muka bumi ini, hanya nilai Islam-lah yang telah teruji oleh panjangnya masa, karena itu ia masih eksis hingga saat ini. Bahkan sampai hari kiamat nanti. Sebagaimana sabda Rasulullah saw, &#8220;Akan selalu ada segolongan dari ummatku yang tegak di atas kebenaran. Orang-orang yang mengingkarinya tidak akan dapat memberikan <em>mudhorot</em> apa-apa kepada mereka. Mereka tetap demikian sampai datang urusan Alloh&#8221;.<sup>3</sup></p>
<p>Ketika, kini, kita hidup di masa yang warna dan gayanya seperti sekarang ini, tentu kitalah yang bertanggung jawab untuk menjadi penyambung mata rantai tersebut agar generasi sesudah kita nanti juga menikmati nilai-nilai Islam tersebut sebagaimana kita pun bisa menikmatinya tak lepas dari jerih payah para pendahulu kita yang telah mewariskan nilai-nilai tersebut kepada kita. Dalam makna yang lebih spesifik lagi, bisa dikatakan bahwa masa depan ummat ini juga bergantung dalam batas yang besar kepada bagaimana generasi yang ada pada masa kini mempersiapkannya. Pekerjaan ini memang amat berat. Bahkan harus dipikirkan oleh setiap pihak. Hanya saja kita dapat belajar kepada para <em>salafussholih</em> kita, bagaimana mereka dapat sukses mengemban amanah sebagai penyambung mata rantai Islam untuk masa yang mereka hidup di dalamnya. Peri hidup mereka, mengajarkan kepada kita bahwa wujud dan dunia pengembanan itu adalah dunia ilmu. Sehingga, kita pun harus melanjutkan dunia mereka itu dalam konteks masa kita sekarang ini. Sedangkan, dunia amal adalah sesuatu yang sudah jelas tidak bisa dipisahkan dari dunia ilmu.</p>
<p>Banyak sekali sikap dan perilaku para <em>salafussholih</em> dalam hal tersebut di atas yang bisa kita ikuti dan kita jadikan pelajaran ketika kita hendak menuntut ilmu, menambah ilmu atau hendak mengoptimalkanan mengfungsikan ilmu yang sudah kita miliki, sebagai bentuk pelaksanaan amanah untuk meneruskan dan menyambung mata rantai nilai-nilai Islam.<br />
Di samping adanya landasan yang kuat berupa niat yang ikhlas, takwa kepada Allah, <em>tawadhu&rsquo;</em> dan lain sebagainya, ada beberapa sikap penting yang perlu diteladani. Sikap-sikap tersebut antara lain:</p>
<p><strong>1. Ilmu harus dicari, tidak datang sendiri</strong></p>
<p>Setiap muslim harus menekuni bidang ilmu yang digeluti. Ia harus mencari &#038; terus mencari. Karena memang ilmu itu tidak akan datang kepada pencarinya, atau menyulap orang dalam sekejap menjadi orang-orang yang mahir dan ahli. Allah SWT berfirman, &#8220;Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati agar kamu bersyukur&#8221;.<sup>4</sup> Dengan begitu, tidak ada manusia yang lahir dalam keadaan pintar. tapi dengan menggunakan pendengaran, penglihatan dan hati untuk  menuntut ilmu dan atas karunia Allah-lah manusia menjadi punya ilmu.</p>
<p>Jabir bin Abdulloh ra pergi ke Syam menempuh perjalanan selama satu bulan hanya untuk mendengar satu hadits saja dari Abdulloh bin Unais ra.<sup>5</sup> Hadits tersebut ialah bahwa Rasulullah saw saw bersabda, &#8220;Sesungguhnya manusia itu nanti akan dibangkitkan di hari kiamat dalam keadaan tidak memakai alas kaki, tidak memakai pakaian dan tidak dikhitan&#8221;. 6</p>
<p>Sedangkan Abu Ayyub Al-Anshori pergi dari Madinah ke Mesir menemui &rsquo;Uqbah bin Amir hanya untuk mendengarkan satu hadits saja yaitu sabda Rasulullah saw, &#8220;Barangsiapa mentutupi aib saudara muslimnya di dunia maka Allah akan menutup aibnya di hah kiamat&#8221;.<sup>7</sup> </p>
<p>Abul &rsquo;Aliyah berkata, &#8220;Kalau kami mendengar sebuah hadits itu datang dari seorang sahabat, kami tidak puas kecuali kami pergi menemui sahabat yang memiliki hadits tersebut&#8221;.<sup>8</sup></p>
<p><strong>2. Membiasakan menghafal</strong></p>
<p>Ilmu itu memerlukan amal, sedang pelaku amal itu tentu manusia pemilik ilmu tersebut. Sehingga mau tidak mau ilmu tersebut harus banyak dihafal. Karena itu, tidak mungkin seorang pun yang bisa membawa ilmunya kalau ilmu tersebut hanya ada dalam catatan saja. Berapa banyak catatan yang harus dibawa. Karenanya, membiasakan menghafal adalah salah satu sikap yang harus dipegang teguh. </p>
<p>Abu Zur&rsquo;ah berkata, &#8220;Adalah Imam Ahmad bin Hambal hafal satu juta hadits&#8221;. </p>
<p>Berkata Sulaiman bin Syu&rsquo;bah, &#8220;Sesungguhnya murid-murid Abu Dawud menyalin hadits dari Abu Dawud sebanyak empat puluh ribu hadits, sedangkan Abu Dawud tidak memiliki buku&#8221;. </p>
<p>Sementara itu, Abu Zur&rsquo;ah Arrozi berkata, &#8220;Aku ini hafal dua ratus ribu hadits seperti bagaimana orang lain menghafal surat Al-Ikhlash&#8221;.<sup>9</sup></p>
<p><strong>3. Membuat Karya Tulis</strong></p>
<p>Untuk mengimbangi dan memperkuat kapasitas keilmuan seseorang, seharusnya ia membiasakan diri unutk membuat karya tulis. Dimulai dari yang kecil dan seterusnya. Tidak mesti karya tersebut dipublikasikan dan diakui orang lain karena hal itu bukan satu-satunya tolok ukurnya. Minimalnya, setidak-tidaknya ia akan memberikan manfaat yang sangat besar bagi penulisnya sendiri. Kemudian selebihnya, orang-orang yang hidup di masa sesudahnya bisa juga menikmati karya-karya tersebut.</p>
<p>Ibnul &rsquo;Arobi menulis dalam bidang Taf-sier sebanyak delapan puluh juz. Itu di luar karyanya yang lain dalam bidang Ushul, Hadits, dan juga Tarikh). </p>
<p>Ibnu Abi Dunya menulis seribu karya tulis. Imam Al-Ha-kim menulis lebih dari seribu macam. Ibnu &rsquo;Asakir menulis dalam bidang Tarikh sebanyak delapan puluh jilid.<sup>10</sup></p>
<p><strong>4. Memperbarui semangat</strong></p>
<p>Sesungguhnya menuntut ilmu dan mengembangkannya itu diperlukan jiwa yang bersemangat besar. Tidak dan bukan semangat yang hanya musiman. Untuk itu, yang diperlukan adalah bagaimana setiap muslim selalu memperbarui semangatnya agar perubahan-perubahan yang terjadi dalam hidup ini tidak sampai merusak semangat dirinya untuk menuntut ilmu. Karena jika semangatnya saja sudah tidak dimiliki,  bagaimana mungkin hal-hal lain bisa diharapkan. </p>
<p>Ibnu &rsquo;Aqil Al Hanbali berkat, &#8220;Sesungguhnya semangatku untuk menuntut ilmu di usiaku yang delapan puluh tahun sama dengan semangatku ketika usiaku baru dua puluh tahun&#8221;.</p>
<p>Semangat itu sangat diperlukan sebagai modal awal dan utama untuk menuntut ilmu. </p>
<p>Suatu hari, Ibnu Jarir At Thabari menawarkan kepada murid-murid dan teman-temannya. &#8220;Maukah kalian belajar tafsir?&#8221;. Maka mereka menjawab, &#8220;Berapa banyaknya?&#8221;. At Thabari menjawab, &#8220;Tiga puluh ribu lembar&#8221;. Murid-muridnya itu pun berkata, &#8220;Sungguh itu adalah jumlah yang sangat banyak. Mungkin usia kita akan habis sementara pelajaran tafsir itu belum selesai.&#8221;<br />
Maka diringkaslah oleh At Thabari menjadi tiga ribu lembar. Kemudian ketika mereka ditanya tentang apakah mereka mau belajar sejarah manusia semenjak masa Adam hingga masanya, mereka pun menjawab dengan hal yang sama.  Setelah mendengar itu,  berkatalah At Thabari, &#8220;Sungguh telah mati semangat dan kemauan kalian&#8221;. Lalu, ia meringkas sejarah itu dalam sekitar tiga lembar ribu lembar pula.<sup>11</sup></p>
<p><strong>5. Berbuat setiap saat</strong></p>
<p>Di samping semangat, yang perlu dilakukan juga ialah bagaimana aktifitas peningkatan dan pencarian ilmu itu dilakukan setiap saat. Merenung dalam ilmu, berbuat dalam ilmu, dan berfikir dalam ilmu.</p>
<p>Ibnu &rsquo;Aqil Al Hanbali berkata, &#8220;Sesungguhnya tidak benar bagiku menyia-nyiakan sesaat pun dari usiaku. Sampai pun kalau lisanku berhenti dari menghafal, atau mataku berhenti dari membaca, maka aku menyibukkan pikiranku pada saat istirahatku itu hingga ketika aku bangun pasti telah memiliki dalam diriku apa yang akan aku tulis kemudian&#8221;.</p>
<p>Apabila Imam Bukhori terjaga dari dari tidurnya, maka ia menyalakan lenteranya kemudian ia menulis apa-apa yang terbetik dalam dirinya dari berbagai ilmu. Kemudian ia tidur lagi. Begitu seterusnya sampai kadang-kadang dalam satu malam ia melakukan hal itu sebanyak dua puluh kali.<sup>12</sup></p>
<p>Imam Juwaini berkata, &#8220;Biasanya aku tidak pernah tidur dan makan. Tetapi aku tidur karena tertidur dan makan karena aku memang telah membutuhkannya. Sehingga aku tidur dan makan kapan saja. Karena kenimatanku ada pada menuntut ilmu.<sup>13</sup></p>
