<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>DPD PKS Sidoarjo &#187; Hikmah</title>
	<atom:link href="http://pks-sidoarjo.org/category/hikmah/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://pks-sidoarjo.org</link>
	<description>Bekerja untuk Sidoarjo Sejahtera</description>
	<lastBuildDate>Mon, 13 Jun 2011 00:54:24 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.6</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Semangat Pertumbuhan</title>
		<link>http://pks-sidoarjo.org/hikmah/semangat-pertumbuhan.htm</link>
		<comments>http://pks-sidoarjo.org/hikmah/semangat-pertumbuhan.htm#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 13 Jun 2011 00:54:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>webmaster</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Anis Matta]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Serial Cinta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pks-sidoarjo.org/?p=1853</guid>
		<description><![CDATA[
Pekerjaan kedua seorang pecinta sejati, setelah memperhatikan, adalah penumbuhan. Inilah cintanya cinta. Inilah rahasia besar yang menjelaskan bagaimana cinta bekerja mengubah kehidupan kita dan membuatnya menjadi lebih baik, lebih bermakna.

Cinta adalah gagasan dan komitmen jiwa tentang bagaimana membuat kehidupan orang yang kita cintai menjadi lebih baik. Jika perhatian memberikan pemahaman mendalam tentang sang kekasih, maka [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div align="center"><img src="http://pks-sidoarjo.org/wp-content/uploads/2011/01/Serial-Cinta-08.jpg" height="125" alt="Serial-Cinta-08" hspace="8" width="200" align="left" border="2" /></div>
<p>Pekerjaan kedua seorang pecinta sejati, setelah memperhatikan, adalah penumbuhan. Inilah cintanya cinta. Inilah rahasia besar yang menjelaskan bagaimana cinta bekerja mengubah kehidupan kita dan membuatnya menjadi lebih baik, lebih bermakna.<br />
<span id="more-1853"></span><br />
Cinta adalah gagasan dan komitmen jiwa tentang bagaimana membuat kehidupan orang yang kita cintai menjadi lebih baik. Jika perhatian memberikan pemahaman mendalam tentang sang kekasih, maka penumbuhan berarti melakukan tindakan-tindakan nyata untuk membantu sang kekasih bertumbuh dan berkembang menjadi lebih baik.</p>
<p><a href="http://pks-sidoarjo.org/wp-content/uploads/2009/12/anis-matta_kecil.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-654" title="anis matta_kecil" src="http://pks-sidoarjo.org/wp-content/uploads/2009/12/anis-matta_kecil.jpg" alt="anis matta_kecil" width="75" height="84" /></a>Kita tidak boleh berhenti di ujung perhatian sembari mengatakan kepada sang kekasih: &#8220;Aku mencintaimu sebagaimana kita adanya.&#8221; Atau: &#8220;Aku menerima dirimu apa adanya.&#8221; Memahami dan mengerti sang kekasih tidaklah cukup. Seorang pecinta sejati harus mampu mengimajinasikan sebuah plot akhir dari kehidupan yang akan dijalani sang kekasih. Itu tidak berarti bahwa kita mengintervensi kehidupan pribadinya dan mengatur kehidupan secara rigrid atas nama cinta. Tidak! <strong>Yang dilakukan pecinta sejati adalah menginspirasi sang kekasih untuk meraih kehidupan paling bermutu yang mungkin ia raih berdasarkan keseluruhan potensi yang ia miliki.</strong></p>
<p>Kalau bukan karena kerja-kerja penumbuhan, seorang pecinta sejati tidak akan sanggup bertahan hidup di samping seorang kekasih yang ilmu, pengalaman, ketrampilan dan kepribadiannya tidak bertumbuh dalam 10 tahun masa perkawinannya, misalnya. Kamu pasti bosan mengobrol dengan seorang yang hidupnya stagnan, dingin dan tidak dinamis. </p>
<p>Para pecinta sejati menemukan gairah kehidupan dari perubahan-perubahan yang dinamis. Para pecinta sejati menemukan gairah kehidupan dari perubahan-perubahan dinamis dalam kehidupan kekasih mereka. Seperti gairah kehidupan yang dirasakan seorang ibu ketika menyaksikan bayinya tumbuh dan berkembang menjadi anak remaja lalu dewasa. Atau gairah yang dirasakan seorang guru menyaksikan muridnya tumbuh menjadi ilmuwan dan intelektual.</p>
<p>Penumbuhanlah yang membedakan cinta yang matang dan cinta seorang melankolik. Penumbuhanlah adalah sisi paling rasional dan realistis dari cinta. Penumbuhan memberikan sentuhan edukasi pada hubungan cinta. Sebab di sini cinta bukan sekedar gumpalan emosi di langit jiwa: yang mungkin meledak bagai halilintar, atau membanjiri bumi dengan hujan air mata. Di sini cinta adalah sebuah pekerjaan. Pekerjaan jiwa, pikiran, dan fisik sekaligus. Itu yang membuatnya nyata. Dan efektif.</p>
<p>Di tangan Rasullullah SAW, Aisyah bukan seorang istri. Rasullullah SAW telah menumbuhkannya menjadi bintang di langit sejarah. Suatu saat Ali Tantawi mengatakan: &#8220;Istriku yang hanya tamatan SD ternyata lebih intelek daripada mahasiswi-mahasiswiku yang sudah hampir sarjana.&#8221; Beliau mengatakan itu setelah melewati 10 tahun masa perkawinan. Ketika Iqbal menemukan dirinya telah menjadi filosof dunia, ia menyadari itu kerja sang guru. Maka ia berkata tentang gurunya itu: &#8220;Dan nafas cintanya meniup kuncupku menjadi bunga.&#8221;</p>
<p>Oleh <strong><a href="http://pks-sidoarjo.org/tag/anis-matta">Anis Matta</a></strong></p>
<p>Dipublikasi ulang oleh <a href="http://www.pks-sidoarjo.org">Admin <strong>DPD PKS Sidoarjo</strong></a></p>
<p>Tulisan Anis Matta lainnya:</p>
<ul>
<li><a href="http://pks-sidoarjo.org/hikmah/seni-memperhatikan.htm">Seni Memperhatikan</a></li>
<li><a href="http://pks-sidoarjo.org/hikmah/karena-jiwa-punya-hajat.htm">Karena Jiwa Punya Hajat</a></li>
<li><a href="http://pks-sidoarjo.org/hikmah/indahnya-cinta-jiwa.htm">Indahnya Cinta Jiwa</a></li>
<li><a href="http://pks-sidoarjo.org/hikmah/kelezatan-ruhani.htm">Kelezatan Ruhani</a></li>
<li><a href="http://pks-sidoarjo.org/hikmah/pelajaran-cinta.htm">Pelajaran Cinta</a></li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pks-sidoarjo.org/hikmah/semangat-pertumbuhan.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Seni Memperhatikan</title>
		<link>http://pks-sidoarjo.org/hikmah/seni-memperhatikan.htm</link>
		<comments>http://pks-sidoarjo.org/hikmah/seni-memperhatikan.htm#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 06 Jun 2011 01:02:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Anis Matta]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Serial Cinta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pks-sidoarjo.org/?p=1859</guid>
		<description><![CDATA[
Kalau intinya cinta adalah memberi, maka pemberian pertama seorang pecinta sejati adalah perhatian. Kalau kamu mencintai seseorang, kamu harus memberi perhatian penuh kepada orang itu. Perhatian yang lahir dari lubuk hati yang paling dalam, dari keinginan yang tulus untuk memberikan apa saja yang diperlukan orang yang kamu cintai untuk menjadi lebih baik dan berbahagia karenanya.

Perhatian [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div align="center"><img src="http://pks-sidoarjo.org/wp-content/uploads/2011/01/Serial-Cinta-09.jpg" height="125" alt="Serial-Cinta-09" hspace="8" width="200" align="left" border="2" /></div>
<p>Kalau intinya cinta adalah memberi, maka pemberian pertama seorang pecinta sejati adalah perhatian. Kalau kamu mencintai seseorang, kamu harus memberi perhatian penuh kepada orang itu. Perhatian yang lahir dari lubuk hati yang paling dalam, dari keinginan yang tulus untuk memberikan apa saja yang diperlukan orang yang kamu cintai untuk menjadi lebih baik dan berbahagia karenanya.<br />
<span id="more-1859"></span><br />
Perhatian adalah pemberian jiwa; semacam penampakan emosi yang kuat dari keinginan baik kepada orang yang kita cintai. Tidak semua orang memiliki kesiapan mental untuk memperhatikan. Tidak juga semua orang yang memiliki kesiapan mental memiliki kemampuan untuk terus memperhatikan.</p>
<p><a href="http://pks-sidoarjo.org/wp-content/uploads/2009/12/anis-matta_kecil.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-654" title="anis matta_kecil" src="http://pks-sidoarjo.org/wp-content/uploads/2009/12/anis-matta_kecil.jpg" alt="anis matta_kecil" width="75" height="84" /></a>Memperhatikan adalah kondisi di mana kamu keluar dari dalam dirimu menuju orang lain yang ada di luar dirimu. Hati dan pikiranmu sepenuhnya tertuju kepada orang yang kamu cintai. Itu tidak sesederhana yang kita bayangkan. Mereka yang bisa keluar dari dalam dirinya adalah orang-orang yang sudah terbebas secara psikologis. Yaitu bebas dari kebutuhan untuk diperhatikan. Mereka independen secara secara emosional: kenyamanan psikologis tidak bersumber dari perhatian orang lain terhadap dirinya. Dan itulah musykilnya. Sebab sebagian besar orang lebih banyak terkungkung dalam dirinya sendiri. Mereka tidak bebas secara mental. <strong>Mereka lebih suka diperhatikan daripada memperhatikan. Itu sebabnya mereka selalu gagal mencintai.</strong></p>
<p>Itulah kekuatan para pecinta sejati: bahwa mereka adalah pemerhati yang serius. Mereka memperhatikan orang-orang yang mereka cintai secara intens dan menyeluruh. Mereka berusaha secara terus menerus untuk memahami latar belakang kehidupan sang kekasih, menyelidiki seluk-beluk persoalan hatinya, mencoba menemukan karakter jiwanya, mendefinisikan harapan-harapan dan mimpi-mimpinya, dan mengetahui kebutuhan-kebutuhannya untuk sampai kepada harapan-harapan itu.</p>
<p>Para pemerhati yang serius biasanya lebih suka mendengar daripada didengarkan. Mereka memiliki kesabaran yang cukup untuk mendengar dalam waktu yang lama. Kesabaran itulah yang membuat orang betah dan nyaman menumpahkan isi hatinya kepada mereka. Tapi kesabaran itupula yang memberi mereka peluang untuk menyerap lebih banyak informasi tentang sang kekasih yang mereka cintai.</p>
<p>Tapi di sini juga tersimpan sesuatu yang teramat agung dari rahasia cinta. Rahasia tentang pesona jiwa para pecinta. Kalau kamu terbiasa memperhatikan kekasih hatimu, secara berlahan-lahan dan tanpa ia sadari ia akan tergantung dengan perhatiannmu. Secara psikologis ia akan sangat menikmati saat-saat diperhatikan itu. Bila suatu saat perhatian itu hilang, ia akan merasakan kehilangan yang sangat. Perhatian itu niscaya akan menyiksa jiwanya dengan rindu saat kamu tidak berada di sisinya. Mungkin ia tidak akan mengatakannya. Tapi ia pasti merasakannya.</p>
<p>Oleh <strong><a href="http://pks-sidoarjo.org/tag/anis-matta">Anis Matta</a></strong></p>
<p>Dipublikasi ulang oleh <a href="http://www.pks-sidoarjo.org">Admin <strong>DPD PKS Sidoarjo</strong></a></p>
<p>Tulisan Anis Matta lainnya:</p>
<ul>
<li><a href="http://pks-sidoarjo.org/hikmah/semangat-pertumbuhan.htm">Semangat Pertumbuhan</a></li>
<li><a href="http://pks-sidoarjo.org/hikmah/karena-jiwa-punya-hajat.htm">Karena Jiwa Punya Hajat</a></li>
<li><a href="http://pks-sidoarjo.org/hikmah/indahnya-cinta-jiwa.htm">Indahnya Cinta Jiwa</a></li>
<li><a href="http://pks-sidoarjo.org/hikmah/kelezatan-ruhani.htm">Kelezatan Ruhani</a></li>
<li><a href="http://pks-sidoarjo.org/hikmah/pelajaran-cinta.htm">Pelajaran Cinta</a></li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pks-sidoarjo.org/hikmah/seni-memperhatikan.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Karena Jiwa Punya Hajat</title>
