<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>PK Sejahtera Sidoarjo &#187; Hikmah</title>
	<atom:link href="http://pks-sidoarjo.org/category/hikmah/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://pks-sidoarjo.org</link>
	<description>Bersih, Peduli, dan Profesional</description>
	<lastBuildDate>Thu, 29 Jul 2010 00:22:22 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.6</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Kadar yang Sepantasnya</title>
		<link>http://pks-sidoarjo.org/hikmah/kadar-yang-sepantasnya.htm</link>
		<comments>http://pks-sidoarjo.org/hikmah/kadar-yang-sepantasnya.htm#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Jul 2010 00:22:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>webmaster</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pks-sidoarjo.org/?p=1119</guid>
		<description><![CDATA[Segala sesuatu ada kadarnya. Begitupun dalam mengisi kantong kegembiraan. Agama kita menyuruh kita bergembira, tetapi bergembira tidak boleh berubah menjadi agama kita. Kita tidak boleh menjadi orang yang ideologinya sekadar bersenang-senang dan berhura-hura.

Kegembiraan yang berlebihan akan melenakan. Dan itu sudah keluar dari fungsi utamanya. Bagi seorang mukmin, kegembiraan yang diambil dari kantong-kantong apapun harus merupakan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Segala sesuatu ada kadarnya. Begitupun dalam mengisi kantong kegembiraan. Agama kita menyuruh kita bergembira, tetapi bergembira tidak boleh berubah menjadi agama kita. Kita tidak boleh menjadi orang yang ideologinya sekadar bersenang-senang dan berhura-hura.<br />
<span id="more-1119"></span><br />
Kegembiraan yang berlebihan akan melenakan. Dan itu sudah keluar dari fungsi utamanya. Bagi seorang mukmin, kegembiraan yang diambil dari kantong-kantong apapun harus merupakan bagian yang selaras dengan cita-cita kemukminannya. Maka tangis dan tawa haruslah hiasan keimanan. Ia mesti selalu sadar, bahwa hidup ini tidak boleh berakhir di sini, di kefanaan dunia ini. Ia boleh mati secara fisik di sini, tapi perjalanan belum selesai. </p>
<p>Imam Ahmad, suatu hari ditanya muridnya, kapan ia akan istirahat. &#8220;Bila kaki telah menginjak surga, saat itulah istirahat kita,&#8221; begitu jawabnya.</p>
<p>Kegembiraan memang harus merupakan bagian tak terpisahkan dari cara kita membina diri, menguatkan kehendak, dan mengejar cita-cita kemuliaan sebagai seorang mukmin. Dan, puncak kemuliaan itu secara batin adalah ridha Allah, dan secara fisik adalah masuk surga. </p>
<p>Kadar-kadar kegembiraan yang kita maksud di atas, kadang tak bisa dihindari, terpengaruh oleh selera yang sangat <em>life style</em> sifat-nya. Sebab setiap orang punya ketersediaan sarana, kebiasaan, lingkungan keluarga, tradisi pertumbuhan, yang berbeda-beda. Di sini, seorang mukmin dituntut berhati-hati. Tidak ada ruang bagi yang haram dalam pembicaraan ini. Tetapi selera-selera dan gaya hidup yang halal dari keseluruhan <em>life style</em> dimaksud, harus tetap mempertimbangkan sisi lain dari moralitas kegembiraan: moralitas fungsi.</p>
<p>Maksudnya adalah, dalam mengambil kegembiraan, seorang mukmin tak selalu harus menuruti tradisi pribadi dan habibat kulturalnya. Sekali lagi, tidak harus selalu. Ia justru harus belajar menghargai, bahwa bagaimanapun, fungsi kegembiraan lebih penting dari performa dan selera kegembiraan itu sendiri, meski keduanya sama-sama penting. Sebabnya, tidak saja supaya kegembiraan itu tak melampaui batasnya, tapi juga agar kita sadar, bahwa kegembiraan yang kita ambil sepanjang di dunia ini, bukanlah tujuan utama.</p>
<p>Kadar paling tinggi dari seorang mukmin dalam menikmati sebuah kegembiraan, bila dalam bentuk performa fisik, adalah menyela-raskan dengan kesukaan Allah akan keindahan. &#8220;<em>Allah itu indah dan menyukai keindahan.</em>&#8221; Dengan demikian, hatinya tak boleh dikuasai mitos-mitos <em>life style</em> itu. Tidak boleh juga ada penghambur-hamburan dan kemubadziran di sana. </p>
<p>Lidahnya mungkin punya selera kegembiraan tertentu terhadapan makanan. Matanya mungkin punya selera kegembiraan tertentu terhadap pemandangan. Kulit tubuhnya mungkin punya selera kegembiraan tertentu terhadap cuaca dan pakaian. Tapi sekali lagi, batas maksimumnya secara performa adalah keindahan, tapi batas maksimumnya secara hukum adalah kehalalan. Dan, yang mempertemukan antara keduanya adalah fungsi.</p>
<p>Kita tidak boleh menjadi seorang mukmin yang kecanduan kegembiraan. Sebagaimana kita tidak boleh juga bergantung pada kegembiraan yang selalu berbiaya tinggi. Kegembiraan dalam bentuk performa fisik juga tidak boleh mengalahkan kegembiraan dalam bentuk performa batin. </p>
<p>Rasul sendiri, bila sedang gundah, segera menyuruh Bilal untuk adzan, &#8220;Istirahatkan kita wahai Bilal.&#8221; Dengan shalat itulah Rasulullah mengistirahatkan kepenatannya, lalu mengisi ulang semangat dan kekuatannya.</p>
<p>Kita memang harus terus berlatih. Bahkan untuk sekadar soal mengelola kegembiraan ini. Agar kita mengerti, seberapa kadar yang harus kita perlukan dari mengambil kegembiraan dan mengisi ulang kantong-kantongnya. Dan, agar kegembiraan itu tak berubah menjadi pintu pertama penelanjangan kepribadian kita sebagai seorang muslim.</p>
<p>Sumber: Majalah Tarbawi Edisi 76 Th. 5/Dz&rsquo;ulhijjah 1424 H/23 Januari 2004 M</p>
<p>Dipublikasi ulang oleh <a href="http://www.pks-sidoarjo.org">Admin DPD PKS Sidoarjo</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pks-sidoarjo.org/hikmah/kadar-yang-sepantasnya.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sisakan Selalu Kantong Kegembiraan</title>
		<link>http://pks-sidoarjo.org/hikmah/sisakan-selalu-kantong-kegembiraan.htm</link>
		<comments>http://pks-sidoarjo.org/hikmah/sisakan-selalu-kantong-kegembiraan.htm#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Jul 2010 00:15:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>webmaster</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pks-sidoarjo.org/?p=1117</guid>
		<description><![CDATA[Kegembiraan punya tempat istimewanya dalam Islam. Agama yang tak pernah melewatkan segala urusan, kecil atau besar, kecuali menjelaskan bagaimana kita menyikapinya. Kadang secara umum, kadang secara detil. Kegembiraan tak sekadar layaknya garam bagi sayuran. Atau gula bagi minuman. Ia bahkan menjadi salah satu dari dua pilar risalah kenabian. Sebab Rasul diutus untuk menyampaikan kabar gembira, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kegembiraan punya tempat istimewanya dalam Islam. Agama yang tak pernah melewatkan segala urusan, kecil atau besar, kecuali menjelaskan bagaimana kita menyikapinya. Kadang secara umum, kadang secara detil. Kegembiraan tak sekadar layaknya garam bagi sayuran. Atau gula bagi minuman. Ia bahkan menjadi salah satu dari dua pilar risalah kenabian. Sebab Rasul diutus untuk menyampaikan kabar gembira, dan juga untuk memberi peringatan akan azab Allah SWT.<br />
<span id="more-1117"></span><br />
Salah satu do&rsquo;a yang sering dibaca Rasulullah dan diajarkan kepada kita adalah meminta perlindungan dari rasa gundah dan kesedihan. &#8220;<em>Ya Allah aku berlindung kepadamu dari kecemasan dan kesedihan, dari rasa lemah dan kemalasan, dari kebakhilan dan sifat pengecut, dari beban hutang dan tekanan orang-orang (jahat).</em>&#8221; Tak ada makna yang lebih mendalam dari pentingnya memiliki kantong kegembiraan, dari untaian do&rsquo;a tersebut.</p>
<p>Allah juga telah menjanjikan, bahwa bersama kesulitan pasti ada kemudahan. Sekali lagi, bersama kesulitan, pasti ada kemudahan. Pengulangan itu menandakan, bahwa kesulitan tak akan berdaya melawan dua kemudahan. Maka seharusnya tak ada tempat bagi kesusahan, setidaknya dalam alur keyakinan seorang muslim menjalani hidup. Meski dalam praktiknya, kesulitan itu harus dilewati sebagai jalan menuju kemudahan.</p>
<p>Di setiap situasi yang paling sulit, selalu ada celah untuk kita bergembira. Begitulah Islam mengajarkan kepada kita. Celah itu bahkan harus selalu kita adakan. Semacam kantong-kantong pertahanan yang harus kita sisakan. Kita mengerti bahwa hidup kadang tak sekadar persaingan. Tapi juga kerja keras dan pergulatan melawan alam yang rengus. Kadang ia seperti menghabisi jerih-payah kita, menguras kesabaran kita dan melumat sisa-sisa tenaga kita. Setiap hari yang baru mungkin serasa akhir segala harapan.</p>
<p>Tapi itu semua tidak boleh memberangus kantong kegembiraan kita. Kantong itu harus tetap ada, terjaga. Meski kala tertentu, di puncak keguncangan kita, suatu hari, dulu atau nanti, dalam perjalanan hidup yang melelahkan ini, mungkin kantong itu tercabik-cabik. Tapi isi kantong itu tak boleh habis. Kegembiraan tidak boleh binasa.</p>
<p>Seorang muslim harus mengerti bagaimana seni menyemangati dirinya sendiri. Dengan mengambil bagiannya yang mesti untuk kantong kegembiraannya. Kegembiraan punya peran dan kapasista sendiri untuk mengubah persepsi kita tentang hidup, memperbaiki semangatdan gelora pengharapan kita. Dan, kegembiraan memberi kita kekuatan kelapangan dalam memikul beban.</p>
<p>Lihatlah anak-anak kecil. Mereka selalu menjalani hari-hari dengan gembira. Kegembiraan mereka mengalahkan lelah-lelah fisik dan kekalutan pikiran. Mereka mungkin belum banyak memikirkan soal-soal berat. Tapi kegembiraan telah mengantarkan mereka pada banyak pencapaian. Belajar mengenal, berlatih merasa. Bagi anak-anak, kegembiraan tidak harus direncanakan, tidak pula dicari-cari alasannya. Itu inheren dengan cara hidup mereka. Segala sesuatu bagi mereka terasa hidup dan menarik. Mereka tidak punya ekspektasi yang kaku. Kegembiraan mereka bukan pelarian. Tapi bukan pula tanpa produktifitas. Orang dewasa layak belajar bagaimana anak-anak itu memiliki begitu besar kantong kegembiraan tanpa mereka sendiri nampak menghinakan etos kerja-kerja serius.</p>
<p>Seorang ulama berkata, &#8220;<em>Di antara kenikmatan terbesar adalah kegembiraan, ketentraman dan ketengangan hati. Sebab, dalam kegembiraan hati itu terdapat keteguhan pikir, keriangan jiwa dan produktifitas yang berkesinambungan.</em>&#8221;</p>
<p>&#8220;<em>Siapa yang tahu cara memperoleh, merasakan, dan menikmati kegembiraan, maka ia akan dapat memanfaatkan pelbagai kenikmatan dan kemudahan hidup, baik yang ada di depannya maupun yang masih jauh berada di belakangnya.</em>&#8221;</p>
<p>Guncangan sedahsyat apapun tak boleh menghentikan hidup kita. Bila puncak keguncangan itu kematian, kita harus sadar, bahwa kematian tidak akan datang, bila memang belum tiba saatnya. Bila puncak keguncangan itu adalah ditinggal orang-orang tercinta, kantong kegembiraan berguna sebagai pelampung, atau sejenis kano, atau malah kapal kelanjutan, atau <em>connecting flight</em> kita. Bahwa semuanya belum habis. Dan memang semestinya tidak boleh habis, kecuali bila takdir telah menghabisi usia kita.</p>
<p>Seperti seni menyisakan kegembiraan yang sangat rumit yang diperagakan seorang perempuan yang ditinggal mati empat anaknya. Namanya Khansa&rsquo;. Perempuan penyair terbaik di jamannya. la masuk Islam di masa Rasulullah dan hidup dalam umuryang panjang hingga awal masa Khalifah Utsman bin Affan. Empat anak laki-lakinya gugur di perang Qadisiah, di masa khalifah Umar bin Khatab. Tapi keislamannya mengajarkan padanya bagaimana menyisakan kantong kegembiraan. </p>
<p>Ia ikhlaskan kepergian anak-anaknya, &#8220;<em>Segala puji hanya bagi Allah yang telah memberi kemuliaan kepadaku dengan kematian putra-putraku sebagai syuhada dan do&rsquo;akanlah agar aku dikumpulkan bersama mereka di tempat yang penuh dengan rahmat-Nya</em>,&#8221; begitu yang ia ucapkan setiap kali orang datang berta&rsquo;ziah kepadanya.</p>
<p>Bandingkan ketika dahulu ia belum masuk Islam. Kala itu, dua saudara laki-lakinya, Mu&rsquo;a-wiyah dan Shakhr mati di masa jahiliyah. Ia sangat sedih. Ia pun melepas kepergian keduanya dengan rentetan syair-syair ratapan yang panjang. Bahkan syairnya menjadi syair paling terkenal dalam soal duka dan ratapan.</p>
<p>Kemampuan Khansa&rsquo; untuk mengekspresikan duka dahulu sebelum Islam, atas kematian saudara laki-lakinya, lebih mudah dimengerti, ketimbang kemampuannya menabung kebahagiaan dan menyisakan kegembiraan atas kematian anak-anaknya. Ini tidak mudah dijelaskan dalam konteks keperempuan dan keibuannya. Tapi Islam bisa menjelaskannya, bahwa seorang Muslim harus menyisakan kantong kegembiraan. Bahwa agama ini menyediakan begitu banyak sumber kebahagiaan, terlebih di akhirat. Dan, Khansa&rsquo; telah menunaikan itu dengan sebaik-baiknya.</p>
