<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>DPD PKS Sidoarjo &#187; wawan</title>
	<atom:link href="http://pks-sidoarjo.org/author/wawan/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://pks-sidoarjo.org</link>
	<description>Bekerja untuk Sidoarjo Sejahtera</description>
	<lastBuildDate>Mon, 13 Jun 2011 00:54:24 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.6</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Seni Memperhatikan</title>
		<link>http://pks-sidoarjo.org/hikmah/seni-memperhatikan.htm</link>
		<comments>http://pks-sidoarjo.org/hikmah/seni-memperhatikan.htm#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 06 Jun 2011 01:02:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Anis Matta]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Serial Cinta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pks-sidoarjo.org/?p=1859</guid>
		<description><![CDATA[
Kalau intinya cinta adalah memberi, maka pemberian pertama seorang pecinta sejati adalah perhatian. Kalau kamu mencintai seseorang, kamu harus memberi perhatian penuh kepada orang itu. Perhatian yang lahir dari lubuk hati yang paling dalam, dari keinginan yang tulus untuk memberikan apa saja yang diperlukan orang yang kamu cintai untuk menjadi lebih baik dan berbahagia karenanya.

Perhatian [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div align="center"><img src="http://pks-sidoarjo.org/wp-content/uploads/2011/01/Serial-Cinta-09.jpg" height="125" alt="Serial-Cinta-09" hspace="8" width="200" align="left" border="2" /></div>
<p>Kalau intinya cinta adalah memberi, maka pemberian pertama seorang pecinta sejati adalah perhatian. Kalau kamu mencintai seseorang, kamu harus memberi perhatian penuh kepada orang itu. Perhatian yang lahir dari lubuk hati yang paling dalam, dari keinginan yang tulus untuk memberikan apa saja yang diperlukan orang yang kamu cintai untuk menjadi lebih baik dan berbahagia karenanya.<br />
<span id="more-1859"></span><br />
Perhatian adalah pemberian jiwa; semacam penampakan emosi yang kuat dari keinginan baik kepada orang yang kita cintai. Tidak semua orang memiliki kesiapan mental untuk memperhatikan. Tidak juga semua orang yang memiliki kesiapan mental memiliki kemampuan untuk terus memperhatikan.</p>
<p><a href="http://pks-sidoarjo.org/wp-content/uploads/2009/12/anis-matta_kecil.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-654" title="anis matta_kecil" src="http://pks-sidoarjo.org/wp-content/uploads/2009/12/anis-matta_kecil.jpg" alt="anis matta_kecil" width="75" height="84" /></a>Memperhatikan adalah kondisi di mana kamu keluar dari dalam dirimu menuju orang lain yang ada di luar dirimu. Hati dan pikiranmu sepenuhnya tertuju kepada orang yang kamu cintai. Itu tidak sesederhana yang kita bayangkan. Mereka yang bisa keluar dari dalam dirinya adalah orang-orang yang sudah terbebas secara psikologis. Yaitu bebas dari kebutuhan untuk diperhatikan. Mereka independen secara secara emosional: kenyamanan psikologis tidak bersumber dari perhatian orang lain terhadap dirinya. Dan itulah musykilnya. Sebab sebagian besar orang lebih banyak terkungkung dalam dirinya sendiri. Mereka tidak bebas secara mental. <strong>Mereka lebih suka diperhatikan daripada memperhatikan. Itu sebabnya mereka selalu gagal mencintai.</strong></p>
<p>Itulah kekuatan para pecinta sejati: bahwa mereka adalah pemerhati yang serius. Mereka memperhatikan orang-orang yang mereka cintai secara intens dan menyeluruh. Mereka berusaha secara terus menerus untuk memahami latar belakang kehidupan sang kekasih, menyelidiki seluk-beluk persoalan hatinya, mencoba menemukan karakter jiwanya, mendefinisikan harapan-harapan dan mimpi-mimpinya, dan mengetahui kebutuhan-kebutuhannya untuk sampai kepada harapan-harapan itu.</p>
<p>Para pemerhati yang serius biasanya lebih suka mendengar daripada didengarkan. Mereka memiliki kesabaran yang cukup untuk mendengar dalam waktu yang lama. Kesabaran itulah yang membuat orang betah dan nyaman menumpahkan isi hatinya kepada mereka. Tapi kesabaran itupula yang memberi mereka peluang untuk menyerap lebih banyak informasi tentang sang kekasih yang mereka cintai.</p>
<p>Tapi di sini juga tersimpan sesuatu yang teramat agung dari rahasia cinta. Rahasia tentang pesona jiwa para pecinta. Kalau kamu terbiasa memperhatikan kekasih hatimu, secara berlahan-lahan dan tanpa ia sadari ia akan tergantung dengan perhatiannmu. Secara psikologis ia akan sangat menikmati saat-saat diperhatikan itu. Bila suatu saat perhatian itu hilang, ia akan merasakan kehilangan yang sangat. Perhatian itu niscaya akan menyiksa jiwanya dengan rindu saat kamu tidak berada di sisinya. Mungkin ia tidak akan mengatakannya. Tapi ia pasti merasakannya.</p>
<p>Oleh <strong><a href="http://pks-sidoarjo.org/tag/anis-matta">Anis Matta</a></strong></p>
<p>Dipublikasi ulang oleh <a href="http://www.pks-sidoarjo.org">Admin <strong>DPD PKS Sidoarjo</strong></a></p>
<p>Tulisan Anis Matta lainnya:</p>
<ul>
<li><a href="http://pks-sidoarjo.org/hikmah/semangat-pertumbuhan.htm">Semangat Pertumbuhan</a></li>
<li><a href="http://pks-sidoarjo.org/hikmah/karena-jiwa-punya-hajat.htm">Karena Jiwa Punya Hajat</a></li>
<li><a href="http://pks-sidoarjo.org/hikmah/indahnya-cinta-jiwa.htm">Indahnya Cinta Jiwa</a></li>
<li><a href="http://pks-sidoarjo.org/hikmah/kelezatan-ruhani.htm">Kelezatan Ruhani</a></li>
<li><a href="http://pks-sidoarjo.org/hikmah/pelajaran-cinta.htm">Pelajaran Cinta</a></li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pks-sidoarjo.org/hikmah/seni-memperhatikan.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kata Terurai Jadi Laku</title>
		<link>http://pks-sidoarjo.org/hikmah/kata-terurai-jadi-laku.htm</link>
		<comments>http://pks-sidoarjo.org/hikmah/kata-terurai-jadi-laku.htm#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Mar 2011 07:31:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Anis Matta]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Serial Cinta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pks-sidoarjo.org/?p=1486</guid>
		<description><![CDATA[ Kulitnya hitam. Wajahnya jelek. Usianya tua. Waktu pertama kali masuk ke rumah wanita itu, hampir saja ia percaya kalau ia berada di rumah hantu. Lelaki kaya dan tampan itu sejenak ragu kembali. Sanggupkah ia menjalani keputusannya? Tapi ia segera kembali pada tekadnya. Ia sudah memutuskan untuk menikahi dan mencintai perempuan itu. Apapun resikonya.