		<link>http://pks-sidoarjo.org/hikmah/karena-jiwa-punya-hajat.htm</link>
		<comments>http://pks-sidoarjo.org/hikmah/karena-jiwa-punya-hajat.htm#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 May 2011 00:43:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>webmaster</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Anis Matta]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Serial Cinta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pks-sidoarjo.org/?p=1811</guid>
		<description><![CDATA[Keagungan. Keluhuran. Ketinggian. Hanya itu yang ada pada cinta misi. Romantikanya juga ada. Tapi tetap dalam bingkai itu. Kita sebut itu romantika perjuangan. Seperti kita memandang indahnya pelangi yang menggores langit. Mengagumkan. Mempesona. Tapi ada jarak. Itu keindahan yang dilukis oleh nilai: kekuatan yang memvisualisasi sisi malaikat dari dalam diri kita ke kanvas kenyataan, lalu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://pks-sidoarjo.org/wp-content/uploads/2011/02/Serial-Cinta-11.jpg" height="125" alt="Serial-Cinta-11" hspace="8" width="200" align="left" border="2" />Keagungan. Keluhuran. Ketinggian. Hanya itu yang ada pada cinta misi. Romantikanya juga ada. Tapi tetap dalam bingkai itu. Kita sebut itu romantika perjuangan. Seperti kita memandang indahnya pelangi yang menggores langit. Mengagumkan. Mempesona. Tapi ada jarak. Itu keindahan yang dilukis oleh nilai: kekuatan yang memvisualisasi sisi malaikat dari dalam diri kita ke kanvas kenyataan, lalu melegenda dalam riwayat sejarah.<br />
<span id="more-1811"></span><br />
Tapi manusia tercipta dari tanah. Dan tanah punya tabiatnya sendiri. Juga punya rasa, punya mau, punya hajatnya sendiri. Juga punya permintaannya sendiri dari asal usul ini kehidupan manusia tersublimasi menjadi riwayat yang rumit dan kompleks. Begitu juga cinta jiwa yang lahir dari sini. Kalau dalam cinta misi perasaan bergerak mengikuti pikiran dan nilai, dalam cinta jiwa perasaan bergerak memenuhi kebutuhannya sendiri. Kebutuhan akan kegenapan. Kebutuhan akan kesatuan.</p>
<p>Sendiri. Sepi. Itu musuh jiwa manusia. Sebab alam ini termasuk kita-tercipta berpasangan. Begitu juga kita: kita semua punya pasangan hidup dalam perkawinan dan pasangan sosial dalam bermasyarakat. Perjalanan menemukan pasangan jiwa adalah kebutuhan eksistensial. Sampai kita menembus ruang dan waktu yang panjang: &#8220;sebab keterpisahan ini,&#8221; kata Rumi, &#8220;hanya tipu daya waktu.&#8221;</p>
<p><a href="http://pks-sidoarjo.org/wp-content/uploads/2009/12/anis-matta_kecil.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-654" title="anis matta_kecil" src="http://pks-sidoarjo.org/wp-content/uploads/2009/12/anis-matta_kecil.jpg" alt="anis matta_kecil" width="75" height="84" /></a>Sebab ia lahir dari kebutuhan akan kegenapan dan kesatuan, cinta jiwa mensyaratkan adanya penerimaan. Tidak ada pertemuan tanpa penerimaan. Syarat ini tidak selalu ada dalam cinta misi. Tapi syarat ini pula yang membuat cinta jiwa menjadi rumit. Sebab asas penerimaan jiwa ini juga beragam. Ada faktor kesamaan. Ada faktor kegenapan. Ada faktor keseimbangan. Seperti dua sungai besar yang bertemu dalam samudera yang sama lalu menciptakan gelombang cinta yang dahsyat. Itu yang lahir dari kesamaan.</p>
<p>Atau lidah api yang menyala-nyala namun dipadamkan oleh air yang sejuk. Cinta yang ini lahir dari kebutuhan akan keseimbangan. Atau seperti air yang bening yang mengaliri lahan tanah yang subur lalu melahirkan taman kehidupan yang indah. Ini kegenapan jiwa yang melahirkan cinta.</p>
<p>Kerumitan terletak pada pencarian &#8220;<em>meeting point</em>&#8221; dari dua jiwa. Itu pada kesamaan atau kegenapan atau keseimbangan antara dua karakter. Hampir tidak ada pertemuan jiwa di luar ketiga meeting point itu. Bayangkanlah jika yang terjadi sebaliknya. Api bertemu angin akan menciptakan kebakaran yang ganas. Air bertemu angin yang melahirkan gelombang tsunami. </p>
<p>Baik dalam perkawinan atau perkawanan kita menemukan kerumitan itu. Itu masalah kecocokan. Sebab harus ada dua tangan untuk bisa bertepuk. Dua jiwa hanya mungkin bisa bertemu dan menyatu jika hajat mereka sama. Hikmah itulah yang disampaikan Rasullullah saw, &#8220;<em>Jiwa-jiwa itu ibarat prajurit-prajurit yang dibaris-bariskan. Yang saling mengenal di antara mereka pasti akan saling melembut dan menyatu. Yang tidak saling mengenal di antara mereka pasti akan saling berbeda dan berpisah.</em>&#8221;</p>
<p>Oleh <strong><a href="http://pks-sidoarjo.org/tag/anis-matta">Anis Matta</a></strong></p>
<p>Dipublikasi ulang oleh <a href="http://www.pks-sidoarjo.org">Admin <strong>DPD PKS Sidoarjo</strong></a></p>
<p>Tulisan Anis Matta lainnya:</p>
<ul>
<li><a href="http://pks-sidoarjo.org/hikmah/semangat-pertumbuhan.htm">Semangat Pertumbuhan</a></li>
<li><a href="http://pks-sidoarjo.org/hikmah/seni-memperhatikan.htm">Seni Memperhatikan</a></li>
<li><a href="http://pks-sidoarjo.org/hikmah/indahnya-cinta-jiwa.htm">Indahnya Cinta Jiwa</a></li>
<li><a href="http://pks-sidoarjo.org/hikmah/kelezatan-ruhani.htm">Kelezatan Ruhani</a></li>
<li><a href="http://pks-sidoarjo.org/hikmah/pelajaran-cinta.htm">Pelajaran Cinta</a></li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pks-sidoarjo.org/hikmah/karena-jiwa-punya-hajat.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Indahnya Cinta Jiwa</title>
		<link>http://pks-sidoarjo.org/hikmah/indahnya-cinta-jiwa.htm</link>
		<comments>http://pks-sidoarjo.org/hikmah/indahnya-cinta-jiwa.htm#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 May 2011 00:42:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>webmaster</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Anis Matta]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Serial Cinta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pks-sidoarjo.org/?p=1809</guid>
		<description><![CDATA[Tidak ada yang lebih indah dalam sejarah perasaan manusia seperti saat-saat ketika ia sedang jatuh cinta. Bukan karena dunia disekeliling kita berubah pada kenyataannya. Tapi saat-saat jatuh cintalah yang seketika mengubah persepsi kita tentang dunia disekeliling kita. Tidak selalu karena wanita yang kita cintai itu memang cantik pada kenyataannya. Tapi cinta kita padanya yang membuat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://pks-sidoarjo.org/wp-content/uploads/2011/02/Serial-Cinta-13.jpg" height="125" alt="Serial-Cinta-13" hspace="8" width="200" align="left" border="2" />Tidak ada yang lebih indah dalam sejarah perasaan manusia seperti saat-saat ketika ia sedang jatuh cinta. Bukan karena dunia disekeliling kita berubah pada kenyataannya. Tapi saat-saat jatuh cintalah yang seketika mengubah persepsi kita tentang dunia disekeliling kita. Tidak selalu karena wanita yang kita cintai itu memang cantik pada kenyataannya. Tapi cinta kita padanya yang membuat cantik di mata kita.<br />
<span id="more-1809"></span><br />
Saat jatuh cinta adalah saat di mana persepsi kita mengalamai <em>shifting</em> pada semua realitas yang ada di sekeliling kita. Kadang kita mungkin mengelabuhi diri sendiri. Tapi itu puncak subjektifitas yang justru mengubah kita menjadi lebih positif dalam kita memandang segala sesuatu. </p>
<p><a href="http://pks-sidoarjo.org/wp-content/uploads/2009/12/anis-matta_kecil.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-654" title="anis matta_kecil" src="http://pks-sidoarjo.org/wp-content/uploads/2009/12/anis-matta_kecil.jpg" alt="anis matta_kecil" width="75" height="84" /></a>Seperti indahnya subjektifitas pada dunia anak-anak. Bagi mereka realitas yang sesungguhnya adalah realitas yang mereka persepsikan. Bukan realitas yang ada di luar sana seperti yang dilihat oleh orang dewasa. Bangku bisa dipersepsi sebagai rumah. Tongkat bia dipersepsi sebagai senjata. Dunia menjadi sangat ringan dan fleksibel di mata mereka. Karena itu dunia anak selalu indah, selalu penuh kenangan. </p>
<p>Begitu juga saat kita jatuh cinta. <em>Shifting</em> pada persepsi kita membuat dunia kita serasa jadi realitas lain yang begitu indah. Dan itu membawa kenyamanan pada rongga dada kita. Karena perasaan kita seketika berbunga-bunga. Karena, kata Ibnu Hazem, ruh kita seketika jadi ringan dan lembut, badan kita seketika wangi, senyum kita seketika mengembang lebar, benci dan dendam dan angkara murka seketika lenyap dari ruang hati kita, dan tiba-tiba saja yang bukan penyair jadi penyair, yang tidak bisa bernyanyi menjadi penyayi.</p>
<p>Suatu saat, seorang raja bingung menyaksikan putera mahkotanya begitu pemalas, apatis, tidak bergairah, tidak berminat pada ilmu pengetahuan, tidak bisa pidato. Ia gundah, karena putera mahkotanya sama sekali tidak layak jadi raja. Maka sang raja memerintahkan seorang dayang cantik istana untuk menggoda sang putera mahkota. </p>
<p>Bilang padanya, pesan sang raja pada dayang cantik itu, aku sangat mencintaimu dan bersedia jadi permaisurinya. Nanti kalau hatinya sudah berbunga-bunga, bilang lagi padanya-lanjut sang raja-tapi ada syaratnya, kamu harus bersemangat, lebih rajin dan mau menyiapkan diri jadi raja, dan aku percaya kamu bisa. </p>
<p>Firasat sang raja ternyata benar. Putera mahkota seketika berubah: ia mengubah penampilannya jadi keren dan wangi, ia mempelajari berbagai macam ilmu, ia juga tampil berpidato, ia juga menulis. Saat jatuh cinta telah mengubah persepsinya tentang dirinya dan dunianya, seketika membangkitkan semangat hidupnya, dan meledakkan semua potensinya.</p>
<p><strong><em>Shifting</em> pada persepsi mengembalikan sisi kekanakan kita saat kita jatuh cinta. Itu keindahan yang mempertemukan kita dengan sisi kemanusiaan kita; subjektif, melankolis, kekanakan, tapi positif. Dan indah.</strong></p>
<p>Oleh <strong><a href="http://pks-sidoarjo.org/tag/anis-matta">Anis Matta</a></strong></p>
<p>Dipublikasi ulang oleh <a href="http://www.pks-sidoarjo.org">Admin <strong>DPD PKS Sidoarjo</strong></a></p>
<p>Tulisan Anis Matta lainnya:</p>
<ul>
<li><a href="http://pks-sidoarjo.org/hikmah/semangat-pertumbuhan.htm">Semangat Pertumbuhan</a></li>
<li><a href="http://pks-sidoarjo.org/hikmah/seni-memperhatikan.htm">Seni Memperhatikan</a></li>
<li><a href="http://pks-sidoarjo.org/hikmah/karena-jiwa-punya-hajat.htm">Karena Jiwa Punya Hajat</a></li>
<li><a href="http://pks-sidoarjo.org/hikmah/kelezatan-ruhani.htm">Kelezatan Ruhani</a></li>
<li><a href="http://pks-sidoarjo.org/hikmah/pelajaran-cinta.htm">Pelajaran Cinta</a></li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pks-sidoarjo.org/hikmah/indahnya-cinta-jiwa.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hanya Milik Allah SWT</title>
		<link>http://pks-sidoarjo.org/hikmah/hanya-milik-allah-swt.htm</link>
		<comments>http://pks-sidoarjo.org/hikmah/hanya-milik-allah-swt.htm#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 May 2011 00:51:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>webmaster</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pks-sidoarjo.org/?p=1818</guid>
		<description><![CDATA[
Saudaraku. Semoga kita tidak tertipu oleh kemuliaan duniawi. Karena, kemuliaan itu sesungguhnya hanya datang dari Allah SWT.