<p>Begitu pula yang dijalani seorang sahabat mulia, Urwah bin Zubair. Kakinya terpotong di medan perang. Anaknya meninggal. Tapi ia masih menyisakan kantong kegembiraan. Dalam do&rsquo;a terkenalnya, ia berucap, &#8220;<em>Ya Allah, jika engkau mengambil satu anggota badanku, sesungguhnya Engkau masih menyisakan banyak sekali anggota badan yang lain. Dan jika Engkau mengambil satu anakku, sesungguhnya Engkau masih menyisakan anak-anakku yang lain. Maka, segala puji hanya untuk-Mu.</em>&#8221;</p>
<p>Seperti itulah etikanya. Seperti itu pula dasar alasannya. Pujian untuk Allah di tengah duka, itulah inti kantong kegembiraan. Hilangnya anggota badan tidak harus karena perang. Kematian anak juga tak harus gugur di medan laga. Banyak jalan bagi penyebab duka untuk menghampiri kita. Masing-masing ada timbangannya. Tapi kehilangan tetaplah kehilangan. Dan karenanya, semuanya memerlukan kantong kegembiraan.</p>
<p>Bergembira, tidak berarti bersenang-senang di atas penderitaan diri sendiri, apalagi penderitaan orang lain. Tidak juga sikap tak tahu diri atas segala peristiwa yang harus diantarkan dengan tangis dan air mata. Tapi ini lebih merupakan cara seorang muslim menyisakan sumber motivasinya, mata air gairahnya, agar tak hilang ditelan berbagai tekanan.</p>
<p>Rasulullah SAW menjelaskan, bahwa <strong>membuat saudara muslim gembira atau mamasukkan rasa gembira ke dalam hati muslim yang lain merupakan salah satu dari perbuatan yang paling baik.</strong> Jika memasukkan rasa gembira, membuat orang lain gembira merupakan ajaran yang agung, bagaimana dengan menana-kan gembira dalam diri sendiri? </p>
<p>Agama ini memang agama (untuk) orang-orang optimis. Karenanya, cita-cita kemuliaan itu harus tetap bergantung di langit kehidupan kita. Tidak ada yang boleh memutusnya. Selalu saja mungkin ada duka, tangis, dan kelelahan. Tetapi kantong kegembiraan itu tidak boleh kosong. Harus ada tersisa di sana. Kegembiraan itu tidak boleh sirna, sesulit apapun rintangan yang menghadang. Sisakan, ya, sisakan. Meski mungkin di puncak kesulitan kita ia tinggal sedikit saja.</p>
<p>Sumber: Majalah Tarbawi Edisi 76 Th. 5/Dz&rsquo;ulhijjah 1424 H/23 Januari 2004 M</p>
<p>Dipublikasi ulang oleh <a href="http://www.pks-sidoarjo.org">Admin DPD PKS Sidoarjo</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pks-sidoarjo.org/hikmah/sisakan-selalu-kantong-kegembiraan.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menumbuhsuburkan Pohon Persaudaraan</title>
		<link>http://pks-sidoarjo.org/hikmah/menumbuhsuburkan-pohon-persaudaraan.htm</link>
		<comments>http://pks-sidoarjo.org/hikmah/menumbuhsuburkan-pohon-persaudaraan.htm#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Jul 2010 01:56:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>webmaster</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pks-sidoarjo.org/?p=1078</guid>
		<description><![CDATA[Persaudaraan dan persahabatan sejati hanya tumbuh di atas iman. Hubungan persaudaraan dan persahabatan akan cacat dan rusak bila tumbuh di atas kepentingan individu mau-pun kelompok yang bersifat duniawi. Pilar paling penting bagi terbangunnya suasana ukhuwah di kalangan para sahabat dahulu, seiring sejalan dengan iman yang tertanam kuat dalam diri mereka.

Itu yang menjadi ciri pembinaan Rasulullah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Persaudaraan dan persahabatan sejati hanya tumbuh di atas iman. Hubungan persaudaraan dan persahabatan akan cacat dan rusak bila tumbuh di atas kepentingan individu mau-pun kelompok yang bersifat duniawi. Pilar paling penting bagi terbangunnya suasana ukhuwah di kalangan para sahabat dahulu, seiring sejalan dengan iman yang tertanam kuat dalam diri mereka.<br />
<span id="more-1078"></span><br />
Itu yang menjadi ciri pembinaan Rasulullah selama 13 tahun dalam periode Makkah kepada para sahabatnya. Periode itu, lebih lama dari masa perjuangan Rasul sepanjang 10 tahun pada periode Madinah. Di Makkah-lah, tempat Rasul pertama kali menanam benih, menumbuhsuburkan dan memperkokoh akar keimanan dalam diri para sahabatnya. Itulah yang menjadi landasan berdirinya bangunan besar persaudaraan dan ukhuwah di antara para sahabat. Tingkat ukhuwah para sahabat, seperti yang kerap diceritakan dalam kitab-kitab sejarah, bahkan hingga tahap mengorbankan kepentingan diri sendiri untuk kepentingan saudaranya.</p>
<p>Persahabatan dan persaudaraan memang tak muncul secara instan. Ibarat pohon, harus dipupuk dan disirami. Sebagaimana Rasulullah pun sering mengarahkan sahabat-sahabatnya kepada perilaku yang membuat persaudaraan itu semakin kuat di antara mereka. Hal ini membutuhkan proses yang sangat panjang dan harus terus menerus dilakukan.</p>
<p><strong>Pertama, mengungkapkan perasaan batin kepada saudara sesama mukmin.</strong> Keterbukaan seperti ini, sangat berpengaruh pada kualitas persaudaraan dan persahabatan. Salah satu bentuknya, seperti perintah Rasul kepada seorang sahabat agar ia menyampaikan perasaan &rsquo;cinta&rsquo;nya kepada orang yang dicintai, bahwa ia mencintainya karena Allah. Pernyataan ini adalah pendahuluan bagi terbukanya jalur komunikasi yang baik antara seseorang dengan saudaranya.</p>
<p>Rasul juga mengarahkan para sahabat untuk berkomunikasi dan menumbuhkan kecintaan di antara mereka dengan menyampaikan salam. Beliau bersabda, &#8220;<em>Demi Zat yang jiwaku ada di tangan-Nya. Tidak akan masuk surga kalian sampai kalian beriman. Dan tidak akan beriman sampai mereka mereka saling mencintai. Maukah aku tunjukkan kalian dengan sesuatu yang jika kalian lakukan, maka kalian akan saling cinta? Tebarkanlah salam di antara kalian.</em>&#8221; (HR. Muslim). </p>
<p>Salam yang dimaksud oleh Rasulullah, tentu tidak hanya salam secara lisan. Tapi salam dalam makna yang lebih dalam yaitu kedamaian dalam hati. Termasuk dalam kategori menyebarkan salam adalah dengan menyambutnya dengan wajah senang, menjabat tangannya dengan kehangatan, memandangnya dengan penuh kehangatan dan sebagainya. </p>
<p>&#8220;<em>Jangan kau menghina kebaikan meskipun kecil, seperti sekadar berwajah ceria di hadapan saudaramu</em>,&#8221; demikian pesan Rasulullah saw. </p>
<p>Wajah ceria, jabatan tangan yang hangat, pandangan mata, seluruhnya akan memunculkan getaran dalam jiwa. Inilah yang dinyatakan oleh Jarir Al Bajali tentang kesannya yang sangat mendalam dengan senyum Rasulullah. Katanya, &#8220;<em>Tak ada yang membatasi aku dan Rasulullah sejak aku masuk Islam, dan tidak pernah Rasul melihatku kecuali dia tersenyum</em>.&#8221; (HR. Bukhari)</p>
<p>Pengungkapan perasaan batin juga bisa dicetuskan melalui bait-bait do&rsquo;a kepada orang yang dicintai. Sebagaimana anjuran Rasulullah, &#8220;<em>Doa seorang mukmin kepada saudaranya, dalam kondisi yang tidak diketahui (oleh saudaranya), akan dikabulkan oleh Allah.</em>&#8221;</p>
<p>Al Hafidz Khatib Baghdadi menceritakan tentang Thayib Ismail Abi Hamdun, salah seorang hafiz Qur&rsquo;an terkenal di zamannya. Disebutkan Abu Hamdun mempunyai catatan 300 orang saudara-saudaranya, yang setiap hari didoakan satu persatu oleh Abu Hamdun. Pernah, suatu ketika Abu Hamdun tertidur dan belum mendoakan mereka. Dalam tidurnya Abu Hamdun bermimpi seseorang bertanya, &#8220;Kenapa engkau tidak menyalakan lampu pada malam ini? Abu Hamdun terbangun dan menyalakan lampu. Kemudian ia mengambil catatannya dan berdoa untuk saudara-saudaranya satu persatu sampai selesai.&#8221; (Tarikh Baghdad, 9/361).</p>
<p><strong>Kedua, memperbanyak interaksi secara langsung dengan saudara seiman.</strong> Hal ini juga penting untuk membina jalur komunikasi yang baik antara satu pihak dengan pihak yang lain. Pertemuan dapat menjadi sarana saling menyampaikan nasihat, mendiskusikan berbagai persoalan yang bermanfaat, saling membantu, di samping mengetahui lebih jauh tentang kondisi masing-masing.</p>
<p>Ini juga yang dianjurkan oleh Rasulullah. Salah satunya adalah dengan melakukan kunjungan kepada saudara seiman. Rasulullah pernah bersabda, &#8220;<em>Maukah kalian aku sampaikan tentang ahli surga? Para nabi di surga, orang yang mati syahid di surga, orang yang jujur di surga, para bayi di surga, dan orang yang menziarahi saudaranya dari tepi kota karena Allah, juga di surga.</em>&#8221; (HR Thabrani dan Daruquthni).</p>
<p>Hasan Al Bashri mengatakan, &#8220;<em>Bertemu dengan saudara kami lebih aku sukai daripada isteri dan anak kami. Karena keluarga kami mengingatkan kami dengan dunia, sedangkan saudara kami mengingatkan kami dengan akhirat.</em>&#8221; (Ihya Ulumiddin, 2/176)</p>
<p>Bahkan Malik bin Dinar, tokoh generasi tabi&rsquo;in, mengatakan, &#8220;<em>Tak ada yang tersisa dari ruh dunia kecuali tiga: Bertemu dengan saudara, tahajud dengan membaca Al Qur&rsquo;an, dan rumah yang di dalamnya digunakan untuk dzikrullah.</em>&#8221; </p>
<p>Umar ra juga mengatakan, &#8220;<em>Kalaulah bukan karena berjuang di jalan Allah, atau meletakkan kening di atas tanah untuk sujud kepada Allah, atau duduk bersama bertemu dengan orang-orang yang mengemukakan kalimat yang baik sebagaimana memetik buah-buahanyang baik, niscaya aku lebih suka meninggal untuk bertemu dengan Allah SWT.</em>&#8221; (Az Zuhd li Ibnul Mubarak, 416)</p>
<p><strong>Ketiga, bersikap empati dan peduli terhadap segala keadaan yang dialami oleh saudara seiman.</strong> Berempati, bisa diwujudkan dengan sikap memasukkan kebahagiaan dalam hati orang lain. </p>
<p>Inilah yang disampaikan oleh Ibnu Umar ra, &#8220;<em>Amal yang paling dicintai Allah adalah kebahagiaan yang engkau masukkan dalam hati seorang muslim, atau engkau mengangkat suatu kesulitannya, atau engkau membayarkan hutangnya, atau engkau mengusir laparnya. Aku berjalan bersama seorang saudara dalam memenuhi keperluan, itu lebih aku cintai daripada aku itikaf di masjid ini (masjid Nabawi) selama sebulan. Dan barang siapa yang berjalan bersama saudaranya dalam suatu keperluan sampai saudaranya mendapatkan keperluannya, niscaya Allah akan memantapkan pijakan kakinya di hari manusia terpeleset.</em>&#8221; (HR Thabrani)</p>
<p>Agar seseorang bisa memberi kebahagiaan kepada orang lain, ia harus mengetahui kondisi saudaranya tersebut. Begitu seharusnya seorang saudara turut larut dalam kebahagiaan dan turut bersedih dalam duka yang dirasakan saudaranya. </p>
<p>Sa&rsquo;id bin Al Ash mengatakan, &#8220;<em>Saya tidak menyukai bila lalat lewat di depan saudaraku karena saya khawatir lalat itu akan menyakitinya.</em>&#8221;</p>
<p>Demikianlah panduan ber-ukhuwah yang diambil dari sikap-sikap para sahabat dan salafus shalih dalam memelihara hubungan di antara mereka. Sungguh indah bila kaum muslimin saat ini mampu mewujudkan suasana berukhuwah. </p>
<p>Seorang ulama dakwah, Hasan Al-Banna, mungkin salah satu tokoh yang berupaya membumikan kembali konsep persaudaraan itu di kalangan umat Islam. Dalam &rsquo;memorandumnya,&rsquo; ia menuliskan salah satu misi perjuangan yang dilakukannya adalah &#8220;<strong>mengangkat persaudaraan di antara kaum muslimin dari tingkat pembicaraan dan wacana pada tingkatan praktis dan aplikatif.</strong>&#8221; (Risalatut Ta&rsquo;lim, Hasan Al Banna)</p>
<p>Sumber: Majalah Tarbawi Edisi 27 Th. 3/Syawal 1422 H/31 Desember 2001 M</p>
<p>Dipublikasi ulang oleh <a href="http://www.pks-sidoarjo.org">Admin DPD PKS Sidoarjo</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pks-sidoarjo.org/hikmah/menumbuhsuburkan-pohon-persaudaraan.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Yang Bersekutu Karena Kepentingan</title>
		<link>http://pks-sidoarjo.org/hikmah/yang-bersekutu-karena-kepentingan.htm</link>
		<comments>http://pks-sidoarjo.org/hikmah/yang-bersekutu-karena-kepentingan.htm#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Jul 2010 21:55:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>webmaster</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pks-sidoarjo.org/?p=1076</guid>
		<description><![CDATA[Di dunia ini, begitu banyak orang yang berteman hanya karena tujuan duniawi. Tidak sedikit orang yang menjalin kebersamaan semata-mata karena kepentingan sesaat. Ibaratnya, habis manis sepah dibuang. Bahkan, yang lebih sadis lagi, ada orang-orang yang berpura-pura menjadi teman, sekadar untuk menghisap dan menggerogoti orang lain.