Suatu saat, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://pks-sidoarjo.org/wp-content/uploads/2011/01/Serial-Cinta-07.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-1488" title="Serial-Cinta-07" src="http://pks-sidoarjo.org/wp-content/uploads/2011/01/Serial-Cinta-07.jpg" alt="Serial-Cinta-07" width="200" height="125" /></a> Kulitnya hitam. Wajahnya jelek. Usianya tua. Waktu pertama kali masuk ke rumah wanita itu, hampir saja ia percaya kalau ia berada di rumah hantu. Lelaki kaya dan tampan itu sejenak ragu kembali. Sanggupkah ia menjalani keputusannya? Tapi ia segera kembali pada tekadnya. Ia sudah memutuskan untuk menikahi dan mencintai perempuan itu. Apapun resikonya.<br />
<span id="more-1486"></span><br />
<a href="http://pks-sidoarjo.org/wp-content/uploads/2009/12/anis-matta_kecil.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-654" title="anis matta_kecil" src="http://pks-sidoarjo.org/wp-content/uploads/2009/12/anis-matta_kecil.jpg" alt="anis matta_kecil" width="75" height="84" /></a>Suatu saat, perempuan itu datang padanya, &#8220;Ini emas-emasku yang sudah lama kutabung, pakailah ini untuk mencari wanita idamanmu, aku hanya membutuhkan status bahwa aku pernah menikah dan menjadi seorang istri.&#8221; Tapi lelaki tua itu malah menjawab, &#8220;Aku sudah memutuskan untuk mencintaimu. Aku takkan menikah lagi.&#8221;</p>
<p>Semua orang terheran-heran. Kelaurga itu tetap utuh sepanjang hidup mereka. Bahkan mereka kemudian dikaruniai anak-anak dengan kecantikan dan ketampanan yang luar biasa. Bertahun-tahun kemudian orang-orang ini menanyakan rahasia ini padanya. Lelaki tua itu menjawab enteng, &#8220;<em>Aku memutuskan untuk mencintainya. Aku berusaha melakukan yang terbaik. Tapi perempuan itu melakukan semua kebaikan yang bisa ia lakukan untukku. Sampai aku bahkan tidak pernah merasakan kulit hitam dan wajah jeleknya dalam kesadaranku. Yang kurasakan adalah kenyamanan jiwa yang melupakan aku pada fisik.</em>&#8221;</p>
<p>Begitulah cinta ketika ia terurai laku. Ukuran integritas cinta ia bersemi dalam hati&#8230; Terkembang dalam kata, terurai dalam laku. Kalau hanya berhenti dalam hati, itu cinta yang lemah dan tidak berdaya. Kalau hanya berhenti dalam kata, itu cinta yang disertai kepalsuan dan tidak nyata. Kalau cinta sudah terurai laku, cinta itu sempurna seperti pohon; akarnya terhujam dalam hati, batangnya tegak dalam kata, buahnya menjumbai dalam laku. Persis seperti iman, terpatri dalam hati, terucap dalam lisan, dan dibuktikan oleh amal.</p>
<p>Semakin dalam kita merenungi makna cinta, semakin kita temukan fakta besar ini: <strong>bahwa cinta hanya kuat ketika ia datang dari pribadi yang kuat; bahwa integritas cinta hanya mungkin lahir dari pribadi yang juga punya integritas</strong>. Karena cinta adalah keinginan baik kepada orang yang kita cintai yang harus menampak setiap saat sepanjang kebersamaan.</p>
<p>Rahasia sebuah hubungan yang sukses bertahan dalam waktu yang lama adalah pembuktian cinta terus-menerus. Yang dilakukan oleh pecinta sejati di sini adalah memberi tanpa henti. Hubungan bertahan lama bukan karena perasaan cinta yang bersemi dalam hati, melainkan karena kebaikan tiada henti yang dilahirkan oleh perasaan itu.</p>
<p>Seperti lelaki itu, yang terus membahagiakan istrinya, begitu ia memutuskan untuk mencintainya. Dan istrinya, yang terus menerus melahirkan kebajikan dari cinta tanpa henti. Cinta tidak terurai dalam laku adalah jawaban atas angka-angka perceraian yang semakin menganga lebar dalam masyarakat kita.</p>
<p>Tidak mudah memang menemukan cinta yang ini. Tapi, harus begitulah cinta, seperti kata Imam Syafii:</p>
<blockquote><p><em>Kalau sudah pasti ada cinta di sisimu<br />
Semua kan jadi enteng<br />
Dan semua yang ada di atas tanah<br />
Hanyalah tanah jua</em></p></blockquote>
<p>Oleh <strong><a href="http://pks-sidoarjo.org/tag/anis-matta">Anis Matta</a></strong></p>
<p>Dipublikasi ulang oleh <a href="http://www.pks-sidoarjo.org">Admin <strong>DPD PKS Sidoarjo</strong></a></p>
<p>Tulisan Anis Matta lainnya:</p>
<ul>
<li><a href="http://pks-sidoarjo.org/hikmah/semangat-pertumbuhan.htm">Semangat Pertumbuhan</a></li>
<li><a href="http://pks-sidoarjo.org/hikmah/seni-memperhatikan.htm">Seni Memperhatikan</a></li>
<li><a href="http://pks-sidoarjo.org/hikmah/karena-jiwa-punya-hajat.htm">Karena Jiwa Punya Hajat</a></li>
<li><a href="http://pks-sidoarjo.org/hikmah/indahnya-cinta-jiwa.htm">Indahnya Cinta Jiwa</a></li>
<li><a href="http://pks-sidoarjo.org/hikmah/kelezatan-ruhani.htm">Kelezatan Ruhani</a></li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pks-sidoarjo.org/hikmah/kata-terurai-jadi-laku.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Visi</title>
		<link>http://pks-sidoarjo.org/kekuatan-pribadi-dan-organisasi/visi.htm</link>
		<comments>http://pks-sidoarjo.org/kekuatan-pribadi-dan-organisasi/visi.htm#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 08 Jan 2011 07:54:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kekuatan Pribadi dan Organisasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pks-sidoarjo.org/kekuatan-pribadi-dan-organisasi/visi.htm</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Di dunia ini, apapun tidak bisa dilihat, kecuali melalui lensa tindakannya sendiri, melalui pikirannya sendiri, melalui motifnya sendiri. Visi harus diwarnai oleh medium yang memungkinkan kita melihat!&#8221; (Dr. Orison Swett Marden)

Marden juga mengatakan bahwa, &#8220;Setiap tindakan dalam hidup kita, setiap pemikiran, setiap motif, tergantung di depan mata kita dan memaksa kita untuk melihat segala sesuatu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://pks-sidoarjo.org/wp-content/uploads/2010/08/LilindanBuku.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-1366" title="LilindanBuku" src="http://pks-sidoarjo.org/wp-content/uploads/2010/08/LilindanBuku.jpg" alt="LilindanBuku" width="200" height="125" /></a><strong>&#8220;Di dunia ini, apapun tidak bisa dilihat, kecuali melalui lensa tindakannya sendiri, melalui pikirannya sendiri, melalui motifnya sendiri. Visi harus diwarnai oleh medium yang memungkinkan kita melihat!&#8221;</strong> (Dr. Orison Swett Marden)<br />
<span id="more-1495"></span><br />