Kemuliaan tidak datang dari makhluk. Kemuliaan tidak pernah datang dari harta benda. Kemuliaan tidak muncul dari banyaknya ilmu. Kemuliaan juga tidak hadir dari profesi, jabatan dan kedudukan, bagaimanapun tingginya. Kemuliaan, penghormatan, penerimaan terhadap seseorang, hanya akan ada jika seseorang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div align="center"><img alt="Hanya Milik Allah SWT" src="http://pks-sidoarjo.org/wp-content/uploads/2011/04/Hanya-Milik-Allah-SWT.jpg" height="149" hspace="8" width="150" align="left" border="0" /></div>
<p>Saudaraku. Semoga kita tidak tertipu oleh kemuliaan duniawi. Karena, kemuliaan itu sesungguhnya hanya datang dari Allah SWT.<br />
<span id="more-1818"></span><br />
Kemuliaan tidak datang dari makhluk. Kemuliaan tidak pernah datang dari harta benda. Kemuliaan tidak muncul dari banyaknya ilmu. Kemuliaan juga tidak hadir dari profesi, jabatan dan kedudukan, bagaimanapun tingginya. Kemuliaan, penghormatan, penerimaan terhadap seseorang, hanya akan ada jika seseorang mendapat izzah (kemuliaan) dari Allah SWT. </p>
<p>&#8220;<em>Izzah (kemuliaan) itu seluruhnya milik Allah.</em>&#8221; (QS. Yunus: 65). Hanya itu.</p>
<p>Dengarkanlah cerita yang diungkapkan Ibnul Jauzi rahimahullah, &#8220;<em>Aku telah melihat ada orang yang menghabisi usianya untuk ilmu hingga ia tua renta. Tapi ia tidak mem-unyai kedudukan mulia di hati manusia. Ia tidak dikelilingi orang, padahal ilmunya melimpah. Aku juga melihat orang yang mendekatkan diri pada Allah dan melewati waktu mudanya dalam kebaikan, sedangkan ia tidak memiliki ilmu sebanyak orang tadi. Namun Allah telah meninggikan kedudukan dirinya dalam hati orang banyak. Ia dikenang oleh banyak orang. Orang-orang bahkan menyebut kebaikannya lebih dari kebaikan yang telah ia lakukan.</em>&#8221; </p>
<p>Apa artinya? Kemuliaan Al Khaliq selalu identik dengan kemuliaan makhluk-Nya. Kecintaan Al Khaliq selalu memunculkan dengan kecintaan makhluk-Nya.</p>
<p>Kemuliaan dunia sering membuat kita lalai. Kita bisa menjadi sangat senang dan bangga dengan atribut kemuliaan dan kehormatan di sini. Kita bisa melupakan apa saja demi mengejar kemuliaan dan kehormatan itu.</p>
<p>Saudaraku. Semoga kita mendapat kemuliaan dari Allah SWT.</p>
<p>Dahulu, Umar bin Khattab ra, &#8220;<em>Dahulu, kami adalah orang-orang yang terhina. Lalu Allah meninggikan kemuliaan kami dengan Islam. Demi Allah, andai saja kami mencari kemuliaan selain dari Islam. Pasti Allah akan membuat kami menjadi terhina lagi.</em>&#8221;</p>
<p>Umar ingin menanamkan keyakinan pada kita bahwa menjadi mulia di hadapan Allah SWT adalah kunci kekuatan, semangat, sikap optimis dan menjadi syarat kemenangan. Wajarlah jika salah seorang dari para sahabat itu, selalu menggantungkan harapan dan cita-citanya yang sangat tinggi. </p>
<p>Ketika Rabiah bin Kab Al Aslami, seorang pemuda sahabat dan termasuk di antara kalangan orang-orang fakir miskin, dikatakan oleh Rasulullah SAW, &#8220;Mintalah padaku apa yang engkau perlukan.&#8221; Ia segera mengatakan, &#8220;<em>Aku ingin agar aku bisa menemanimu di surga.</em>&#8221; </p>
<p>Rabiah tidak sekedar meminta masuk surga, tapi meminta menemani Rasulullah di dalamnya. Cita-cita hidupnya itulah yang menjadikan generasi salafushalih mempunyai kekuatan dan semangat yang besar.</p>
<p>Saudaraku.<br />
Semoga Allah SWT memberikan kekuatan kepada kita untuk tetap tegar menghadapi berbagai kesulitan dan tantangan yang akan kita hadapi di sini. Semoga Allah selalu memancarkan kemuliaan-Nya dalam jiwa dan hati kita. Dari kemuliaan yang berasal dari Allah SWT sajalah, yang akan membuat kita merasakan semua kondisi dengan kenikmatan. Dan itu sajalah, modal kita untuk bisa mengarungi perjalanan ini.</p>
<p>Sebagaimana nasihat Hasan Al Bashri rahimahullah kepada seseorang yang bertanya padanya, &#8220;Aku ingin menempuh perjalanan panjang, berilah aku bekal.&#8221; Hasan Al Bashri serta merta menjawabnya dengan sangat singkat dan tegas, &#8220;<em>Wahai saudaraku, tinggikan dan muliakan saja perintah Allah di mana saja. Maka Allah pasti akan menjadikanmu mulia di mana.</em>&#8221; (Az Zuhd/263). </p>
<p>Allahu Akbar. Sungguh Maha Besar Allah SWT.</p>
<p>Mari lebih mendekat lagi pada Allah SWT. Ingat, selangkah kita mendekat pada Allah, maka Allah akan mendekati kita sepuluh lang-kah bahkan lebih dari itu. Sepuluh langkah kita mendekati Allah, maka Allah akan mendekati kita seratus langkah. Bahkan lebih dari itu.</p>
<p>Allah SWT, akan berlari mendekati kita, jika mendekati-Nya dengan berjalan.</p>
<p>Renungkan dan resapilah kandungan kasih sayang Allah SWT yang pernah diungkapkan Rasulullah dalam haditsnya itu. Mari lebih mendekat lagi pada Allah SWT.</p>
<p>Saudaraku.<br />
Mari tundukkan hati. Menyadari lebih dalam lagi, apa yang menjadi cita-cita hidup kita dan kepada siapa kita sangat bergantung. Semoga kita bisa menjadi lebih mengerti bahwa mencari kemuliaan dari selain Allah, adalah sangat menipu. Kemuliaan yang datang bukan dari Allah SWT, bahkan menjadi jerat syaitan yang menyesatkan. </p>
<p>&#8220;<em>Barang siapa yang memuliakan Allah, Allah akan memuliakannya. Barang siapa yang menghinakan Allah, Allah akan menghinakannya</em>,&#8221; begitu nasihat Hasan Al Bashri. (Az Zuhd/120)</p>
<p>Saudaraku,<br />
Tenanglah di sini. Sebenarnya, tak ada yang bisa menyempitkan dan membuat kita sedih di jalan ini. Berjalanlah terus, hadapi keadaan apapun di atasnya. </p>
<p>Para salafushalih yang mendahului kita telah bepesan, &#8220;<em>Jika engkau dirundung ketakutan, ditimpa kesedihan, diterpa gelisah, berdirilah saat itu juga untuk sholat. Ruhmu akan meninggi dan jiwamu akan tenang. Sesungguhnya sholat mampu menghilangkan kesedihan dengan izin Allah. Sholat mampu menghapus kegelisahan.</em>&#8220;(La tahzan, Syaikh Al Qarni)</p>
<p>Di situlah letaknya rahasia dan inti kemuliaan, saudaraku. Kemuliaan yang mula-mula terpancar dari dalam diri. Kemuliaan jiwa yang lalu menjadikannya, tak pernah larut dalam ombak kehidupan. Kemuliaan yang menjadikan seseorang tangguh, pantang menyerah dalam berjuang.</p>
<p>Kemuliaan yang menjadi sumber kemuliaan dalam hati semua makhluk. Dan, kemuliaan itu hanya datang dari Allah SWT saja.</p>
<p>Dengarlah nasihat Ibnul Qayyim rahimahullah, tentang siapa orang yang paling merasakan kelezatan hidup? Katanya, &#8220;<em>Mereka adalah orang-orang yang mendapatkan lezatnya bermarifah kepada Allah, lalu mencintai, merindukan pertemuan dengan-Nya, sambil tetap cenderung untuk tetap dicintai dan diridhai-Nya.</em>&#8221;</p>
<p>Sumber: Tarbawi Edisi 76 Th. 5/Dzulhijjah 1424 H/23 Januari 2004 M</p>
<p>Dipublikasi ulang oleh <a href="http://www.pks-sidoarjo.org">Admin <strong>DPD PKS Sidoarjo</strong></a></p>
<p>Tulisan Lainnya:</p>
<ul>
<li><a href="http://pks-sidoarjo.org/hikmah/semangat-pertumbuhan.htm">Semangat Pertumbuhan</a></li>
<li><a href="http://pks-sidoarjo.org/hikmah/seni-memperhatikan.htm">Seni Memperhatikan</a></li>
<li><a href="http://pks-sidoarjo.org/hikmah/karena-jiwa-punya-hajat.htm">Karena Jiwa Punya Hajat</a></li>
<li><a href="http://pks-sidoarjo.org/hikmah/indahnya-cinta-jiwa.htm">Indahnya Cinta Jiwa</a></li>
<li><a href="http://pks-sidoarjo.org/hikmah/kelezatan-ruhani.htm">Kelezatan Ruhani</a></li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pks-sidoarjo.org/hikmah/hanya-milik-allah-swt.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kelezatan Ruhani</title>
		<link>http://pks-sidoarjo.org/hikmah/kelezatan-ruhani.htm</link>
		<comments>http://pks-sidoarjo.org/hikmah/kelezatan-ruhani.htm#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 May 2011 00:44:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>webmaster</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Anis Matta]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Serial Cinta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pks-sidoarjo.org/?p=1813</guid>
		<description><![CDATA[
Cinta misi hanya bersemi dari nurani yang hidup. Tapi dari manakah nurani kita menemukan kehidupan? Dari cinta Allah dan cinta kebenaran. Inilah cintanya cinta. Denyut kehidupan nurani adalah tanda-tandanya. Cinta misi adalah buahnya.