<p><strong>6. Sepanjang hayat.</strong></p>
<p>Menuntut ilmu tidak dibatasi pada masa tertentu. Sampai ada kalimat bijak yang mengatakan, &#8220;Tuntutlah ilmu semenjak buaian hingga menjelang ke liang kubur&#8221;. Selama manusia masih bisa mencarinya maka ia harus mencarinya.</p>
<p>Muhammad bin Ishaq telah mengambil ilmu dari seribu tujuh ratus orang guru. Ia pergi menuntut ilmu dalam usia dua puluh tahun dan pulang dalam usia empat puluh lima tahun. Sedangkan Imam Bukhari mengambil ilmu lebih dari seribu orang syeikh. </p>
<p>Ketika Ibnu Jarir At Thabari menjelang wafat, orang yang ada di sekitarnya menyebut sebuah doa yang diriwayatkan oleh Ja&rsquo;far bin Muhammad. At Thabari meminta orang yang ada di sekitarnya itu untuk mengambilkan pena dan kertas. Maka orang-orang yang ada di sekitarnya pun berkata, &#8220;Kondisi engkau sudah seperti ini, tidak usahlah&#8221;. Namun, At Thabari menjawab, &#8220;Tidak semestinya seseorang itu meninggalkan datangnya ilmu meskipun sampai mati&#8221;. Kemudian beberapa saat setelah menulis do&rsquo;a itu beliau pun meninggal dunia.</p>
<p>Masa depan generasi mendatang sekaligus juga tanggung jawab generasi saat ini. Dan peranan ilmu mengambil porsi yang amat besar dalam hal ini. Tinggal bagaimana kita kini menekuni dan terus meningkatkan kapasitas ilmu kita masing-masing. Sehingga kita pun menjadi orang yang memang telah ikut mempersembahkan bagi umat ini salah satu mata rantai nilai-nilai Islam yang kelak akan disambut dengan senang hati oleh generasi sesudah kita.</p>
<p>Alhasan bin Ali berkata, &#8220;Belajarlah kalian dan tuntutlah ilmu. Sesungguhnya, jika kini kalian adalah orang-orang yang kecil dan tidak diperhitungkan manusia,kelak kalian akan menjadi orang-orang besar yang diperlukan mereka&#8221;.<sup>14</sup> </p>
<p>Ibnu Mas&rsquo;ud, &#8220;Ketahuilah bahwa tidak ada di antara kalian satupun yang dilahirkan dalam keadaan berilmu. Sesungguhnya ilmu itu diperoleh dengan jalan belajar. Maka jadikanlah dirimu sebagai orang yang ahli ilmu, atau orang yang menuntutnya, atau orang yang mendengarkannya. Belajarlah kalian, karena sesungguhnya kalian tidak tahu kapan ilmu kalian itu akan dibutuhkan&#8221;.<sup>15</sup></p>
<p>Catalan Kaki:</p>
<ol>
<li>Riwayat Bukhari (V/l 90) dan Muslim (2533), dari banyak jalan.</li>
<li>Hadils marfu&rsquo; dari Abu Darda&rsquo; dengan jalan yang banyak sehingga derajatnya sampai hasan. Riwayat Abu Dawud (3641), Tirmidzi (2682), dan Ibnu Majah (223).</li>
<li>Riwayat Muslim (1920) dari Tsauban. Yang dimaksud dengan segalongan ummatku itu menurut Bukhari adalah ahli ilmu. Sedangkan, menurut Imum Ahmad adalah ahli Hadits. Adapun Imam Nawawi melihat bahwa ia tidak terbatas pada golongan yang punya keahlian tertentu. Kemudian yang dimaksud dengan &#8220;urusan Allah&#8221; dalam hadits itu ialah angin yang akan bertiup dan mematikan setiap jiwa yang punya imam nanti menjelang hari kiarnat.</li>
<li>Al-Qur&rsquo;qn Sural An-Nahl ayat 78.</li>
<li>Al-&rsquo;llmu Dhoruroh Syar&rsquo;iyyah, Dr. Noshir Al-Umar hal. 20.</li>
<li>Riwayat Muslim dari Aisyah  (2859),</li>
<li>Riwoyat Bukhori (2310) dan Muslim (2580).</li>
<li>Thobaqah Ibnu Sa&rsquo;ad (VII/122).</li>
<li>Sifatusshofwah (11/337, IV/88).</li>
<li>Al-&rsquo;llmu Dhoruroh Syar&rsquo;iyyah, hal 25.</li>
<li>ibid</li>
<li>ibid</li>
<li>ibid</li>
<li>Jami&rsquo;u Bayanil &rsquo;ilmi, Ibnu Abdul Barr (1/82).</li>
<li>Al-Adab Assyar&rsquo;iyyah, Ibnul Muflih (11/36).</li>
</ol>
<p>Sumber: Waqfah edisi 07 Volume 1 Tahun 1996</p>
<p>Dipublikasi ulang <a href="http://www.pks-sidoarjo.org">Admin DPD PKS Sidoarjo</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pks-sidoarjo.org/kaderisasi/ilmu-dan-masa-depan-umat.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bercermin dari Semangat Salafush-Shalih Menuntut Ilmu</title>
		<link>http://pks-sidoarjo.org/kaderisasi/bercermin-dari-semangat-salafush-shalih-menuntut-ilmu.htm</link>
		<comments>http://pks-sidoarjo.org/kaderisasi/bercermin-dari-semangat-salafush-shalih-menuntut-ilmu.htm#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 18 Jan 2010 00:53:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>webmaster</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kaderisasi]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pks-sidoarjo.org/?p=799</guid>
		<description><![CDATA[Ilmu adalah pelita amal. Melaksanakan amal tanpa ilmu, kata Umar bin Abdul Aziz, lebih banyak merusaknya ketimbang memperbaikinya.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ilmu adalah pelita amal. Melaksanakan amal tanpa ilmu, kata Umar bin Abdul Aziz, lebih banyak merusaknya ketimbang memperbaikinya. Dalam konteks ini, amal yang dilakukan <em>harakah</em> (gerakan) Islam menuntut persyaratan ilmu yang tak sedikit karena proyek yang mesti ditangani harakah Islam melingkupi seluruh alam semesta. Tanggung-jawabnya tak hanya sebatas di dunia, namun memanjang hingga akhirat.<br />
<span id="more-799"></span><br />
Menyeru manusia menemukan fitrah dan kehidupan hakiki di tengah segala kebisingan dan kegaduhan <em>jahiliyah</em> adalah sebuah upaya yang memerlukan tujuan, target, sasaran, metode, strategi dan cara yang ihsan. Dan peran ilmu memandu harakah Islam mendapatkan jalan efektif untuk menyeru manusia adalah sebuah kemutlakan. </p>
<p>Yusuf Qardlawi, dalam Nahwa Wihdatul Fikrah, mengulas ayat,&#8221; Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan melainkah Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin laki-laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat tinggalmu.&#8221; (QS. Muhammad: 19), dengan mengatakan bahwa ayat ini secara eksplisit menempatkan ilmu lebih dahulu baru amal.</p>
<p>Sesunggunyalah, warisan <em>harakah</em> yang kini diemban para aktivis Islam diikuti dengan pencarian intensif saudara kembar amal: ilmu. Perpaduan ilmu dan amal inilah yang menjadi kunci sukses sejak masa Rasul, sahabat, <em>tabiin</em>, <em>tabit-tabiin</em> dan <em>salafush-shaleh</em> setelahnya.</p>
<p>Tatkala ilmu berpisah dari amal, maka kita mesti bersiap menghadapi bencana. Baik karena jalan perjuangan menjadi panjang akibat lambatnya kita berjalan. Atau musuh-musuh telah merancang strategi baru yang mengungkung kita selalu dalam tempurung.</p>
<p>Kisah Imam Syafi&rsquo;i saat menetap di Baghdad yang cuplikannya diambil dari Tarikh Baghdad memberi kita pelajaran berharga tentang bagaimana salaf mensikapi dan mengormati serta merindui ilmu.</p>
<p>&#8220;Bagaimana semangat anda menuntut ilmu?&#8221; </p>
<p>Syafi&rsquo;i ra. menjawab, &#8220;Saya mendengarkan huruf demi huruf seakan-akan huruf-huruf itu belum pernah saya temukan selama ini. Karena itu, saya kerahkan seluruh anggota tubuh saya untuk menyimaknya.&#8221;</p>
<p>Sang penanya melanjutkan,&#8221; Bagaimana minat anda terhadap ilmu?&#8221; </p>
<p>Jawaban Syafi&rsquo;i hampir senada, &#8220;Minat saya laksana orang mengumpulkan makanan yang berambisi menikmati kelezatannya secara sempurna.&#8221;</p>
<p>&#8220;Dan bagaimana cara anda mencarinya,&#8221; lanjut si penanya.</p>
<p>&#8220;Saya mencarinya laksana seorang wanita yang kehilangan anak satu-satunya yang di dunia ini ia tidak memiliki apapun selain dia.&#8221;</p>
<p>Sumber: WAQFAH edisi 07 Volume 1 1996</p>
<p>Dipublikasi ulang <a href="http://www.pks-sidoarjo.org">Admin DPD PKS Sidoarjo</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pks-sidoarjo.org/kaderisasi/bercermin-dari-semangat-salafush-shalih-menuntut-ilmu.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pemuda</title>
		<link>http://pks-sidoarjo.org/kaderisasi/pemuda.htm</link>
		<comments>http://pks-sidoarjo.org/kaderisasi/pemuda.htm#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 11 Jan 2010 00:52:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>webmaster</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kaderisasi]]></category>
		<category><![CDATA[Pemuda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pks-sidoarjo.org/?p=797</guid>
		<description><![CDATA[Hampir seluruh gerakan di dunia, sejak zaman purba hingga zaman satelit ini, melakukan langkah yang sama. Bahkan ketika Islam mencetuskan gerakan dakwahnya belasan abad yang silam.