Marden juga mengatakan bahwa, &#8220;Setiap tindakan dalam hidup kita, setiap pemikiran, setiap motif, tergantung di depan mata kita dan memaksa kita untuk melihat segala sesuatu melaluinya. Bila tindakan bersih, pemikiran menjadi murni dan tingkah laku menjadi benar, dan akan ada kejelasan yang sempurna, sehingga kita bisa melihat kebenaran, keindahan dan kenyataan, bukannya gambaran-gambaran yang mengalami distorsi, jelek, jahat, suram. Kita harus melepaskan selaput yang menutupi mata kita supaya kita bisa mendapalkan visi yang sempurna.&#8221;</p>
<p>Keinsanan berjuang untuk membebaskan diri dari kesuraman dan-mendapatkan cahaya, keluardari kedinginan dan memasuki kchangatan, keluar dari kelindapan dan mrnikmati sinar matahari, terlepas dari segala perselisihan dan mendapatkan harmoni. Jika seni untuk menjadi optimis diajarkan di sekolah-sekolah, dimengerti dan dipraktikkan oleh siswa, hal ini akan menciptakan revolusi peradaban dan mengubah wajah dunia. Salah satu pelajaran pertama tentang kehidupan seyogianya adalah menggali sisi terang dari kodrat kita.</p>
<p>Dunia bisnis, profesi, jalanan dan tempat tinggal dipenuhi dengan orang-orang yang di mana-mana hanya melihat kegelapan, keputusasaan, kerusakan, dan kemerosotan. Mereka melihat dunia bergerak mundur. Mereka dipenuhi dengan ketakutan, kekhawatiran, frustrasi dan kecemasan. Setiap gerakan yang mereka lakukan merefleksikan kctidak-harmonisan. Mereka tak pemah menyunggingsenyum bagi dunia yang mereka tinggali.</p>
<p>Dunia yang kita ciptakan bisa dikatakan seperti galeri besar yang berisik, yakni seperti dinding pemantul gema yang memantulkan scmua suara kita sendiri, pemikiran kita sendiri. Inilah &#8216;cermin yang merefleksikan wajah kita yang menghadapnya.&#8217;</p>
<p>Putuskan untuk membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik untuk ditinggali.</p>
<p>Sumber: Sidney Newton Bremer, Ph.D, &#8220;366 Esai untuk Memotivasi Diri,&#8221;  PT. Pustaka Binaman Pressindo, Jakarta, 1993.</p>
<p>Dipublikasi ulang oleh <a href="http://www.pks-sidoarjo.org">Admin <strong>DPD PKS Sidoarjo</strong></a></p>
<p>Konten lainnya:</p>
<ul>
<li><a href="http://pks-sidoarjo.org/kekuatan-pribadi-dan-organisasi/metode.htm">Metode</a></li>
<li><a href="http://pks-sidoarjo.org/kekuatan-pribadi-dan-organisasi/istirahat.htm">Istirahat</a></li>
<li><a href="http://pks-sidoarjo.org/kekuatan-pribadi-dan-organisasi/kegigihan.htm">Kegigihan</a></li>
<li><a href="http://pks-sidoarjo.org/kekuatan-pribadi-dan-organisasi/ketidakbahagiaan.htm">Ketidakbahagiaan</a></li>
<li><a href="http://pks-sidoarjo.org/kekuatan-pribadi-dan-organisasi/optimisme.htm">Optimisme</a></li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pks-sidoarjo.org/kekuatan-pribadi-dan-organisasi/visi.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mencintai Itu Keputusan</title>
		<link>http://pks-sidoarjo.org/hikmah/mencintai-itu-keputusan.htm</link>
		<comments>http://pks-sidoarjo.org/hikmah/mencintai-itu-keputusan.htm#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 04 Jan 2011 07:26:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Anis Matta]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Serial Cinta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pks-sidoarjo.org/?p=1482</guid>
		<description><![CDATA[Lelaki tua menjelang 80-an itu menatap istrinya. Lekat-lekat. Nanar. Gadis itu masih terlalu belia. Baru saja mekar.

Ini bukan persekutuan yang mudah. Tapi ia sudah memutuskan untuk mencintainya. Sebentar. kemudian ia pun berkata, &#8220;Kamu kaget melihat semua ubanku? Percayalah! Hanya kebaikan yang kamu temui di sini&#8221;. 
Itulah kalimat pertama Utsman bin Affan ketika menyambut istri terakhirnya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://pks-sidoarjo.org/wp-content/uploads/2011/01/Serial-Cinta-06.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-1484" title="Serial-Cinta-06" src="http://pks-sidoarjo.org/wp-content/uploads/2011/01/Serial-Cinta-06.jpg" alt="Serial-Cinta-06" width="200" height="125" /></a>Lelaki tua menjelang 80-an itu menatap istrinya. Lekat-lekat. Nanar. Gadis itu masih terlalu belia. Baru saja mekar.<br />
<span id="more-1482"></span><br />
<a href="http://pks-sidoarjo.org/wp-content/uploads/2009/12/anis-matta_kecil.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-654" title="anis matta_kecil" src="http://pks-sidoarjo.org/wp-content/uploads/2009/12/anis-matta_kecil.jpg" alt="anis matta_kecil" width="75" height="84" /></a>Ini bukan persekutuan yang mudah. Tapi ia sudah memutuskan untuk mencintainya. Sebentar. kemudian ia pun berkata, &#8220;Kamu kaget melihat semua ubanku? Percayalah! Hanya kebaikan yang kamu temui di sini&#8221;. </p>
<p>Itulah kalimat pertama Utsman bin Affan ketika menyambut istri terakhirnya dari Syam, Naila. Selanjutnya adalah bukti. Sebab cinta adalah kata lain dari memberi. Sebab memberi adalah pekerjaan. Sebab pekerjaan cinta dalam siklus memperhatikan, menumbuhkan, merawat dan melindungi itu berat. Sebab pekerjaan berat itu harus ditunaikan dalam waktu lama. Sebab pekerjaan berat dalam waktu lama begitu hanya mungkin dilakukan oleh mereka yang memiliki kepribadian kuat dan tangguh. </p>
<p>Maka setiap orang hendaklah berhati-hati saat ia mengatakan, &#8220;<em>Aku mencintaimu</em>&#8220;. Kepada siapapun! Sebab itu adalah keputusan besar. Ada taruhan kepribadian di situ.</p>
<p>Aku mencintaimu, adalah ungkapan lain dari aku ingin memberimu sesuatu. Yang terakhir ini juga adalah ungkapan lain dari, &#8220;Aku akan memperhatikan dirimu dan semua situasimu untuk mengetahui apa yang kamu butuhkan untuk tumbuh menjadi lebih baik dan bahagia&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku akan bekerja keras untuk memfasilitasi dirimu agar bisa tumbuh semaksimal mungkin&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku akan merawat dengan segenap kasih sayangku proses pertumbuhan dirimu melalui kebajikan harian yang akan kulakukan padamu&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku juga akan melindungi dirimu dari segala sesuatu yang dapat merusak dirimu&#8230;&#8221;</p>
<p>Dan proses pertumbuhan itu taruhannya adalah kepercayaan orang yang kita cintai terhadap integritas kepribadian kita. </p>