Cerita-cerita keagungan yang kita warisi dari sejarah sesungguhnya merupakan penampakan cinta misi dari waktu ke waktu. Ia mengejawantah pada karya-karya ilmiah para ulama, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div align="left"><img src="http://pks-sidoarjo.org/wp-content/uploads/2011/02/Serial-Cinta-10.jpg" height="125" alt="Serial-Cinta-10" hspace="8" width="200" align="left" border="2" /></div>
<p>Cinta misi hanya bersemi dari nurani yang hidup. Tapi dari manakah nurani kita menemukan kehidupan? Dari cinta Allah dan cinta kebenaran. Inilah cintanya cinta. Denyut kehidupan nurani adalah tanda-tandanya. Cinta misi adalah buahnya.<br />
<span id="more-1813"></span><br />
Cerita-cerita keagungan yang kita warisi dari sejarah sesungguhnya merupakan penampakan cinta misi dari waktu ke waktu. Ia mengejawantah pada karya-karya ilmiah para ulama, pada darah dan air mata syuhada, pada keadilan para pemimpin, pada kasih sayang para duat (dai), pada kelembutan para guru. </p>
<p>Tidak ada karya besar tanpa cinta misi. Itu yang membuat cinta ini jadi teramat agung. Sekaligus rumit. Karena seluruh isinya adalah karya. Adalah kerja. Adalah memberi. Tanpa pernah terpengaruh oleh penerimaan dan penolakan. Penerimaan mungkin menguatkannya. Tapi penolakan tidak mengendurkannya.</p>
<p><a href="http://pks-sidoarjo.org/wp-content/uploads/2009/12/anis-matta_kecil.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-654" title="anis matta_kecil" src="http://pks-sidoarjo.org/wp-content/uploads/2009/12/anis-matta_kecil.jpg" alt="anis matta_kecil" width="75" height="84" /></a>Pertanyaan kemudian muncul di sini. Dari mana mereka menemukan energi itu? Apa yang membuat mereka sanggup berkarya dan memberi terus-menerus, sementara kadang-atau bahkan sering sekali-mereka tidak dipahami atau bahkan terabaikan oleh orang-orang yang justru mereka cintai? Pasti ada rahasia hati yang mereka simpan dengan rapih. Tapi apakah rahasia hati itu?</p>
<p>Kelezatan ruhani. Itulah rahasianya. Yang mereka cintai sesungguhnya adalah Allah, adalah kebenaran, adalah misi hidup mereka. Bukan orang, atau benda atau bentuk apapun. </p>
<p>Yang mereka rindukan adalah surga abadi, adalah bidadari-bidadari yang kelak akan mengitari mereka, adalah pandangan mata pada cahaya wajah Allah. Bukan pujian dan penerimaan manusia.</p>
<p>Manusia hanya medan karya tempat cinta mengejawantah. Maka Allah memberi mereka kelezatan demi kelezatan setiap kali cinta itu mengejawantah. Kelelahan-kelelahan melahirkan kegembiraan ruhani, kelezatan yang melahirkan energi baru untuk terus mengejawantahkan cinta. </p>
<p>Seperti orgasme yang kita rasakan pada setiap keintiman fisik, dan mengajak kita untuk mengulangi dan mengulangi, seperti itulah Allah memberi kelezatan ruhani. Setiap kali cinta pada Nya mengejawantah pada cinta misi, setiap kali cinta vertikal itu mengejawantah pada horizon kehidupan manusia. </p>
<p>Kelezatan ruhani itulah sumber energinya. Di sana, makna-makna penerimaan, keberartian, keterhormatan, keberanian hati, merasuk ke serat-serat jiwa dan melapangkan serta meluaskannya sampai ia tampak bagai karpet merah nan empuk di tengah gurun luas yang tersambung dengan kaki langit.</p>
<p>Itulah kelezatan ruhani yang dirasakan Khalid bin Walid dari kecamuk perang, atau Utsman saat berinfak, atau Umar saat mengantar gandum di tengah malam pada rakyat miskin, atau Sayyid Quthub menjelang digantung. </p>
<p>Kelezatan ruhani itu adalah ledakan kegembiraan yang mendengung di cakrawala kesadaran batin kita. Orang-orang tidak menyaksikannya. Tapi mereka merasakan penampakannya. Maka seorang ahli ibadah mengatakan: &#8220;<em>Seandainya para raja mengetahui kelezatan yang kita rasakan dalam ibadah ini, mereka pasti akan menyiksa kita untuk merampas kelezatan itu.</em>&#8221;</p>
<p>Oleh <strong><a href="http://pks-sidoarjo.org/tag/anis-matta">Anis Matta</a></strong></p>
<p>Dipublikasi ulang oleh <a href="http://www.pks-sidoarjo.org">Admin <strong>DPD PKS Sidoarjo</strong></a></p>
<p>Tulisan Anis Matta lainnya:</p>
<ul>
<li><a href="http://pks-sidoarjo.org/hikmah/semangat-pertumbuhan.htm">Semangat Pertumbuhan</a></li>
<li><a href="http://pks-sidoarjo.org/hikmah/seni-memperhatikan.htm">Seni Memperhatikan</a></li>
<li><a href="http://pks-sidoarjo.org/hikmah/karena-jiwa-punya-hajat.htm">Karena Jiwa Punya Hajat</a></li>
<li><a href="http://pks-sidoarjo.org/hikmah/indahnya-cinta-jiwa.htm">Indahnya Cinta Jiwa</a></li>
<li><a href="http://pks-sidoarjo.org/hikmah/pelajaran-cinta.htm">Pelajaran Cinta</a></li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pks-sidoarjo.org/hikmah/kelezatan-ruhani.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sampai di Mana Perjalanan Kita?</title>
		<link>http://pks-sidoarjo.org/hikmah/sampai-di-mana-perjalanan-kita.htm</link>
		<comments>http://pks-sidoarjo.org/hikmah/sampai-di-mana-perjalanan-kita.htm#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 May 2011 00:18:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>webmaster</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pks-sidoarjo.org/?p=1792</guid>
		<description><![CDATA[
Sampai hari ini, perjalanan yang telah kita tempuh dalam mengarungi hidup ini mungkin sudah cukup jauh. Jika perjalanan itu tercermin dalam raut dan performa tubuh kita, barangkali kita sudah tidak pantas lagi untuk dikatakan muda. Garis-garis kerut di permukaan kulit wajah, atau cara berjalan kita yang sudah tidak segagah dulu, atau daya ingat yang mulai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div align="center"><img alt="Sampai di Mana Perjalanan Kita" src="http://pks-sidoarjo.org/wp-content/uploads/2011/04/Sampai-di-Mana-Perjalanan-Kita.jpg" height="130" hspace="8" width="150" align="left" border="0" /></div>
<p>Sampai hari ini, perjalanan yang telah kita tempuh dalam mengarungi hidup ini mungkin sudah cukup jauh. Jika perjalanan itu tercermin dalam raut dan performa tubuh kita, barangkali kita sudah tidak pantas lagi untuk dikatakan muda. Garis-garis kerut di permukaan kulit wajah, atau cara berjalan kita yang sudah tidak segagah dulu, atau daya ingat yang mulai menurun, semua menjadi pertanda bahwa kita memang sudah melewati fase muda yang identik dengan sifatnya yang energik, gesit dan cerdas.<br />
<span id="more-1792"></span><br />
Tibanya masa seperti ini, hendaknya bukan kebahagiaan dan kegembiraan yang perlu kita rayakan, melainkan dengan merenungi diri sembari membolak balik apa yang telah kita perbuat, apa yang telah kita lakukan dan apa yang telah kita hasilkan untuk mengukur kesuksesan kita. Sebab, sebagai seorang yang mampu berbuat sebagaimana juga orang lain berbuat, harus ada sesuatu yang bisa kita banggakan, yang menunjukan adanya perbaikan diri dari waktu ke waktu, sebagai bukti bahwa hidup kita tidak stagnan atau mengalami kemandekan.</p>
<p>Di hari ini, seiring detak jarum jam yang tidak pernah berhenti untuk berputar, yang terus menambah panjang usia namun semakin mendekatkan kita pada batas kehidupan, seharusnya ada ruang yang cukup untuk bertafakur, merenung sambil menghitung-hitung kesalahan. Jika kita menganggap diri kita sebagai orang yang berakal, tentu kita akan bersedih, menangis, atau bahkan menjerit ketakutan. Sebab, ternyata memang kita belum melakukan apa-apa. Belum seberapa yang amal baik yang kita perbuat, belum seberapa manfaatyang dapat kita berikan, dan belum seberapa nilai-nilai kehidupan yang dapat kita kumpulkan.</p>
<p>Namun ironisnya, terkadang tidak semua kita menyadari hal ini. Di balik ketidaksadaran itu, kita bahkan merasa sudah melakukan banyak hal. Padahal sudah lama hidup kita mengalami stagnasi dan kemandekan. Ataupun kalau kita sempat menyadarinya, rasanya kita sudah kehabisan energi untuk melakukan yang lebih baik dari sekarang. </p>
<p>Kita tertipu dan terpedaya oleh tidak adanya persaingan di antara kita. Karena nyatanya memang, hampir semua kita berada pada kondisi yang sama: mandek. Di sadari atau tidak. Kita merasa telah sampai pada garis lingkaran yang paling luar, yang tidak ada lagi garis yang lebih besar di atasnya. Kita hanya mampu berputar di satu titik. Berhenti. Stagnan. Monoton. Ternyata, perjalanan kita terhenti sampai di sini.</p>
<p>Merenung untuk perjalanan ini, juga perlu kita lakukan bersama-sama untuk mengukur sejauh mana usaha yang kita lakukan dan kontribusi apa yang telah kita berikan untuk kemajuan masyarakat, bangsa, negara, dan agama kita. Sebab pada kenyataannya, hingga saat ini kehidupan pribadi kita tidak jauh berbeda dengan kehidupan berbangsa, bernegara dan beragama kita. </p>
<p>Kehidupan pribadi kita menjadi cermin bagi kehidupan berbangsa kita. Semua pada tingkat yang sama, berhenti pada titik yang satu. Ataupun kalau ada kemajuan, sejujurnya kita merasa malu untuk sedikit berbangga dengan apa yang kita capai. Sebab, ternyata banyaknya sumber daya manusia yang kita miliki dan melimpahnya sumber daya alam yang kita punyai tidak sebanding dengan kemajuan yang kita capai. Jauh dibanding kemajuan dan perkembangan bangsa dan negara lain yang tidak memiliki kemelimpahan potensi.</p>
<p>Memang kita punya rencana-rencana dan target-target besar yang kita buat di wilayah sosial, politik, ekonomi, budaya, olah raga, pemerintahan, dan di kehidupan masyarakat luas. Tetapi, semua itu hanya tinggal rencana dan target. Kita tidak merasakan adanya perubahan dan kemajuan yang berarti. Terlalu banyak contoh yang bisa kita kemukakan. Korupsi, misalnya, sesuatu yang dahulu menjadi musuh besar dalam birokrasi kita, namun hari ini masih terus berlanjut dan bahkan kian meraja lela. Meskipun sepertinya semua upaya telah dilakukan. Masih banyak contoh kasus yang bisa kita buktikan; kemiskinan yang semakin parah, lapangan kerja yang demikian langka, kemaksiatan yang kian merajalela, dan lain sebagainya.</p>