Apa yang dilakukan Snouck Hurgonje yang berpura-pura masuk Islam, menjadi salah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Di dunia ini, begitu banyak orang yang berteman hanya karena tujuan duniawi. Tidak sedikit orang yang menjalin kebersamaan semata-mata karena kepentingan sesaat. Ibaratnya, habis manis sepah dibuang. Bahkan, yang lebih sadis lagi, ada orang-orang yang berpura-pura menjadi teman, sekadar untuk menghisap dan menggerogoti orang lain.<br />
<span id="more-1076"></span><br />
Apa yang dilakukan Snouck Hurgonje yang berpura-pura masuk Islam, menjadi salah satu contoh akurat. Christiaan Snouck Hurgronje lahir di Leiden 26 juni 1936. Ia seorang orientalis yang pada 1889 diminta datang oleh penguasa Belanda untuk memberikan saran cara menaklukkan Aceh. Pada 11 Januari 1889, ia diangkat menjadi penasehat urusan pribumi dan Arab.</p>
<p>Ia akhirnya menjadi tulang punggung mengelabui mata kaum Islam di Indonesia, untuk mempelajari dan mencari celah-celah, supaya kekuasaan penjajah Belanda tetap langgeng. Ia memberikan nasihat-nasihat yang dijadikan garis peraturan-peraturan pemerintah kolonial dalam menekan dan menetralisir Islam di Indonesia. Dalam menempuh upayanya, ia bahkan berpura-pura memeluk Islam, menikah dengan wanita muslim, dan beribadah haji.</p>
<p>Tak sedikit masyarakat muslim Indonesia saat itu yang terkecoh dan mempercayainya sebagai muslim yang baik. Termasuk mertuanya, yang menganggapnya muslim yang baik dan bersedia menikahkannya dengan puterinya.</p>
<p>Lewat interaksi yang intensif dengan umat Islam yang sangat dipermudah dengan penyamarannya, ia memperingatkan penguasa Belanda atas berbagai hal, yang jika dibiarkan akan membahayakan kekuasaan Belanda di Indonesia. Maka tak heran kalau Harry J. Benda, seorang penulis Eropa menilai Snouck sebagai salah seorang negarawan-kolonial besar Belanda. Menurut Benda, pengetahuan Snouck tentang sifat Islam-Indonesia, sekalipun dalam beberapa hal dapat dipertanyakan, sangat besar artinya dalam menjalankan politik Belanda menuju keberhasilan.</p>
<p>Di antara sekian banyak sarannya adalah agar penguasa Belanda melestarikan tradisi nenek moyang orang Indonesia dan mengusa-hakan supaya Islam hanya menjadi &#8220;agama masjid&#8221;. Artinya agama yang semata-mata berisi ibadah ritual pada Allah. Jika tidak, menurut Snouck, Islam akan menjadi agama yang membahayakan kelestarian penjajah Belanda di Indonesia. Ia juga menganjurkan pemerintah Hindia Belanda untuk mengawasi kas masjid supaya tidak digunakan untuk membahayakan kekuatan penguasa Belanda dan melakukan pengawasan yang ketat tapi selektif terhadap jemaah haji Indonesia.</p>
<p>Ulah Snouck itu tak urung mengacak-acak keberadaan kaum muslimin yang dengan susah-payah harus berjuang melawan Belanda. Ia tidak sekadar duri dalam daging, atau musuh dalam selimut. la lebih sadis dari serigala berbulu ayam.</p>
<p>Dalam sejarah Perang Dunia II, juga ada kisah bagaimana persekongkolan dilakukan dalam level negara, demi kepentingan sesaat. </p>
<p>Pada 27 September 1940, Jepang menandatangani Pakta Tiga Kekuatan, yang lebih dikenal dengan Tripartite Pact bersama jerman dan Italia. Konsekuensi dari perjanjian tersebut, apabila salah satu negara anggota pakta itu berperang, maka otomatis kedua negara anggota lainnya ikut berperang bersamanya. Tegasnya, kalau Jerman berperang melawan Amerika, maka Italia dan jepang otomatis harus berperang melawan Amerika. Kalau Amerika berperang melawan Jepang, maka Jerman berperang melawan Amerika. Tapi dasar pertemanan yang dibangun oleh Jerman dan Jepang itu sekadar untuk menyelamatkan kepentingannya, untuk sesegera mungkin memenangkan peperangan di masing-masing wilayah pertempurannya.</p>
<p>Dengan kata lain, telah ada persekongkolan jahat atau <em>monsterverbond</em>. Mereka saling mendesak untuk menghancurkan negara-negara lain yang dianggapnya sebagai musuh, meskipun memiliki perjanjian dengan salah satu dari mereka. Contohnya, Jerman mendesak Jepang untuk segera menyerang Rusia, sebagai upaya Jerman untuk memecah kekuatan Rusia. Padahal telah ada perjanjian terselubung antara Jerm.an dengan Rusia untuk tidak saling menyerang. Jerman berharap, ketika Jepang menyerang Rusia, kekuatan Rusia akan terpecah.</p>
<p>Tetapi justru pada 13 April 1941, Menteri Luar Negeri Jepang, Yosuka Matsuoka mengadakan perjanjian terselubung tidak<br />
saling menyerang dengan Soviet Rusia. Semuanya demi kepentingan Jepang sendiri. Agar bisa memindahkan tentaranya dari Manchuria yang berbatasan langsung dengan Siberia, Rusia, ke jurusan selatan, ke Filipina, Malaysia, dan Indonesia.<br />
Akhirnya, Rusia memusatkan kekuatan tentaranya di Eropa guna menghadapi ekspansi Hitler. Sejak itulah, diawali titik balik jalannya perang dunia kedua, ditandai dengan kekalahan besar Jerman di front Leningrad Rusia.</p>
<p>Demikianlah, pertemanan yang dibuat oleh para kreator Perang Dunia II: Hitler, Stalin, dan militeris Jepang. Prinsipnya lawan dijadikan kawan, dan kawan makan kawan, sesuai kepentingan yang mereka inginkan. Perang memang tipu daya. Tetapi Perang Dunia tidak pernah memberi keuntungan bagi Islam, secuil pun. Justeru sesudah itu, negeri-negeri muslim dikapling-kapling oleh para penjajah Barat.</p>
<p>Apapun, kebersamaan yang hanya didasari kepentingan sesaat seringkali menjadi bumerang di kemudian hari. Kita memang harus banyak belajar.</p>
<p>Sumber: Majalah Tarbawi Edisi 27 Th. 3/Syawal 1422 H/31 Desember 2001 M</p>
<p>Dipublikasi ulang oleh <a href="http://www.pks-sidoarjo.org">Admin DPD PKS Sidoarjo</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pks-sidoarjo.org/hikmah/yang-bersekutu-karena-kepentingan.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Yang Bersama Karena Keimanan</title>
		<link>http://pks-sidoarjo.org/hikmah/yang-bersama-karena-keimanan.htm</link>
		<comments>http://pks-sidoarjo.org/hikmah/yang-bersama-karena-keimanan.htm#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Jul 2010 01:53:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>webmaster</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pks-sidoarjo.org/?p=1074</guid>
		<description><![CDATA[Bila iman telah tertanam, orang lain yang jauh pun bisa menjadi saudara dekat. Ukhuwah, persaudaraan yang dibangun atas dasar iman, memang tak kenal batas. Apalagi sekadar ras, suku, bahkan negara.

Betapa banyak orang yang tak punya hubungan darah atau kekerabatan. Tetapi menjadi saudara lantaran iman yang menyatukan hati mereka.