Ali bin Abi Thalib RA adalah seorang pemuda belasan tahun ketika masuk Islam dan menjadi orang-orang terdahulu ke-islamannya (assabiqu al awwaluuna). Usamah bin Zaid bin Haritsah adalah seorang pemuda belasan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hampir seluruh gerakan di dunia, sejak zaman purba hingga zaman satelit ini, melakukan langkah yang sama. Bahkan ketika Islam mencetuskan gerakan dakwahnya belasan abad yang silam.<br />
<span id="more-797"></span><br />
Ali bin Abi Thalib RA adalah seorang pemuda belasan tahun ketika masuk Islam dan menjadi orang-orang terdahulu ke-islamannya (<em>assabiqu al awwaluuna</em>). Usamah bin Zaid bin Haritsah adalah seorang pemuda belasan tahun ketika menjadi pimpinan pasukan muslim yang dikirim ke wilayah perbatasan Arab-Romawi pada detik-detik terakhir kehidupan Rasulullah SAW.</p>
<p>Ada ungkapan dari Rasulullah SAW yang menarik, sabdanya, &#8220;<em>Hati orang tua (dapat menjadi) muda di atas dua kecintaan: cinta kehidupan dan cinta harta.</em>&#8221; Hadits yang dishahihkan Imam Suyuthy ini diriwayatkan oleh Muslim dan Ibn Majah dan dalam lafaz sedikit berbeda diriwayatkan oleh Ahmad, At Tirmidzy dan Hakim.</p>
<p>Apakah yang tergambar tentang identitas muda dalam hadits tersebut? Ya, kemudaan adalah cerminan kekuatan, kesemangatan dan kepolosan. Kondisi yang seperti itu membuat pemuda menjadi unsur yang paling mudah untuk digerakkan dan diarahkan.</p>
<p>Dari sifat-sifat di atas, muncullah dua hal yang paling menonjol pada diri pemuda dalam sebuah gerakan. <strong>Pertama, kedudukannya sebagai basis operasional dan kedua, perannya dalam proses kaderisasi.</strong> Kekuatan dan kesemangatan membuat mereka menjadi sangat cocok bagi peran operasional yang membutuhkan energi besar. Sedangkan kepolosannya memudahkan para penggerak untuk menanamkan nilai-nilai yang akan memotivasi aktivitas gerakan.</p>
<p>Rasulullah SAW sangat menghargai dan potensi kepemudaan ini. Dalam sebuah hadits yang menceritakan tujuh macam orang yang bakal dinaungi Allah di bawah naungan-Nya, satu di antaranya pemuda yang bersemangat menghambakan diri kepdda Allah (<em>syabbun nasya-a fi &rsquo;ibadatillahi &rsquo;azza wajalla</em>), dan seterusnya. Hadits ini diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim, Ahmad, An Nasaai, At Turmidzy dan Malik melalui jalan Abu Hurayrah dan Abu Sa&rsquo;id.</p>
<p>Hadits ini jelas merupakan arahan bagi para pemuda untuk menyalurkan potensinya kepada kebaikan yang sejati. Kebaikan yang akan membuat mereka jaya di dunia dan juga jaya di akhirat. Berhamba hanya kepada Allah, berjuang hanya untuk kejayaan Islam, bekerja keras hanya untuk menegakkan kebenaran yang sejati. Inilah jalan hidup pemuda muslim yang sangat berharga untuk disia-siakan.</p>
<p>Sumber: WAQFAH edisi 07 Volume 1 1996</p>
<p>Dipublikasi ulang <a href="http://www.pks-sidoarjo.org">Admin DPD PKS Sidoarjo</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pks-sidoarjo.org/kaderisasi/pemuda.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menyambut Perlindungan Allah</title>
		<link>http://pks-sidoarjo.org/kaderisasi/menyambut-perlindungan-allah.htm</link>
		<comments>http://pks-sidoarjo.org/kaderisasi/menyambut-perlindungan-allah.htm#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Dec 2009 23:19:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>webmaster</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kaderisasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pks-sidoarjo.org/?p=723</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Peliharalah (hubungan dengan) Allah niscaya Allah akan memelihara kamu. Peliharalah (hubungan dengan) Allah niscaya engkau akan menemukan-Nya di mana saja&#8221;. (HR Turmudzi no 2516, HR Ahmad 1/294)

Sesungguhnya perlindungan Allah atas diri kita juga tergantung bagaimana kita menjaga (komunikasi dengan) Allah. Maka dari itu salah satu nasehat penting yang disampaikan Rasulullah kepada Ibnu Abbas pada suatu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;Peliharalah (hubungan dengan) Allah niscaya Allah akan memelihara kamu. Peliharalah (hubungan dengan) Allah niscaya engkau akan menemukan-Nya di mana saja&#8221;. (HR Turmudzi no 2516, HR Ahmad 1/294)<br />
<span id="more-723"></span><br />
Sesungguhnya perlindungan Allah atas diri kita juga tergantung bagaimana kita menjaga (komunikasi dengan) Allah. Maka dari itu salah satu nasehat penting yang disampaikan Rasulullah kepada Ibnu Abbas pada suatu hari ialah, &#8220;Peliharalah (hubungan dengan) Allah niscaya Allah akan memelihara kamu. Peliharalah (hubungan dengan) Allah niscaya engkau akan menemukan-Nya di mana saja&#8221;. (HR Turmudzi no 2516, HR Ahmad 1/294).</p>
<p>Hadits ini sungguh besar muatannya. Sulaiman bin Dawud berkata, &#8220;Sesungguhnya kami mempelajari apa-apa yang dipelajari oleh manusia dan apa-apa yang belum mereka pelajari. Dan ternyata kami menemukan bahwa tidak ada yang lebih berharga dari &#8220;menjaga (hubungan dengan) Allah baik secara sembunyi maupun terang-terangan&#8221;.</p>
<p>Menjaga hubungan dengan Allah, harus dilakukan dengan dua jalan. Pertama, seorang muslim harus menjaga sisi batinnya. Yang hal ini, tentu saja berkaitan dengan masalah keimanan dan ketakwaan serta komunikasi batin dengan Allah yang secara formalnya divisualisasikan dalam ibadah-ibadah ritual. Baik yang wajib maupun yang sunnah. Seperti sholat, puasa, haji dan lainya. Sedang visualisai non-formalnya adalah komunikasi batin dengan Allah yang bebas, di luar ibadah formal itu. Disinilah, setiap amal yang dilakukan sebaiknya diawali dengan membaca basmallah. Dalam hal ini, peran dzikir mengambil bagian yang amat besar untuk menentukan apakah terjadi komunikasi yang kontinyu antara batin seorang muslim dengan Rabbnya setiap saat atau tidak.</p>
<p>Yang kedua, sorang muslim harus menjaga sisi lahirnya. Yaitu menjaga anggota badan beserta aktifitasnya agar tetap berada dalam kebenaran. Karena proses &#8220;terpengaruh dan mempengaruhi&#8221; (<em>taatsur wa ta&rsquo;tsir</em>) sangat kuat antara sisi batin seorang manusia dengan sisi lahirnya. Hasil dari proses tersebut dari sisi lahirnya sering diwakili oleh raut wajah dan air mukanya.</p>
<p>Banyak sekali anggota badan yang harus dijaga oleh seorang muslim. Antara lain:</p>
<p><strong>1. Menjaga lisan</strong></p>
<p>Banyak sekali dosa-dosa yang sumbernya dari lisan. Suatu hari Rasulullah memegang lisannya seraya berkata kepada Ibnu Abbas, &#8220;Peliharalah olehmu ini!&#8221; Maka Ibnu Abbas bertanya, &#8220;Wahai Rasulullah, apakah kita akan ditanya tentang apa-apa yang kita ucapkan?&#8221;. Maka Rasulullah menjawab, &#8220;Lalu apa yang menyebabkan banyak sekali orang ditenggelamkan mukanya ke dalam neraka kalau bukan karena lisan mereka&#8221;. (HR Turmudzi no. 2616).</p>
<p>Rasulullah Saw bersabda, &#8220;Siapa yang memelihara apa yang ada d iantara kumis dan jenggotnya serta menjaga apa yang ada di antara pahanya maka aku menjamin ba-ginya sorga&#8221;. (HR Bukhori no. 6473).</p>
<p><strong>2. Menjaga pendengaran</strong></p>
<p>Seorang muslim yang ingin menjaga hubungannya dengan Allah harus menjaga pendengarannya dari hal-hal yang dilarang. Karena semuanya akan dimintai pertanggungan jawab. Firman Allah, &#8220;Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya&#8221;. (QS Al-Isro&rsquo;: 36).</p>