<p>Jika kita tidak merasakan semua itu sebagai sebuah kemandekan, hari ini kita harus merasakannya. Saat ini, kita mesti menyadarinya, untuk kemudian bergerak, berpikir, beraktifitas, berkreasi dan berinovasi untuk melawannya.</p>
<p>Ada banyak faktor yang sebenarnya telah mematikan akal sehat kita sehingga kita tidak menyadari bahwa kondisi ini adalah sebuah kemandekan yang harus dilawan. Di antaranya, karena kita kehilangan pemaknaan terhadap hidup dan kehidupan. Kemalasari dan sikap masa bodoh telah menjerat kita untuk selalu bertahan pada situasi dan kondisi yang telah ada. Kita kehilangan pengetahuan bahwa hidup ini hams bergerak dan terus bergerak, menggores setiap waktu agar ia menjadi sejarah yang bisa dikenang di sepanjang masa.</p>
<p>Faktor lain adalah bahwa kita tidak pandai menghargai kerja-kerja yang telah kita lakukan. Dalam teori psikologi, kejenuhan atau merasa statis dalam hidup salah satunya disebabkan karena seseorang tidak begitu menghargai apa yang ia lakukan. Psikolog terkenal Oliver Wendell Holmes mengatakan bahwa sesuatu yang bergerak menunjukan adanya dinamika, dan dinamika selalu disusupi dengan upaya, kreativitas, perkembangan yang semuanya mencerminkan hidup.</p>
<p>&#8220;<em>Pada dasarnya, seseorang yang merasa jenuh dan tak merasa hidup adalah orang-orang yang tak menghargai apa yang ia lakukan dan apa yang melingkari hidupnya</em>,&#8221; ujar Oliver.</p>
<p>Perasaan jenuh muncul karena seseorang kurang menghargai dinamika amal dan aktivitas yang dilakukannya. Tentu banyak sebab yang melatarbelakangi kondisi ini. Tapi merasa bahwa pekerjaan kita tidak berharga, hanya sebagai rutinitas, akan menjadikan kita sendiri malas untuk bergerak. Sehingga akhirnya lebih memilih untuk tetap pada kondisi yang ada, serta diam dan tidak mau melakukan perbaikan-perbaikan diri.</p>
<p>Saat ini, kita sedang berada dalam situasi stagnan, mandek, dan belum ada perubahan kepada keadaan yang lebih baik. Tetapi semua unsur kehidupan yang ada masih bergetar dinamis. Artinya, masih ada waktu bagi kita untuk menjalankan tugas-tugas kita. Tidak masuk akal bila seluruh alam semesta bergerak memenuhi tugas yang dibebankan, tetapi kita justru berdiam diri.<br />
Tak ada logika apapun yang bisa menerima sikap diam di tengah dunia yang bergerak. Keengganan bergerak karena alasan apapun hanya akan memunculkan keadaan yang lebih berat daripada kesalahan yang muncul karena risiko yang pasti ada dalam bergerak. </p>
<p>Hal penting yang harus kita syukuri bahwa hingga saat ini, Allah SWT masih menyayangi kita. Kita masih diberikan kesempatan untuk menghirup udara, masih bisa bernafas lega di tengah polusi stagnasi yang belum kita tahu kapan akan dapat bisa bergerak maju, dan masih diberikan kesehatan untuk berbuat. Itulah yang masih tersisa untuk kita bisa mengukir sejarah yang lebih terhormat untuk dikenang oleh anak-anak cucu kita, para penerus kita di kemudian hari.</p>
<p>Makna dari sabda Rasulullah, bahwa meskipun kiamat telah datang, biji yang masih ada di genggaman tangan kita harus tetap kita tanam, adalah sebuah petunjuk dan motivasi agar kita tidak berhenti berbuat, sekecil apapun. Karena semua perubahan itu, awalnya tentu bermula dari hal-hal yang kecil.</p>
<p><strong>Menyadari Kemandekan Melalui Pemaknaan Hidup</strong></p>
<p>Hidup dan kehidupan itu, sesungguhnya selalu identik dengan gerak. Sama seperti kematian, dalam pengertiannya yang luas, selalu sejalan dengan arti kata diam, mandek, atau terhenti. Maka, ketidakmampuan kita untuk mengiringi hidup dan kehidupan kita dengan gerak, otomatis akan memunculkan kesulitan bagi diri kita sendiri untuk menjalaninya, dan bahkan bisa membuat kita mati. Karena itu, bergerak, beraktifitas, melakukan berbagai eksperimen, berkreasi, berinovasi dan sebagainya merupakan tindakan yang mutlak dalam hidup ini. Tanpa itu, kehidupan bukan saja menjadi kehilangan makna, tapi juga akan membawa bencana serta menyimpan berbagai penyakit.</p>
<p>Bergerak bukan hanya monopoli manusia yang memang bertanggung jawab dalam menjaga dan mempertahankan eksistensi kehidupan, sesuai tugasnya dari Allah SWT untuk menjadi pemimpin dan pemakmur.bagi dunia ini. Akan tetapi semua benda yang ada di alam raya juga melakukan gerak untuk tugasnya masing-masing, sebagai harmonisasi untuk terciptanya kehidupan berkelanjutan, hingga tibanya masa yang telah ditentukan.</p>
<p>Meski dalam penglihatan kita yang terba-tas benda-benda itu tampak diam, tetapi pada hakekaktnya mereka semua terus bergerak dan berjalan. Matahari bergerak dan berjalan di tempat peredarannya. Bumi dan bulan juga bergerak dan berputar pada porosnya masing-masing, sambil beriringan bersama mengitari matahari. Galaksi bergerak cepat dalam superkluster, bintang-bintang berpacu mengitari galaksi, planet-planet mengitari bintang, dan satelit-satelit mengitari planet.</p>
<p>Dalam skala mikro, molekul-molekul bergerak selincah yang bisa dilakukannya. Elektron mengitari inti atom dengan gerak yang tak tertangkap pengamatan. Pada level yang lebih kecil, kita boleh heran memahami bahwa materi sebenarnya hanya wujud lain dari energi yang bergetar. Dan pada level yang lebih kecil lagi, ilmuwan-ilmuwan mulai menyusun teori bahwa seluruh materi dan energi adalah bentuk senar-senar multi-dimensi sangat kecil yang bergetar dan terus bergetar. Karakteristik getaran itulah yang menentukan identitas penampakannya; apakah ia akan jadi materi atau energi, dan sebagai materi atau sebuah energi tertentu. Umur semesta ini adalah sepanjang masa bergetarnya unsur-unsur yang bergetar itu, dalam perspektif mana pun kita memandang.</p>
<p>Maka bisa kita bayangkan, andaikan benda-benda yang punya peran krusial itu; dari yang sangat besar hingga yang terkecil; dari yang tampak jelas hingga yang tak mampu terlihat oleh mata kita, sama-sama berhenti sedetik saja dari pergerakannya, tentu kehidupan ini akan mengalami gangguan yang maha dahsyat, atau bahkan barangkali kehidupan ini akan berakhir seketika. Karena itu, bayangkan dan renungkanlah.</p>
<p>Kita harus menjauhkan kemandekan dari kehidupan kita. Kita memerlukan gerak yang bisa memberikan kehidupan dan perubahan, adalah gerak dengan banyak berpikir, beraktifitas, melakukan berbagai eksperimen, berkreasi, berinovasi dan sebagainya. Itulah gerak yang seharus kita lakukan. Sedangkan gerak yang tanpa pikir, aktifitas, kreasi, ataupun eksprerimen hanyalah gerak yang menciptakan kemandekan, kebosanan dan kejenuhan, yang menambah keruwetan hidup, dan yang mempercepat kematian.</p>
<p>Hidup ini, supaya tidak kehilangan maknanya ia harus selalu dinamis, bergerak dan terus bergerak, seperti angin yang meliuk-liuk di bawah lembah, lalu menanjak ke atas bukit. Dan setiap kita tentu akan berbeda-beda membuat makna hidupnya sesuai dengan perjalanan dan arah hidup yang kita lalui. Tuntunan Allah SWT dalam Al Qur&rsquo;an dan petunjuk Rasulullah saw mengajarkan bahwa hidup adalah ibadah, hidup adalah ladang amal, dan hidup adalah medan perjuangan. Tapi semua orang akan mempunyai lorong sendiri-sendiri dalam hidupnya untuk bereks-presi, berbuat dan berkreasi.</p>
<p>Kita sendirilah yang akan menempuh jalan dan alur yang diciptakan Allah swt untuk kita. Islam mengarahkan kita untuk merenungi dan memaknai hidup lewattafakur dan dzikir. Setiap orang akan mengisi tafakurnya sesuai dengan garis kehidupan yang ia lalui dan ke mana rencana serta harapan hidupnya ke depan. Di sanalah, akan muncul semangat untuk terus bergerak dan dinamis. Upaya-upaya memaknai hidup lewat tafakur dan dzikir itu akan menyadarkan seseorang tentang berbagai amal dan tugas yang harus dilakukan dalam hidupl Di sanalah pula seseorang akan terdorong untuk terus bergerak, mengevaluasi langkah, meluruskan sikap, mengatasi rintangan, mewaspadai segala ancaman yang menghalanginya dari memperoleh hidup yang bermakna. Dan langkah itulah, yang tadinya hanya merupakan tindakan-tindakan individu, yang kemudian mensinergikan satu sama lain dalam satu kerja besar yang akan menghasilkan kehidupan yang baik dan berkembang.</p>
<p>Sumber: Tarbawi Edisi 148 Th. 8/Muharram 1428 H/1 Februari 2007 M</p>
<p>Dipublikasi ulang oleh <a href="http://www.pks-sidoarjo.org">Admin <strong>DPD PKS Sidoarjo</strong></a></p>
<p>Tulisan Lainnya:</p>
<ul>
<li><a href="http://pks-sidoarjo.org/hikmah/semangat-pertumbuhan.htm">Semangat Pertumbuhan</a></li>
<li><a href="http://pks-sidoarjo.org/hikmah/seni-memperhatikan.htm">Seni Memperhatikan</a></li>
<li><a href="http://pks-sidoarjo.org/hikmah/karena-jiwa-punya-hajat.htm">Karena Jiwa Punya Hajat</a></li>
<li><a href="http://pks-sidoarjo.org/hikmah/indahnya-cinta-jiwa.htm">Indahnya Cinta Jiwa</a></li>
<li><a href="http://pks-sidoarjo.org/hikmah/hanya-milik-allah-swt.htm">Hanya Milik Allah SWT</a></li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pks-sidoarjo.org/hikmah/sampai-di-mana-perjalanan-kita.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cinta Misi</title>
		<link>http://pks-sidoarjo.org/hikmah/cinta-misi.htm</link>
		<comments>http://pks-sidoarjo.org/hikmah/cinta-misi.htm#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 May 2011 00:41:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>webmaster</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Pelajaran Cinta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pks-sidoarjo.org/?p=1807</guid>
		<description><![CDATA[
Sang Khalifah termenung gundah. Sedih. Tampaknya belum ada tanda-tanda kalau kelaparan yang melanda kota Madinah akan segera berakhir. Puluhan orang meninggal sudah. Di tingkat teknis operasional rasanya semuanya sudah ia lakukan. Tapi masih adakah upaya lain yang mungkin ia lakukan?