Demikian pula yang terjadi antara Mohammad Natsir dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bila iman telah tertanam, orang lain yang jauh pun bisa menjadi saudara dekat. Ukhuwah, persaudaraan yang dibangun atas dasar iman, memang tak kenal batas. Apalagi sekadar ras, suku, bahkan negara.<br />
<span id="more-1074"></span><br />
Betapa banyak orang yang tak punya hubungan darah atau kekerabatan. Tetapi menjadi saudara lantaran iman yang menyatukan hati mereka.</p>
<p>Demikian pula yang terjadi antara Mohammad Natsir dengan Raja Faisal, seperti yang dituturkan KH. Hasan Basri, mantan Ketua Umum MUI, pada hari Tasyakuran 80 tahun Mohammad Natsir, Juli 1988. </p>
<p>Semua orang tahu bahwa pemerintah pada masa rezim Orde Lama sangat represif terhadap tokoh-tokoh Islam, termasuk kepada M. Natsir, yang pernah ditahan di Rumah Tahanan Militer Keagungan, Jakarta.</p>
<p>Pada akhir 1965, Hasan Basri diangkat menjadi Majelis Pimpinan Haji ke Mekah. Sewaktu ia singgah ke Jeddah, kawannya, salah seorang staf KBRI Jeddah, bercerita soal pengalamannya  mengantar  Subandrio menemui raja Faisal. </p>
<p>&#8220;Pak, Bapak tahu ada suatu rahasia besar waktu Subandrio naik haji,&#8221; ujarnya pada Hasan Basri. Kawan itu menambahkan, &#8220;Lama sekali kami mengusahakan dapat bertemu dengan Raja Faisal, tapi ia (Subandrio) tak bisa diterima. Ketika akhirnya Raja Faisal menerima juga, Subandrio cerita banyak tentang Islam di Indonesia, bahwa (perkembangannya) baik sekali. Subandrio melaporkan bahwa ia membela Islam, naik haji dan sebagainya. Raja Faisal diam saja. Setelah Subandrio selesai, Raja Faisal langsung bertanya, satu pertanyaan saja, &rsquo;Kenapa Saudara tahan Mohammad Natsir?&rsquo;&#8221; </p>
<p>Raja Faisal tidak memberi reaksi tentang laporan Subandrio, tentang keadaan Islam menurut Subandrio. Tapi ia menanyakan satu hal saja pada Subandrio, &#8220;Kenapa kau tahan Mohammad Natsir? Saudara tahu, Mohammad Natsir bukan pemimpin umat Islam Indonesia saja, tapi pemimpin umat Islam dunia ini, kami ini!&#8221; </p>
<p>Kawan Hasan Basri yang mendampingi Subandrio itu menyaksikan betapa Subandrio menjadi pucat mukanya. </p>
<p>Begitulah, kesatuan iman menjadi dasar utama kepedulian Raja Faisal atas apa yang menimpa M. Natsir.</p>
<p>Selain itu, sejarah perjuangan umat Islam Indonesia juga pernah mencatat lahirnya semangat Pan Islamisme, yang membangkitkan penentangan pada Belanda. Sepanjang abad 19 sampai 20, ide Pan Islamisme telah memberi inspirasi bagi lahirnya banyak negeri Islam dan gerakan kebangsaan. </p>
<p>Di Indonesia, kekuatan persaudaraan seiman dalam semangat Pan Islamisme, menjelma pula dalam bentuk penentangan pada penjajah Belanda. Hal ini semakin bertambah, terutama dengan dibukanya konsul Turki di Jakarta.</p>
<p>Sampai-sampai, dalam surat rahasia kepada Cubernur jenderal Hindia Belanda pada 28 Juli 1904, Snouck Hurgronje, adviseur dari Islomitische en Arabische Zaken telah mengkhawatirkan pengaruh Pan Islamisme ini. Snouck akhirnya mengusulkan larangan imigrasi orang-orang Arab ke Indonesia. Menurutnya larangan ini bukan karena alasan ekonomi, tapi karena alasan politik. Ia mencontohkan pemberontakan di Aceh yang dipimpin Habib Abdurrachman Al Zahir dan beberapa orang Arab lainnya bersama masyarakat pribumi.</p>
<p>Menurut Snouck, di kalangan orang Arab di Indonesia pada masa itu memang tertanam harapan pada negara Islam besar, yaitu Turki. Dan semangat ini disebarkan pada penduduk pribumi muslim. Apalagi, lewat konsulatnya, pemerintah Turki sendiri sering memberi nasihat pada raja pribumi dan zelfbestuur, untuk mencegah mereka mengindentifikasikan diri dengan penjajah Belanda. Sejak konsulat Turki di tempatkan di Batavia, sejumlah besar orang Arab dan pribumi menganggap Konsul Jenderal Turki sebagai wakil kekuasaan, yang akan menolong mereka. Mereka merasa mempunyai pelindung yang lain, bukan kaum penjajah yang memerintah mereka.</p>
<p>Hal yang sama dikemukakan Dr. Hazeu, pengganti Snouck, dalam surat rahasianya pada 3 Juni 1908. Menurutnya, &#8220;fanatisme&#8221;<br />
dan Pan-Islam, menimbulkan banyak keributan dan penentangan di pulau Jawa, hingga setiap waktu pemerintah Hindia Belanda dapat berada dalam keadaan yang sangat sulit.</p>
<p>Sementara, yang baru-baru ini terjadi, terkait dengan intervensi Amerika ke Afghanistan, adalah munculnya solidaritas yang kuat dari kaum muslimin di berbagai penjuru dunia. Gempuran Amerika ke Afghanistan dengan berbagai senjata berat itu mengundang kecaman dan caci maki.</p>
<p>Serangan tersebut menimbulkan solidaritas kaum muslimin seluruh dunia. Indonesia sendiri sebagai negeri muslim terbesar, memberikan reaksi solidaritas. Ada KISA (Komite Indonesia untuk Solidaritas Afghanistan), Dompet Dhu&rsquo;afa, Mer-C, DSUQ, dan Al-Falah Surabaya, yang berusaha keras membantu kaum muslimin Afghanistan. Bahkan, KISA, dengan menggandeng LSM internasional telah menuju front depan Afghanistan di ibu kota Kabul.</p>
<p>Demikian halnya dengan kaum muslimin di Mesir, Malaysia serta Qatar. Bahkan di negeri yang muslimnya minoritas seperti Thailand, Jerman, Inggris, dan Amerika sendiri, solidaritas sesama muslim semakin kental. Mereka banyak membuat aksi solidaritas, mulai demonstrasi, pemboikotan produk Amerika, pengiriman bantuan, dan relawan.</p>
<p>Sekali lagi, iman yang tertanam di dalam dada begitu banyak melahirkan keajaiban, keagungan, sekaligus harmoni hidup yang nyaman. Dari sana, lantas lahir kebersamaan yang tak terpisahkan oleh batas-batas duniawi. Karena mereka menyandarkan kebersamaannya kepada Allah SWT.</p>
<p>Sumber: Majalah Tarbawi Edisi 27 Th. 3/Syawal 1422 H/31 Desember 2001 M</p>
<p>Dipublikasi ulang oleh <a href="http://www.pks-sidoarjo.org">Admin DPD PKS Sidoarjo</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pks-sidoarjo.org/hikmah/yang-bersama-karena-keimanan.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Yang Berempati Karena Kemanusiaan</title>
		<link>http://pks-sidoarjo.org/hikmah/yang-berempati-karena-kemanusiaan.htm</link>
		<comments>http://pks-sidoarjo.org/hikmah/yang-berempati-karena-kemanusiaan.htm#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Jun 2010 23:49:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>webmaster</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pks-sidoarjo.org/?p=1072</guid>
		<description><![CDATA[Kisah Salahuddin adalah contoh bagaimana seorang muslim dengan segala ketinggian aqidah dan loyalitasnyayang membaja kepada kebenaran, tetap saja bisa bersikap lembut kepada orang lain, dengan dasar kemanusiaan.

Salahuddin Yusuf Al-Ayyubi adalah seorang panglima dan pahlawan muslim yang tidak asing lagi. Ia juga pendiri dinasti Ayubiah di Mesirdan terkenal sebagai ahli ilmu Islam. Lika-liku hidup Salahuddin penuh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kisah Salahuddin adalah contoh bagaimana seorang muslim dengan segala ketinggian aqidah dan loyalitasnyayang membaja kepada kebenaran, tetap saja bisa bersikap lembut kepada orang lain, dengan dasar kemanusiaan.<br />
<span id="more-1072"></span><br />
Salahuddin Yusuf Al-Ayyubi adalah seorang panglima dan pahlawan muslim yang tidak asing lagi. Ia juga pendiri dinasti Ayubiah di Mesirdan terkenal sebagai ahli ilmu Islam. Lika-liku hidup Salahuddin penuh dengan perjuangan dan peperangan. </p>
<p>Peperangan yang dilaluinya begitu beragam. Adakalanya hanya memadamkan pemberontakan dalam negeri. Tetapi yang terbesar adalah perangnya melawan Pasukan Salib, yang berusaha menguasai dunia Islam dan merampas hak-hak penduduknya.</p>
<p>Perang antara tentara Islam dan tentara Salib yang sewaktu-waktu diselingi dengan perdamaian yang sering dilangar tentara Salib, mengisi lembaran perjuangan Salahuddin. Setelah Baitulmaqdis (Yerusalem) dikuasai Salahuddin, Paus Gregory langsung mengumandangkan Perang Salib. Seruang itu pun disambut raja dan masyarakat Eroyra. Di kemudian hari, perang itu diteruskan oleh Clement III, pengganti Gregory. Tak ketinggalan, Raja Philip II (raja Perancis) dan Raja Richard I (The Lion Hearted, raja Inggris) langsung memimpin pasukan.</p>
<p>Di sela pertempuran dengan Salahuddin, Richard jatuh sakit. Pertempuran untuk sementara dihentikan. Sewaktu ia terbaring lemah, para pimpinan tentara dibawahnya cekcok. Mereka memperebutkan kedudukan Richard, semuanya &#8220;bersiap-siap&#8221; menggantikan kedudukannya sebagai panglima perang, kalau ia akhirnya meninggal. Richard memang tak kunjung sembuh. Dan, sungguh di luar dugaannya, tiba-tiba datang dokter muslim utusan Salahuddin, musuhnya dalam pertempuran itu. Dokter itu disuruh Salahuddin mengobati penyakit Richard. Richard akhirnya menerima pengobatan itu dan sembuh.</p>
<p>Betapa mengherankan dan menimbulkan simpati mendalam sikap Salahuddin di mata Richard. Di saat anak buahnya bertengkar memperebutkan posisinya, musuhnya malah mengupayakan kesembuhannya.</p>
<p>Pada dasarnya, Salahudin memang memiliki toleransi yang tinggi terhadap agama lain. Ketika menguasai Iskandariah, ia mengunjungi orang-orang Kristen. Dan setelah perdamaian tercapai dengan Pasukan Salib, ia mengizinkan mereka berziarah ke Baitulmakdis.</p>
<p>Dari Indonesia, sikap empati dan kebersamaan atas dasar kemanusiaan juga dicontohkan pejuang besar, H. Agus Salim. Dalam suatu rapat Syarikat Islam yang mulai panas akibat pertentangan dengan SI merah, Muso, yang masih menjadi anggota SI, berbicara di atas podium. Saat itu, hadir H.O.S. Tjokroaminoto dan Agus Salim. </p>
<p>Di atas podium Muso menyindir, orang yang berjenggot itu seperti apa saudara-saudara? </p>
<p>Para pendukungnya menjawab, &#8220;Kambing!&#8221;</p>
<p>Muso bertanya lagi, &#8220;Orang yang berkumis itu seperti apa saudara-saudara?&#8221;</p>
<p>Dijawab oleh pendukungnya, &#8220;Kucing!&#8221; </p>
<p>Muso menyindir Agus Salim yang berjenggot dan Tjokroaminoto yang berkumis.</p>
<p>Setelah Muso turun dari podium, Agus Salim naik ke atas mimbar. Langsung ia berkata, &#8220;Tadi kurang lengkap saudara-saudara. Yang tidak berkumis dan tidak berjenggot itu seperti apa? &#8220;Anjing,&#8221; ujarnya. </p>
<p>Demikianlah kegusaran lawan-lawan politik pada sejumlah tokoh Islam, termasuk Agus Salim.</p>
<p>Namun ada kisah menarik soal hubungan Agus Salim dengan Sutan Sjahrir, yang juga tak sejalan dengan Agus Salim. Menurut penuturan Sjahrir, ia bersama sekelompok pemuda pernah sengaja mendatangi rapat di mana Agus Salim akan berpidato. Menurut Sjahrir, mereka memang bermaksud mengacaukan pertemuan itu. Setiap kalimat yang diucapkan Agus Salim mereka sambut dengan mengejek jenggotnya.</p>
<p>Setelah ketiga kalinya mereka menyahut ucapan Salim dengan &#8220;mbeeek.. mbee-eek&#8230;mbeeeek&#8221;, Agus Salim mengangkat tangannya sambil berkata, &#8220;Tunggu sebentar. Bagi saya sungguh suatu hal yang sangat menyenangkan bahwa kambing-kambing pun telah mendatangi ruangan ini untuk mendengarkan pidato saya. Hanya sayang sekali bahwa mereka kurang mengerti bahasa manusia,<br />
sehingga mereka menyela dengan cara yang kurang pantas. Jadi saya sarankan agar untuk sementara mereka tinggalkan ruangan ini untuk sekadar makan rumput di lapangan. Sesudah pidato saya ini yang ditujukan kepada manusia selesai, mereka akan dipersilakan masuk kembali dan saya akan berpidato dalam bahasa kambing khusus untuk mereka. Karena dalam agama Islam bagi kambing pun ada amanatnya, dan saya menguasai banyak bahasa.&#8221;</p>
<p>Syahrir menuturkan, &#8220;Saat itu kami tidak meninggalkan ruangan. Namun muka kami merah melihat gelak tawa dari hadirin lainnya.&#8221; </p>
<p>Namun, hubungan yang tidak harmonis di medan politik, tidak menghalangi Agus Salim untuk menerima Sutan Sjahrir menginap di rumahnya. </p>
<p>Sjahrir justru terkesan dengan kehidupan keseharian Agus Salim dan keluarganya. &#8220;Saya turut mengenyam makanan hariannya yang tidak lebih dari nasi garam dan daun ubi kayu. Meskipun begitu tiap-tiap waktu makan sangat menarik karena suasana selalu gembira, terutama Haji Agus Salim, selalu menyuguhi pembicaraan dengan fikiran yang segar dan menarik,&#8221; kenang Sjahrir.</p>
<p>Bahkan, sewaktu bersama Agus Salim pergi ke Amerika Serikat membawa misi Indonesia yang baru merdeka, Sjahrir lagi-lagi terkesan dan memuji Agus Salim. Sjahrir mengisahkan, di Amerika saat itu, berkembang opini yang sangat buruk terhadap Indonesia. Pers, apalagi dari State Departement, sangat terpengaruh gambaran yang diberikan Belanda tentang Indonesia.</p>
<p>Dalam situasi demikian, di antara rombongan, Agus Salim paling optimis dan paling militan menghadapi dunia yang merendahkan hasil perjuangan rakyat Indonesia. &#8220;Di dalam pertemuan-pertemuan yang diadakan dengan wakil-wakil State Department yang waktu itu jauh dari pada manis terhadap kita, selalu kemahiran Haji Agus Salim dalam perdebatan yang menguasai pembicaraan,&#8221; tambah Sjahrir.</p>
<p>Demikianlah, orang-orang besar yang sesungguhnya, justru mampu melihat kekerdilan orang lain dengan kacamata kasih sayang. Betapa agama ini, telah mengantarkan manusia kepada kemuliaan kemanusiaan yang tiada bandingnya.</p>
<p>Sumber: Majalah Tarbawi Edisi 27 Th. 3/Syawal 1422 H/31 Desember 2001 M</p>
<p>Dipublikasi ulang oleh <a href="http://www.pks-sidoarjo.org">Admin DPD PKS Sidoarjo</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pks-sidoarjo.org/hikmah/yang-berempati-karena-kemanusiaan.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menanti Jiwa-Jiwa Penyayang</title>
		<link>http://pks-sidoarjo.org/hikmah/menanti-jiwa-jiwa-penyayang.htm</link>
		<comments>http://pks-sidoarjo.org/hikmah/menanti-jiwa-jiwa-penyayang.htm#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 27 Jun 2010 23:47:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>webmaster</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pks-sidoarjo.org/?p=1070</guid>
		<description><![CDATA[Kota Madinah, di pagi yang masih sangat buta. Butir-butir pasir saling merapat kedinginan. Langit nampak hitam. Tanda malam masih menyisakan banyak potongan gelapnya. Suasana hening, nyaris tanpa suara.