<p><strong>3. Menjaga penglihatan</strong></p>
<p>Banyak bencana dan malapetaka yang berawal dan bersumber dari mata. Mata yang lepas kepada yang diharamkan Allah maka ia adalah anak panah iblis. </p>
<p>Seorang salafussholih berkata, &#8220;Betapa banyak pandangan yang memerosokkan ke dalam kubangan, betapa banyak mata yang menghantarkan ke neraka, betapa banyak lirikan yang berubah jadi penyesalan di hari pembalasan&#8221;.</p>
<p><strong>4. Menjaga perut</strong></p>
<p>Setiap muslim hendaklah menjaga perutnya. Bagaimana agar apa-apa yang masuk ke dalamnya adalah apa-apa yang memang dibolehkan. </p>
<p>Rasulullah Saw bersabda, &#8220;Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah itu baik. Dan sesungguhnya Ia tidak menerima kecuali yang baik-baik. Dan sesungguhnya Allah menyuruh kepada orang-orang yang beriman dengan apa-apa yang diperintahkan kepada para Rasul-Nya, maka dari itu Ia berfirman, &#8220;Wahai para Rasul, makanlah apa-apa yang baik dan beramal shalihlah kalian, sesungguhnya Aku Maha Kengetahui apa yang kalian lakukan&#8221;.</p>
<p><strong>5. Menjaga kaki dan tangan</strong></p>
<p>Seorang muslim hendaknya selalu menjaga tangannya agar tidak digunakan untuk hal-hal yang dilarang oleh syari&rsquo;at Islam. Tidak menghiasi kakinya dengan langkah-langkah yang diharamkan oleh Islam. Karena semua itu nanti di hari kiamat akan menjadi saksi. Firman Allah, &#8221; Pada hari (ketika) lidah, tangan, dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan&#8221;. (QS An-Nur: 24).</p>
<p>Menjaga sisi lahir sebenarnya juga tidak bisa dilepaskan sebagai bagian dari menjaga hubungan dan komunikasi dengan Allah. Karena ketika seseorang menggunakan anggota badannya, baik dan tidaknya pekerjaan yang dilakukan oleh anggota badan itu juga sangat tergantung besar kepada apakah ketika seseorang tersebut melakukan suatu pekerjaan ia mengingat Allah atau tidak.</p>
<p>Jika seseorang mampu menjaga dirinya dalam rangka menjaga (hubungannya dengan) Allah, maka Allah akan memberikan balasan yang setimpal, yaitu perlindungan Allah atas orang tersebut. Banyak sekali bentuk perlindungan Allah yang diberikan kepada orang-orang tersebut. Di antaranya:</p>
<p><strong><em>Pertama, dilindungi dari makar musuh.</em></strong> Ketika sudah jengkel dengan apa yang diserukan oleh Nabi Ibrahim, para ummat Nabi Ibrahim sepakat untuk membakar Nabi Ibrahim. Maka dinyalakanlah api yang sudah disiapkan dan Nabi Ibrahim diletakkan di atas <em>manjaniq</em> (alat pelempar). Di saat-saat genting itulah, datang Jibril seraya berkata, &#8220;Wahai Ibrahim apakah engkau memerlukan bantuanku?&#8221;. Maka Ibrahim menjawab, &#8220;Adapun kepadamu maka aku tidak perlu, tapi kalau kepada Allah maka aku sungguh perlu&#8221;. (Tafsir Ibnu Katsir 11/294). Maka kata yang diucapkan Nabi Ibrahim adalah, &#8220;HasbunAllohu wani&rsquo;mal wakil&#8221;. (HR Bukhori no. 4563). Akhirnya, api itu dijadikan dingin namun tetap nyaman.</p>
<p>Nabi Ibrahim mendapat perlindungan dari Allah karena memang ia selalu menjaga (hubungan dengan) Allah.</p>
<p><strong><em>Kedua, dilindungi dari penguasa yang kejam.</em></strong> Suatu hari Thowus melihat seorang muslim yang nampak zuhud dan ahli ibadah sedang melakukan thowaf. Pada saat itu juga Hajjaj bin Yusuf sang pembunuh yang terkenal juga sedang berada di situ dan dikawal oleh para pengawalnya yang membawa sejata lengkap. Tiba-tiba baju orang zuhud yang thowaf tersebut menyangkut pada salah satu tombak pengawal tersebut dan tombaknya pun jatuh mengenai Hajjaj bin Yusuf. </p>
<p>Maka dipeganglah orang itu oleh Hajjaj dan dihardik, &#8220;Siapa kamu&#8221;.</p>
<p>Orang itu menjawab, &#8220;Aku seorang muslim&#8221;.</p>
<p>&#8220;Dari mana kamu?!&#8221;. </p>
<p>&#8220;Aku dari Yaman&#8221;. </p>
<p>&#8220;Bagaimana keadaan saudaraku!&#8221;. </p>
<p>(Hajjaj bin Yusuf memiliki saudara yang juga sama perangainya dengan dia yang tinggal di Yaman. Namanya Muhammad bin Yusuf). </p>
<p>Maka orang tersebut menjawab, &#8220;Aku tinggalkan dia dalam keadaan gemuk dan gendut perutnya&#8221;. </p>
<p>Maka Hajaj bin Yusuf marah seraya berkata, &#8220;Bukan itu yang aku maksud. Memangnya kamu tidak tahu siapa aku?&#8221;. </p>
<p>Orang tersebut lantas bertanya, &#8220;Siapa kamu?!&#8221;. </p>
<p>Hajjaj menjawab, &#8220;Aku inilah Hajjaj bin Yusuf!&#8221;. </p>
<p>Maka orang tersebut menjawab, &#8220;Apakah kamu mengira bahwa aku akan punya rasa takut dan akan hormat kepada dirimu lebih besar dari pada rasa takutku kepada Allah Tuhanku&#8221;.</p>
<p>Thowus berkata, &#8220;Melihat peristiwa itu berdiri semua bulu kudukku. Ternyata Hajjaj membiarkan saja orang itu padahal semua orang tahu siapa Hajjaj sang pembunuh itu&#8221;.</p>
<p>Allah melindungi orang tersebut karena ia selalu menyambut perlindungan Allah dengan menjaga dirinya dan dengan menjaga hubungan dirinya dengan Allah.</p>
<p>Adalah Abdulloh bin Ali (ia adalah paman dari Abu Ja&rsquo;far Al-Manshur, sangat bengis dan tidak pernah tersenyum selamanya. Pengawalnya ada sekitar tiga puluh ribu orang) menaklukkan Damaskus. Ia membunuh dalam satu jam tiga puluh ribu enam kaum muslimin. Kemudian ia memasukkan kuda-kudanya dan keledainya di dalam masjid Umawi, lalu duduk di hadapan para menterinya seraya berkata, &#8220;Adakan orang disini yang berani menentang apa yang aku lakukan?&#8221;. </p>
<p>Para menterinya menjawab, &#8220;Tidak ada.&#8221; </p>
<p>Lalu ia bertanya lagi, &#8220;Adakah orang yang akan menentang perbuatanku&#8221;. </p>
<p>Mereka menjawab, &#8220;Kalau pun ada ia adalah Al-Auza&rsquo;i&#8221;. </p>
<p>(Al-Auza&rsquo;i adalah seorang yang zuhud dan salah satu perawi dalam shohih Bukhori). </p>
<p>Maka dihadirkanlah ia. </p>
<p>Maka seketika itu Al-auza&rsquo;i berucap, &#8220;HasbunAllahu wani&rsquo;mal wakil&#8221;. Karena dia tahu bahwa permasalahannya pasti kematian. Al-auza&rsquo;i bekata, &#8220;Maka ketika aku masuk menghadapnya, aku melihatnya seperti seekor lalat. Saat itu, aku tidak ingat siapapun, tidak istri dan anakku, tidak juga hartaku. Tapi, aku ingat singgasana (Arsy) Allah SWT bagaimana kalau nampak di hadapan manusia pada hari kiamat&#8221;.</p>
<p>Maka terjadilah dialog yang lama dan panjang di antara keduanya. Namun akhirnya, Al-Auza&rsquo;i yang sudah diangkat surbanya dengan rotan oleh Abdullah bin Ali, tanda akan dibunuh, akhirnya diselamatkan oleh Allah. Ia dilindungi Allah karena memang telah menyebut perlindungan itu sebelumnya.</p>
<p><strong><em>Ketiga, dilindungi dan dijaga keturunanannya.</em></strong> Sesungguhnya perpisahan antara Nabi Ya&rsquo;qub dengan anaknya Nabi Yusuf cukup lama. </p>
<p>Al-Hasan Al-Bashrie berkata, &#8220;Sesungguhnya jarak antara berpisahnya Nabi Ya&rsquo;qub dengan Nabi Yusuf adalah delapan puluh tahun. Selama itu, kesedihan tidak pernah pergi meninggalkan dirinya. Air mata juga tidak pernah berhenti membasahi pipinya&#8221;. Maka ternyata Allah melindungi Nabi Yusuf dan mempertemukan kembali antara keduanya. Semua itu tidak lain adalah perlindungan Allah yang diberikan kepada orang-orang yang selalu menjaga hubungannya dengan Allah SWT.</p>