Tidak jelas betul hubungannya. Tapi sang Khalifah kemudian merasa kalau ia membutuhkan tekad lebih besar. Cinta [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://pks-sidoarjo.org/wp-content/uploads/2011/02/Serial-Cinta-14.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-1661" title="Serial-Cinta-14" src="http://pks-sidoarjo.org/wp-content/uploads/2011/02/Serial-Cinta-14.jpg" alt="Serial-Cinta-14" width="200" height="125" /></a><br />
Sang Khalifah termenung gundah. Sedih. Tampaknya belum ada tanda-tanda kalau kelaparan yang melanda kota Madinah akan segera berakhir. Puluhan orang meninggal sudah. Di tingkat teknis operasional rasanya semuanya sudah ia lakukan. Tapi masih adakah upaya lain yang mungkin ia lakukan?<br />
<span id="more-1807"></span><br />
Tidak jelas betul hubungannya. Tapi sang Khalifah kemudian merasa kalau ia membutuhkan tekad lebih besar. Cinta pada rakyat harus diekspresikan lebih nyata. Perasaan itulah yang mengantarnya kepada keputusan kecilnya: selama kelaparan ini masih berlangsung, Ummar bin Khattab tidak akan membiarkan seorang pun dari anggota keluarganya untuk makan daging, dan tidak boleh menggauli satu dari ketiga istrinya. </p>
<p>TIdak ada korelasi teknis. Tapi sebagai pemimpin, Umar telah menyatakan tanggung jawab dan kepedulian kepada rakyatnya. Karena ia terlibat. Sangat terlibat.</p>
<p><a href="http://pks-sidoarjo.org/wp-content/uploads/2009/12/anis-matta_kecil.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-654" title="anis matta_kecil" src="http://pks-sidoarjo.org/wp-content/uploads/2009/12/anis-matta_kecil.jpg" alt="anis matta_kecil" width="75" height="84" /></a>Itu sebagian penampakan dari cinta misi. Ini buah keluhuran jiwa dan keyakinan yang kuat terhadap sebuah misi. <strong>Cinta pada sebuah misi mendorong kita mencintai semua orang dan pekerjaan yang ada di sepanjang jalan menuju misi itu. Semua orang. Semua pekerjaan. Di sini, cinta bekerja seperti mesin kendaraan. Tidak penting betul siapa penumpangnya, dan jalan mana yang harus dilalui.</strong></p>
<p>Keluhuran misi menguasai jiwa sang pecinta dan membuat perasaan pada orang yang kita cintai jadi beda. Kita tidak sedang mencintai sebuah &#8220;bentuk&#8221; di sini. </p>
<p>Yang kita cintai adalah &#8220;gerak&#8221; yang lahir dari bentuk itu: gerak dari &#8220;manusia&#8221; sebagai sebuah &#8220;entity&#8221; di alam raya. Karena itu beda warna adalah variasi yang indah. Beda karakter juga kekayaan hidup. Semua niscaya. Karena kita memerlukannya untuk melukis misi di atas kanvas kehidupan kita.</p>
<p>Hubungan yang terbentuk dari cinta ini adalah penyatuan pada orbit pikiran. Perasaan kita bergerak mengitari orbit itu. Perasaan adalah fungsi pikiran. Ia lahir, bergerak dan meliuk seperti seorang penari mengikuti alur lagu. </p>
<p>Orang yang kita cintai tidak harus memiliki perasaan yang sama. Para pecinta hanya berpikir bagaimana mencintai. Mereka tidak terganggu jika kemudian mereka tidak dicintai. Sebab mereka tidak mencintai &#8220;orangnya&#8221;.   Mereka mencintai &#8220;entity&#8221;-nya. Sebab entity merupakan fungsi pencapaian misi.</p>
<p>Cinta inilah yang ada dan harus ada, misalnya di kalangan pada duat (dai), ulama, mujahidin, guru, pekerja sosial, pemimpin politik, seniman, wartawan dan lainnya. Karena cinta ini tertuju pada gerak, bukan bentuk, maka semua pekerjaan yang terkait dengan pencapaian misi juga jadi niscaya.</p>
<p>Misalnya, Khalid bin Walid. Ia mencintai &#8220;jihad&#8221;. Ia bukan menikmati &#8220;saat-saat membunuh orang&#8221;. Ia mencintai &#8220;pekerjaannya&#8221;. Karena itu,niscaya untuk mencapai misi dakwah. Maka ia menikmati kesulitan-kesulitan di jalan itu. Lebih dari apapun juga. &#8220;Berada pada suatu malam yang dingin membeku dalam sebuah pertempuran lebih aku sukai daripada tidur bersama seorang gadis di malam pengantin,&#8221; katanya.</p>
<p>Oleh <strong><a href="http://pks-sidoarjo.org/tag/anis-matta">Anis Matta</a></strong></p>
<p>Dipublikasi ulang oleh <a href="http://www.pks-sidoarjo.org">Admin <strong>DPD PKS Sidoarjo</strong></a></p>
<p>Tulisan Anis Matta lainnya:</p>
<ul></ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pks-sidoarjo.org/hikmah/cinta-misi.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ada Masalah Serius dalam Hidup Kita: Kemandekan</title>
		<link>http://pks-sidoarjo.org/hikmah/ada-masalah-serius-dalam-hidup-kita-kemandekan.htm</link>
		<comments>http://pks-sidoarjo.org/hikmah/ada-masalah-serius-dalam-hidup-kita-kemandekan.htm#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 May 2011 00:17:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>webmaster</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pks-sidoarjo.org/?p=1789</guid>
		<description><![CDATA[
Di kolong jembatan jalan Casablanca, Jakarta Selatan, awal Februari lalu, manusia menyemut. Kanak-kanak, remaja, lansia laki-laki dan perempuan, berdiam di sana. Di malam-malam yang diguyur hujah, mereka cuma bisa membayangkan rumah yang terendam banjir, bahkan sebagiannya roboh terkena terjangan air bah. Mereka tidak bisa lagi tertampung di tempat penampungan yang penuh. Pemandangan serupa terhampar di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div align="center"><img alt="Ada Masalah Serius dalam Hidup Kita Kemandekan" src="http://pks-sidoarjo.org/wp-content/uploads/2011/04/Ada-Masalah-Serius-dalam-Hidup-Kita-Kemandekan.jpg" height="150" hspace="8" width="150" align="left" border="0" /></div>
<p>Di kolong jembatan jalan Casablanca, Jakarta Selatan, awal Februari lalu, manusia menyemut. Kanak-kanak, remaja, lansia laki-laki dan perempuan, berdiam di sana. Di malam-malam yang diguyur hujah, mereka cuma bisa membayangkan rumah yang terendam banjir, bahkan sebagiannya roboh terkena terjangan air bah. Mereka tidak bisa lagi tertampung di tempat penampungan yang penuh. Pemandangan serupa terhampar di berbagai kawasan Jakarta, hari-hari itu.<br />
<span id="more-1789"></span><br />
Ida, warga jalan W, Kebon Baru, Jakarta Selatan, bertutur, meski rumahnya tak terkena banjir, tapi tengah malam Ahad awal Februari, ketika sungai Ciliwung mengamuk, ia tetap tak bisa tidur. Teriakan minta tolong dari or-ang-orang yang rumahnya berada dekat kali Ciliwung, membuatnya bergidik. Teriakan itu mengiris hati. </p>
<p>&#8220;Jeritan-jeritan minta tolong, di tengah malam, suara air kali menderu-deru, bagaimana kami bisa tidur. Membayangkan mereka terjebak di atap rumah,&#8221; ujar Ida, yang juga mendehgar lolongan anjing yang seperti ketakutan. Setelah beberapa saat terdengar, teriakan itu terhenti. Di tengah kegelapan, Ida tidak tahu, apakah mereka tertolong, atau hanyut terbawa derasnya sungai Ciliwung.</p>
<p>Asep, warga Bina Marga di belakang kantor BPK Kalibata, Jakarta Selatan, malam itu mendapat pesan singkat dari ponsel tetangganya. Leni, nama perempuan itu, memohon pertolongan, karena ia terjebak di atap rumah ketika banjir datang. Leni, yang mengelola toko di rumahnya, sudah membawa barang dagangannya ke lantai dua rumah. Ia pun berdiam di sana ketika banjir datang, karena tahun-tahun sebelumnya, banjir tak pernah mencapai lantai dua. Tapi malam itu, air terus naik, hingga Leni harus memanjat ke atap. Dalam ketakutan, Leni berkali-kali mengirim SMS, bahwa ia terjebak di atap. Mohon ban-tuan. Asep dan istrinyayang telah mengungsi, berusaha mengabarkan kondisi Leni. Namun arus yang deras, membuat pertolongan tertunda. </p>
<p>Akhirnya, setelah tiga kali SMS Leni masuk, tak ada lagi SMS susulan. Asep dan istrinya berkali-kali menelpon, tapi tak ada lagi jawaban. Di Masjid BPK, esoknya, Asep melihat limabelas jenazah korban banjir terbaring. Ia lega karena tidak menemukan Leni. Namun, hingga beberapa-hari kemudian saat ia menuturkan kisah tragis itu, kabar Leni belum terdengar.</p>
<p>Di kawasan Kampung Melayu Kecil, ketika banjir datang, satu keluarga berdiam bersama di lantai dua rumah mereka. Tak dinyana, kuatnya arus banjir, merobohkan rumah. Ketiganya langsung jatuh dan terseret air bah. Beberapa tetangga yang mengetahui kejadian memilukan itu, cuma bisa terpukau. Mereka sendiri saat itu tengah sibuk menyelamatkan nyawa. Hingga esok harinya, baru dua dari mereka yang ditemukan, sudah menjadi jenazah.</p>
<p>Bencana banjir yang terus berulang, ternyata bukannya semakin bisa ditanggulangi. Malah makin menjadi. Pertama kalinya, banjir kini sampai menggenangi 42 kecamatan di Jakarta atau seratus persen, dengan 168 kelurahan atau 63,4 persen. Korban jiwa diperkirakan akan mencapai seratus nyawa lebih.</p>
<p>Apa kaitan semua ini dengan soal keman-dekan? Ini adalah drama lain dari kemandekan para pemimpin. Ya. Pemimpin yang berkuasa tidak hanya sekali, tapi mengalami masalah sama berkali-kali. Itulah kemandekan kepemimpinan. </p>
<p>Ia pernah berkata, November tahun lalu, bahwa tidak akan terjadi lagi banjir yang besar. Kalimat itu keliru secara moral dan secara ikhtiar.</p>
<p>Keliru secara moral, karena itu sebentuk kesombongan dan melecehkan kekuasaan Allah. Maka alangkah banyaknya daerah yang seumur hidup penghuninya tidak pernah terkena banjir, tahun ini justru tergenang air. Keliru secara ikhtiar, karena toh pada kenyataannya tidak ada perubahan signifikan dalam menaggulangi banjir. </p>
<p>Suatu siang dahulu, ia pernah mengatakan, bahwa di Jakarta ini gedung-gedungnya kokoh dan tahan gempa. Sore menjelang petang, Jakarta tiba-tiba diguncang gempa.</p>
<p>Inilah harga yang harus dibayar, akibat kemandekan para pemimpin. Di dalamnya ada matinya kearifan, berhentinya inisiatif, matinya perencanaan, matinya kepedulian, matinya cinta. Cengkraman hawa nafsu, terpukau &#8220;kompensasi&#8221; atas keluarnya ijin pembangunan pusat-pusat bangunan komersil yang memakan lahan resapan. Kesalahan yang berulang, akhirnya membawa korban rakyat sendiri. Melahirkan tragedi massal.</p>
<p>Sungguh berbahaya, jika pemimpin mati rasa cintanya, mandeg berinisiatif memberi yang terbaik, berada dalam stagnan hawa nafsu sempit, dan &#8220;bermain-main&#8221; dalam kesalahan yang terus berulang sambil merasa tak ada yang salah. Bahkan tetap bertahan pada keyakinan dirinya mampu, meski fakta berbicara lain. Hari ini, dalam musibah banjir yang melanda Jakarta, bukti kemandekan itu amat nyata.</p>
<p>Seorang pejabat tinggi berujar bahwa ia sudah tahu akan adanya banjir lima tahunan.. Dan ia menganggap itu sebagai bencana alam. Seperti sesuatu yang memang harus terjadi. Dalam pola pikir semacam ini, antisipasi banjir semaksimal mungkin, akhirnya jadi sesuatu yang tidak begitu penting. Pembenahan terencana jadi sesuatu yang tidak begitu perlu. </p>
<p>Berani menjadi pemimpin, seharusnya berani pula tidak mandeg di sana-sini. Pemimpin, dalam lingkup apapun, harus berada dalam kutub berlainan dengan kemandekan. Karena ia membawa amanah orang-orang di bawahnya. Karena amanah itu akan mengikuti kita hingga liang lahat.</p>
<p><strong>Kemandekan dalam Bentuk Terhentinya Kecintaan pada Ilmu</strong></p>
<p>&#8220;<em>Tak ada karunia yang lebih baik setelah iman, yang diberikan Allah kepada manusia melebihi akal.</em>&#8221; Begitu Rasulullah mengabarkan. Dengan akal, kita menimba ilmu. Dengan ilmu, kita menabung pengetahuan. Dengan pengetahuan, kita belajar kearifan. Dengan kearifan, kita arungi hidup dengan berdaya guna.</p>