Rasulullah saw memasuki pagi itu dengan badan yang panas. Nampaknya, manusia mulia pilihan Allah itu terserang demam.
Aisyah, isteri Rasulullah juga sedang sakit kepala. 
&#8220;Aduhai kepalaku,&#8221; gumam Aisyah. 
Rasulullah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kota Madinah, di pagi yang masih sangat buta. Butir-butir pasir saling merapat kedinginan. Langit nampak hitam. Tanda malam masih menyisakan banyak potongan gelapnya. Suasana hening, nyaris tanpa suara.<br />
<span id="more-1070"></span><br />
Rasulullah saw memasuki pagi itu dengan badan yang panas. Nampaknya, manusia mulia pilihan Allah itu terserang demam.</p>
<p>Aisyah, isteri Rasulullah juga sedang sakit kepala. </p>
<p>&#8220;Aduhai kepalaku,&#8221; gumam Aisyah. </p>
<p>Rasulullah menyahut, &#8220;Justeru kepalaku, wahai Aisyah.&#8221; Kemudian Rasulullah menambahkan, &#8220;Wahai Aisyah, tak usah risau bila engkau meninggal lebih dulu. Bukannya ada aku yang akan mengurusi, mengkafani, menyolatkan dan menguburkan engkau?&#8221;</p>
<p>Aisyah menimpali, &#8220;Tapi setelah selesai, engkau akan pulang ke rumahku untuk bermalam bersama istri engkau yang lain.&#8221; </p>
<p>Rasulullah tersenyum mendengar jawaban isterinya.</p>
<p>Malam sebelumnya, Rasulullah pergi ke Baqi&rsquo;, tempat para sahabat yang syahid dimakamkan. Di sana, Rasulullah memohonkan ampun kepada Allah untuk para syuhada&rsquo; itu. </p>
<p>Beliau pergi ke sana bersama Abu Muwaihibah. Dalam perjalanan pulang, Rasulullah berkisah, &#8220;Wahai Abu Muwaihibah, telah didatangkan kepadaku kunci-kunci kekayaan dunia untuk tinggal di dalamnya, lalu ke surga. Aku disuruh memilih antara di dunia, atau bertemu dengan Allah dan masuk surga.&#8221;</p>
<p>Abu Muwaihibah menyahut, &#8220;Pilihlah tinggal di dunia dengan segala kunci-kunci kekayaannya, baru sesudah itu ke surga.&#8221; </p>
<p>Rasulullah menjawab, &#8220;Tidak, wahai Abu Muwaihibah. Aku telah memilih bertemu dengan Allah dan surga.&#8221;</p>
<p>Selanjutnya, sakit Rasulullah semakin parah. Ini kemudian menjadi awal dari hari-hari belasungkawa yang sangat mengguncangkan. Para sahabat mengalami apa yang mungkin tidak pernah mereka bayangkan. Betapa sosok agung yang selama ini mengajarkan kepada mereka tentang jalan hidup, tentang persaudaraan, juga kebersamaan tengah berada dalam ketidakberdayaan. </p>
<p>Tiga belas hari kemudian, kala matahari memasuki waktu Dhuha yang semakin panas, Rasulullah menghadap Allah.</p>
<p>Sosok pemersatu itu telah pergi selama-lamanya. Rasulullah saw yang telah mempersatukan kaum muhajirin dan Anshar, mempersatukan suku Aus dan Khazraj, dan menautkan ratusan ribu jiwa dalam satu nafas: nafas keimanan kepada Allah. Semuanya diabadikan Allah dalam firman-Nya, &#8220;Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara, dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.&#8221; (QS. Ali Imran: 103).</p>
<p>Seluruh sahabat berkabung, dirundung kesedihan yang sangat dalam. Anas bin Malik mengisahkan, &#8220;<em>Aku tidak pernah melihat suatu hari yang lebih baik dan lebih terang selain dari hari saat Rasulullah saw masuk ke tempat kami. Dan, aku tidak melihat hari yang lebih buruk dan lebih muram selain dari hari saat Rasulullah saw meninggal dunia.</em>&#8221;</p>
<p>Seluruh ekspresi orang-orang yang mencintai Rasulullah itu adalah gambaran tentang tingginya kedudukan Rasulullah di mata mereka. Betapa tidak, kehadiran Rasulullah telah menjadi simpul kebersamaan yang sangat kuat. Bertahun-tahun mereka mengarungi perjuangan, suka, dan dukanya. Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing. Rasulullah telah mencetak sebuah entitas kolektif baru yang penuh <em>izzah</em>: kaum muslimin, yang hidup bersama dalam ikatan ukhuwah dan iman kepada Allah.</p>
<p>Rasululah datang kala orang-orang jahiliyah saling bermusuhan atas nama solidaritas kabilah, atau atas nama kebanggaan dan keberanian yang lebih mirip arogansi ngawur. Meski di tengah segala keburukan itu, banyak sifat-sifat mereka yang baik, seperti jujur dan menepati janji. Rasulullah hadir, lantas mengais-ngais segala potensi kebaikan itu, lalu menganyamnya dengan penuh kesabaran hinga menjadi kumpulan jiwa-jiwa yang bersih, pemberani dan pembela kebenaran yang tangguh.</p>
<p>Kini, beratus-ratus tahun kemudian, kita hanya bisa merindukan suasana kebersamaan yang indah, kerekatan bersama yang nyaman, atas nama sebuah ukhuwah, seperti para sahabat itu. Seperti kerekatan Rasulullah dan orang-orang yang mencintainya sepenuh hati. </p>
<p>Ya, karena setiap orang memerlukan orang lain, dalam konteks apapun. Apalagi hari-hari ini, ketika umat Islam semakin tercabik-cabik. Ketika gelombang individualisme menyerbu sendi-sendi kehidupan. Sungguh, kita menantikan sebuah suasana kebersamaan yang tulus.</p>
<p>Tak bisa dipungkiri, setiap manusia memerlukan aktualisasi kolektif, memerlukan ruang kebersamaan tempat dirinya menemukan jati diri dan harga dirinya. Karenanya Islam pun memberi wadah dan ruang untuk semua potensi dan fitrah kemanusiaan itu. Bahkan, persekutuan yang dibangun oleh Islam begitu mulia, jauh lebih tinggi dari persekutuan yang pernah ada sebelumnya.</p>
<p>Tingkatan kepedulian dalam kebersamaan itu terbagi menjadi tiga hal. <strong>Pertama, empati kemanusiaan.</strong> Ini merupakan kulit paling luar dari sebuah kebersamaan. Dasarnya adalah firman Allah SWT, &#8220;<em>Dan tidaklah aku utus engkau (Muhammad) melainkan sebagai rahmat bagi alam semesta.</em>&#8221; </p>
<p>Empati kemanusiaan itu pula yang ditunjukkan Rasulullah kepada orang Yahudi yang sedang sakit. Rasulullah menjenguk Yahudi itu dengan tulus. Atau keinginannya untuk hadir dalam sebuah majelis advokasi dan sosial milik orang-orang Qurays yang kafir. Majelis itu bernama &#8220;Hilful Fudhul&#8221;, yang dengan biaya dari anggotanya sendiri majelis atau lembaga itu akan membantu siapa saja yang merasa terdzalimi.</p>
<p>Empati kemanusiaan juga didasarkan kepada ajaran Islam yang melarang kita berbuat tidak adil kepada orang yang tidak kita sukai. Allah berfirman, &#8220;<em>Dan janganlah kebencianmu kepada suatu kaum membuatmu tidak berbuat adil.</em>&#8221; (QS.Al-Anbiya: 107). </p>
<p>Semua itu menggambarkan sebuah situasi tentang kebersamaan yang dibangun atas dasar kepedulian kemanusiaan atau solidaritas kemanusiaan tanpa membedakan agama.</p>
<p><strong>Kedua, persaudaraan kelslaman.</strong> Artinya, kebersamaan ini lebih tinggi dari sekadar kemanusiaan. Karena ia didasarkan kepada agama. Penjabarannya, bahwa setiap muslim itu bersaudara. Karenanya, harus saling memberikan bantuan, dukungan, nasehat, bimbingan dan pertolongan dalam bentuk lainnya. </p>
<p>Dasar dari persaudaraan keIslaman adalah sabda Rasulullah, &#8220;<em>Tolonglah saudaramu, yang dzalim maupun yang terdzalimi.</em>&#8221; Artinya, seorang muslim itu mungkin saja melakukan kedzaliman, sebagaimana ia mungkin saja didzalimi. Namun meski begitu Rasulullah menyebutnya &#8220;saudaramu&#8221;.</p>
<p><strong>Dan, yang ketiga, kebersamaan yang didasarkan kepada keimanan dan kesatuan perjuangan.</strong> Seperti difirmankan Allah, &#8220;<em>Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara. Karena itu, damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.</em>&#8221; (Al-Hujurat: 10).</p>
<p>Kebersamaan atas dasar iman dan kesatuan perjuangan menjadikan orang-orang yang bergabung di dalamnya betul-betul saling mencintai karena Allah, rela berkorban, berjuang, dan melakukan apa saja untuk menggapai ridha Allah. Karena ada sesuatu yang ingin dipersembahkan kepada Allah secara bersama-sama. Bisa berupa amal shalih, juga kegigihan dalam menegakkan kebaikan dan mencegah keburukan.</p>
<p>Karenanya, kebersamaan ini memerlukan banyak sekali pengorbanan. Seperti yang dilakukan oleh para kaum Anshar, yang rela memberikan apa saja demi saudaranya kaum Muh-jirin. Seperti digambarkan Allah dalam Al-Qur&rsquo;an, &#8220;<em>Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.</em>&#8221; (QS. Al-Hasyr: 9).</p>
<p>Dalam masa Rasulullah, misalnya, ada sahabat-sahabat yang berjanji setia kepada Rasulullah untuk membela Islam, meskipun nyawa sebagai tebusannya. Ini tentu berbeda dengan seorang Badui yang datang kepada Rasulullah untuk masuk Islam, namun kemudian berjanji hanya akan menjalani rukun Islam yang lima saja, tidak menambah dan tidak mengurangi.</p>
<p>Segala kebersamaan yang hanya didasarkan kepentingan sesaat, apalagi kepentingan yang buruk, tidak akan pernah kekal. Jangankan sampai akhirat, di dunia pun banyak yang tidak berumur panjang. Allah swt menegaskan, &#8220;<em>Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.</em>&#8221; (QS. Az-Zukhruf: 76).</p>
<p>Dunia sedang menantikan sosok-sosk pemersatu. Kantong-kantong kebersamaan banyak yang telah bocor dan tercabik-cabik. Seperti keluarga yang amburadul, masyarakat yang kacau-balau, atau negara yang nyaris rontok diacak-acak perampok. </p>
<p>Ini mungkin terlalu utopis. Tetapi, di tengah sampah-sampah kehidupan yang terus menggunung, kita yakin seyakin-yakinnya, masih ada jiwa-jiwa yang bersih. Atau setidaknya jiwa-jiwa yang peduli dengan kebersamaan. Yang menjadi unsur perekat, yang me-nyatukan tulang-tulang yang berserakan. Yang menyayangi kala yang lain membenci, yang mengayomi kala yang lain memangsa. Semoga, jiwa-jiwa itu adalah jiwa-jiwa kita.</p>
<p>Sumber: Majalah Tarbawi Edisi 27 Th. 3/Syawal 1422 H/31 Desember 2001 M</p>
<p>Dipublikasi ulang oleh <a href="http://www.pks-sidoarjo.org">Admin DPD PKS Sidoarjo</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pks-sidoarjo.org/hikmah/menanti-jiwa-jiwa-penyayang.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sebelum Semuanya Bertambah Sulit</title>
		<link>http://pks-sidoarjo.org/hikmah/sebelum-semuanya-bertambah-sulit.htm</link>
		<comments>http://pks-sidoarjo.org/hikmah/sebelum-semuanya-bertambah-sulit.htm#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Jun 2010 01:52:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>webmaster</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pks-sidoarjo.org/?p=1010</guid>