<p>Ketika Kholifah Umar bin Abdul Aziz meninggal dunia, anak-anaknya tidak memiliki harta sama sekali. Maka dipanggillah semua anak-anaknya: tujuh laki-laki dan tujuh perempuan. Dengan air mata yang mengalir ia berkata kepada anak-anaknya, &#8220;Sesungguhnya aku tidak meninggalkan untuk kalian kekayaan. Akan tetapi, aku meninggalkan buat kalian Zat Yang Maha Tunggal. Jika kalian memang menjadi orang-orang yang taat, Dia pasti akan melindungi kalian. Tetapi kalau kalian bermaksiat kepada Allah, ketahuilah sesungguhnya aku tidak mungkin akan membantu kalian dalam bermaksiat kepada Allah&#8221;.</p>
<p>Tidak lama kemudian kholifah Umar Din Abdul aziz wafat. Dan kebanyakan ulama mengatakan bahwa anak-anak beliau setelah itu menjadi orang-orang yang terkaya di masanya.</p>
<p><strong><em>Keempat, dilindungi anggota badannya.</em></strong> Adalah Asma&rsquo; binti Abu Bakar-seperti dikatakan oleh Urwah bin Zubair-usianya mencapai seratus tahun lebih namun begitu tidak satupun giginya ada yang lepas dan tidak sedikitpun akalnya mengalami kepikunan. (Al-Ishobah VIII/8).</p>
<p>Suatu hari Imam Thobari mendekati kapal yang akan dinaikinya. Ketika telah mendekati pantai maka melompatlah ia ke kapal tersebut. Padahal, usianya waktu itu sekitar tujuh puluh tahun. Beberapa pemuda ada yang ingin melompat juga seperti dia. Tapi, ternyata tidak bisa. </p>
<p>Mereka bertanya kepada Imam Thobari, &#8220;Bagaimana engkau kuat melompat padahal usia engkau sudah lanjut sedang kami tidak bisa padahal kami masih muda &#8220;. </p>
<p>Maka Imam Thobari menjawab, &#8220;Sesungguhnya anggota badanku ini dulu aku rawat dan aku lindungi di hadapan Allah di waktu kecil. Kini di masa tua, Allah pun melindunginya&#8221;.</p>
<p><strong><em>Kelima, ditundukkannya binatang-binatang buas untuknya.</em></strong> Ketika &rsquo;Uqbah bin Nafi&rsquo; Al-Fihri ditugaskan oleh Mu&rsquo;awiyah untuk membuka Afrika, ia memasuki sebuah wilayah yang di kemudian hari dibangun menjadi kota Qoi-rowan. Waktu itu, masih berupa hutan belantara yang penuh dengan beruang, ular, serta binatang buas lainnya. Tidak mungkin manusia bisa tinggal di situ. Akhirnya, &rsquo;Uqbah mengadu kepada Allah, memohon dan berdoa kepada-Nya. Maka, disaksikannya kemudian binatang-binatang itu semuanya pergi dari sarangnya bersama anak-anak mereka.</p>
<p>Shilah bin Asy-yam adalah salah satu prajurit yang bergabung dengan Qutai-bah bin Muslim panglima-pembuka wilayah Islam yang terkenal. Suatu malam ketika di sebuah jabhah di dekat Kabul, ia meninggalkan prajurit yang lainnya dan pergi ke tengah hutan untuk melaksanakan sholat tahajjud. Ketika sedang sholat, tiba-tiba ada seekor singa datang berjalan mengitarinya. Maka, dengan tenang ia tetap meneruskan sholatnya. Setelah selesai dua rokaat, ia memandang ke arah singa tersebut seraya berkata, &#8220;Kalau engkau ke ini memang disuruh Allah untuk membunuhku, lakukanlah. Tapi, kalau engkau memang tidak disuruh membunuhku, pergilah&#8221;. Singa itupun berdiri dan pergi meninggalkannya.</p>
<p>Suatu hari Malik bin Dinar tertidur di ladang. Ketika bangun, tiba-tiba ia melihat seekot ular menggigit bunga dan mengibas-ngibaskan bunga itu di muka Malik bin Dinar untuk mengusir nyamuk dan lalat yang hinggap di mukanya ketika tidur itu.</p>
<p>Siapakah dibalik semua itu?. Ia adalah Allah SWT yang memberikan perlindungan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya</p>
<p><strong><em>Keenam, ditundukkannya benda mati.</em></strong> Diriwatkan oleh Imam Bukhori (no. 2291) bahwa dulu ada seorang yang sholih dari Bani Israil. Suatu ketika, ia perlu pinjam uang kepada saudaranya sebesar seribu dinar. Untuk ke rumah saudaranya itu ia harus menyeberangi lautan. Setelah saudaranya itu berkenan dipinjami maka ia meminta dihadirkan saksi. Maka yang meminjam itu berkata, &#8220;Cukuplah Allah sebagai saksi&#8221;. Kemudian minta dicarikan penanggung (kafil). Maka yang meminjam itu berkata, &#8220;Cukuplah Allah sebagai penanggungnya&#8221;. Dan ternyata yang dipinjami itu rela Allah sebagai saksi dan penanggungnya.</p>
<p>Ketika akan membayar hutangnya, orang tersebut tidak mendapatkan kapal. Setelah berkali-kali tidak ada kapal maka ia mengambil sebuah papan lalu ia pahat dan ia masukkan ke dalam papan itu uang sejumlah seribu dinar. Ia masukkan pula bersamanya surat singkat untuk saudaranya itu. Kemudian ia pergi ke laut seraya ber-do&rsquo;a kepada Allah, &#8220;Ya Allah, sesunggnya Engkau mengetahui bahwa aku dulu meminjam uang kepada si fulan seribu dinar lalu ia meminta penanggung, maka aku katakan cukuplah Allah sebagai penanggung dan ia ridha dengan itu, kemudian ia meminta saksi maka aku katakan bahwa cukuplah Allah sebagai saksi, dan ia pun ridha dengan hal itu. Sesungguhnya, Engkau Maha Mengetahui bahwa aku telah berusaha mencari kapal untuk pergi membayarnya. Dan ternyata, selalu tidak ada. Kini, aku menitipkannya uang ini kepada Engkau untuk disampaikan kepadanya&#8221;. Lalu dilemparkanlah papan itu ke laut.</p>
<p>Beberapa hari kemudian saudaranya itu menunggu pula barang kali ada kapai yang membawa saudaranya yang akar membayar hutangnya. Tetapi tidak ada kapal yang datang, malah ia menemukan sebuah papan di pinggiran pantai. Maka, diambillah papan itu dengan niat untuk kayu bakar bagi istrinya dirumah. Setelah dibelah, ternyata di dalamnya didapati uang seribu dinar dari saudaranya itu. Sementara kemudian saudaranya itu menyusul setelah ada kapal. Dengan niat membayar utangnya, barangkali memang uang yang dipapan itu tidak sampai. Setelah sampai, dikabarkan bahwa kirimannya dengan papan itu telah diterima&#8221;.</p>
<p>Perlindungan Allah haruslah disambut dengan menjaga hubungan dengan Allah. Yang dari sisi batin, akan menjadi sumber kekuatan hati yang utama dan yang paling besar. </p>
<p>Ketika ternyata, hati manusia adalah sesuatu yang paling berharga yang dimilikinya maka daya dukung kekuatan lahiriyyahnya yang juga dihasilkan dari menjaga hubungan dengan Allah dalam bentulk menjaga anggota fisik dan tampilan lahir, akan menhasilkan sesosok manusia muslim yang kokoh batin dan lahirnya dalam makna yang teramat luas dan melampaui sekedar jangkauan otak dan otot manusia.</p>
<p>Sumber: Waqfah Edisi 09/Volume I 1997 hal 34-38</p>
<p>Republished by <a href="http://www.pks-sidoarjo.org">DPD PKS Sidoarjo</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pks-sidoarjo.org/kaderisasi/menyambut-perlindungan-allah.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ribath</title>
		<link>http://pks-sidoarjo.org/kaderisasi/ribath.htm</link>
		<comments>http://pks-sidoarjo.org/kaderisasi/ribath.htm#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Dec 2009 23:15:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>webmaster</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kaderisasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pks-sidoarjo.org/?p=700</guid>
		<description><![CDATA[Di tengah gencarnya sekularisasi dan <em>ghazwul fikri</em> (pertarungan pemikiran), setiap Muslim dituntut untuk bertahan di masjid sebagai benteng akidah dan akhlak kaum Muslimin. Apalagi seorang aktivis dakwah Islam, dia bukan hanya dituntut untuk melakukan <em>ribath</em>, tetapi juga meramaikan masjid.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a href="http://pks-sidoarjo.org/wp-content/uploads/2009/12/Ribath.jpg"><img class="size-full wp-image-717 aligncenter" title="Ribath" src="http://pks-sidoarjo.org/wp-content/uploads/2009/12/Ribath.jpg" alt="Ribath" width="481" height="160" /></a></p>