<p>Kita lahir dan kita tak mengerti apa-apa. Kita belajar, tapi sejatinya kita juga masih banyak tidak mengerti apa-apa.</p>
<p>&#8220;<em>Pengetahuan sejati muncul ketika kita mengetahui bahwa kita tak tahu apa-apa, dan dalam mengetahui bahwa kita tak tahu apa-apa. Itulah yang membuat kita jadi orang terpandai</em>,&#8221; ujar Socrates. </p>
<p>Dengan mengetahui bahwa kita tidak tahu apa-apa itulah, kita mestinya tidak pernah berhenti. Tidak pernah mandeg mencari ilmu. Tidak pernah selesai menggali ide. Seperti bejana kosong, jiwa punya kehausan untuk berjalan terus dalam tradisi belajar.</p>
<p>Sewaktu Perang Dunia II berakhir, para ilmuwan dipulangkan dari proyek Los Alamos yang fantastik, dan ilmuwan Richard Feynman lantas mengajar di Cornell University. Nyaris tak ada hal baru yang menarik di bidang fisika teoritis di masa itu, dan kebosanan menjelma jadi ketakutan akan kemandekan. Beberapa lembaga di luar Cornell menawari Feynman bergabung, mengingat reputasinya di proyek Los Alamos. Tapi Feynman membayangkan dirinya bukan Feynman yang dulu. Kini, ia Feynman yang mandeg. Ia sempat mengambil sikap &#8220;tak ambil pusing&#8221;. Ia hidup, tapi bukan untuk tujuan besar: semua dilakukan hanya buat ketertarikan pribadi. Membaca 1001 Malam, melempar-lempar piring di kafetaria, dan menghitung formulasi fisika yang sekadar lucu.</p>
<p>Salah satu yang membuatnya sibuk adalah kecepatan putar logo Cornell di piring yang dilempar, ketika piring itu bergelincirdi udara. Perbandingan kecepatan putarnya 2:1 terhadap kecepatan piring (ada yang menyebutkan 1:2). Hitungannya tidak sederhana. Ia menghabiskan waktu menghitung keseimbangan akselerasi pada sebaran massa. Hasilnya dipamerkan pada Bethe, pusat ilmuwan di masa itu. Namun tanggapan dingin saja, &#8220;Apa gunanya?&#8221;</p>
<p>Tapi Feynman tidak peduli. Ia ternyata tak dapat berlama-lama dalam kemandekan. Meski sempat terbenam bahkan memulai dari sesuatu yang terkesan tak serius, ia akhirnya hidup lagi, dan bukan untuk sekadar hidup. Setelah memulai, ia meneruskan ke sesuatu yang lebih fundamental untuk menyusun formula dasarnya. Bagaimana kalau partikelnya hanya sebesar elektron. Dan seterusnya dan seterusnya. Dalam pengakuan Feynman, penelitian itulah, yang berkelanjutan ke mana-mana, yang membuatnya menerima Hadiah Nobel Fisika, untuk formulasi elektrodinamika kuantum.</p>
<p>Dengan mengetahui bahwa kita tidak tahu apa-apa, kita mestinya tidak pernah berhenti. Tidak pernah mandeg mencari ilmu. Tidak pernah selesai menggali ide. Seperti bejana kosong, jiwa punya kehausan berjalan terus dalam tradisi belajar. Sejarah mencatat banyak pelopor intelektual Muslim di masa lalu. </p>
<p>Rasyid Ridha (1865-1935), seorang iimuwan Muslim dari Suriah yang mengembangkan gagasan modernisme Islam yang awalnya digagas Jamaluddin al-Afghani dan Muhammad Abduh. Ridha mempelajari kelemahan masyarakat Muslim dibandingkan masyarakat kolonialis Barat dan menyimpulkan kelemahan itu antara lain kecenderungan umat mengikuti tradisi secara buta dan kemandekan pemikiran yang mengakibatkan timbulnya kegagalan mencapai kemajuan sains dan teknologi. Ia berpendapat kelemahan ini dapat diatasi dengan kembali ke prinsip dasar Islam dan melakukan ijtihad dalam menghadapi realita masa kini. Itulah mengapa sejak tahun 1898 hingga wafatnya, Ridha menerbitkan surat kabar Al-Manar yang penyebarannya bahkan hingga ke tanah air Indonesia, dan mempengaruhi kaum pergerakan Islam. Dari penolakan pada kemandekan, pesan-pesannya berjalan terus.</p>
<p>Sejarah juga mencatat seorang Muhammad Marrriaduke William Pickthall (1875-1936), intelektual Muslim Barat, yang terkenal dengan terjemahan Al Qur&rsquo;an yang puitis dan akurat dalam bahasa Inggris. Pickthall juga seorang novelis, jurnalis dan kepala sekolah. Dididik di Harrow. Terlahir dari keluarga Inggris kelas menengah yang akar keluarganya mencapai ksatria terkenal William sang penakluk, Pickthall tak bisa hanya puas dalam &#8220;warisan&#8221; status, ia memilih berkelana ke banyak negara Timur Tengah, hingga mendapat reputasi sebagai ahli masalah Timur Tengah. </p>
<p>Setelah mendobrak penerimaannya yang pasif pada agama sebelumnya dan memeluk Islam, melalui perjuangan panjang, ia menerbitkan terjemahan Al Qur&rsquo;an (The meaning of the Holy Qur&rsquo;an). Terjemahan dalam bahasa Inggris pertama yang dilakukan seorang Muslim dan diakui Universitas Al Azhar. Malam sebelum wafat, dalam keadaan sakit, Pickthall tetap bergerak, menulis perbaikan buku pelajaran dalam madrasahnya. Setelah ia wafat, istrinya menemukan catatan terakhirnya di meja. Kalimat terakhir yang ia tulis berasal dari Al-Qur&rsquo;an, &#8220;Mereka yang menyerahkan segalanya pada Allah, yang melakukan amal shaleh, ganjarannya adalah bersama Allah, tidak ada ketakutan atas mereka, dan tidak pula mereka bersedih.&#8221;</p>
<p>Sejarah mencatat banyak pelopor yang melanjutkan tradisi keilmuan. Gustave Le Bon bahkan mengatakan bahwa sebagian orang Eropa malu untuk mengakui dan menyembunyikan kenyataan bahwa kelompok Muslim telah menyebabkan Eropa meninggalkan kekejaman dan kebodohan. </p>
<p>&#8220;<em>Moral yang memengaruhi orang-orang Arab yang diawali dengan Islam telah mendahuiui bangsa Eropa yang tidak beradab, yang menggulingkan kerajaan Romawi ke arah kemanusiaan. Pengaruh mental kaum Musliminlah yang memperkenalkan sains, keahlian dan filsafat, yang kita benar-benar tidak mengetahuinya. Kaum Muslimin pelopor kita selama enam ratus tahun</em>,&#8221; ujar Le Bon.</p>
<p>Will Durant dalam History of Civilisation pun mengatakan, &#8220;<em>Selama lima abad dari tahun 81 H sampai 597 H Islam merupakan kekuatan pelopor dalam disiplin, perluasan wilayah, moralitas, pengembangan standar kehidupan, hukum-hukum kemanusiaan yang adil, menghormati pikiran dan gagasan orang lain, kepustakaan, riset keilmiahan kedokteran dan filsafat di dunia.</em>&#8221;</p>
<p>Persoalannya terhenti di mana tradisi keilmuan itu? Mengapa kita menyimpang dari jalan utama, jalan menuju arah kemajuan dan upaya kesempurnaan? Apakah cukup berlindung dalam opini: tabiat sejarah bahwa bangsa mengalami suatu batas jaman kemajuan dan perubahan dan kemudian mundur ke arah kebinasaan, kejatuhan dan kehancuran? Padahal sekarang adalah jaman di mana kita hidup. Inilah hari-hari kita, yang membuka peluang meneruskan tradisi keilmuan, meski dalam taraf berbeda bagi masing-masing kita. Soalnya cuma satu: tak ada lagi pintu bagi tipuan kemandekan.</p>
<p><strong>Kemandekan Mental dalam Rutinitas Hidup</strong></p>
<p>Jebakan rutinitas bisa melahirkan kemandekan. Ketika segenap energi dicurahkan untuk mencapai tujuan dan hasil instan, bisa muncul kemandekan. Apalagi bila ritme berulang tanpa inovasi. Spesialisasi dan profesionalitas kerja yang tiba-tiba mengubah kita menjadi pekerjaan itu sendiri. Obsesi dengan perjalanan karir yang akhirnya menjadi hidup dan mati kita. Di tengah semua itu bisa muncul kemandekan. Jebakan rutinitas. Ketika itulah muaranya jelas: berakhir pada kebuntuan.</p>
<p>Seperti sajak Abdul Hadi WM, &#8220;kita akhirnya berlari dari kehancuran yang satu ke kehancuran lain.&#8221; Alam semesta begitu patuh menggantikan siangnya dengan malam dan menggilirkan malamnya dengan siang, tapi manusia seringkali hanya sibuk memproduksi ungkapan berbeda untuk kenyataan sama. Habis waktu dan tenaga untuk mengulangi kebodohan dan keterperosokan sama, meski dibungkus jargon baru sambil meyakinkan diri atas jargon itu. Bahkan mental tak lagi siap untuk meneliti kebenaran.</p>
<p>Bagaimana caranya bicara dengan seorang fanatik yang mandeg dan termakan jargon? Cerita abadi dari Masjid Ibrahim, Hebron, Palestina, tentang seorang Yahudi yang menembak mati 54 orang di waktu shubuh. Langit Februari 1994, bertepatan dengan Ramadhan, kelam oleh patogen yang menjangkit seorang Baruch Goldstein. Jalan kekerasan, kepraktisan yang ditempuh dengan pengatasnamaan: iman. Ia percaya, seperti kepercayaan yang didapatnya turun temurun meski dibungkus jargon berbeda-beda, bahwa orang Arab sejenis penyakit epidemi yang harus musnah. Seorang rabi Yahudi selalu mengajarkan buatnya, &#8220;Sejuta orang Arab tak seberharga sepotong kuku jari orang Yahudi.&#8221; </p>
<p>Alhasil, ada kubangan berdarah yang diakibatkan oleh tiga hower peluru dan tiga granat. Goldstein sendiri tewas dalam kejadian itu, setelah seorang Palestina berusaha melawan dan menghantam kepalanya dengan kelengkapan pemadam kebakaran. Tapi, dimakamkan dengan penuh rasa hormat di kalangan Yahudi garis keras.</p>
<p>Atau jargon yang ditelan seorang lelaki, yang sebenarnya hanya kelanjutan &#8220;tradisi&#8221; penentangan pada nabi-nabi. Lelaki itu, datang dengan sikap angkuh. Di tangannya, terhunus sebilah pedang, diletakkan ke pangkal leher nabi Muhammad saw. Hanya ada mereka berdua malam itu, suasana senyap menegangkan. </p>
<p>&#8220;Siapa yang akan melindungimu sekarang?&#8221;</p>
<p>Pedangnya terjatuh, ia terkejut dengan lutut gemetar setelah Rasulullah saw menjawab, &#8220;Allah.&#8221;</p>
<p>Sang Nabi mengambil-alih pedang itu, kini ia yang menghunus dan meletakkannya ke dada lelaki pongah tadi.</p>
<p>&#8220;Sekarang siapa yang melindungimu?&#8221;</p>
<p>Nabi saw taksedikitpun melukai lelaki yang berniat membunuhnya. </p>
<p>Apa yang melintas dalam benak lelaki yang sejak melangkahkan kaki dari rumahnya sudah berniat membunuh lelaki pilihan Allah? Tak ada yang pernah betul-betul tahu. Tapi ada kesadaran, bahwa cengkraman kemandekan dalam bentuk ajaran keliru yang terus berulang akan menjadi pedang yang membinasakan mental si empunya sendiri.</p>
<p>Proses keluar dari kemandekan memang tidak bisa sekedipan mata. Tapi bukan berarti harus tertunda terus. </p>
<p>Nabi Ibrahim as, adalah sosok yang berproses untuk menemukan kebenaran. Pada tahap permulaan, Ibrahim as menemukan kebenaran berdasarkan indrawi mata. Ia baru menyadari akan kelemahan objek yang dijadikan Tuhan setelah menemukan fakta baru yang tidak logis. Ia kemudian menemukan kembali melalui proses pencarian. Ia berganti matahari yang lebih ajek dalam memberikan cahayanya, tapi juga gagal karena pada malam hari seolah lenyap dari pandangan. Ia menggunakan rasio-nalar &#8220;Bagaimana mungkin Tuhan ada dan hilang?&#8221; Akhirnya ia menemukan kebenaran itu melalui mata hatinya.</p>
<p>Proses keluar dari kemandekan memang tidak bisa sekedipan mata. Tapi bukan berarti harus tertunda terus. Al Qur&rsquo;an banyak mengungkap persoalan kemanusiaan dan diri manusia. Dari sesuatu yang benar, kita dapat melahirkan proses yang benar, hasilyang benar serta manfaat yang benar pula. &#8220;<em>Dan dengan kebenaran, Kami menurunkan Al Qur&rsquo;an dan dengan proses yang benar Kami turunkan Al Qur&rsquo;an.</em>&#8221;</p>
<p>Manusia yang mau keluar dari kemandekan dengan proses, hasil dan manfaat yang benar, adalah manusia merdeka. Tak ada ikatan apapun yang berhasil mengkandaskannya. </p>