<p>Sekali kamu mengatakan kepada seseorang, &#8220;<em>Aku mencintaimu</em>&#8220;, kamu harus membuktikan ucapan itu. Itu deklarasi jiwa bukan saja tentang rasa suka dan ketertarikan, tapi terutama tentang kesiapan dan kemampuan memberi, kesiapan dan kemampuan berkorban, kesiapan dan kemampuan pekerjaan-pekerjaan cinta: memperhatikan, menumbuhkan, merawat dan melindungi. Sekali deklarasi cinta tidak terbukti, kepercayaan hilang lenyap.</p>
<p>Tidak ada cinta tanpa kepercayaan. Begitulah bersama waktu, suami atau istri kehilangan kepercayaan kepada pasangannya. Atau anak kehilangan kepercayaan kepada orang tuanya. Atau sahabat kehilangan kepercayaan kepada kawannya. Atau rakyat kehilangan kepercayaan kepada pemimpinnya. Semua dalam satu situasi: cinta yang tidak terbukti. </p>
<p>Ini yang menjelaskan mengapa cinta yang terasa begitu panas membara di awal hubungan lantas jadi redup dan padam pada tahun kedua, ketiga, keempat dan seterusnya. Dan tiba-tiba saja perkawinan bubar, persahabatan berakhir, keluarga berantakan, atau pemimpin jatuh karena tidak dipercaya rakyatnya. </p>
<p>Jalan hidup kita biasanya tidak linear. Tidak juga seterusnya pendakian atau penurunan. Karena itu, konteks di mana pekerjaan-pekerjaan cinta dilakukan tidak selalu kondusif secara emosional. <strong>Tapi disitulah tantangannya: membuktikan ketulusan di tengah situasi-situasi yang sulit. Di situ konsistensi teruji. Di situ juga integritas terbukti. Sebab mereka yang bisa mengejawantahkan cinta di tengah situasi yang sulit, jauh lebih bisa membuktikannya dalam waktu yang longgar.</strong></p>
<p>Mereka yang dicintai dengan cara begitu, biasanya mengatakan bahwa hati dan jiwanya penuh seluruh. Bahagia sebahagia-bahagianya. Puas sepuas-puasnya. Sampai tak ada tempat bagi yang lain. Bahkan setelah sang pencinta mati.</p>
<p>Begitulah Naila. Utsman telah memenuhi seluruh jiwanya dengan cinta. Maka ia memutuskan untuk tidak menikah lagi setelah suaminya terbunuh. Ia bahkan merusak wajahnya untuk menolak semua pelamarnya. Tak ada yang dapat mencintai sehebat lelaki tua itu.</p>
<p>Oleh <strong><a href="http://pks-sidoarjo.org/tag/anis-matta">Anis Matta</a></strong></p>
<p>Dipublikasi ulang oleh <a href="http://www.pks-sidoarjo.org">Admin <strong>DPD PKS Sidoarjo</strong></a></p>
<p>Tulisan Anis Matta lainnya:</p>
<ul>
<li><a href="http://pks-sidoarjo.org/hikmah/semangat-pertumbuhan.htm">Semangat Pertumbuhan</a></li>
<li><a href="http://pks-sidoarjo.org/hikmah/seni-memperhatikan.htm">Seni Memperhatikan</a></li>
<li><a href="http://pks-sidoarjo.org/hikmah/karena-jiwa-punya-hajat.htm">Karena Jiwa Punya Hajat</a></li>
<li><a href="http://pks-sidoarjo.org/hikmah/indahnya-cinta-jiwa.htm">Indahnya Cinta Jiwa</a></li>
<li><a href="http://pks-sidoarjo.org/hikmah/kelezatan-ruhani.htm">Kelezatan Ruhani</a></li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pks-sidoarjo.org/hikmah/mencintai-itu-keputusan.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kekuatan Perubahan</title>
		<link>http://pks-sidoarjo.org/hikmah/kekuatan-perubahan.htm</link>
		<comments>http://pks-sidoarjo.org/hikmah/kekuatan-perubahan.htm#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 13 Dec 2010 12:44:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Anis Matta]]></category>
		<category><![CDATA[Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Serial Cinta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pks-sidoarjo.org/?p=1449</guid>
		<description><![CDATA[Kakinya berdarah-darah. Orang-orang Thoif bukan saja menolak dakwahnya. Tapi juga menggunakan kekerasan untuk menolak dakwahnya. Setelah Quraisy menolak habis dakwahnya, dan orang-orang mulia seperti Khadijah yang menjadi tulang punggungnya wafat, kini anak-anak Thoif melemparinya batu. Sampai ia berlumuran darah.

Di saat seperti itulah jibril datang menawarkan bantuan: biar kuhancurkan mereka semua!
Menggoda betul tawaran jibril itu. Tapi, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://pks-sidoarjo.org/wp-content/uploads/2010/12/Serial-Cinta-02.jpg"><img class="size-full wp-image-1451 alignleft" title="Serial-Cinta-02" src="http://pks-sidoarjo.org/wp-content/uploads/2010/12/Serial-Cinta-02.jpg" alt="Serial Cinta" width="200" height="125" /></a>Kakinya berdarah-darah. Orang-orang Thoif bukan saja menolak dakwahnya. Tapi juga menggunakan kekerasan untuk menolak dakwahnya. Setelah Quraisy menolak habis dakwahnya, dan orang-orang mulia seperti Khadijah yang menjadi tulang punggungnya wafat, kini anak-anak Thoif melemparinya batu. Sampai ia berlumuran darah.<br />
<span id="more-1449"></span><br />
Di saat seperti itulah jibril datang menawarkan bantuan: biar kuhancurkan mereka semua!</p>
<p><a href="http://pks-sidoarjo.org/wp-content/uploads/2009/12/anis-matta_kecil.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-654" title="anis matta_kecil" src="http://pks-sidoarjo.org/wp-content/uploads/2009/12/anis-matta_kecil.jpg" alt="anis matta_kecil" width="75" height="84" /></a>Menggoda betul tawaran jibril itu. Tapi, &#8220;Tidak!&#8221; jawab Rasulullah saw kepada Jibril. &#8220;<em>Aku bahkan memohon penangguhan untuk mereka. Sungguh aku berharap bahwa Allah akan mengeluarkan tulang sulbi mereka anak-anak yang akan menyembah Allah dan tidak mempersekutukan-Nya.</em>&#8221; (Bukhari dan Muslim).</p>
<p>Seandainya ia seorang pendendam, ia pasti menerima tawaran jibrll itu. Tapi tidak! Ia seorang pencinta. Dan ia sadar bahwa ia bisa mengubah komunitas penggembala kambing yang angkuh di jazirah Arab menjadi pemimpin-pemimpin peradaban dunia yang rendah hati. Hanya dengan kekuatan cinta.</p>
<p>Dan itulah yang kemudian terjadi: hanya dalam waktu 22 tahun 2 bulan dan 22 hari, beliau merampungkan tugas kenabiannya dengan membawa seluruh jazirah kedalam cahaya Islam.</p>
<p>Cinta adalah kekuatan perubahan yang dahsyat. Lima belas abad kemudian, Erich fromm menjelaskan kekuatan cinta dalam proses perubahan:</p>
<p>&#8220;<em>Pendekatan cinta adalah kebalikan dari pendekatan dengan kekerasan. Cinta berusaha memahami, menguatkan dan menghidupkan. Dengan cinta, seorang individu akan selalu mentransformasikan dirinya. Dia menjadi lebih peka, lebih menghargai, lebih produktif, lebih menjadi dirinya sendiri. Cinta tidak sentimental dan tidak melemahkan. Cinta adalah cara untuk mempengaruhi dan merubah sesuatu tanpa menimbulkan &#8216;efek samping&#8217; sebagaimana kekerasan. Tidak seperti kekerasan, cinta membutuhkan kesabaran, usaha dari dalam. Lebih dari semua itu, cinta membutuhkan keteguhan hati. Menyelesaikan masalah dengan membutuhkan keteguhan hati untuk terhindar dari frustasi, untuk tetap sabar meskipun menemui banyak hambatan. Cinta lebih membutuhkan kekuatan dari dalam, kepercayaan daripada sekedar kekuatan fisik.</em>&#8221; (Cinta, Seksualitas, Matriarki, Gender; 291; 2002).</p>