		<description><![CDATA[Sulit tidak akan selamanya sulit. Sebagai mana mudah tidak selalu terus mudah. Yang jelas kesulitan tidak akan mengalahkan kemudahan dua kali. Hanya saja yang kita khawatirkan, kesulitan mempunyai nafas lebih panjang daripada semangat kita mengalahkannya.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sulit tidak akan selamanya sulit. Sebagai mana mudah tidak selalu terus mudah. Yang jelas kesulitan tidak akan mengalahkan kemudahan dua kali. Hanya saja yang kita khawatirkan, kesulitan mempunyai nafas lebih panjang daripada semangat kita mengalahkannya. Maka kita harus bersiap untuk menghadapi itu semua. Berikut persiapan yang mesti kita siapkan untuk menghadapi esokyang mungkin lebih rumit.<br />
<span id="more-1010"></span><br />
<strong>1. Siapkan Kemungkinan Terburuk dalam Hidup</strong></p>
<p>&#8220;Tiada hari yang lebih sulit dibandingkan hari ini,&#8221; kata Anas bin Malik siang itu. Hari itu Madinah menangis. Bahkan dunia. Ditinggal manusia terbaik yang pernah ada dalam sejarah. Rasulullah telah wafat untuk selamanya.</p>
<p>Ada dua penyikapan yang bertolak belakang menerima berita yang mengejutkan itu. Umar dengan kemarahannya mencabut pedang dari sarungnya dan mengancam yang berkata bahwa Muhammad telah mati. Sementara Abu Bakar dengan ketenangannya datang dan membuka kain yang menutup muka beliau dan menciumnya sambil berkata, &#8220;Demi ayah dan ibuku yang menjadi tebusannya, engkau wangi saat masih hidup dan saat telah wafat.&#8221; Abu Bakarlah yang telah menyadarkan Umar dengan ayatyang sering dibaca Umar tetapi hari itu terasa baru. Bahwa Rasulullah pun pasti pergi.</p>
<p>Keadaaan memang sulit. Kebersamaan <em>nabawi</em> sudah berakhir. Cermin yang sangat bening itu tidak bisa lagi dilihat langsung. Mendung menggelayuti dunia secara keseluruhan.</p>
<p>Tetapi Abu Bakar telah mempersiapkan semuanya. Beliau telah meletakkan kemungkinan terburuk dan tersulit dalam kebersamaan itu. Yaitu perpisahan dengan orang yang lebih dicintainya dari seluruh yang ada. Sementara Umar belum lagi mempersiapkan hal itu dan masa sulit telah datang. Sehingga nampak betul bagaimana beliau terpukul berat. Tidak menerima kenyataan yang ada di depan matanya.</p>
<p>Pelajaran di atas begitu berharga bagi kita. Selain membangun optimisme pada setiap rencana besar ke depan, kita juga harus memberikan ruang bagi kemungkinan yang paling negatif dari rencana kita.</p>
<p>Mempersiapkan mental untuk gagal sebelum gagal jauh lebih baik daripada gagal dan mental kita belum siap untuk gagal. Orang besar seperti Umar masih mempunyai kendali diri hingga tidak melakukan hal yang tidak diridhoi Allah. Kita orang yang tidak sebesar beliau.</p>
<p>Kalau ternyata kita sukses, persiapan hati untuk gagal semakin menambah indahnya perjuangan. Sementara jika takdir belum berjodoh dengan usaha dan harapan kita, hati terminal akhir dari segala rasa itu telah siap dan tidak terpuruk payah.</p>
<p>Usaha kita, bisnis kita, studi kita, keluarga kita, pekerjaan kita, semuanya mungkin bisa lebih besar dan mungkin hancur dan tidak tersisa sama sekali. Maka hati kita juga harus menyediakan dua saluran agar jika salah satu dari sukses dan gagal terjadi, keduanya mengalir pada jalur yang telah kita buat. Tidak luber ke mana-mana yang menyebabkan bencana dalam hidup kita.</p>
<p><strong>2. Siapkan Profesionalisme</strong></p>
<p>Jaman ini terus bergerak. Meninggalkan mereka yang tidak professional di bidangnya. Pendidikan tinggi tidak jaminan. Banyak kursus juga bukan segalanya. Hari ini dan terus ke depan di sebut masa profesionalisme. Hanya bagi mereka yang memilik keahlian di bidangnya Iah yang mempunyai peiuang terbesar untuk bisa sukses.</p>
<p>Sebentar lagi, siapa pun bisa masuk dan mengais kekayaan negeri ini. Kalau tidak dari sekarang kita siapkan segala cara menuju profesionalisme, tidak lama lagi kita akan terkubur.</p>
<p>Totalitas dalam usaha kita. Tidak boleh lagi hanya sampingan atau iseng belaka. Tidak hanya setengah-setengah. Bukan hanya penyandang gelar tanpa keahlian.</p>
<p>Setelah itu, kita masih dituntut untuk memiliki daya kreatifitas yang tinggi. Pesaing datang dari tempat yang jauh dengan mengeluarkan biaya yang tidak sedikit tentu telah berbekal pula dengan kredibilitas yang tinggi. Kebesaran bukan pula jaminan untuk tidak runtuh. Semua yang telah besar di masa lalu banyak yang telah terkubur oleh datangnya pesaing baru.</p>
<p>Perkembangan ilmu pengetahuan sangat luar biasa pesat. Cepat sekali, rasanya penemuan yang kemarin belum lagi kita kuasai. Kini telah muncul lagi yang lainnya. Kita harus mempunyai kecepatan secepat perkembangan ilmu itu. Kecepatan dalam belajar.<br />
Bila kita berpikir dengan cara seperti ini pun sebenarnya kita masih tertinggal. Karena kita hanya menjadi konsumen dan sasaran orang-orang hebat itu memasarkan temuannya yang terbaru.</p>
<p>Jaman makin cepat. Kecepatannya bisa mempercepat kematian sebuah usaha yang telah dirintis. Kecepatannya bisa menambah ruwet pintal-pintal kesulitan yang ada. Belajar tidak boleh berhenti. Menciptakan pribadi-pribadi yang kelak menjadi rujukan utama dalam bidang tertentu.</p>
<p><strong>3. Sebarkan Kebenaran di Lingkungan Kita</strong></p>
<p>Islam harus sampai ke hati setiap insan muslim. Kebenaran adalah kebenaran. Ia berbeda dengan kebatilan. Dirasakan dan dipancarkan dari fitrah yang suci. Ia adalah fitrah imani yang tidak boleh diragukan. Wujudnya jelas dan transparan seperti matahari di siang hari.</p>
<p>Menyebarkan kebenaran adalah tanggung jawab kita semua. Ia harus disampaikan dengan cara yang benar dan tepat pula, agar tidak tergilas oleh kebatilan yang juga muncul bak sebuah &#8220;kebenaran baru&#8221;. </p>
<p>Para pendukung kebatilan telah bekerja dengan pengorbanan tenaga, pikiran dan materi yang luar biasa. Mereka telah menghancurkan sendi-sendi kehidupan kita, lingkungan kita, jiwa raga kita dan anak keturunan kita. Tangan-tangan jahil mereka telah merambah masuk ke ruang-ruang rahasia keluarga kita. Mencuci otak kita. Mengganti budaya kesopanan kita dengan budaya impor yang tidak lebih baik dari perilaku setan durjana. Semua itu tampak jelas di hadapan kita.</p>
<p>Maka mengapakah kita tidak melakukan perlawanan terhadap kemunafikan itu, padahal ada janji kemenangan dari Allah, yang mempunyai kebenaran itu? Membiarkan kebatilan memangsa kebenaran sama dengan memusuhi kebenaran itu sendiri.</p>
<p>Tetapi perjuangan menyebarkan kebaikan sangatlah berat. Hal itu diperberat lagi dengan semakin menggejalanya ketidak pedulian masyarakat dengan Islam. Buat mereka tidaklah penting apakah keluarga sholeh atau tidak. Yang sangat penting adalah apakah mereka sudah bekerja.</p>
<p>Kebaikan ini seperti air. Dia sebenarnya bisa mengalir dan memasuki lubang hati sekecil apapun. Maka terus alirkanlah air kebenaran ini untuk memadamkan api budaya yang tidak karuan. Dari sekian banyak yang kita sampaikan, mungkin belum ada yang diterima. Tetapi jangan berhenti, karena siapa tahu dari untaian kata berikutnya yang datang dari gumpalan harapan terhadap hidayah bisa menyentak mereka yang belum sadar.</p>
<p>Ini semua agar kita bisa hidup di lingkungan yang bersih dan berkah. Hidup akan nyaman dan aman. Paling tidak kita akan berada di lingkungan yang walaupun masih belum Islami tetapi tidak lagi memusuhi Islam.</p>
<p>Persatuan umat juga berawal dari sini. Yang akan memunculkan kemenangan. Pemahaman yang tinggi akan membuat mereka berteriak dari mimbar yang sama. Dan mempunyai ukuran-ukuran yang sama untuk menilai suatu peristiwa. Menjatuhkan pilihan-pilihan hidup yang tidak salah karena berdasarkan hawa nafsu belaka.</p>
<p><strong>4. Budayakan Hidup Hemat</strong></p>
<p>Nabi Yusuf memerintahkan untuk menghadapi musim kering yang panjang dengan menabung gandum. Gandum itu ditabung berikut tangkainya. Karena dengan demikian usi gandum akan lebih lama. Musim paceklik akan sangat panjang.</p>
<p>Menghadapi kesulitan memang butuh persiapan. Tidak tahu seberapa sulitnya masa depan kita. Seperti apapun masa depan itu, menabung itu penting.</p>
<p>Menabung adalah bagian dari hidup hemat. Nabi dalam bahasa yang sangat indah mengatakan, &#8220;<em>Hematlah kalian dalam mempergunakan air walaupun kalian berada di aliran sungai.</em>&#8221;</p>
<p>Saat kita berada di aliran sungai yang airnya begitu melimpah dan tidak terkurangi saat kita menggunakannya dengan jumlah yang banyak. Dan Nabi masih mengajarkan hidup hemat. Ini hal yang menarik.</p>
<p>Kalaupun hidup kita melimpah bak aliran sungai, dan tidak terpikir oleh kita akan kekurangan, kita harus tetap hemat. Lebih lagi, ketika kita sulit. Maka bayangan hidup kita ke depan lebih tidak terjamin.</p>
<p>Menuruti nafsu tidak ada habisnya. Dia terus merongrong kita. Kalau kita cukup dengan barang yang kini ada pada kita, mengapa juga mencari yang baru demi kepuaasan mengejar mode terbaru. Bukan tidak boleh mengikuti teknologi terbaru. Tetapi masalah kita ke depan bukan semakin ringan, tetapi semakin berat. Berpikir dengan hitungan matematik prioritas sangatlah penting.</p>
<p>Pedidikan semakin mahal, harga-harga semakin naik. Jika sumber air kita sedot habis hari ini, tidak ada yang tersisa untuk generasi kita.</p>
<p>Membudayakan hidup hemat bukan saja pilihan orang bijak, tetapi juga bagian dari perintah Allah.</p>
<p><strong>5. Banyaklah Mendekatkan Diri kepada Allah</strong></p>
<p>Dekat kepada Allah adalah merupakan pendingin untuk semua. Setelah berbagai usaha kita lakukan, setelah berbagai kemungkinan buruk semakin menghantui.</p>
<p>Sandarkan semuanya kepada Allah. Buatlah ridho dengan ketaatan dan sejauh mungkin dari hal yang membuat-Nya murka. Ini akan memudahkan kita untuk menyelesaikan setiap masalah yang muncul dalam hidup kita.</p>
<p>Karena jalan keluar dari setiap permasalahan, tidak pernah bisa dipastikan oleh manusia. Walaupun usaha maksimal telah begitu banyak, tetapi terkadang masalah tetap tidak beranjak dari tempatnya. Memang bukan kita penyelesai masalah itu. Allah saja yang membuka pintu penyelesaian dari kesulitan.</p>
<p>Ikutilah perbuatan buruk yang terlanjur kita lakukan dengan perbuatan baik. Semoga bisa menghapus jejaknya. Karena jejak-jejak kebu-rukan hanya akan menjerumuskan kita kepada kesulitan dan dosa yang lain. Sehingga ketika jejak itu terhapus dengan kebaikan, semoga kita bisa berbalik arah. Mengikuti jalan setapak yang menghantarkan kita menuju pintu keluar dari setiap permasalahan.</p>
<p>Sesungguhnya setiap jiwa cenderung kepada kejelekan kecuali jiwa-jiwa yang dirahmati Allah. Untuk mengalahkannya membutuhkan perjuangan yang tidak ringan.</p>
