Juang Tidak Lekang
Pagi hingga siang itu,
Di Surabaya di antara kendaraan-kendaraan berlalu
Hari ke sepuluh
Bulan enam tahun dua ribu tujuh
Lagi, kami turun
Dengan tidak bosan
Ingatan masih melayang
Pada perjuangan saudara di seberang
(Tidak lekang di bibir)
(Tidak lekang di hati)
Rasanya, mendidih darah
Deranya, menanggung pilu kesah.
Kemerdekaaan tidak membuat kami lupa
Pada saudara yang masih dinista
Di sini, di bawah pahlawan
Mencoba memahami arti kepahlawanan
(Tak lekang oleh panas, tak lapuk oleh hujan)
Arti pengorbanan
Makna kesungguhan
Berangkat dari iba dan merasa
Betapa susahnya perjuangan berdarah-darah
Cukuplah sudah
Empat juta jiwa terusir dari rumahnya
Terkatung-katung berkelana di negeri tetangga
Cukuplah sudah
Ribuan orang terpenjara
Dirampas hak dan dicabuti kesuciannya
Cukuplah sudah
Kembalikan masjid kami tercinta
Al Aqsa adalah kerinduan kami ketiga
Cukuplah sudah
Jangan kerat kami
Dengan perjanjian-perjanjian tanpa arti
Jika tidak…
Ketapel-ketapel kami akan berbicara selantangnya
Peluru-peluru kami menujumu sekuatnya
Roket-roket kami menghujanimu sederasnya
Bom-bom kami meledakkanmu sehancurnya
Kepada Pemilik Teguh
Perbesarkanlah keberanian kami
Kepada Pemilik Yakin
Perluaskanlah kesabaran kami
Hanya (bersama) berkah-Mu jua
Kemenangan akan tiba
Menguji Roket Panggul Buatan Sendiri
Membayangkan apa, anak?
Doa adalah salah satu senjata kita
Meminta Kepada Pemilik Teguh
Doa dan Jaga adalah keduaan yang tidak akan memisah
Kepahlawanan dan Keadilan
Alamat 

Innalillahi wa inna ilaihi roji'un. Telah berpulang ke rahmatullah, seorang mujahidah, Yoyoh Yusroh. Semoga "amal ibadahnya" diterima di sisi Allah SWT dan menjadi inspirasi bagi kaum muslimin dan rakyat Indonesia.
Melalui Posko Penanggulangan Bencana (P2B),