<p>&#8220;Maukah kutunjukkan kepadamu apa yang dapat menghapus dosa dan meningkatkan derajat?&#8221; Para sahabat menjawab, &#8220;Baiklah ya Rasulullah!&#8221; Beliau bersabda, &#8220;Menyempurnakan wudhu di saat kesukaran, banyaknya langkah ke masjid, menunggu sholat (berikutnya) sesudah menunaikan sholat. Itulah yang disebut <em>ar-ribath</em>. Itulah yang disebut <em>ar-ribath</em> (terikat karena menunaikan tugas).&#8221; (HR Muslim)<br />
<span id="more-700"></span><br />
Hadits di atas kita dapati di dalam Riyadhus Sholihin di Bab Keutamaan Wudhu. Di dalamnya Rasulullah saw menyebutkan pentingnya <em>ribath</em>. <em>Ribath</em> biasanya dipergunakan dalam pengertian bersiap siaga menghadapi musuh namun dalam hadits di atas disebutkan bahwa menanti waktu-waktu sholat dengan bersiap dalam keadaan wudhu dan berjalan jauh ke masjid termasuk <em>ribath</em>. <em>Ribath</em> berasal dari kata <em>robatho</em> yang artinya mengikat.</p>
<p>Dalam Al Qur-an, yang dimaksud <em>ribath</em> adalah menyiapkan diri terikat dalam pembelaan Islam, sebagaimana firman Allah, &#8220;Hai orang-orang yang beriman bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap-siagalah (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung.&#8221; (QS Ali Imraan: 200). Dalam ayat ini, Allah menggandengkan kata <em>ribath</em> dengan sifat <em>shabar</em> dan <em>mushabaroh</em>. Tanpa kesabaran dan memperkuat keshabaran (mushabaroh), <em>ribath</em> akan gagal. <em>Shabar</em> adalah menahan diri atas sesuatu yang tidak disukai karena mengharap ridha Allah. Sedangkan, <em>mushabaroh</em> artinya saling berbuat antara kedua pihak atau mengungguli musuh dalam kesabaran.</p>
<p>Ribath itu ada dua macam: Pertama, <em>ribath</em> (terikat) di front peperangan untuk membela dan menegakkan Islam. Ini lazimnya cukup ditangani oleh sebagian ummat Islam. Kedua, <em>ribath</em> (terikat) secara kejiwaan yaitu memelihara diri jangan sampai terjatuh ke dalam larangan Allah serta memaksa diri mengerjakan amal-amal sholeh dan membiasakannya terus menerus. Ribath ini wajib dikerjakan oleh seluruh Muslimin. <em>Ribath</em> jenis kedua tidak menggugurkan <em>ribath</em> yang pertama karena jihad membela Islam tetap berlangsung dan menjadi kewajiban Muslimin kapan pun dan di manapun manakala waktu dan kesempatannya terbuka.</p>
<p>Sementara itu, hadits di atas menjadi dalil bagi <em>ribath</em> jenis kedua ini. Karena di ujung hadits tersebut Rasulullah saw berkata, &#8220;Itulah yang disebut <em>ar-ribath</em> (terikat karena menunaikar tugas)&#8221;. Dengan kata lain, hadits menggambarkan betapa besarnya perhatian Rasulullah terhadap <em>julus fi masajid</em> (duduk di masjid). Rasulullah saw menjelaskan bahwa menghapus dosa dan meninggikan derajat dilakukan dengan memakmurkan masjid-masjid. Dengan menggunakan kata <em>ribath</em>, beliau memberikan perumpamaan seorang yang memakmurkan masjid tidak ubahnya sebagai mujahid yang berperang menghadapi musuh.</p>
<p>Berdasarkan hadits di atas yang disebut ribath dan akan menaikkan derajat serta menghapus dosa:</p>
<ol>
<li>Melakukan wudhu kendati di saat kesukaran air. Yaitu memelihara kesucian diri dengan kondisi bersiap melaksanakan sholat kapan pun dan di mana pun. Sebab, wudhu adalah diantara syarat sahnya sholat. Hal ini tergambar pada para sahabat Rasulullah yang mencintai kesuciaan dan tempat yang suci (masjid): &#8220;&#8230;Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan Allah menyukai orang-orang yang bersih&#8221;. (WS At Taubah: 108)</li>
<li>Menunggu-nunggu waktu sholat dengan penuh harap berjumpa dengan Allah.</li>
<li>Mendatangi masjid dengan sholat berjamaah meskipun tempatnya jauh. Nabi SAW bertanya kepada malaikat Jibril as, &#8220;Wahai Jibril, tempat manakah yang paling disenangi Allah?&#8221; Jibril AS menjawab, &#8220;Masjid-masjid dan yang paling disenangi adalah yang pertama masuk dan yang paling terakhir meninggalkannya&#8230;&#8221; (HR. Muslim)</li>
</ol>
<p>Di tengah gencarnya sekularisasi dan <em>ghazwul fikri</em> (pertarungan pemikiran), setiap Muslim dituntut untuk bertahan di masjid sebagai benteng akidah dan akhlak kaum Muslimin. Apalagi seorang aktivis dakwah Islam, dia bukan hanya dituntut untuk melakukan <em>ribath</em>, tetapi juga meramaikan masjid.</p>
<p>Di masjid-masjid, rahmat dan kasih sayang Allah bertaburan. Maka dengan memperbanyak duduk di masjid, Muslim berorientasi mempertahankan masyarakat Islam. Adapun pengajian di masjid akan dengan mudah dibentuk manakala masjid-masjid telah menjadi tempat <em>ribath</em> para aktivis.</p>
<p>(Ditulis oleh M. Aminullah)</p>
<p>Sumber: Inthilaq no. 13/Th II 26 Agustus 1994</p>
<p>Republished by <a href="http://www.pks-sidoarjo.org">DPD PKS Sidoarjo</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pks-sidoarjo.org/kaderisasi/ribath.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Untuk Pertemuan Pekanan Kita: Datanglah lebih Awal</title>
		<link>http://pks-sidoarjo.org/kaderisasi/untuk-pertemuan-pekanan-kita-datanglah-lebih-awal.htm</link>
		<comments>http://pks-sidoarjo.org/kaderisasi/untuk-pertemuan-pekanan-kita-datanglah-lebih-awal.htm#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 06 Dec 2009 22:06:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>webmaster</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kaderisasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pks-sidoarjo.org/?p=666</guid>
		<description><![CDATA[Apa yang Anda harapkan sepulang dari menghadiri halaqoh (pertemuan pekanan) Anda? Memuaskan tuntutan otak dengan mendapatkan tambahan wawasan dari materi yang didapat? Memperoleh siraman mata air hikmah untuk nurani yang terasa kering? Atau melepas rindu bertemu muka dengan saudara sekelompok Anda, saling bercerita dan ber-tausiyah?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Apa yang Anda harapkan sepulang dari menghadiri <em>halaqoh</em> (pertemuan pekanan) Anda? Memuaskan tuntutan otak dengan mendapatkan tambahan wawasan dari materi yang didapat? Memperoleh siraman mata air hikmah untuk nurani yang terasa kering? Atau melepas rindu bertemu muka dengan saudara sekelompok Anda, saling bercerita dan ber-tausiyah? Coba bandingkan harapan tersebut dengan kenyataan yang Anda dapatkan!<br />
<span id="more-666"></span><br />
Segala puji bagi Allah, sungguh beruntung jika Anda bisa mendapatkan semua yang Anda harapkan dalam pertemuan rutin tersebut. Namun, jika Anda termasuk orang yang baru ’sekedar’ mendapatkan salah satunya atau mungkin tidak sama sekali (<em>na’udzubillahi min dzalik</em>), mari bersama kita renungkan hal berikut ini.</p>
<p>Mana yang Anda inginkan pertemuan pekanan yang terasa ’biasa-biasa saja’ dalam perjalanannya-bahkan kadang membosankan-atau pertemuan pekanan dinamis dan produktif (<em>halaqoh al-muntijah</em>) yang melahirkan pribadi muslim dan muslimah yang handal lagi utuh. Penulis yakin seratus persen bahwa anda akan memilih pilihan yang kedua. Seyakin itu pula kita telah tahu bahwa untuk mencapai hal tersebut tidaklah mudah.</p>
<p>Suatu pertemuan pekanan baru dapat tergolong produktif setidaknya jika poin-poin seperti lahirnya pribadi yang memiliki potensi keistimewaan diniyah, terjalinnya Ukhuwah Islamiyah dan <em>amal jama’i</em> bisa terpenuihi. Berbekal semangat tinggi untuk mencapai hal tersebut, maka dirancanglah oleh kita berbagai program yang menarik serta target-target individu yang harus dicapai, hingga akhirnya dilaksanakan pada forum yang hanya berlangsung singkat. Setelah itu, kita akan kembali pada pertanyaan di awal tulisan. Apa yang kita dapatkan?</p>