<p>Jiwa ini harus diajari bagaimana mensyukuri yang banyak dan ridho kepada yang sedikit. Jiwa ini harus dibimbing menuju rasa menerima terhadap pembagian Allah. Jiwa ini harus dididik agar tidak menggenggam dunia terlalu kuat dan rasa berbagi yang tinggi.</p>
<p>Agar hari-hari depan yang mungkin lebih sulit bisa dengan mudah kita atasi. Mengatasi kesulitan berawal dari hati.<br />
Kemudian persiapan demi persiapan yang telah kita lakukan kiranya dapat membantu hari-hari sulit.</p>
<p>Sumber: Majalah Tarbawi Edisi 74 Th. 5/Dzulqo&rsquo;dah 1424 H/25 Desember 2003 M</p>
<p>Dipublikasi ulang <a href="http://www.pks-sidoarjo.org">Admin DPD PKS Sidoarjo</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pks-sidoarjo.org/hikmah/sebelum-semuanya-bertambah-sulit.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Esok Bisa Lebih Sulit</title>
		<link>http://pks-sidoarjo.org/hikmah/esok-bisa-lebih-sulit.htm</link>
		<comments>http://pks-sidoarjo.org/hikmah/esok-bisa-lebih-sulit.htm#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Jun 2010 01:47:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>webmaster</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pks-sidoarjo.org/?p=1008</guid>
		<description><![CDATA[Memang kita tidak tahu nasib kita ke depan. Memang hanya bisa meramal nasib bangsa besar ini. Peluang untuk menjadi lebih baik sama besarnya dengan peluang untuk semakin hancur.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Memang kita tidak tahu nasib kita ke depan. Memang hanya bisa meramal nasib bangsa besar ini. Peluang untuk menjadi lebih baik sama besarnya dengan peluang untuk semakin hancur.<br />
<span id="more-1008"></span><br />
Banyak yang mengeluh hidup pada masa ini. Kesulitan seperti lilitan ekor naga panjang yang susah untuk dilepaskan. Luka karena jepitan kesulitan belum lagi kering. Bayangan suram ke depan sudah membayang lagi.</p>
<p>Walaupun seharusnya ini tak terjadi. Tetapi inilah kenyataannya, kita harus membaca sambil mengelus dada daftar kesulitan itu.</p>
<p><strong>1. Sulit Mendapatkan Pemimpin yang Baik</strong></p>
<p>Pemimpin adalah pembawa suluh yang menerangi jalan rakyatnya. la adalah arah tempat menuju masyarakatnya. Bahkan terkadang pemimpin adalah agama atau tuhan untuk bawahannya. Posisinya adalah posisi yang tinggi sehingga terlihat dari dataran sosial manapun. Teladan yang seharusnya memberikan contoh terbaik.</p>
<p>Sudah berapa banyak pemilihan kita lalui. Sudah berapa kali kita ganti pemimpin. Baik itu pemimpin dalam skala yang kecil hingga skala yang besar. Dan hasilnya, bisa kita baca sendiri. Dengan pandangan jujur nurani kita bisa lihat rapor mereka.</p>
<p>Setiap kali menjelang digelarnya pert-rungan pemilihan, masing-masing bersuara lantang membela wong cilik. Dan setiap kali itu juga masyarakat mendendangkan syair kepedihan, &#8220;Manis di bibir lain di hati.&#8221;</p>
<p>Ternyata ungkapan rakyat adalah pengalaman panjang mereka. Catatan sejarah yang tidak mungkin ditutupi. Selalu saja terulang janji memberantas korupsi, ternyata hanya meratakan korupsi. Bualan mengangkat harkat hidup rakyat kecil, buktinya hanya mengangkat taraf hidup para konglomerat dengan memeras rakyat. Hidup sederhana di mumkan, nyatanya para pemimpin buang-buang uang negara sekedar untuk jalan-jalan. Sudah bukan rahasia lagi, bagi orang yang sekedar ingin menyandang gelar pegawai negeri harus merogoh kocek yang tidak sedikit. Di dunia bisnis pun tidak luput dari contoh pemimpin yang melegalkan barang haram atau barang halal dengan cara haram.</p>
<p>Semakin sulit dicari pemimpin yang bijak. Inilah mungkin penga-laman yang dibacakan oleh Zubair ketika mengamati pergantian pemimpin dari yanr sholeh hingga tidaK bijak. &#8220;Dulu Umar jika ada orang yang melanggar peraturan (ringan), didirikan di hadapan masa, kemudian dilepas sorbannya. Ketika di masa Ziyad, dicambuk. Kemudian, ketika di masa Mushab bin Zubair dicukur jenggotnya. Saat masa Bisyr bin Marwan, dipaku tangannya. Dan ketika Hajjaj memerintah dia berkata, &#8220;Ini semua permainan.&#8221; Maka dia memutuskan untuk membunuh dengan pedang.&#8221;</p>
<p>Terasa betul keluhan hati Zubair. Sampai dia kenang sebuah hadits, &#8220;<em>Tidaklah datang suatu tahun kecuali yang sesudahnya akan lebih buruk darinya.</em>&#8221;</p>
<p>Dalam riwayat Bukhari lebih jelas dikatakan, &#8220;<em>Sabarlah, sesungguhnya tidak datang kepada kalian suatu jaman kecuali yang sesudahnya lebih buruk lagi hingga kalian bertemu tuhan kalian.</em>&#8221;</p>
<p>Permasalahannya, jarang yang menganggap jabatan sebagai amanah. Lebih banyak yang melihatnya sebagai anugerah. Sehingga dijadikannya ini sebagai kesempatan untuk menangguk dan menimbun harta sebanyak-banyaknya.</p>
<p>Bukan hanya itu, yang lebih parah lagi hukum Allah tidak mendapatkan tempat pada setiap keputusannya.</p>
<p>Memang sulit mencari pemimpin baik. Mungkin hari esok akan lebih sulit lagi mencari orang seperti Abu Bakar atau Umar. Bahkan pada sebagian masyarakat kita, mulai nampak kerut-kerut keputusasaan untuk mencari satu atau beberapa orang saja dari sekian ratus juga. Dan pemimpin itu bisa orang lain, bisa juga kita.</p>
<p><strong>2. Sulit Mendapatkan Lingkungan dan Suasana Berkah</strong></p>
<p>Lingkungan mempunyai kekuatan dahsyat untuk merubah kita dan generasi kita. Suasana adalah arus derasyang meluncur tak terhentikan. Dia akan menyeret semua yang ada di hadapannya. Hanya yang berpondasikan kuat saja yang tetap bisa bertahan.</p>
<p>Sungguh sulit mendapatkan lingkungan yang baik hari ini. Sesulit menciptakannya. Padahal keburukan yang sudah menggejala penyebarannya lebih cepat dari virus terganas yang ada. Terkadang ada yang tidak sadar, tetapi sudah terjangkiti virus itu.</p>
<p>Keberkahanlah yang sesungguhnya telah dicabut. Begitulah Imam Ibnu Hajar mengistilahkan. Keberkahan lingkungan, keberkahan suasana termasuk keberkahan waktu-waktu kita. Sehingga semuanya berlalu begitu cepat di atas kesia-siaan.</p>
<p>Lingkungan bebas, penuh dengan coretan hitam. Kalau masyarakat Islam dulu, sulit mendapatkan orang jahat. Kini kita kesulitan mendapatkan orang baik. Segala macam kemaksiatan hampir saja menjadi tradisi yang lumrah.</p>
<p>Kesulitan kita mendapatkan lingkungan dan suasana berkah selain memang ini merupakan fenomena dekatnya kiamat. Imam Khottobi mengatakan bahwa ini disebabkan oleh kelezatan hidup yang semakin melimpah. &#8220;<em>Setiap generasi berlalu akan nampak kekurangan yang lebih banyak dari pendahulunya. Orang merasakan begitu pendeknya waktu kesenangan walaupun sebenarnya panjang. Dan mereka juga merasakan waktu sulit terasa panjang walaupun sebenarnya pendek,</em>&#8221; tambahnya.</p>
<p>Jika keberkahan telah hilang, maka yang tersisa adalah kecelakaan beruntun. Baik kecelakaan fisik ataupun iman. Hingga kecelakaan atas hilangnya generasi yang dulu pernah baik.</p>
<p><strong>3. Sulit Memenuhi Kebutuhan Hidup</strong></p>
<p>Ini keluhan bersama. Keluhan yang bukan saja dirasakan oleh orang-orang kecil dan miskin. Mereka yang serba kecukupan juga<br />
mempunyai keluhan tersendiri untuk memenuhi kebutuhan hidup. Negeri ini kaya. Sepenggal Firdaus di muka bumi. Tetapi pengangguran dan kemiskinan sulit diatasi. Negeri ini adalah negeri impian banyak manu-sia. Tetapi kita hanya bisa bermimpi-mimpi untuk bisa makmur.</p>
<p>Negeri ini kaya. Tetapi entah ke mana perginya. Negeri ini kaya. Tetapi yang kaya hanya beberapa orang saja. Itulah sebenarnya permasalahan tunggal seputar kekayaan negeri ini. Karena kekayaan hanya ada di tangan orang-orang kaya, tidak terbagi. Inilah yang sudah jauh-jauh hari diingatkan oleh ayat, &#8220;<em>Supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu.</em>&#8221; (Al-Hasyr: 7).</p>
<p>Mereka yang kaya sering berpesta pora. Sementara yang miskin menunggu mengais sisa sampah mereka. Sungguh ironi yang tragis di negeri muslim terbesar.</p>
<p>Di masa pemerintahan Islam Umar bin Abdul Aziz, seorang pejabat baitul mal bertanya, &#8220;Wahai amirul mukminin, seseorang mempunyai hutang. Tetapi dia mempunyai rumah sendiri, pembantu dan kuda tunggangan. Apakah dia berhak mendapatkan zakat?&#8221; Umar bin Abdul Aziz menjawab, &#8220;Ya.&#8221; </p>
<p>Mempunyai rumah pribadi, kebutuhan primer yang sulit dijangkau rakyat biasa hari ini terutama di kota besar. Mempunyai pembantu rumah tangga yang harus digaji bulanan. Mempunyai kendaraan mahai di jamannya. Di jaman keemasan pemerintahan Islam, itu dianggap miskin. Standar hidup yang tinggi. Tentu kita sulit menggolongkan mereka yang memiliki kekayaan seperti itu termasuk orang miskin. Karena masih terlalu banyak yang hidup di bawah standar tersebut.</p>
<p>Ternyata bila dibanding dulu, kita terhitung kesulitan dalam memenuhi kebutuhan. Sementara ramalan akan perkembangan ekonomi yang terus meningkat terkadang menimbulkan optimisme. Tetapi ketika beberapa sisa bank yang masih bertahan hidup, dibobol juga oleh maling-maling itu, mungkin beban hutang itu pun akan dibebankan ke rakyat. Mungkin saja hidup di negeri kaya ini akan semakin sulit dan miskin saja.</p>
<p><strong>4. Sulit Mendapatkan Pendidikan yang Layak</strong></p>
<p>Pendidikan yang merupakan hak setiap warga negara semakin hari semakin mahal. Untuk mengenyam pendidikan yang tinggi tingal impian bagi sebagian besar orang. Jangankan itu, pendidikan wajib yang layak saja sebagian dari kita sudah sangat kesulitan. Akhirnya mereka memilih untuk tidak sekolah, dan memilih untuk bekerja. Karena mereka berpikir, bahwa tingkatan tertinggi yang bisa mereka capai kelak sulit untuk mendapatkan pekerjaan yang layak. Lebih baik bekerja sejak sekarang. Akhirnya buta ilmu pengetahuan masih terhitung banyak.</p>
<p>Secara pendidikan negeri ini tertinggal jauh. Anggaran negara pun sangat kecil. Sulitnya masyarakat mendapatkan pendidikan yang layak, semakin bertambah sulit.</p>
<p>Mutu pendidikan kita juga payah. Kurikulum kita nampak kerdil di hadapan negara lain. Kita tidak mampu bersaing dari sisi kualitas pendidikan. Hanya melahirkan pencari kerja dan tidak terbangun budaya ilmiah.</p>
<p>Sebagai layaknya seorang muslim, kita harus mempelajari Islam dengan benar. Mengandalkan pelajaran agama di sekolah dari ting-kat dasar hingga tingkat tinggi, sangat mengecewakan. Islam yang luas itu hanya kita ketahui kulitnya saja dan itupun sangat sedikit. Belum lagi bicara isi dan mutunya.</p>