<p>Kalau Erich Fromm menjelaskan kekuatan cinta dalam merubah individu dan masyarakat dengan bahasa psikososial, maka Iqbal menjelaskannya dalam bait-bait puisinya:</p>
<p><em>Kekuatan cinta bukan dari tanah, air dan udara,<br />
kekuatannya bukan keliatan urat asalnya;<br />
cinta menundukkan Khaibar tanpa kesulitan,<br />
cinta membelah badan bulan,<br />
cinta memecahkan tengkorak Nimrod tanpa pukulan,<br />
menghancurkan tentara Fira&#8217;un tanpa pertempuran.</em><br />
(Javid Namah; 29; 2003).</p>
<p>Oleh <strong><a href="http://pks-sidoarjo.org/tag/anis-matta">Anis Matta</a></strong></p>
<p>Sumber: Majalah Tarbawi edisi 83 Th. 5/Robiul Awwal 1425 H/29 April 2004 M</p>
<p>Dipublikasi ulang oleh <a href="http://www.pks-sidoarjo.org">Admin <strong>DPD PKS Sidoarjo</strong></a></p>
<p>Tulisan Anis Matta lainnya:</p>
<ul>
<li><a href="http://pks-sidoarjo.org/hikmah/semangat-pertumbuhan.htm">Semangat Pertumbuhan</a></li>
<li><a href="http://pks-sidoarjo.org/hikmah/seni-memperhatikan.htm">Seni Memperhatikan</a></li>
<li><a href="http://pks-sidoarjo.org/hikmah/karena-jiwa-punya-hajat.htm">Karena Jiwa Punya Hajat</a></li>
<li><a href="http://pks-sidoarjo.org/hikmah/indahnya-cinta-jiwa.htm">Indahnya Cinta Jiwa</a></li>
<li><a href="http://pks-sidoarjo.org/hikmah/kelezatan-ruhani.htm">Kelezatan Ruhani</a></li>
</ul>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pks-sidoarjo.org/hikmah/kekuatan-perubahan.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Temu PKS-SUCI</title>
		<link>http://pks-sidoarjo.org/rangkaian-pemenangan-pks-suci/temu-pks-suci.htm</link>
		<comments>http://pks-sidoarjo.org/rangkaian-pemenangan-pks-suci/temu-pks-suci.htm#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Jun 2010 01:25:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Rangkaian Pemenangan PKS-SUCI]]></category>
		<category><![CDATA[Sidoarjo]]></category>
		<category><![CDATA[Syaiful Ilah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pks-sidoarjo.org/agenda-kota/temu-pks-suci.htm</guid>
		<description><![CDATA[Wilda 4 (Gabungan 4 DPC: Balongbendo, Krian, Prambon dan Tarik) mengawali kegiatan deklarasi masif PKS-SUCI.

Beruntung, acara yang digelar pada Rabu (9/6) malam di belahan Sidoarjo paling barat ini, dihadiri langsung oleh Cabup Sidoarjo 2010-2015 Syaiful Ilah.
Sekitar 400-an massa PKS yang terdiri dari pengurus, kader, simpatisan, dan masyarakat sekitar memenuhi acara deklarasi di Gedung Serba Guna [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Wilda 4 (Gabungan 4 DPC: Balongbendo, Krian, Prambon dan Tarik) mengawali kegiatan deklarasi masif PKS-SUCI.<br />
<span id="more-1020"></span><br />
Beruntung, acara yang digelar pada Rabu (9/6) malam di belahan Sidoarjo paling barat ini, dihadiri langsung oleh Cabup Sidoarjo 2010-2015 Syaiful Ilah.</p>
<p>Sekitar 400-an massa PKS yang terdiri dari pengurus, kader, simpatisan, dan masyarakat sekitar memenuhi acara deklarasi di Gedung Serba Guna &#8220;Gotong Royong&#8221; Desa Temu Prambon ini. Nampak, kendaraan roda dua dan empat memenuhi halaman gedung yang difungsikan sebagai tempat parkir.</p>
<p>Sekum DPD PKS Sidoarjo Agus Supri memberi sambutan dengan alasan-alasan PKS memilih mendukung SUCI. Selain itu, Agus Supri menyatakan bahwa PKS mendukung SUCI sepenuhnya. Mesin-mesin partai siap bergerak memenangkan suci.</p>
<p>&#8220;PKS solid mendukung pasangan nomor 4 SUCI,&#8221; tegas Agus Supri.</p>
<p>Acara deklarasi dihadiri juga oleh Aleg PKS Sidoarjo dari Wilda 4 Kasman dan aleg PKB.</p>
<p>Dalam sambutannya, Syaiful menyatakan kegembiraannya bisa didukung oleh PKS. Syaiful juga sangat senang melihat besarnya jumlah dan antusias anggota PKS dan masyarakat yang hadir.</p>
<p>&#8220;Karena saya mendapat nomor urut 4, saya berusaha mendatangi acara deklarasi oleh sahabat PKS ini. Nomor urut 4, Dapil 4, dan dukungan empat kecamatan sekaligus. Pas sudah,&#8221; papar Syaiful Ilah.</p>
<p>Dipublikasi oleh<a href="http://www.pks-sidoarjo.org">Admin DPD PKS Sidoarjo</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pks-sidoarjo.org/rangkaian-pemenangan-pks-suci/temu-pks-suci.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menghindari &#8216;Ashobiyah</title>
		<link>http://pks-sidoarjo.org/konsultasi-dakwah/menghindari-ashobiyah.htm</link>
		<comments>http://pks-sidoarjo.org/konsultasi-dakwah/menghindari-ashobiyah.htm#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 29 Jan 2010 01:04:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Konsultasi Dakwah]]></category>
		<category><![CDATA['Ashobiyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pks-sidoarjo.org/?p=870</guid>
		<description><![CDATA[<em>Al-Wala'</em> dan <em>Al-Bara'</em> yang terbangun atas dasar <em>intima'</em>dan <em>intisab</em> tersebut tidak boleh lebih tinggi (apalagi) mengalahkan <em>al-wala'</em> dan <em>al-bara'</em> yang terbangun atas dasar Iman dan Islam. ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;">Diasuh oleh Ustadz Musyaffa A. Rahim, Lc.</p>
<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Assalamu&#8217;alaikum Wr. Wb.</p>
<p>Ustadz Musyaffa yang saya hormati. Alhamdulillah, saya masih aktif dalam kegiatan dakwah. Di antaranya keaktifan saya dalam sebuah partai dakwah yang sangat saya cintai ini. Namun, belakangan ini saya menghadapi sedikit masalah. Salah seorang tetangga saya menyayangkan saya berjuang untuk satu kelompok dan sekian banyak kelompok Islam. Bukankah itu akan menjurus pada fanatisme golongan. Dan fanatisme akan menggiring aktivisnya menjadi &#8216;ashobiyah.</p>
<p>Menurut Ustadz, bagaimana saya mesti bersikap. Terus terang, saya agak bingung menjawab ini. Atas bantuan Ustadz, saya ucapkan jazakumullah khairan.</p>
<p>Khalrun Nisa, Jakarta.<br />
<span id="more-870"></span></p>
<p><strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Ukhti Khairun Nisa&#8217; di Jakarta dan juga pembaca majalah SAKSI lainnya di manapun berada, Assalamu&#8217;alaikum Warahmatullah Wabarakatuh.</p>