<p>Banyak faktor yang mempengaruhi tercapai atau tidaknya target pertemuan. Evaluasi yang kita lakukan bersama dalam kelompok, kadang melupakan satu hal yang akan menjadi fokus tulisan kali ini yaitu pendahuluan dalam sistematika acara pertemuan pekanan.</p>
<p><strong>Kegiatan Pendahuluan</strong></p>
<p>Setiap kegiatan pasti memiliki sistematika, urutan-urutan ataupun sesi-sesi dalam pelaksanaannya. Biasanya suatu kegiatan terdiri dari pendahuluan atau pembukaan, isi (inti) dan penutup. Begitu pula yang umum dalam <em>liqo-at</em> (forum) kita. Dalam pelaksanaanya, antara urutan satu dengan yang lainnya saling terkait dan mempengaruhi. Kualitas inti acara tentunya dipengaruhi oleh kualitas pendahuluaannya.</p>
<p>Keiatan Pendahuluan (KP) dalam pcrtemuan pertemuan pekanan bukannya tidak memiliki arti penting bagi keseluruhan acara yang kita jalankan pada hari itu. Contoh sederhananya: sebagaimana membuka <em>majelis syuro</em> dengan basmalah dan <em>tilawah</em> dapat meningkatkan kualitas ruh dan menjernihkan pikiran para peserta sehingga dapat mengoptimalkan capaian hasil. KP akan menanamkan kesan ’rasa’ yang berbeda-beda bagi tiap peserta pertemuan pekanan, tergantung sedalam apa hikmah yang dapat diambil.</p>
<p>’Rasa’ inilah yang akan memberi suntikan motivasi bagi dirinya untuk mcngikuti sesi selanjutnya, yaitu sesi yang menjadi inti acara. Tentu, berbeda kualitas kesiapan seorang peserta pertemuan pekanan yang mengikuti KP secara baik dan sempurna dengan peserta yang datang terlambat dan hadir begitu acara sudah masuk pada sesi inti. Perbedaan kualitas ini akan melahirkan perbedaan hasil yang dicapai oleh masing-masing peserta.</p>
<p>Seringkali kekurangpahaman akan urgensi dan manfaat KP melahirkan sikap peremehan terhadapnya. Ujungnya, kegiatan membayar infaq sebagi <em>iqob</em> (gukuman), menyetor hafalan dan <em>muhasabah</em> (refleksi), mengisi absensi dan sebagainya, terposisikan menjadi kegiatan administrasi atau regristrasi semata yang menjelma menjadi rutinitas yang kurang sentuhan ruh. Atau mungkin menjadi sekedar pengisi waktu, sambil menunggu peserta yang berdatangan satu persatu.</p>
<p>Seorang muslim yang berfikir adalah muslim yang dapat merenungi dan menggali secara dalam hikmah berbagai aktivitas yang dilakukannya, terlepas dari besar atau kecilnya-tanpa sadar dianggap remeh-aktivitas tersebut. Pada akhirnya, ia menjadi tahu bagaimana cara mengoptimalkan suatu kegiatan untuk menyegarkan dan meremehkan kebutuhan <em>ruhiyah</em> (terkait dengan ru), <em>jasadiyah</em> (fisik) dan <em>fikriyah</em> (pemikiran)-nya.</p>
<p>Allah dan Rasul-Nya tidak pernah menganggap remeh suatu kebaikan, sekecil apapun itu. Sehingga Allah menegaskan dalam surat al-Zalzalah bahwa serta kebaikan yang kita lakukan, walaupun sebesar <em>dzarrah</em> (atom) akan mendapat ganjarahnya dan Rasulullah saw menyatakan bahwa membuang duri di jalan adalah cermin keimanan. Dalam salah satu hadist Arba’in dinyatakan bahwa Allah mnghendaki sikap <em>ihsan</em> (profesional) pada segala sesuatu. Jika demikian halnya, maka alasan apa yang membuat kita meremehkan KP yang mungkin hanya berdurasi setengah hingga satu jam tersebut?</p>
<p>Pemahaman akan urgensi dan manfaat suatu hal, mendorong kita untuk mencintai dan melaksanakan hal tersebut dengan penuh semangat. KP sebenarnya mcmiliki banyak rahasia (<em>’ibroh</em>) yang tersingkap jika kita menyediakan sedikit saja waktu untuk memikirkannya.</p>
<p>Beberapa di antaranya adalah:</p>
<p><strong>Melatih Sikap Amanah</strong></p>
<p>Masing-masing PJ (penanggungjawab) kelompok dan unsur-unsurnya baik itu sekretaris, bendahara, hafalan dan sebagainya dapat bcrlatih menunaikan amanah dengan baik, sekecil apapun itu. Walau terkesan sepele, pembiasaan tersebut akan memberikan dampak besar untuk kegiatan kita sehari-harinya, karena pembiasaan akan membentuk karakter. Jika seorang sekretaris pertemuan pekanan malas-malasan mengisi absensi atau sang bendahara malas menagih uang kas, bagaimana ia dapat diharapkan unuk mengemban amanah sejenis pada ruang lingkup yang lebih besar?</p>
<p><strong>Menumbuhkan Budaya <em>Fastabiqul Khoirot</em> (Berlomba dalam Kebaikan) dan <em>Jiddiyah</em> (Kesunguhan)</strong></p>
<p>Jika masing-masing anggota berlomba-lomba menyetorkan hafalannya, membayar kas dan berinfak tanpa menunggu ditagih, niscaya pertemuan pekanan tersebut akan lebih hidup menumbuhkan budaya pro aktif dan melahirkan nuansa kebaikan. Sikap bersungguh-sungguh dalam menjalankan kesepakatan bersama juga terasah.</p>
<p><strong>Belajar Mencapai Target, Menjalankannya dan Evaluasi Program</strong></p>
<p>Invetarisir data dapat kita jadikan bekal untuk mengevaluasi diri dan kelompok. Kita dapat melihat apakah kualitas diri atau kelompok kita meningkat dibanding pekan kemarin. Misalnya, apakah saya sudah lebih tepat waktu dan meningkatkan kualitas ibadahnya atau justru kena iqob lebih. Apakah jumlah dan frekuensi anggota kelompok yang datang telat selama sebulan masih wajar dan bisa ditolerir sehingga kira tahu apakah realistis kalau ditetapkan berkumpul jam O8.0O pagi? Apakah target hafalan Al Qur’an minimal 1 ayat per hari masih dapat diteruskan bahkan ditingkatkan?</p>
<p><strong>Berlatih Manajemen Profesional</strong></p>
<p>Dakwah membutuhkan pribadi-pribadi muslim yang pandai memgatur diri dan kelompoknya. Manajemen erat kaitannya dengan kreativitas. Sebagai upaya menumbuhkankan manajemen yang baik dan profsional, masing-masing PJ dituntut untut kreatir dalam menjalankan tugasnya karena ia harus memotivasi orang lain yang memiliki karakter bcrbeda sekaligus dirinya sendiri.</p>
<p>Kreatifitas itu juga dapat diasah dalam penyediaan sarana yang mendukung tugasnya. Misalnya bendahara, bagaimana anggota lain dapat termotivasi untuk berinfak, membayar kas dan ’iqob jika amplop-nya saja harus dicari-cari dulu karena memang belum disiapkan atau catatan keuangannya berantakan! Bendahara yang baik akan mencari cara menumbuhkan semangat teman-temannya dalam berinfak. Misalnya, dengan menyiapkan buku keuangan yang rapi atau amplop yang berhiaskan al-Qur’an atau hadist yang memacu untuk berinfak.</p>
<p>Jika kita mulai berlatih manajemen dari hal-hal yang kecil, niscaya imbasnya akan dapat dirasakan dalam skala lingkungan yang lebih besar. Sebagai catatan yang penulis ketahui dari beberapa organisasi. Iuran wajib anggotanya berjalan tersendat-sendat karena penggelolaan yang kurang baik. Padahal, dana merupakan salah satu unsur penting bagi keberlangsungan dakwah.</p>
<p><strong>Mencairkan Rasa Kaku</strong></p>
<p>Rasa kaku setelah sepekan tidak berkumpul dapat dilumerkan dengan mengetahui kondisi/kabar satu dengan yang lainnya. Misalnya, apakah saat ini teman-teman kita sedang kekurangan uang, karena ia ’pass’ membayar uang kas atau apakah ia sedang punya masalah berat, karena tidak menyetor hafalan ayat satu pun dan sebagainya. Setelah luumer rasa kaku, akan muncul keterbukaan. Keterbukaan menumbuhkan <em>tafahum</em> (saling memahami), <em>mahabbah</em> (mencintai) antara satu dengan yang lainnya. Sensitivitas seorang muslim akan menerjemahkan <em>tafahum</em> ini ke dalam sikap <em>ta’awun</em> (saling menolong).</p>