<p>Akhirnya kita menjadi masyarakat yang pernah dikatakan oleh Hudzaifah sahabat Nabi, &#8220;<em>Nanti Islam dipelajari, tetapi yang belajar tidak tahu apa itu puasa, sholat, haji, dan shodaqah.</em>&#8221;</p>
<p>Sudah banyak ulama kita yang meninggal. Sampai kini belum nampak juga penggantinya. Hingga sebagian kita bertumpu kepada mereka yang sebenarnya tidak tahu banyak tentang Islam. Bertanya dan dijawab dengan kebodohan.</p>
<p>Pendidikan kita mengarah kepada sistem sekuler. Sulit didapati perilaku Islami di perguruan tinggi Islam. Yang ada hanya keilmuwan Islam yang mulai keruh plus orang-orangnya yang sok modern dalam pemikiran tetapi sebenarnya kuno. Jauh panggang dari api. Tidak ada penerapan Islam dalam hidupnya.</p>
<p><strong>5. Sulit Menyatukan Umat</strong></p>
<p>Masalah yang satu ini klasik. Sudah berapa sering persatuan dibicarakan dan didiskusikan. Sudah berapa sering pemimpinnya buka bersama, sahur bersama dan bertemu bersama. Konsep persatuan sebatas menjadi kajian seminar dan diskusi yang menarik. Tetapi tidak pada tataran praktek. Hingga perlu seorang pemikir mengusulkan untuk dibuatkan kartu ukhuwah. Untuk menghindari bagi para pemegang kartu itu agar tidak bertikai. Usul yang lucu dan sekaligus menunjukkan begitu rumitnya permasalahan persatuan bagi umat ini.</p>
<p>Tentu kita tidak bisa menjadikan hadits Nabi sebagai pembenaran dari perbedaan itu. Di mana umat ini akan terpecah. Karena perpecahan tetap menjadi sesuatu yang salah dan tidak boleh.</p>
<p>Perbedaan adalah hal yang wajar. Tetapi jarang yang bisa mensikapinya dengan wajar dan benar. Pandangan obyektif sering tertutup oleh kecenderungan hati terhadap golongan. Kajian ilmiah yang benar sering dikalahkan oleh sekedar rumor yang tersebar dalam kelompoknya.</p>
<p>Beberapa kali dalam catatan sejarah Islam negeri ini mengatakan bahwa kita pernah sukses dengan persatuan. Tetapi persatuan itu sering tidak berumur panjang. Pengganjalnya selalu saja masalah dunia dan rebutan roti.</p>
<p>Kesulitan yang kita rasakan hari ini belum berakhir. Peluang untuk hilangnya kesulitan itu sama besarnya dengan semakin rumitnya kesulitan itu. Maka persiapkan segalanya untuk menghadapi kemungkinan semakin rumit dan sulitnya permasalahan kita.</p>
<p>Sumber: Majalah Tarbawi Edisi 74 Th. 5/Dzulqo&rsquo;dah 1424 H/25 Desember 2003 M</p>
<p>Dipublikasi ulang <a href="http://www.pks-sidoarjo.org">Admin DPD PKS Sidoarjo</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pks-sidoarjo.org/hikmah/esok-bisa-lebih-sulit.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Peringatan Telah Disampaikan</title>
		<link>http://pks-sidoarjo.org/hikmah/peringatan-telah-disampaikan.htm</link>
		<comments>http://pks-sidoarjo.org/hikmah/peringatan-telah-disampaikan.htm#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Jun 2010 01:44:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>webmaster</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pks-sidoarjo.org/?p=1006</guid>
		<description><![CDATA[Malam menyelimuti Madinah. Seperti biasanya. Tiba-tiba Rasulullah SAW terperanjat dari tidurnya. la pun terbangun dalam kondisi yang sangat melelahkan. Seketika Rasul menyebut dan memuji nama Allah, &#8220;Subhanallah.&#8221;

Istrinya, Ummu Salamah mengisahkan, malam itu Rasulullah melihat bermacam fitnah dan cobaan yang akan dihadapi umatnya. Sesuatuyang kemudian menjadi kenyataan di sepanjang perjalanan umat Islam, dari jaman ke jaman.
Keguncangan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Malam menyelimuti Madinah. Seperti biasanya. Tiba-tiba Rasulullah SAW terperanjat dari tidurnya. la pun terbangun dalam kondisi yang sangat melelahkan. Seketika Rasul menyebut dan memuji nama Allah, &#8220;Subhanallah.&#8221;<br />
<span id="more-1006"></span><br />
Istrinya, Ummu Salamah mengisahkan, malam itu Rasulullah melihat bermacam fitnah dan cobaan yang akan dihadapi umatnya. Sesuatuyang kemudian menjadi kenyataan di sepanjang perjalanan umat Islam, dari jaman ke jaman.</p>
<p>Keguncangan malam itu adalah sepotong kabar, bahwa hari-hari belakang sepeninggal Rasulullah akan menjadi hari-hari yang sulit. Dan, memang begitulah kemudian keadaannya. Apalagi ratusan tahun kemudian. Segalanya berubah. Bahkan sangat jauh.</p>
<p>Karenanya, dalam banyak kesempatan yang lain, begitu sering Rasulullah menasehati sahabatnya-yang juga berlaku bagi para umatnya-agar jangan sampai sepeninggal-nya nanti mereka berubah menjadi orang-orang yang melepaskan diri dari buhul-buhul kemusliman. Seperti misalnya, nasehatnya yang sangat terkenal ketika ia berkata, &#8220;<em>Janganlah kalian menjadi kafir kembali sepeninggalku, saling membunuh antara yang satu dengan yang lain.</em>&#8221;</p>
<p>Nasehat itu dan juga nasehat serupa yang bertebaran dalam kumpulan-kumpulan peri hidupnya yang diabadikan sejarah, menegaskan dua kenyataan penting: bahwa hari esok, kapan pun, adalah lebih sulit dari hari ini. Dan, kenyataan kedua, bahwa agama Islam, telah memberi peringatan tentang kesulitan-kesulitan itu, bahkan me<em>wanti-wanti</em> agar kita jangan sampai terkalahkan oleh kesulitan itu.</p>
<p>Peringatan itu lebih jelas lagi, ditegaskan dalam haditsnya yang lain, yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, &#8220;<em>Bersabarlah kalian, sesungguhnya tidaklah sebuah jaman itu tiba, kecuali yang sesudahnya lebih buruk dari jaman itu.</em>&#8221;</p>
<p>Bila prinsip-prinsip itu kita tarik pada apa yang kita saksikan hari ini, di kehidupan bermasyarakat kita, kehidupan bemegara kita, kehidupan berpolitik kita, apalagi kehidupan ekonomi kita, sangatlah jelas, bahwa esok hari mungkin lebih sulit dari hari-hari ini. <strong>Berpikir positif itu perlu. Optimis itu harus. Tapi menyiapkan diri untuk menghadapi kondisi terburuk itu lebih penting.</strong></p>
<p>Di kehidupan ekonomi, kita menghadapi beban utang yang menggunung, korupsi yang menggurita, dan penindasan-penindasan hak-hak ekonomi masyarakat oleh mereka yang punya banyak kesempatan jadi orang-orang berpunya. Ada pencurian kekayaan negara, di hutan, di laut, di perut bumi, dengan mudah dan ringannya. Ada uang bank dibobol. Padahal bank itu menyimpan tabungan rakyat yang mungkin dikais dengan keringat, setetes-setetes.</p>
<p>Di sisi politik kita menghadapi tantangan berat pada soal kredibilitas pemimpin. Instrumen demokrasi dimunculkan di sana-sini. Tetapi integritas orang-orang di jalur ini melahirkan begitu banyak keraguan. Tidak semuanya, tentu. Tapi jumlah mereka yang punya komitmen terhadap kebaikan masih jauh lebih sedikit dibandingkan mereka yang mengotori belantara politik ini dengan kerakusan pribadi maupun kelompok.</p>
<p>Di kehidupan bermasyarakat, kita menghadapi begitu banyak penyakit sosial yang telah menjadi fenomena gunung es. Apa yang tidak tampak jauh lebih mengerikan ketimbang apa yang nampak. Soal narkoba yang terus meggerus generasi muda, penderita HIV dan AIDS yang terus meningkat sangat cepat jumlahnya. Sementara itu, Indonesia menjadi salah satu dari tiga negara yang paling tidak siap menangani masalah penyakit ganas ini. Semuanya bisa menjadi bom waktu.</p>
<p>Pada kehidupan beragama kita, ada begitu banyak masalah. Dari soal kebodohan mereka yang tidak mau belajar agama, hingga arogansi mereka yang menjual agama untuk kepuasan petualangan intelektual, atau sekadar popularitas.</p>
<p>Begitulah, ada begitu banyak persoalan yang melilit kehidupan kita. Sebagiannya karena ulah orang lain, sebagian besarnya lagi karena kesalahan dan kelalaian kita. Sejujurnya, hari-hari yang akan datang mungkin lebih sulit. </p>
<p>Amerika melalui agen intelejennya boleh-boleh saja meramal bahwa Indonesia akan menjadi salah satu negara berpengaruh di masa yang akan datang, tapi menurutnya baru akan terjadi pada tahun 2020. Itu pun kalau nyata, sebab, tak ada yang tahu pasti, apa yang akan terjadi esok hari. Meski prediksi dan ramalan itu, mungkin telah didasarkan pada indikator-indikator yang sangat ilmiah.</p>
<p>Hari-hari yang kita hadapi saat ini, tak lebih hanya sepenggal masa, yang esoknya tak pernah bisa kita terka. Dalam konteks inilah Islam datang dengan salah satu karakternya sebagai agama yang ajaran-ajarannya sangat antisipatif.</p>
<p>Ya, ajaran-ajaran Islam memang antisipatif. Itu bisa dilihat dari segala sudut ajarannya. Prinsip ini menjadi semacam lingkaran timbal balik yang berkelindan dengan kenyataan bawa esok lebih sulit dari hari ini.</p>
<p>Perintah-perintah ibadah dalam Islam, secara langsung atau tidak langsung, adalah proses penempaan jiwa untuk menghadapi kehidupanyang sulit. Sholat, misalnya, adalah antisipasi dari perbuatan keji dan munkar. Puasa, adalah tangga untuk mengejar ketakwaan, yang dengannya manusia bisa punya daya tahan menghadapi beragam kesulitan. Larangan mendekati zina, diapit oleh dua ayatyang melarang pembunuhan. Ini adalah ajaran antisipatif. Kenyataannya, perzinahan yang marak di masyarakat memang benar-benar banyak yang merembet kepada pembunuhan.</p>
<p>Prinsip bahwa hari esok lebih sulit ini tidak saja dalam konteks kehidupan dunia, tapi juga dalam kehidupan akhirat. Begitu juga perintah kepada kita untuk menyiapkan diri menghadapi kesulitan esok hari, tidak saja dalam konteks kehidupan dunia, tapi juga dalam rangka menyambut kehidupan akhirat yang lebih kekal dan abadi.</p>
<p>Perhatikanlah firman Allah, &#8220;<em>Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri mempersiapkan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat) dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.</em>&#8221; (QS. Al-Hasyr: 18)</p>
<p>Begitulah, pada setiap kehendak kita ada harapan yang tersimpan. Pada setiap langkah kaki kita ada keinginan yang terpancang. Termasuk dalam menyongsong hari esok. Itu sudah sunnah yang lazim. Terlebih bagi kehidupan kemanusiaan kita. Tapi kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi esok hari. Kita mungkin bisa mengira, menduga atau merencanakan. Tetapi segalanya tidak bisa dipastikan.</p>
<p>Peringatan itu telah disampaikan. Dalam segala ajaran wahyu atau ajaran alam. Esok mungkin memang sulit. Dan mungkin memang benar-benar sulit. Tapi, haruskah kita tenggelam?</p>
<p>Sumber: Majalah Tarbawi Edisi 74 Th. 5/Dzulqo&rsquo;dah 1424 H/25 Desember 2003 M</p>
<p>Dipublikasi ulang <a href="http://www.pks-sidoarjo.org">Admin DPD PKS Sidoarjo</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pks-sidoarjo.org/hikmah/peringatan-telah-disampaikan.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