<p>Masalah yang ukhti kemukakan, akan kita bahas dalam dua bagian:</p>
<ol>
<li>Bagian pertama membahas tentang <em>intima&#8217;</em> atau <em>intisab</em> (menisbatkan diri atau menjadi anggota) dari sebuah organisasi, atau perkumpulan, mazhab, partai, golongan dan semacamnya.</li>
<li>Bagian kedua membahas tentang bagaimana seseorang yang mempunyai sebuah <em>intima&#8217;</em>atau <em>intisab</em> (keanggotaan) pada organisasi tertentu bergaul dan berinteraksi dengan golongan atau anggota golongan lainnya.</li>
</ol>
<p>Ber-<em>intima&#8217;</em> atau ber-<em>intisab</em> merupakan ekspresi dan aktualisasi dari berbagai hal:</p>
<ol>
<li>Ekspresi dan aktualisasi dari sunnatullah terhadap manusia. Sebab, tidak ada manusia (selain Adam as dan Hawa) kecuali ia mempunyai nasab. Dalam arti lain, ia pasti ber-<em>intima&#8217;</em>dan ber-<em>intisab</em>. Minimal ia akan dipanggil dengan sebutan: ya bani Adam (wahai anak keturunan Adam as).</li>
<li>Sebagai cara untuk memperkenalkan diri (<em>ta&#8217;aruf</em>). Misalnya saat seseorang disebut Abdullah bin &#8216;Amir Al-Indonesi. Maksudnya, ada seseorang yang bernama Abdullah, ia adalah anak laki-laki dari &#8216;Amir, dan ia berkebangsaan Indonesia. <em>intima&#8217;</em> dengan maksud <em>ta&#8217;aruf</em> ini diperbolehkan dan dibenarkan oleh Al-Qur&#8217;an Al-Karim (lihat Q.S. Al-Hujurat: 13). Dalam ayat ini, Allah SWT menjelaskan bahwa fakta adanya suku-suku (nasionalisme) dan bangsa-bangsa (<em>wathaniyah</em>) adalah agar kita sebagai manusia saling <em>ta&#8217;aruf</em> (berkenalan).</li>
<li>Ekspresi dan aktualisasi dari adanya pengakuan terhadap jasa dan peran orang lain terhadap dirinya. Misalnya dikatakan Imam Nawawi Asy-Syafi&#8217;i (631-676 H). Maksudnya adalah ada seseorang yang terkenal dengan sebutan An-Nawawiyang nama aslinya adalah Abu Zakaria Yahya bin Syarof. Karena ia berasal dari desa (daerah) yang bernama Nawa, maka ia dipanggil An-Nawawi. Karena ia menguasai berbagai macam ilmu dan sekaligus menjadi teladan bagi masyarakatnya, maka ia dipanggil Imam. Walaupun ia seorang Imam, namun, karena ia mengakui jasa Imam Syafi&#8217;i (Muhammad bin Idris [150-204 H]) terhadap dirinya dalam hal metodologi dan lain sebagainya, maka, sebagai pengakuan atas jasa ini, ia menisbatkan (ber-<em>intisab</em>) dirinya kepada sang Imam pembangun mazhab ini dengan menyebut dirinya sebagai Abu Zakariya Yahya bin Syarof An-Nawawi Asy-Syafi&#8217;i.</li>
<li>Ber-<em>intisab</em> atau ber-<em>intima&#8217;</em> adalah bentuk ekspresi dan aktualisasi dari sebuah wadah untuk melakukan <em>a&#8217;awun &#8216;alal birri wa at-taqwa</em>, agar daya dan kekuatan <em>ta&#8217;awun &#8216;alal birri wa at-taqwa</em> ini semakin bertambah, meningkat dan beban yang dipikul semakin ringan. Dan juga agar tujuan-tujuan besar yang tidak bisa dicapai dengan pendekatan perseorangan atau kelompok kecil, bisa dicapai saat ada <em>ta&#8217;awun</em> dalam skala besar.</li>
</ol>
<p>Beberapa hal yang perlu diperhatikan:</p>
<ul>
<li><em>intima&#8217;</em> atau <em>intisab</em> menuntut adanya <em>al-wala&#8217;</em> (kesetiaan) dan <em>al-bara&#8217;</em> (kontra kesetiaan).</li>
<li><em>Al-Wala&#8217;</em> dan <em>Al-Bara&#8217;</em> yang terbangun atas dasar <em>intima&#8217;</em>dan <em>intisab</em> tersebut tidak boleh lebih tinggi (apalagi) mengalahkan <em>al-wala&#8217;</em> dan <em>al-bara&#8217;</em> yang terbangun atas dasar Iman dan Islam. Maksudnya, kesetiaan kita kepada suatu <em>nasab</em> (hubungan darah), atau suku (nasionalisme), atau kebangsaan, atau organisasi, atau mazhab, atau partai dan semacamnya, tidak boleh lebih tinggi (apalagi mengalahkan dan meninggalkan) <em>intisab</em> atau <em>intima&#8217;</em>a kepada Iman dan Islam.</li>
<li>Kita harus tetap membatasi <em>intima&#8217;</em> dan <em>intisab</em> tadi dalam batas-batas yang dibenarkan Islam, yaitu sebagai <em>ta&#8217;aruf</em>, pengakuan jasa, dan dalam rangka bekerja sama dalam segala kebaikan dan ketakwaan dan tidak boleh sama sekali untuk bekerja sama untuk berbuat dosa dan melanggar atau merampas hak.</li>
</ul>
<p><em>intima&#8217;</em> dan <em>intisab</em> yang kita miliki tidak boleh dijadikan sebagai dasar <em>&#8216;ashabiyah</em> (fanatisme) atau <em>tafriqah</em> (pemecah belahan) komponen umat atau <em>fakhr</em> (kebanggaan) yang melampaui batas.</p>
<p>Mungkin masih ada satu pertanyaan: kenapa kita sebagai anggota kelompok atau partai tertentu mesti merekrut dan menambah keanggotaan untuk kelompok atau partai kita?</p>
<p>Ada tujuan-tujuan tertentu yang tidak bisa dicapai atau direalisasikan kecuali bila ada perkumpulan atau organisasi besar.</p>
<p>Dalam rangka membesarkan organisasi atau perkumpulan atau partai inilah diperlukan adanya rekruitmen keanggotaan, agar organisasi atau perkumpulan atau partai itu semakin meningkat atau bertambah kemampuannya dalam mencapai hajat dan tujuan-tujuan yang dica-nangkannya.</p>
<p>Terkadang, dalam usaha recruiting ini terjadi saling rebutan antara satu organisasi dengan organisasi lainnya. Hal ini adalah wajar selama masih dalam batas <em>tanafus</em> (kompetisi sehat) atau <em>tasabuq</em> (perlombaan). Tidak boleh sampai ke tingkat <em>tanazu&#8217;</em> (gontok-gontokan), <em>tadharub</em> (saling pukul/saling gempur) dan apa lagi <em>tanahur</em> (saling bunuh). <em>Na&#8217;udzubillah min dzalik.</em></p>
<p>Untuk itulah, diperlukan adanya upaya saling berwasiat dengan kebenaran, saling berwasiat dengan kesabaran serta saling berwasiat dengan kasih sayang.</p>
<p>Menjadi kehormatan dan sekaligus beban saat kita ber-<em>intima&#8217;</em> dan ber-<em>intisab</em> kepada sebuah organisasi atau partai yang memang benar-benar memperjuangkan nilai-nilai kebenaran. </p>
<p>Semoga ana dan ukhti serta pembaca majalah SAKSI semuanya termasuk ke dalam bagian orang-orang ini. Amin.</p>
<p>Sumber: SAKSI No. 14 Tahun VI 12 Mei 2004 hal 86-87</p>
<p>Dipublikasi ulang <a href="http://www.pks-sidoarjo.org">Admin DPD PKS Sidoarjo</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pks-sidoarjo.org/konsultasi-dakwah/menghindari-ashobiyah.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kesempatan Bersejarah di Tengah Krisis</title>
		<link>http://pks-sidoarjo.org/taujih-umum/kesempatan-bersejarah-di-tengah-krisis-2.htm</link>