<p>As-Sarakhsi menulis bukunya yang terkenal Al Mabsuth yang berjumlah lima belas jilid saat dipenjara di bawah tanah. Ibnu Qayyim menulis bukunya Zadud Ma&rsquo;ad saat berada dalam perjalanan. Al-Qurthubi menulis syarah untuk Shahih Muslim saat berada di atas perahu. Sedangkan kebanyakan dari fatwa Ibnu Taimiyah, ditulis saat ia berada dalam penjara. Para ahli hadits mengumpulkan ratusan ribu hadits saat dalam keadaan miskin dan terasing. Abul A&rsquo;la Al-Ma&rsquo;arri mendiktekan kumpulan sajaknya justru saat dia buta. Tahha Husein buta, saat ia mulai menuliskan memoar dan buku-bukunya.</p>
<p>Proses keluar dari kemandekan memang tidak bisa sekedipan mata. Tapi bukan berarti harus tertunda terus. Ikatan masa lalu, jargon-jargon dan kebiasaan masa lalu yang menyimpang mestinya sudah ditinggalkan. </p>
<p>&#8220;<em>Wahai masa lalu yang telah berlalu dan selesai, tenggelamlah seperti mataharimu. Aku takkan pernah menangisi kepergianmu, dan kamu takkan pernah melihatku termenung sedetik pun untuk mengingatmu. Kamu telah meninggalkan kami semua, pergi dan tak pernah kembali lagi</em>,&#8221; ujar Aid Al-Qarni.</p>
<p><strong>Kemandekan dalam Bertaqarrub pada Allah</strong></p>
<p>Pikiran kita seringkali tak mampu membaca langsung kebaikan-kebaikan Allah. Mungkin karena hati yang kerap tidak bersinar. Pergulatan hidup, sentuhan urusan dunia menyebabkan hati terselubung suasana pekat dan membawa kemandekan. </p>
<p>Rasulullah saw berpesan, &#8220;<em>Tidaklah hati seseorang kecuali ia mengalami kondisi seperti awan dan bulan. Jika hati terdominasi awan, hati akan menjadi gelap. Tapi bila awan itu menyingkir, hati akan menjadi terang.</em>&#8221;</p>
<p>Alih-alih menyingkirkan awan gelap, kita kerapkali malah membiarkan. Sungguh malang, bila muncul keengganan ber-<em>taqarrub</em> pada Allah. Bila jam-jam dan hari-hari yang dihabiskan untuk bermunajat dan mengadu pada-Nya makin berkurang. Satu jam untuk amal shaleh, terasa begitu mahal, dan lebih &#8220;berharga&#8221; dipakai untuk urusan-urusan lain. Kenyamanan bersama keluarga malah melenakan dan memperkuat stagnan itu. Padahal dari semua itu, yang dituai hanya kesempitan. </p>
<p>&#8220;<em>Dan barangsiapa berpaling dari mengingat-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit.</em>&#8220;(QS Thaha: 123)</p>
<p>Seorang psikiater terkenal, Dr. Carl Jung dalam buku The Modern Man In Search of Spirit mengatakan, &#8220;<em>Selama tiga puluh tahun, orang-orang dari berbagai negeri berperadaban datang menemui saya untuk berkonsultasi. Saya telah mengobati ratusan pasien dan sebagian mereka berusia setengah baya, 35 tahun ke atas. Dan, tidak ada di antara mereka yang persoalannya tidak dikembalikan pada agama sebagai pandangan hidup. Maka bisa saya katakan bahwa tiap dari mereka jatuh sakit itu, mereka karena kehilangan apa yang telah diberikan agama pada orang-orang beriman. Dan, orang yang belum mampu mengembalikan keimanannya yang sejati, tidak akan bisa disembuhkan.</em>&#8221;</p>
<p>Hati yang terkadang tertutup awan, akan terhalang cahayanya lalu menjadi temaram. Redup dan tak lagi bersinar. Mandeg untuk beramal shaleh dan bertaqarrub pada Allah. Kondisi iman dan apa-apa yang kurang darinya tidak lagi disadari. Padahal para sala-fushalih mengatakan, &#8220;<em>Termasuk kecerdasan seorang hamba adalah jika ia menyadari kondisi imannya dan apa-apa yang kurang darinya.</em>&#8221;  .</p>
<p>Menurun dan mandegnya kadar iman, akan menutup semua pintu harapan, melahirkan kecemasan dan ketidakpuasan terus menerus. Sebaliknya, menutup kemandekan dan kembali pada iman, maka keinginan yang tidak dibatasi target, angka atau hasil yang bisa diraba, akan melahirkan ketenangan, ketentraman hati dan kepuasan.</p>
<p>Imam Ibnul Jauzi mengatakan, &#8220;<em>Wahai orang yang ditolak dari pintu. Wahai orang yang terhalangi menemui kekasihnya (Allah). Jika engkau ingin mengetahui kedudukanmu di sisi raja (Allah). Lihatlah sarana apa yang bisa membantumu untuk mengetahui posisimu di sisi sang raja. Lihatlah pekerjaan apa yang menyibukkanmu. Betapa banyak orang yang berdiri di depan pintu istana raja. Tapi tak satu pun yang dapat masuk dan berhadapan dengan raja kecuali orang-orang yang memang telah dipilih oleh sang raja. Tak seluruh hati bisa mendekat. Tak semua jiwa bisa menyimpan rasa cinta.</em>&#8221;</p>
<p>Bagaimana jiwa yang mandeg dari ber-<em>taqarrub</em> dengan-Nya akan bisa melewati pintu itu? Susah-payah yang dilakukan sekadar untuk urusan dunia dan mengumpulkan harta benda, sibuk dengan banyak bertanya tapi sedikit beramal, sibuk mengikuti hawa nafsu. </p>
<p>Muhammad bin Fadl Al-Balhi berkata, &#8220;<em>Sangat banyak orang yang mau susah-payah mengarungi lautan, menuruni lembah dan melewati jurang sekadar ingin melihat-lihat peninggalan para leluhurnya. Mengapa mereka tidak lebih bersusah-payah untuk mengekang jiwa dan memerangi hawa nafsunya agar bisa sampai dalam hatinya. Karena dalam hati yang bersih, dia akan menemukan peninggalan Rabb-nya.</em>&#8221;</p>
<p>Sumber: Tarbawi Edisi 148 Th. 8/Muharram 1428 H/1 Februari 2007 M</p>
<p>Dipublikasi ulang oleh <a href="http://www.pks-sidoarjo.org">Admin <strong>DPD PKS Sidoarjo</strong></a></p>
<p>Tulisan Lainnya:</p>
<ul>
<li><a href="http://pks-sidoarjo.org/hikmah/semangat-pertumbuhan.htm">Semangat Pertumbuhan</a></li>
<li><a href="http://pks-sidoarjo.org/hikmah/seni-memperhatikan.htm">Seni Memperhatikan</a></li>
<li><a href="http://pks-sidoarjo.org/hikmah/karena-jiwa-punya-hajat.htm">Karena Jiwa Punya Hajat</a></li>
<li><a href="http://pks-sidoarjo.org/hikmah/indahnya-cinta-jiwa.htm">Indahnya Cinta Jiwa</a></li>
<li><a href="http://pks-sidoarjo.org/hikmah/hanya-milik-allah-swt.htm">Hanya Milik Allah SWT</a></li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pks-sidoarjo.org/hikmah/ada-masalah-serius-dalam-hidup-kita-kemandekan.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pelajaran Cinta</title>
		<link>http://pks-sidoarjo.org/hikmah/pelajaran-cinta.htm</link>
		<comments>http://pks-sidoarjo.org/hikmah/pelajaran-cinta.htm#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 May 2011 00:39:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>webmaster</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Anis Matta]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Serial Cinta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pks-sidoarjo.org/?p=1805</guid>
		<description><![CDATA[Memang tidak mudah. Sebab tidak karena kamu mencintai lalu hendak memberi, atau kamu menebar pesona kematanganmu melalui itu, maka cintamu berbalas. Fakta ini mungkin pahit. Tapi begitulah adanya: kadang-kadang kamu harus belajar menepuk angin, bukan tangan lain yang melahirkan suara cinta.

Sebabnya sederhana saja. Cinta itu banyak macamnya. Ada cinta misi: cinta yang memang kita rencanakan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://pks-sidoarjo.org/wp-content/uploads/2011/03/Serial-Cinta-15.jpg" height="125" alt="Serial-Cinta-15" hspace="8" width="200" align="left" border="2" />Memang tidak mudah. Sebab tidak karena kamu mencintai lalu hendak memberi, atau kamu menebar pesona kematanganmu melalui itu, maka cintamu berbalas. Fakta ini mungkin pahit. Tapi begitulah adanya: kadang-kadang kamu harus belajar menepuk angin, bukan tangan lain yang melahirkan suara cinta.<br />
<span id="more-1805"></span><br />
Sebabnya sederhana saja. Cinta itu banyak macamnya. <strong>Ada cinta misi: cinta yang memang kita rencanakan sejak awal. Cinta ini lahir dari misi suci, didorong oleh emosi kebajikan dan didukung dengan kemampuan memberi.</strong> Misalnya cinta para nabi kepada umatnya, atau guru kepada muridnya, atau pemimpin kepada rakyatnya, atau ibu kepada anaknya. Jiwamu dan jiwa orang yang kamu cintai tidak mesti bersatu. Cinta ini sering tidak berbalas. Bahkan sering berkembang menjadi permusuhan. Lihatlah bagaimana nabi-nabi itu dimusuhi umatnya, atau para ibu ditelantarkan anak-anaknya di usia tua, atau pemimpin yang baik dibunuh rakyatnya, atau guru yang dilupakan murid-muridnya.</p>
<p>Inilah cinta yang paling luhur. Paling suci. Sebagian besar kebaikan yang kita saksikan dalam kehidupan kita, bahkan dalam sejarah umat manusia, sebenarnya merupakan buah dari cinta yang ini. Ambillah contoh 1,3 milyar umat Islam saat ini adalah hasil perjuangan berdarah-darah sang nabi beserta sahabat-sahabatnya. Itu cinta misi.</p>
<p>Tapi ada jenis cinta yang lain. <strong>Cinta jiwa. Cinta ini lahir dari kesamaan atau kegenapan watak jiwa. Jiwa yang sama atau berbeda tapi saling menggenapi biasanya akan saling mencintai.</strong> Cinta ini yang lazim ada dalam hubungan persahabatan dan perkawinan atau keluarga. Cinta ini mengharuskan adanya respon yang sama: <em>cinta tidak boleh bertepuk sebelah tangan di sini.</em></p>
<p><a href="http://pks-sidoarjo.org/wp-content/uploads/2009/12/anis-matta_kecil.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-654" title="anis matta_kecil" src="http://pks-sidoarjo.org/wp-content/uploads/2009/12/anis-matta_kecil.jpg" alt="anis matta_kecil" width="75" height="84" /></a>Inilah cinta yang paling rumit. Serumit kimia jiwa manusia. Suatu saat misalnya Umar bin Khattab hendak melamar Ummu Kaltsum binti Abu Bakar, adik Aisyah ra. Gadis itu sangat belia dan tumbuh di antara jiwa-jiwa yang lembut nan penyayang. Aisyah ra jadi gusar. Wataknya tidak bertemu dengan watak Umar. Tapi siapa berani menolak lamaran manusia paling sholeh di muka bumi   ketika itu? Namun dengan diplomasi yang sangat halus, melalui kepiawaian Amr bin Ash, Aisyah ra menolak lamaran itu sembari menyarankan sang Khalifah menikahi Ummu Kaltsum binti Ali bin Abi Thalib, adik Hasan dan Husein. Kali ini lamarannya diterima: Ali dan Umar memiliki watak yang sama. &#8220;Tidak ada alasan menolak lamaran manusia terbaik di muka bumi,&#8221; kata Ali ra.</p>
<p>Ada cinta ketiga. <strong>Cinta maslahat. Cinta ini dipertemukan oleh kesamaan kepentingan. Mereka bisa berbeda watak atau misi. Tapi kepentingan mereka sama maka mereka saling mencintai.</strong> Misalnya hubungan baik yang lazim berkembang di dunia bisnis. Suara ramah dari penjawab telepon, atau senyum manis seorang pramugari, atau layanan sempurna seorang resepsionis hotel: semua berkembang dari kepentingan tapi efektif menciptakan kenyamanan jiwa (<em>comfortability</em>). Anda adalah bagian dari pekerjaannya. Bukan jiwanya. Anda adalah kepentingannya. Bukan misinya.</p>
<p>Oleh <strong><a href="http://pks-sidoarjo.org/tag/anis-matta">Anis Matta</a></strong></p>
<p>Dipublikasi ulang oleh <a href="http://www.pks-sidoarjo.org">Admin <strong>DPD PKS Sidoarjo</strong></a></p>
<p>Tulisan Anis Matta lainnya:</p>
<ul>
<li><a href="http://pks-sidoarjo.org/hikmah/semangat-pertumbuhan.htm">Semangat Pertumbuhan</a></li>
<li><a href="http://pks-sidoarjo.org/hikmah/seni-memperhatikan.htm">Seni Memperhatikan</a></li>
<li><a href="http://pks-sidoarjo.org/hikmah/karena-jiwa-punya-hajat.htm">Karena Jiwa Punya Hajat</a></li>
<li><a href="http://pks-sidoarjo.org/hikmah/indahnya-cinta-jiwa.htm">Indahnya Cinta Jiwa</a></li>
<li><a href="http://pks-sidoarjo.org/hikmah/kelezatan-ruhani.htm">Kelezatan Ruhani</a></li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pks-sidoarjo.org/hikmah/pelajaran-cinta.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