<p><strong>Melahirkan Rasa Nyaman</strong></p>
<p>Menjadi ’rumah’ yang menaungi para anggotanya adalah nilai yang ideal sebuah pertemuan pekanan. Rasa nyaman yang tumhuh dari budaya <em>tausiyah</em>, saling mengingatkan dan diingatkan, saling menguatkan dan dikuatkan, membuat kita seakan berada di ’rumah sendiri.</p>
<p>Kesan tersebut harus dibangun bersama. Salah-satu caranya adalah dengan merefleksikan kegiatan hidup kita dalam sepekan sebelumnya, bermuhasabah, membawa dan melaporkannya secara tertulis ke dalam pertemuan pekanan. Pertemuan pekanan ibarat terminal <em>ruhiyah</em>. Kita dapat melihat apakah pcningkatan atau penurunan yang sedang terjadi pada diri kita atau saudara yang lain. Dengan begitu, akan muncul kebutuhan untuk saling menjaga. Itulah pertemuan pekanan sebagai wadah peningkatan kualitas diri dan kelompok.</p>
<p><strong>Melatih Kedisiplinan</strong></p>
<p>Apabila kita bersemangat untuk mengikuti kegiatan pendahuluan ini secara sempurna, mau tak mau kita akan mengupayakan datang tepat waktu ke forum.</p>
<p>Di samping mantaat-manfaat yang membawa dampak positif bagi perjalanan panjang kehidupan kita, KP juga akan membawa efek langsung bagi kita pada hari itu. Karena ruh, jasad dan pikiran kita lebih siap, tenang dan terbuka untuk memasuki acara inti. KP juga membantu mewujudkan sebuah pertemuan pekanan yang produktif.</p>
<p>Berdasarkan poin-poin di atas, ia turut andil dalam menumbuhkan benih-benih pribadi muslim yang matang, amal jama’i dan Ukhuwah Islamiyah.  Sebagai tambahan, KP merupakan cermin kualitas kerja <em>mutarobbi</em> (pembelajar) secara kolektif, karena ia berjalan secara mandiri di antara <em>mutarobbi</em> tanpa campur tangan <em>murobbi</em> (guru).</p>
<p>Sebuah aktivitas yang tidak dikelola dengan baik akan jarang mencapai tujuannya. Maka jika kita ingin mencapai hasil yang optimal pada tiap pertemuan pekanan kita, mulai dari membenahi hal-hal yang kecil dan bersungguh-sungguh di dalamnya, seperti kegiatan pendahuluan ini, dengan berbekal hati yang ikhlas. Apalagi, jika pertemuan kemudian diitutup dengan evaluasi sebagai <em>finishing touch</em>-nya! Niscaya pertemuan pekanan akan terasa lebih nikmat dan berbobot. Singkat kata, kita akan mendapatkan lebih dari yang kita bayangkan</p>
<p>Wallahu ’alam bish showab.</p>
<p>Nani Zara</p>
<p>Sumber: Al-Izzah No. 24/Th.3. 31 Januaii 2002 M</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pks-sidoarjo.org/kaderisasi/untuk-pertemuan-pekanan-kita-datanglah-lebih-awal.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Murobbi</title>
		<link>http://pks-sidoarjo.org/kaderisasi/murobbi.htm</link>
		<comments>http://pks-sidoarjo.org/kaderisasi/murobbi.htm#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Nov 2009 02:37:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>webmaster</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kaderisasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pks-sidoarjo.org/?p=664</guid>
		<description><![CDATA[Said Hawwa dalam bukunya &#8220;Ar-Rasul&#8221; menjelaskan secara gamblang bahwa salah satu di antara tugas Rasulullah Muhammad adalah sebagai murobbi dan mu&#8217;alim. Beliau merupakan pendidik keluarga dan masyarakatnya. Seorang pendidik total dalam artian seluruh aspek hidupnya merupakan tarbiyah.

Mulai dari bangun tidur, sampai tidur kembali, bahkan tidurnya itu sendiri merupakan pelajaran. Diam dan gerak Rasulullah, atau bicara [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Said Hawwa dalam bukunya &#8220;Ar-Rasul&#8221; menjelaskan secara gamblang bahwa salah satu di antara tugas Rasulullah Muhammad adalah sebagai <em>murobbi</em> dan <em>mu&rsquo;alim</em>. Beliau merupakan pendidik keluarga dan masyarakatnya. Seorang pendidik total dalam artian seluruh aspek hidupnya merupakan <em>tarbiyah</em>.<br />
<span id="more-664"></span><br />
Mulai dari bangun tidur, sampai tidur kembali, bahkan tidurnya itu sendiri merupakan pelajaran. Diam dan gerak Rasulullah, atau bicara dan kerjanya merupakan <em>tarbiyah</em> bagi setiap umat. Tak ada tindakan Rasulullah yang tak dapat dicontoh atau ditiru, semuanya bernilai dan bermanfaat.</p>
<p>Generasi pertama Islam orang yang paling kenyang dengan <em>tarbiyah Islamiyah</em> yang diberikan Rasulullah secara langsung. Mereka mengalami penggemblengan menyeluruh sehingga sebagai suatu masyarakat mereka menjadi masyarakat teladan pula. Bukankah Allah berfirman: &#8220;Sunggub Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang Rasnl dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayal-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan Al-Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-beuar dalam kesesatan yang nyata.&#8221; (QS. Ali Imran: 164)</p>
<p>Kegiatan tarbiyah (pembinaan) ini dilakukan Rasulullah saw kepada para sahabatnya sejak diawal ke-Rasulan beliau. Beliau mendidik langsung Abu Bakar, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Tholib, Abdullah bin Mas&rsquo;ud, Saad bin Abi Waqqash, Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam, Abdur Rahman bin Auf, Zaid bin Haritsah, dan istri beliau sendiri Khadijah (semoga Allah meridhoi mereka semua). Murid-murid pertama Rasulullah ini dikenal sebagai <em>assabiquunal awwalun</em> (orang-orang pertama yang masuk Islam dan mendapat gemblengan Rasulullah).</p>
<p>Lingkar <em>tarbiyah</em> Rasulullah dan para sahabatnya berkembang terus dan berjalan dari rumah ke rumah dengan penataan yang rapi dan rahasia. Salah satu yang diungkapkan sejarah adalah rumah Arqam bin Abil Arqam. Masih banyak rumah lain yang berfungsi seperti itu.</p>
<p>Islam yang dibawa oleh para rasul dan disempurnakan syari&rsquo;atnya oleh Muhammad saw pun menitikberatkan seluruh pembangunan umatnya pada <em>tarbiyah</em>. Firman Allah: &#8220;Tidak wajar bagi seorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al-Kitab, Hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia: &#8220;Hendaknya kamu menjadi penyembah-penyembahku, bukan penyembah Allah, akan tetapi dia berkata, hendaklah kamu menjadi orang-orang Rabbani karena kamu selalu mengajarkan Al-Kitab dan disebabkan kamu senantiasa mempelajarinya.&#8221;" (QS. Ali Imran: 79)</p>
<p>Ayat di atas mengisyaratkan bahwa <em>tarbiyah</em> yang dilakukan rasul-rasul terdahulu maupun Rasulullah Muhammad dapat diwujudkan kembali. Ini disebabkan Al Qur-an merupakan mukjizat Muhammad yang isinya tetap terpelihara dan dapat memberikan pengaruh sampai kapan pun juga. </p>
<p>Dalam penumbuhan <em>tarbiyah Islamiyah</em> ini syaratnya adalah:</p>
<ol>
<li>Ada satu </em>jama&rsquo;ah</em> (kelompok) yang senantiasa bersandar pada Rabbul &rsquo;Alamin (Rabbaniyab) yaitu mereka yang menjadikan Allah, Rasul, dan orang-orang yang beriman sebagai pemimpin.</li>
<li>Kelompok tersebut senantiasa berpegang teguh pada Al Qur-an dan Sunnah dengan mengajarkan Al Qur-an dan selalu mempelajarinya.</li>
<li>Kelompok tersebut tidak berorientasi <em>wijahiyah</em> (figuritas) terhadap tokohnya, tetapi mengorientasikan seluruh jama&rsquo;ahnya sebagai murobbi.</li>
</ol>
<p>Nah, jadilah <em>murobbi</em>, jadilah pendidik yang Rabbani.</p>
<p>Sumber: Inthilaq No. 6/Th. II 29 April 1994</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pks-sidoarjo.org/kaderisasi/murobbi.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