		<comments>http://pks-sidoarjo.org/taujih-umum/kesempatan-bersejarah-di-tengah-krisis-2.htm#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 21 Jan 2010 00:42:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Taujih Umum]]></category>
		<category><![CDATA[Krisis]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pks-sidoarjo.org/?p=803</guid>
		<description><![CDATA[Oleh M Anis Matta
Enam tahun sudah krisis multidimensi melilit bangsa kita. Secara perlahan-lahan, rasa percaya diri kita sebagai bangsa mulai lumpuh. Kita mulai belajar untuk percaya bahwa krisis ini tampak seperti jalan panjang yang tak berujung; kita mungkin akan terns melangkah gontai di atas jalan ini, tapi kita tidak pernah benar-benar yakin kemana sebenamya kita [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center">Oleh M Anis Matta</p>
<p>Enam tahun sudah krisis multidimensi melilit bangsa kita. Secara perlahan-lahan, rasa percaya diri kita sebagai bangsa mulai lumpuh. Kita mulai belajar untuk percaya bahwa krisis ini tampak seperti jalan panjang yang tak berujung; kita mungkin akan terns melangkah gontai di atas jalan ini, tapi kita tidak pernah benar-benar yakin kemana sebenamya kita melangkah.<br />
<span id="more-803"></span><br />
Tidak adakah ekonom yang brilian-di negeri ini-yang dapat memahami, mencerna dan menemukan jalan keluar bagi krisis ekonomi kita? Tidak adakah pemikir atau budayawan atau agamawan yang jenius-di negeri ini-yang dapat memahami, mencermati, dan menemukan jalan keluar bagi persoalan-persoalan kebangsaan kita?</p>
<p>Seperti gambaran Multatuli tentang gugusan pulau-pulau Nusantara sebagai zamrud khatulistiwa, begitu juga banyak ekonom yang brilian atau pemikir yang jenius yang di bertebaran di seantero negeri ini. Tapi faktanya adalah; kita belum juga keluar dari krisis multidimensi ini.</p>
<p>Yang kita saksikan sesungguhnya adalah sebuah fakta sederhana; <em>bahwa manusia-manusia brilian dan jenius itu adalah lidi-lidi yang berserakan, yang tidak dikumpulkan menjadi sapu, manusia-manusia brilian dan jenius tidak diorganisasi menjadi kekuatan bangsa di bawah sebuah kepemimpinan yang kuat dan solid.</em></p>
<p>Kepemimpinan-sebagaimana selalu terbukti berulang-ulang dalam sejarah-memberikan porsi terbesar bagi semua masalah yang dihadapi setiap bangsa. Atau sebaliknya, semua kemajuan yang mereka ciptakan, dalam seluruh potongan sejarah mereka.</p>
<p>Ideologi, agama, nilai-nilai, pengetahuan, dan sistem, hanyalah kumpulan benda mati sampai ia mendapatkan tiupan ruh kehidupan dari para pemimpin. Kita dapat merumuskan ratusan solusi teknis untuk krisis ekonomi kita. Tapi tidak satu pun dari solusi teknis yang akan mengubah keadaan ekonomi kita secara efektif kecuali jika dijalankan oleh pemimpin yang handal.</p>
<p>Kepemimpinan yang kuat dan baik tidaklah menjamin semua krisis kita selesai. Tapi kepemimpinan yang kuat dan baik memastikan, bahwa semua solusi strategis dan teknis yang kita rumuskan, dapat bekerja secara benar dan efektif. Itulah kunci penyelesaian masalahnya. Tapi itu pulalah kunci masalah kita. Itulah krisis di balik semua krisis yang kita alami; krisis kepemimpinan.</p>
<p><strong>Pemimpin Transisi</strong></p>
<p>Ledakan partisipasi politik baik dari segi sistem maupun semangat oposisi di kalangan rakyat, secara substansial melahirkan masalah baru bagi kepemimpinan nasional. Yaitu meningkatnya standar harapan masyarakat terhadap para pemimpin nasional.</p>
<p>Krisis kepemimpinan di negeri kita, yang selalu berujung dengan pergantian pemimpin nasional di luar jadwal konstitusi, terjadi karena para pemimpin nasional tidak memenuhi harapan masyarakat. Itu bukan karena mereka tidak menepati janji-janji mereka. Itu terjadi karena kapasitas kepemimpinan, yang diperlukan untuk menyelesaikan persoalan-persoalan bangsa yang sedang dililit krisis, tidak tersedia pada mereka. Dengan kata lain, mereka bukan orang yang diperlukan di zaman ini.</p>
<p>Dalam masa transisi seperti ini, masyarakat membutuhkan sense of direction (perasaan terarah), self confident (rasa percaya diri) dan pride (kebanggaan). Untuk memenuhi kebutuhan psiko-politik masa transisi itu, maka fungsi-fungsi kepemimpinan yang harus ada pada para pemimpin nasional adalah;</p>
<p><strong>Pertama, fungsi direksi dan inspirasi.</strong> Para pemimpin transisi harus mampu merumuskan arah bangsa secara jelas, sederhana, dan benar. Pada waktu yang sama, mereka juga harus mampu menginspirasi bangsa mereka yang sedang bingung dan gamang. <em>Arah memberikan kepastian kepada bangsa, tapi inspirasi membuat bangsa lebih terlibat dengan arah tersebut.</em></p>
<p><strong>Kedua, fungsi pembangkit kekompakan (<em>solidarity maker</em>).</strong> Bangsa yang sedang mengalami krisis mudah mengalami perpecahan, karena hilangnya rasa saling percaya di antara mereka. Seringkali potensi bangsa itu bahkan sangat besar, tapi mereka semua hanyalah lidi yang dapat berfungsi sebagai sapu jika mereka diikat dan disatukan oleh sang pemimpin.</p>
<p><strong>Ketiga, kemampuan teknis.</strong> Persoalan-persoalan yang kita hadapi dalam masa transisi, terlalu rumit untuk diselesaikan melalui retorika semata. Harus ada kompetensi teknis, dalam bentuk ilmu pengetahuan dan keterampilan kepemimpinan, yang memadai untuk dapat menjalankan roda pemerintahan secara efektif.</p>
<p><strong>Keempat, integritas akhlak dan kepribadian.</strong> Tiga fungsi di atas hanya akan menjadi efektif jika seorang pemimpin transisi memiliki integritas keperibadian. Sebab, dari sinilah datangnya kepercayaan publik terhadap pemimpin. Dalam masa transisi, tidak ada sesuatu yang lebih mahal yang dipertaruhkan seorang pemimpin selain dari kredibilitas dirinya di mata publik.</p>
<p>Keempat fungsi itulah yang sesungguhnya hilang dari pemimpin nasional saat ini. Bangsa kita melewati krisis berkepanjangan ini tanpa arah yang jelas karena pemimpin nasional memang tidak menetapkan arah perjalanan bangsa. Kehidupan nasional bangsa kita juga retak dan terancam pecah karena tidak ada pemimpin yang merekatkan mereka. Masalah-masalah ekonomi dan sosial kita tidak terselesaikan karena dikelola oleh pemimpin yang tidak berpengetahuan dan tidak rnemiliki kecakapan kepemimpinan. Tapi yang lebih parah dari itu semua, bahwa bangsa kita melewati masa krisis ini tanpa kepercayaan terhadap akhlak pemimpin nasional.</p>
<p>Sumber: Suara Hidayatullah no. 01/XVI/Rabiul Awal 1424 H</p>
<p>Dipublikasi ulang <a href="http://www.pks-sidoarjo.org">Admin DPD PKS Sidoarjo</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pks-sidoarjo.org/taujih-umum/kesempatan-bersejarah-di-tengah-krisis-2.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Fogging Sarirogo</title>
		<link>http://pks-sidoarjo.org/agenda-kegiatan/fogging-sarirogo.htm</link>
		<comments>http://pks-sidoarjo.org/agenda-kegiatan/fogging-sarirogo.htm#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Dec 2009 14:27:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Agenda Kegiatan]]></category>
		<category><![CDATA[Fogging]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pks-sidoarjo.org/?p=669</guid>
		<description><![CDATA[Fogging ini pada Minggu (13/12) kemarin merupakan bukti komitmen PKS melayani masyarakat. Ada pemilu atau tidak, aksi-aksi PKS untuk rakyat tetap berlangsung.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>DPD PKS Sidoarjo menggelar acara &#8220;semprotan massal&#8221; alias fogging. Kegiatan yang cukup penting di masa penghujan ini diadakan di Desa Sarirogo Kecamatan Sidoarjo.<span id="more-669"></span></p>
<p>Fogging ini pada Minggu (13/12) kemarin merupakan bukti komitmen PKS melayani masyarakat.  Ada pemilu atau tidak, aksi-aksi PKS untuk rakyat tetap berlangsung.</p>
<p>Dengan biaya Rp 6.000 per rumah, Tim Fogging yang bekerja mulai pukul 8 pai hingga 12 siang berhasil memyemprot 200-an rumah penduduk.</p>
<p>Warga Sarirogo memberikan respon dan tanggapan baik terhadap kegiatan PKS ini. Salah satunya, warga meminta PKS melakukan fogging rutin per tiga bulan di desanya.</p>
<p>Republished by <a href="http://www.pks-sidoarjo.org">DPD PKS Sidoarjo</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pks-sidoarjo.org/agenda-kegiatan/fogging-sarirogo.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Al-Badailul Islamiyah</title>
		<link>http://pks-sidoarjo.org/pemahaman-politik/al-badailul-islamiyah.htm</link>
		<comments>http://pks-sidoarjo.org/pemahaman-politik/al-badailul-islamiyah.htm#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 Dec 2009 14:52:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pemahaman Politik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pks-sidoarjo.org/?p=680</guid>
		<description><![CDATA[Ada satu sisi positif dari sejumlah kekhawatiran Barat terhadap Islam, jika yang terakhir ini diberi kesempatan eksis dan berkuasa. Benarkah Islam mampu memberi yang lebih baik bagi dunia? Mampukah kaum Muslim merealisasikan Islam dalam dunia nyata?

Pertanyaan itu tentu dengan mudah dapat dijawab ya. Tapi, ternyata pertanyaan itu diletakkan dalam satu bingkai: Mampukah Islam memimpin umat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ada satu sisi positif dari sejumlah kekhawatiran Barat terhadap Islam, jika yang terakhir ini diberi kesempatan eksis dan berkuasa. Benarkah Islam mampu memberi yang lebih baik bagi dunia? Mampukah kaum Muslim merealisasikan Islam dalam dunia nyata?<br />
<span id="more-680"></span><br />
Pertanyaan itu tentu dengan mudah dapat dijawab ya. Tapi, ternyata pertanyaan itu diletakkan dalam satu bingkai: Mampukah Islam memimpin umat manusia, memberi sesuatu yang lebih baik, tanpa harus menghancurkan capaian-capaian pengetahuan dan teknologi Barat?</p>
<p>Pada tahap keyakinan, bingkai itu pun barangkali dapat dijawab sederhana: bisa. Tapi, secara internal, pertanyaan itu nampaknya tidak bisa terlalu disederhanakan. Sebab, di sini, pertanyaan tidak secara ansich ditujukan kepada keyakinan. Tapi, kepada kemampuan mengkristalisasikan keyakinan-keyakinan itu dalam bentuk format-format pemikiran (<em>shiyaghoh fikriyah</em>), sistem (<em>shiyaghoh manhajiyah</em>), politik, ekonomi, sosial, budaya, militer, tehnologi, hubungan antar bangsa dan sebagainya.</p>
<p>Dalam kaitan dengan bingkai itu, katakanlah bahwa teknologi itu adalah atap dari sebuah bangunan peradaban yang sudah rapuh, dan sebentar lagi runtuh atau tergusur. Yang dibutuhkan adalah penyangga yang dapat menyelamatkan atap peradaban Itu.</p>
<p>Sampai di sini, kekhawatiran itu dapat dibenarkan. Dan itu merupakan tantangan besar bagi kaum Muslimin, khususnya Partai Islam. Tantangan ini terasa lebih mendesak, terutama bila ini dikaitkan dengan fenomena munculnya Partai Islam ke pentas politik.</p>
<p>Dalam kacamata terakhir ini, target Harokah Islam tentu saja bukan sekedar memenangkan pemilihan dan kursi pariemen. Tapi, yang lebih penting lagi, adalah bagaimana memberi sesuatu yang lebih baik. Bagaimana menyiapkan konsep-konsep alternatif (<strong>Al-Badailul Islamiyah</strong>), sebagai ganti dari konsep-konsep yang dianggap gagal itu.</p>
<p>Bagian ini nampaknya menjadi wilayah kerja para pemikir dan ulama. Dan ini akan menjadi esensi yang menentukan titik klimaks doktrin Islam sebagai <em>rahmatan lil&#8217;alamin</em>. Harus diakui, bahwa insan pergerakan yang mendiami wilayah kepemikiran (<em>qoidah flkriyah</em>) ini, masih sangat langka. Lebih dari itu, juga tak terlihat usaha yang maksimal untuk membibit manusia yang berpotensi untuk itu. Dan karena itu, bila kondisi ini terus berlanjut tanpa penyelesaian, tentu sangat beralasan untuk cemas, bahwa kemenangan dalam penfas politik bagi Partai Islam, jangan sampai berbalik jadi bumerang bagi kita.</p>
<p>Saya klra kita perlu memikirkan hal secara intens. Sebab ini sangat menentukan keberhasilan Partai Islam di masa depan, juga keberhasilan umat Islam secara makro, saat mana Allah berkenan mengembalikan kepemimpinan dunia kepada kita.</p>
<p><strong>Al-Badailul Islamiyah</strong> adalah padanan dari makna itsbat dalam kalimat tauhid: Laa Ilaha Illallah. Atau, ia adalah mata rantai yang menyudahi tahap penafian dalam kalimat tauhid itu. Yang ingin ditegaskan dl sini adalah, kemampuan kita menghancurkan kejahatan dengan segala aspek sistemnya, harus setara dengan kemampuan kita membangun kembali bangunan itu.</p>
<p>Semoga!</p>
<p>Sumber: Inthilaq No. 6/Th. II 29 April 1994</p>
<p>(Catatan: webmaster telah membuat penyesuaian-penyesuaian pada tulisan ini tanpa mengubah tema besar yang diusungnya)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pks-sidoarjo.org/pemahaman-politik/al-badailul-islamiyah.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

